Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode dua puluh enam


__ADS_3

Sejak adzan subuh tadi sebenarnya Ara sudah bangun, namun karena dinginnya udara pagi itu membuat Ara enggan untuk beranjak dati kamarnya.


Setelah matahari manampakan sinarnya dan menghangatkan penduduk Bumi, barulah Ara menggeliat dari selimut yang membungkusnya sejak selesai kewajiban subuhnya tadi.


"Santai saja lagi pula aku kan tinggal menghangatkan masakan kemarin malam. Jadi aman hari ini tidak lagi sarapan diluar" ucap Ara sambil melangkahkan kaki ke kamar mandi.


Setelah menghabiskan waktu kurang lebih satu jam setengah untuk mandi dan merias diri, tepat pukul 06:45 Ara keluar dari kamarnya dengan keadaan segar dan wangi.


Dengan langkah kaki lincah dan bibir yang sedang asyik bersenandung Ara menuruni satu persatu anak tangga. Tujuan utamanya saat ini adalah dapur. Ya ia hendak menghangatkan sisa masakannya semalam.


Begitu Ara tiba didapur matanya langsung terbelalak saat melihat wadah yang ia gunakan untuk menyimpan masakannya sudah berada di washtafel dalam keadaan kosong. Merasa tidak yakin ia pun segera membuka lemari penyimpanan makanan. Dan ternyata benar makanannya sudah tidak ada.


"Tidak ada?" ucap Ara dengan wajah paniknya.


Bersamaan dengan itu Atayad pun memasuki dapur hendak membuat kopi untuk dirinya. Ara langsung menatap Atayad dengan tatapan tajamnya. "Kau yang memakan makanan ku?" tanya Ara dengan cepat.


Atayad melirik washtafel, "Oh itu punya mu?" tanya Atayad sambil menyiapkan gelas untuk kopinya.


"Aku bertanya berati butuh jawaban, bukan pertanyaan kembali" ucap Ara kesal, nada bicara nya pun semakin tidak ramah.


"Iya memang aku yang memakannya, rasanya biasa saja tidak aya istimewanya. Terpaksa saja aku makan karena malam sudah larut. Tidak mungkinkan aku keluar cari makan, nanti dikira tetangga istrinya tidak bisa masak. Bersyukurlah punya suami baik seperti ku" ucap Atayad


Ara mendengus, ingin rasanya ia memaki pria yang sedang ada dihadapannya saat ini. Benar dugaan Ara semalam, meskipun Atayad memakan masakannya bahkan sampai tak tersisa sekalipun, Atayad tidak akan memujinya yang ada seperti pagi ini. Makianlah yang keluar dari mulut Atayad.


"Oh itu ternyata benar masakan dia, tidak terlalu buruk. Tapi jika aku memujinya yang ada dia akan besar kepala nantinya" ucap Atayad dalam hatinya.


Atayad meninggalkan Ara yang masih menatapnya dengan tatapan tidak suka, setelah kopi yang dibuatnya jadi. Atayad berlalu tanpa rasa bersalah.


"Punya suami kok begini amat" ucap Ara saat Atayad sudah tak lagi disana.

__ADS_1


***


"Naiklah ke mobilku, aku sedang berbaik hati pada mu. Ya hitung hitung aku sedang membayar masakanmu yang semalam ku makan. Sebenarnya tak sebanding sih karena rasanya tidak sesuai seleraku" ucap Atayad saat Ara berjalan melewatinya dan hendak mencari taxi.


"Orang baik tidak akan mengatakan dirinya baik. Lagi pula aku tak butuh bayaran untuk apa yang ku masak kemarin. Anggap saja itu bakti ku sebagai istri yang baik buat mu" balas Ara.


Atayad membuka pintu mobil agar Ara segera masuk kedalamnya. Ara menatap Atayad penuh kewaspadaan. "Kenapa dia tiba tiba jadi baik. Aku tidak memasukan bahan makanan yang aneh anehkan tadi malam" ucap Ara dalam hatinya.


"Apa perlu aku memangku mu, agar kau cepat naik. Cepatlah ini sudah siang aku harus bekerja" Nada bicara Atayad kembali berubah, pun dengan tatapan matanya.


Tanpa banyak bicara Ara pun segera masuk ke dalam mobil Atayad dan duduk di kursi penumpang. "Ku cabut kata kata ku yang sempat memujinya baik" ucap Ara lagi dalam hatinya.


Keheningan sepanjang perjalanan menyergapi keduanya. Ara enggan sekali membuka mulut bahkan untuk sekedar mengucapkan terimakasih. Bahkan saat mobil itu berhenti di depan ruko tempat Ara bekerja pun Ara tak membuka mulutnya.


Ara segera turun dan secepatnya menjauhi mobil Atayad tanpa sepatah kata pun keluar dari mulutnya.


Ara bergidik ngeri dengan tingkah Atayad. Sementara Atayad kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat kerjanya.


Entah kenapa hari ini suasana hati Atayad sungguh berbeda dari biasanya. Dan Atayad pun membenarkannya. Bibirnya melukiskan senyum saat ia mengingat kejadian tadi pagi bersama Ara. Mungkinkah ia sudah bisa menerima Ara dan membuka hatinya yang sudah ia tutup sejak beberapa tahun lalu? Semoga saja.


Atayad menghentikan mobilnya saat ia melihat seorang wanita sedang berjalan dengan tangan menuntun seorang anak laki laki. Sementara wanita itu sendiri sedang dalam keadaan hamil.


Tiba tiba pikiran Atayad membayangkan jika Ara yang mengalami hal itu. "Aku berbeda dari mereka. Meskipun aku pernah merasakan luka oleh wanita tapi aku tak akan sampai hati membuat seorang wanita sengsara saat hidup bersamaku" ucap Atayad dalam hatinya.


Setelah wanita yang dilihatnya tadi sudah tidak terlihat lagi disana, Atayad melanjutkan kembali perjalanannya.


Mobil yang dikemudikan oleh Atayad kini sudah terparkir dengan sempurna ditempatnya.


Seperti biasa saat Atayad melangkah masuk ke dalam gedung perusahaannya selalu disambut tatapan kagum dari para wanita yang memujanya. Meski demikian Atayad tak sekalipun meliriknya.

__ADS_1


Baginya semua perempuan sama, jika ditanggapi maka mereka akan semakin berharap, begitu pikir Atayad. Bunyi sepatu yang digunakan Atayad yang berbenturan dengan lantai menggema mengiringi langkahnya.


Atayad menggunakan lift khusus untuk tiba diruangannya. Setelah lift sampai di lantai tujuan Atayad segera melangkah kaluar dari sana.


Langkahnya terhenti tatkala melihat seseorang dimasa lalunya sedang duduk di sofa yang ada disana.


Atayad melirik Syahdan sekertaris pribadinya yang kebetulan ada disana. Syahdan menghampiri Atayad kemudian berbisik.


"Wanita itu sejak tadi memaksa ingin menemui anda pak" bisik Syahdan.


Atayad memicingkan matanya sebelum membalas ucapan Syahdan. Atayad memberi intruksi pada Syahdan menggunakan ekor matanya agar mengikutinya masuk ke dalam ruangan.


"Katakan apa tujuan wanita itu kemari?" Atayad bertanya langsung saat ia dan Syahdan sudah berada di ruang kerja milik Atayad. Sambil bertanya kepada Syahdan ia pun melepas jas yang membalut tubuh kekarnya.


"Saya belum tahu tujuan wanita itu, tapi yang jelas ia ingin sekali bertemu dengan anda. Bahkan sejak tadi ia rela menunggu kedatangan anda pak" jelas Syahdan.


Setelah terdiam cukup lama, Atayad memerintahkan Syahdan agar menyuruh wanita itu masuk menemuinya.


Wanita yang diketahui mantan kekasihnya itu masuk menemui Atayad setalah mendapatkan izin dari si empunya. Kecanggungan sempat menghampiri keduanya sebelum Atayad memulai percakapan diantara mereka. "Jadi hal apa yang membawa mu kembali datang kesini?" tanya Atayad. Nada bicara terdengar sangat dingin, terlebih lagi wanita yang ada dihadapannya adalah orang yang mengisi harinya serta memberikan warna dalam kebidupannya. Bersamaan itu pula wanita yang ada dihadapannya saat inilah yang membuat Atayad terluka.


.


.


.


.


.Next ya!!!!

__ADS_1


__ADS_2