Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
episode tiga puluh enam


__ADS_3

Hari mulai sore dan langit seketika terlihat mendung dipenuhi awan hitam sepertinya hujan lebat akan segera turun. Dan benar saja hingga Atayad yang sedang mengemudikan mobilnya pun terpaksa menghentikan laju mobil tersebut.


Jalanan terlihat sepi, sehingga membuat Ara yang sedang mengedarkan pandangannya bergidik ngeri merasa takut jika tiba tiba segerombolan orang dengan membawa benda tajam ditangan mereka menghampiri keduanya. "Semoga tidak apa apa, tidak apa apa" doa Ara dalam hati.


"Sampai kapan kita akan berhenti disini?" tanya Ara yang tak henti mengamati keadaan disekitar. Rasa takut akan terjadi sesuatu terus menyelimuti hatinya.


"Sampai hujan reda, aku tidak bisa melakukan perjalanan dalam keadaan hujan lebat seperti ini" balas Atayad yang mengamati peta online di ponselnya untuk mencari tempat yang bisa mereka gunakan untuk singgah.


"Tapi kenapa harus berhenti disini? ini jalanan sangat sepi dan lihatlah bagaimana jika segerombolan orang datang dan hendak berbuat sesuatu pada kita. Apa kau tidak berpikir sampai kesana? Bagaiamana kalu terjadi sesuatu yang tidak diinginkan" cerocos Ara mengeluarkan segala unek unek tentang kekhawatirannya.


Atayad menatap Ara yang merasa ketakutan sendiri. Tak disangka Atayad tiba tiba meraih tangan kanan Ara yang sedikit berkeringat. Ia kemudian berkata "Jangan berpikir yang tidak tidak, karena itu akan membuat ketakutan mu semakin menjadi jadi. Tenang kita punya Tuhan"


Ucapan Atayad sungguh tak terduga dan sangat menenangkan bagi Ara saat ini. Ara mengangguk mengiyakan ucapan Atayad namun kekhawatirannya yang ada di hatinya tak lantas hilang begitu saja.


Setelah hujan terlihat sedikit mereda Atayad segera melanjutkan kembali perjalanannya. Kalau langsung pulang kerumah rasanya tidak mungkin, karena kalau hujan seperti ini kemacetan dijalan yang biasa mereka lalui menuju rumah mereka pasti semakin menggila. Hari hari biasa saja seri terjebak macet apa lagi kalau hujan seperti ini.

__ADS_1


Karena hari yang mulai gelap dan hujan masih setia membasahi bumi, dan melihat Ara yang terlihat sangat lelah, maka Atayad memutuskan membelokan mobilnya untuk memasuki parkiran sebuah penginapan.


Ara merasa baru saja beberapa menit yang lalu ia memejamkan matanya saat Atayad melajukan kembali mobilnya tapi sekarang kenapa berhenti kembali? pikir Ara saat ia membuka mata dan menyipitkan matanya menyesuaikannya dengan sinar lampu dari penginapan tersebut. "Ini bukan rumah kita" ucap Ara saat matanya sudah bisa melihat dengan jelas apa yang ada dihadapannya.


"Memang bukan, cepat turun atau kau akan mati kedinginan di mobil" ucap Atayad sambil melepas seatbel dan segera membuka pintu untuk ia segera turun.


"Kenapa harus disini sih, kenapa tidak langsung pulang saja rumah kita kan tidak terlalu jauh dari sini" meski dengan mulut yang tak henti menggerutu namun tetap saja Ara mengikuti Atayad.


Setelah melakukan registrasi pembayaran Atayad dan Ara diantara oleh petugas penginapan menuju kamar mereka.


Ara berdecak saat Atayad tak mengucapakan sepatah kata pun untuk menimpali gerutuannya dan malah duduk santai di sofa sambil memasang senyum tipis yang nyaris tak terlihat.


Bagi Atayad ini benar benar terasa seperti suasana batu dalam hidupnya. Setelah pernikahannya dengan Ara memang pada awalnya Atayad menganggap semua gadis akan sama dengan wanita di masalalunya. Namun ternyata setelah beberapa hari ia hidup dengan Ara barulah ia merasakan ada perbedaan. Dimana Ara lebih menunjukan sikap mandirinya, tak kalah dingin saat berada bersamanya, dan bisa bersikap dewasa diwaktu waktu tertentu. Dan baru kali ini ia mengetahui ternyata Ara bisa menggerutu dihadapannya. Wajah yang selalu terlihat judes saat dihadapannya kini terasa sangat lucu saat tak henti menggerutu seperti itu. Hatinya mendadak menghangat, sepertinya bongkahan air mata yang membeku bersama lukanya kini mulai mencair.


"Tak membawa baju ganti malah menginap, apa kau pikir aku akan betah dengan baju yang sama seperti tadi. Mana bisa aku tidur dengan baju seperti ini." gerutu Ara

__ADS_1


"Punya suami dan keadaan ku seperti sebelum punya suami sama saja. Sama sama aku sendiri, melakukan ini itu sendiri apa bedanya kalau begitu rasanya lebih baik aku tidak menikah saja waktu itu" lanjut Ara yang memunggungi Atayad sambil membuka salah satu lemari yang menyediakan bathrobe disana.


Setelah meraih salah satunya Ara langsung malangkah menuju kamar mandi. Sebelum Ara sampai dipintu kamar mandi tiba tiba Atayad menghampiri dan memeluknya dari belakang. "Lalu aku harus bagaimana? apa seperti ini cukup?" ucap Atayad sambil mengeratkan tautan kedua tangannya.


"Hey apa yang kau lakukan. Lepaskan aku atau aku akan teriak" ancam Ara. Iya Ara menganggap itu ancaman agar Atayad melepaskan dirinya.


Bukannya melepaskan Atayad malah semakin mengeratkan pelukannya sambil menghirup aroma wangi dari tubuh Ara. "Atayad" ucap Ara memanggil Atayad berharap Atayad menghentikan perbuatannya.


"Ya" ucap Atayad ditelinga Ara membuat Ara semakin dilanda sebuah rasa yang sulit dijabarkan. "Kau menginginkan lebih dari ini?" ucap Atayad dengan nada yang begitu lembut bagi Ara yang mendengarnya.


Untuk kedua kalinya perlakuan Atayad membuat Ara dihadapkan dua pemikiran. Apakah ini dilakukan oleh Atayad atas kemauan serta kesadarannya atau hanya ini ia lakukan hanya sekedar untuk menakut nakuti dirinya.


Semakin Atayad mengeratkan pelukannya maka semakin banyak kehangatan yang Ara terima. Atayad tiba tiba membalikan tubuh Ara hingga kini tubuhnya saling berhadapan.


Atayad mengangkat dagu Ara agar tatapan mereka bertemu. Atayad dan Ara kini saling menatap mata satu sama lainnya mencari sesuatu disana. Semakin lama mereka bertatatpan maka semakin banyak pula rasa yang menggetarkan perasaan keduanya.

__ADS_1


Entah sejak kapan tangan kanan Atayad berada di tengkuk Ara dan tangan kirinya berada di pinggang Ara. Adegan selanjutnya?


__ADS_2