Bersama Mu Aku Menemukan Cinta

Bersama Mu Aku Menemukan Cinta
Episode empat puluh empat


__ADS_3

Pagi pagi Ara bangun dengan keadaan badan yang terasa remuk seluruhnya. Ia menoleh ke sebelahnya dan Atayad sudah tidak ada lagi disebelahnya.


Ara berjalan ke kemar mandi dengan badan yang dibalut selimut. Meskipun badannya terasa remuk tetap saja ia tidak bisa bermalas malasan di tempat tidur.


Setelah membersihkan seluruh tubuhnya, Ara berdiri didepan cermin washtafel. Tangannya terulur menyentuh bibir yang semalam disentuh oleh bibir Atayad. Senyum malu malu pun terukir disana.


Ara memakai pakaian merwarna pink dengan celana kian panjang. Wajahnya dipoles dengan riasan sederhana namun tidak mengurangi kecantikannya. Tidak lupa aura bahagia pun selalu membingkai di wajahnya.


Ara turun dari kamarnya dan melangkah menuju dapur. Matanya mengitari setiap sudut ruangan dalam rumahnya. Namun yang ia cari pun tak kunjung ditemukannya.


"Non Ara sudah bangun" sapa pelayan rumah yang kebetulan hari ini memiliki jadwal untuk membersihkan rumahnya.


"Ah iya, dimana tuan Atayad?"


"Tuan sudah berangkat lima belas menit yang lalu, dan tidak berpesan apa pun pada saya." jelas pelayan itu.


Ara mengangguk dan mengucapkan terimakasih kemudian ia naik kembali ke kamarnya untuk mengambil tasnya dan langsung berangkat menunju kantornya.


***


Atayad memang berangkat pagi sejak mendapat telepon dari sekretaris pribadinya. Pihak yang bekerja sama dengan perusahaan yang Atayad pimpin mengadakan pertemuan secara tiba tiba.


Hati yang diliputi rasa bahagia pun tak mempersalahkannya. Atayad tetap menunjukan wibawa serta keprofesionalannya.


Pertemuan yang membahas sistem kerja, keuntungan, dan rencana pembangunan kedepannya berakhir sekitar pukul 11:35.


Atayad meraih ponselnya yang ia selipkan di saku celananya. Berharap saat membuka ponsel tersebut ada pesan yang ditinggalkan oleh istrinya, dan ternyata tidak ada pesan apa pun.


Sempat merasa kecewa, namun ia tetaplah Atayad yang harus selalu tampil berwibawa dimana pun ia berada.


"Saya ingin tidak ada pertemuan atau pekerjaan apa pun selama dua jam ke depan" bisik Atayad pada Syahdan sekertaris pribadinya.


Setelah Syahdan mengiyakan Atayad langsung pergi dari sana. Atayad melajukan mobilnya menuju tempat kerja Ara.


Mobil yang ia kemudikan kini telah terparkir sempurna diantara deretan mobil yang lainnya didepan ruko milik Ara.


Pesona Atayad memang tidak pernah pudar. Dimana pun ia berada pasti menarik perhatian siapa pun yang melihatnya. Sekelompok ibu ibu yang sedang berjalan sambil berbicara pun tiba tiba mengalihkan perhatiaannya pada Atayad.


Atayad mengetahui hal itu, tapi ia tidak ingin menanggapinya sama sekali.


Salah satu pegawai Ara yang melihat Atayad sedang berjalan kesana pun langsung menemui Ara dan mengatakan jika Atayad sedang menunju kesana.

__ADS_1


Senyum sumringah langsung terlukis dibibir Ara, seketika senyum itu pudar saat rasa malu mulai mneyergapnya dan mengingatkan dirinya akan aoa yang terjadi tadi malam.


Ara menepuk jidatnya dan berkata "Aku harus bersikap bagaimana ya?" ucapnya. Jawaban yang ia cari tak kunjung muncul dan Atayad malah lebih dulu tiba di ruangannya.


Atayad berdeham untuk memberitahukan jika ia sudah ada disana. Ara pun melihat ke arah si pemilik suara.


Atayad melihat jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. "Kau sudah makan siang? Jika belum ikutlah dengan ku" ucap Atayad.


"Belum" jawab Ara dan ia pun segera berdiri dari duduknya dan mengambil tasnya kemudian berjalan mengikuti Atayad yang berjalan didepannya.


***


Mereka tiba disebuah restauran yang menyajikan makanan tradisional maupun luar negeri.


Atayad memilih meja yang berada dipojok dekat jendela yang menampilkan pemandangan diluar.


Pelayan menghampiri mereka dan mereka pun mulai memesan makanan. Atayad memperhatikan Ara yang duduk disebrangnya.


Semua rasa bercampur jadi satu, Ara senyum simpul saat tahu jika Atas sedang menatapnya. "Emmmhhh Atayad aku mau bicara" ucap Ara memberanikan diri untuk membalas tatapan Atayad.


Dalam hatinya Atayad sangat menunggu apa yang akan dibicarakan oleh istrinya itu, sebisa mungkin ia menahan agar tidak bersikap norak. "Katakan jika itu penting!" ucap Atayad


"Apa ini penting tidak ya baginya?" ucap Ara ragu.


Atayad mengangguk tidak sabar ingin mendengar penjelasan Ara dan itu akan menjadi jawaban atas apa yang hatinya cari.


"Sebenarnya pertemuan yang terjadi pagi kemarin itu bukan aku yang merencanakan. Dia hanya orang yang tidak tahu malu, yang berusaha meyakinkanku" ucapan Ara terhenti saat pelayan menghampiri meja mereka untuk menghidangkan pesanan mereka.


Atayad tak melepaskan tatapannya dari Ara. Ia ingin menemukan jawaban itu dan meyakinkan diri bahwa istrinya itu tidak sedang berbohong.


"Lalu siapa dia?" tanya Atayad saat pelayan yang menghidangkan pesanan mereka sudah tidak ada disana.


Ara diam sejenak, hal yang paling tidak ingin ia ingat dan diucapkan kembali adalah mengatakan Rey adalah masalalunya atau pernah menjadi orang yang dianggap penting dalam hidupnya.


"Dia...."


"Kekasihmu?"


"Dia mantan kekasihku" ucap Ara


Atayad diam sejenak mendengarkan pengakuan Ara. Dalam hatinya ia mengatakan apa mungkin mereka berpisah karena adanya aku? Apa pun itu terserahlah.

__ADS_1


"Katakan padaku jika kau masih mencintainya!" perintah Atayad


Mata Ara terlihat mulai berkaca kaca saat Atayad menyuruhnya mengatakan hal itu. Ara menggelengkan kepalanya pelan dengan air mata yang berlinang di matanya.


"Kenapa?" tanya Atayad saat Ara malah menggelengkan kepalanya.


"Tolong jangan menyuruhku untuk mengatakan atau melakukan apa pun yang sekiranya aku tidak sanggup" ucap Ara sambil menyeka air matanya.


Atayad meraih gelas yang berisi jus jambu dan mengaduknya menggunakan sedotan. "Jadi...." Atayad menggantungkan kalimatnya.


"Atayad please" Ara memohon agar Atayad berhenti membahas tentang Rey. Ara sungguh tidak sanggup mengingat apa yang telah dilakukan Rey pada hidupnya.


"Baiklah" ucap Atayad sambil memaksakan senyumnya. Padahal ia sangat berharap sesuatu yang lebih penting yang diucapkan oleh Ara. Misalnya aku tidak mencintainya lagi, Aku hanya mencintaimu dan ingin hidup selamanya denganmu, aku bahagia bersamamu Atayad. Tapi itu hanya terjadi dalam angan angannya saja.


"Makanlah, kalau sudah dingin nanti tidak enak lagi" ucap Atayad lagi.


"Atayad" Ara memanggil namanya lagi.


"Kenapa, makanlah!" ucap Atayad sambil menyuapkan satu sendok makanannya.


"Apa aku boleh tahu kenapa kau selalu bertanya padaku apakah aku bahagia atau tidak menikah dengan mu. Apa kau sungguh ingin tahu bagaimana persaanku? Jika iya apa boleh aku mengatakannya padamu?"


Ini yang paling Atayad tunggu, hatinya berdebar tak karuan menanti jawaban itu. Mungkinkah itu akan menjadi kebahagiaan baginya atau hanya akan menjadi luka seperti yang ia alami sebelumnya.


Atayad menarik nafasnya dalam dalam dan mempersiapkan diri akan kemungkinan kemungkinan yang akan terjadi. Bisa saja apa yang nanti Ara ucapkan tidak sesuai dengan apa yang iya harapkan.


Atayad membenarkan posisi duduknya. Menyiapkan hati setegar mungkin, jiwa setenang mungkin dan menjaga pikirannya agar tetap normal. Pokoknya apa pun yang dikatakan Ara nanti jangan sampai menurunkan wibawanya.


.


.


.


.


.


.Hahahahahahaha lanjut sekarang apa besok? Jangan lupa kasih vote yang banyak ya!!!


Terimakasih

__ADS_1


Jika ingin tahu selanjutnya up atau tidak bisa follow IG author ya "nurya.ag"


__ADS_2