
Selesai menyirami tanaman di halaman belakang Ara kembali masuk ke dalam rumah. Memang hari ini ia memilih untuk tidak bekerja karena moodnya sudah diruksak oleh Atayad tadi. Sejak menikah Ara memang lebih suka jika melakukan pekerjaan pekerjaan yang sebelumnya jarang sekali ia lakukan. Seperti mencuci baju sendiri, menyetrika, membersihkan rumah dan lain sebagainya.
Melihat meja makan yang masih sama seperti sebelum ditinggalkannya, Ara yakin jika Atayad belum turun sama sekali. Ara menarik nafas panjang saat melihat tingkah Atayad yang demikian. "Apa aku biarkan saja seperti ini ya, siapa tahu nanti dia merasa lapar namun enggan untuk meminta aku menyiapkannya. Tahu sendiri dia kan gengsinya besar" ucap Ara yang berdiri dekat salah satu kursi meja makan tersebut. Setelahnya ia langsung naik ke lantai dua dengan tangan yang membawa peralatan kebersihan lainnya.
Saat tiba di lantai dua fokus mata Ara terhadap dua pintu kamar yang tertutup. Satu pintu kamar milik Atayad dan satu lagi pintu kamar yang tidak boleh dikunjungi oleh siapa pun kecuali pelayan yang ditugaskan oleh Atayad untuk membersihkannya.
"Dia seperti seorang anak kecil yang sedang merajuk" ucap Ara saat menatap pintu kamar milik suaminya itu.
Ara mulai membersihkan lantai tersebut menyapu, mengelap meja dan lemari yang ada disana serta lainnya yang ia lihat berdebu. "Ternyata aku pandai juga ya untuk membersihkan rumah" Ara memuji dirinya yang berhasil membereskan pekerjaan yang selalu dilakukan oleh pelayan yang dibayar oleh orangtuanya maupun yang dibayar oleh Atayad suaminya.
***
Ego yang kuat membuat Atayad enggan keluar dari dalam kamarnya. Padahal sekarang sudah pukul 10:30 dan perutnya belum diisi apa pun.
Kruwuk cacing di perut Atayad mulai berdemo meminta jatah. Atayad benci saat saat seperti ini. Saat dia harus memulai lebih dulu. Padahal sebenarnya berat di apa sih?
Sementara Ara sedang menikmati siaran hari ini diruang televisi. Kekonyolan yang dibuat oleh para pemeran dalam siaran tersebut membuat Ara tak mampu membendung tawanya. Tak tahan lagi akhirnya tawa itu meledak dan itu sungguh membuat Atayad merasa kesal saat mendengarnya.
Atayad mondar mandir sambil menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal. Sesekali ia berdecak sambil berkacak pinggang. Ia kemudian menghampiri kaca besar yang menyatu dengan lemari pakaiannya.
Atayad mengamati ekspresi wajahnya. Sesekali matanya menyipit disertai alis yang mengkerut. "Ck, dia yang salah kenapa aku yang seperti ini. Ooohh astaga" ucap Atayad sambil mengusapkan kedua telapak tanganmu pada wajah.
Setelah mengumpulkan semua keberaniannya Atayad memberanikan diri untuk keluar karena keadaan cacing di dalam perutnya terus memaksa Atayad untuk memberikan jatah mereka.
Ceklek pintu dibuka oleh Atayad, Ara yang sedang tertawa tiba tiba menghentikan tawanya.
Ara mingkem menahan tawa begitu pun dengan Atayad. "Apa kau lapar?" Ara bertanya lebih dulu.
__ADS_1
"Tentu saja"
Ara beranjak berdiri karena ia pun merasakan hal yang sama dengan sang suami. Ara memang mengikuti ajaran orang tuanya. Ia tidak berani makan lebih dulu jika suaminya pun belum makan. Seperti itulah ajaran orangtuanya terutama sang mama.
Ara menghangatkan makanan yang tadi pagi dibuatnya. "Kau merasa lapar tapi kau memilih untuk tidak sarapan. Apa itu cara mu merajuk?" ucap Ara
Atayad mendelikkan mata saat mendengar pertanyaan Ara. "Dia sungguh wanita yang tidak peka" ucap Atayad dalam hati.
"Aku sedang tidak berselera" kilah Atayad meski hatinya membenarkan ucapan sang istri.
"Tidak berselera karena kau marah padaku? Apa kau merasa cemburu dengan pria tadi pagi?"
"Cemburu?" Atayad bertanya balik dengan kedua alis yang mengkerut. "Apa tidak salah aku cemburu? Dalam kamus kehidupanku tidak tertulis itu yang dinamakan cemburu"
Ara mencebik mendengar jawaban Atayad. Padahal dalam hatinya berharap Atayad akan mengatakan iya. Setelah hening beberapa saat Ara berniat ingin menjelaskan kesalah pahaman yang terjadi tadi pagi. Namun melihat ekspresi datar di wajah sang suami membuat Ara berpikir dua kali. Mending jika Atayad mau mendengarkan penjelasannya, bagaimana jika ternyata Atayad tidak menganggapnya sama sekal.
Mereka menyantap makanan dalam diam. Ara fokus dengan makanan yang ada di piringnya. Sementara Atayad sesekali menatap Ara yang sedang menikmati makanannya.
Atayad mengetuk ngetukan jari tangan sebelah kirinya pada meja makan. Jika suasana bening seperti ini ia kadang bingung harus memulai percakapan dari mana.
Berkata bahwa Ara sungguh cantik siang ini rasanya masih tidak mungkin bagi Atayad. Sesungguhnya Atayad benci suasana canggung seperti ini.
Atayad berdeham beberapa kali mencoba untuk mencairkan suasana. Ara memberanikan diri untuk menatap Atayad dan jalan yang ia ambil lebih dulu yaitu dengan mengambilkan air bening untuk sang suami.
Ara menyodorkan gelas berisi air bening tersebut. Atayad mengambilnya namun sebelum itu tatapan mereka saling bertemu dan saling mengunci.
"Terimakasih" ucap Atayad yang menyadarinya lebih dulu.
__ADS_1
"Atayad" ucap Ara pelan dan langsung ditatap oleh si pemilik nama tersebut. Ara kembali menunduk untuk menyusun kalimat yang tepat dan tidak menyinggung suaminya itu.
"Atayad, aku..." kembali Ara menghentikan ucapannya. Meski memasang wajah datar sebenarnya dalam hatinya Atayad sungguh tidak sabar ingin mendengar apa yang Ara bicarakan.
Lidahnya yang biasa lincah saat berbicara dengan siapa pun kini mendadak kelu. Entah kenapa saat Ara menatap mata Atayad semua kalimat yang ia susun mendadak buyar seketika. Kedua tangan Ara saling menaut dibawah meja.
"Atayad..." kembali berhenti.
Karena tidak sabar dengan istrinya Atayad akhirnya angkat bicara lebih dulu. "Atayad, Atayad, apa kau tidak bisa berkata sopan sedikit saja. Aku ini suamimu dan usia kita jauh berbeda"
"Ck, lalu aku harus bagaimana?" ucap Ara
"Panggil dengan kata yang sopan!"
"Seperti kata mas, begitu"
Atayad memicingkan matanya, "Mas?"
"Iya, kemarin saat kau tidur di ruanganku, kau menyuruhku untuk memanggil mu dengan sebutan mas" jelas Ara dan kali ini ia lebih berani menatap Atayad.
"Tidak, aku tidak mengatakan itu" kilah Atayad, karena dia merasa tidak menyebutkan itu sama sekali.
"Jadi aku harus memanggil mu dengan sebutan apa? Mas? abang? kakak? akang? aa? atau apa? tidak mungkinkan jika aku memanggil mu dengan sebutan bebeb? hahaha" Ara menertawakan akhir kalimat yang diucapkannya karena merasa geli sendiri.
"Terserah, tapi aku tidak ingin orang lain tahu keadaan kita yang sebenarnya. Ya jadi silahkan apa saja yang menurut mu pantas"
Atayad kembali menyuapkan makanan ke dalam mulutnya. Matanya masih saja berusaha mencuri curi pandang begitupun dengan Ara.
__ADS_1