
Kini Almira dan Rivan sudah berada di rumah sakit dengan sebuah kantung plastik yang isinya buah buahan.Mereka tengah duduk menunggu Tante Nila keluar.
"Halo Tante"Almira bangkit dari duduknya ketika Melihat Tante Nila keluar dari ruangan Rifki.
Rivan hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Eh Mira,ini temennya yah"tebak Tante Nila yang sedari tadi memperhatikan Rivan.
"Iyah Tante,kenalin Rivan"Rivan memperkenalkan dirinya sambil menjabat tangan Tante Nila.
"Nila"ucap Tante Nila.
"Hm,,gimana Tante?Rifki udah bisa liat kaya biasa lagi?"Almira mulai menanyakan Rifki.
"Iyah Mir, insyaallah sekarang Rifki bisa liat lagi"ucapnya senang.Meski hatinya juga sakit karena harus kehilangan anak sulung nya.
"Yaudah syukur deh kalo gitu Tante"ucap Almira kikuk.
"Bu,kita bisa buka perbannya sekarang"ucap seorang dokter yang tiba tiba saja berdiri di samping Tante Nila.
Tante Nila mengangguk lalu masuk ke dalam ruangan Rifki begitu pula Almira dan Rivan,Om Mastur tidak kelihatan batang hidungnya karena katanya om Mastur lagi pulang dulu bawa mobil untuk bawa Rifki pulang.
Almira melihat Rifki yang awalnya berbaring kini beralih posisi menjadi duduk.
Perlahan sang dokter membuka perban mata Rifki yang berlapis lapis hingga kini tinggal satu lapisan lagi,dokter itu membuka nya perlahan hingga perban nya Habis dan tinggal membuka kapas dan pleaster.
Sang dokter dengan hati hati membuka pleaster itu begitu pula kapasnya hingga kini terlihat kulit kuning Langsat Rifki dan kelopak mata yang cukup besar dan memiliki garis lipatan mata yang terlihat indah.
"Kamu boleh buka mata,tapi pelan pelan"instruksi sang dokter.
Rifki prov;
Perlahan ku buka mataku,aku sudah tidak sabar ingin melihat lagi dunia ku yang amat indah,sudah lama aku tidak dapat melihat dan pandangan ku kosong,hanya warna hitam yang ada.
Perlahan cahaya menembus mataku,aku melihat ada beberapa orang yang berdiri di dekat brangka ku,aku belum bisa melihatnya jelas,mataku masih nge blur.
Setelah mataku benar benar terbuka,perlahan pandangan ku mulai normal dan aku melihat mamah yang sedang berdiri tepat di samping brangka ku dengan air mata yang terlinang di matanya.
Aku tersenyum lalu mengalihkan pandangan ku pada wanita yang berdiri di samping mamah,wanita unik,cantik nan manis ini tersenyum ke arahku.Aku membalas senyuman nya itu,Almira iya siapa lagi?
Lalu mataku tertuju pada seorang laki laki yang berdiri tepat di samping Almira,kulihat dia dengan mata sedikit menyipit,memastikan siapa cowo itu, tapi dia tidak mengenalinya.
__ADS_1
Author Prov
Almira syok bukan main saat Rifki dengan jelas menatapnya.Bukan hanya mata tapi rasanya semua yang Rizki miliki,Rifki miliki juga hanya saja mereka berbeda sifat.
Rifki segera memeluk erat sang mamah dengan sisa air matanya itu Nila membalas pelukan erat Rifki.
"Mah,Rifki bisa liat lagi mah"ucapnya tersenyum bahagia.
Nila mengangguk ngangguk bahagia.
Almira tersenyum lega meski dia belum berani menatap mata Rizki,eh maksudnya Rifki.
Perlahan Rifki melepaskan pelukan sang mamah dan beralih menatap Almira.
Almira memejamkan mata,berusaha agar tidak melihat tatapan mendalam Rifki.
"Mir,gue minta maaf yah,gara gara gue Rizki pergi"ucap Rifki sambil meneteskan air mata yang sudah menumpuk di pelupuk matanya.
Baru kali ini Almira melihat Rifki,badboy and fakboy bisa menangis.
Dia penasaran lalu menatap mata Rifki,begitu indah nya mata Rizki melekat di mata Rifki,sampai sampai Almira tak sadar bahwa air mata mengalir deras membasahi pipinya.
"Bukan salah elo ko Ki,ini udah takdir"Almira mencoba menenangkan Rifki dan dirinya sendiri.
"Tapi harusnya gue aja yang mati"lanjutnya.
"Jangan ngomong gitu Ki"Ucap Tante Nila menenangkan.
Almira menelan ludah lalu menghapus sisa sisa air matanya.Lalu duduk di sebelah Rifki
"Kalo begitu saya permisi dulu"ucap sang dokter yang di balas anggukan Tante Nila.
Almira tersenyum ke arah Rifki.
"Masih untung Lo selamat,kalo elo ikutan pergi,siapa yang jaga nyokap Ama bokap Lo"ucapnya mencoba untuk tenang dan tidak menangis lagi.Sedangkan Rivan masih menjadi penonton setia.
Yahh meski Almira juga sempat berfikir-an kenapa enggak Rifki aja yang meninggal kan jelas jelas yang nyetir itu dia,tapi ko Rizki yang jadi korbannya.Tapi,enggak bagus juga kalo dia mikir kaya gitu jadi dia buru buru lupain perkara itu.
Rifki tersenyum,meski dirinya dan Rizki jarang sekali akur,tapi kalo harus di tinggal pergi untuk selamanya Rifki juga belum tentu sanggup.
"Hm,,,maaf menyela Tante,tapi boleh saya ngomong sama Fika bentar"izin Rivan.
__ADS_1
"Iya silahkan nak Rivan"ucap Tante Nila.
Almira dan Rivan pun keluar dari ruangan Rifki.
Rifki masih berfikir,siapa cowo itu,apa itu temen nya Mira?atau dia,,,,enggak mungkin dia enggak mungkin pacarannya Mira,secara Mira sayang banget sama Rizki dan enggak mungkin kalo secepat ini Mira punya pengganti Rizki.
Jujur,dirinya masih mengharapkan Mira dapat mencintai nya.Memang,meski sifat Rizki dan Rifki berbeda tapi mereka kan kembar pasti aja kesamaannya,terutama masalah wajah.
"Fik,udah mau larut nih,pulang yu"ajak Rivan, sebenarnya bukan hanya karena hari yang memang sudah larut,tapi Rivan kasihan kalo Almira harus terus ketemu Rifki,yang artinya Almira akan terus sulit untuk melupakan Rizki.
"Yaudah gue izin dulu yah"ucap Almira,lagi lagu matanya merah,akibat menangis.
Almira dan Rivan pun masuk kembali ke dalam ruangan.
"Tan,Ki,aku sama Rivan pulang dulu yah,udah larut"pamit Almira.
"Iya Tante kami mau pulang,takut kemaleman"lanjut Rivan.
"Yaudah hati hati yah"ucap Tante Nila.
Almira dan Rivan mengangguk bersamaan.
"Ki,gue pulang dulu yah,cepet sembuh nanti kali kali gue mampir ke rumah elo deh"ucap Almira sambil tersenyum manis.Rifki membalas senyuman itu
"Iyah,hati hati"ucap Rifki.
Almira dan Rivan pun segera pergi dari rumah sakit menuju apartemen.
Sedangkan Rifki dan Tante Nila juga pulang karena om Mastur sudah menjemput mereka, sebelum pulang mereka datang ke pemakaman Rizki terlebih dahulu.
"Maafin gue Ki,maafin gue,ini semua salah gue,gue janji gue bakalan jagain Mira, papah sama mamah,gue janji enggak akan jadi Fakboy lagi,gue janji kalo gue enggak akan badboy lagi,gue janji sama Lo Ki,elo yang tenang yah disana,sorry kalo gue banyak salah selama Lo hidup"batin Rifki saat mereka sedang di pemakaman Rizki.
Dia mengulas kan sebuah senyuman ketika melihat batu nisan yang bertuliskan nama kakak nya,Rizki Pratama.
Memang berat,tapi dia percaya,kalo dia itu cowo dan cowo harus bisa hidup mandiri,meski belahan jiwanya, kembarannya, orang yang paling sering buat dia nangis dan ketawa lagi di saat mereka masih kecil harus pergi meninggalkan dia untuk selama lamanya.
"Udah,ayo kita pulang"ucap Mastur.
"Gue pergi dulu Ki,makasih udah jadi Abang yang baik buat gue,,"batin Rifki pilu.
Mereka pun meninggalkan pemakaman.
__ADS_1