
Arya sampai halaman rumah pukul empat pagi. Yang sebelumnya di jemput sopir pribadinya.
Arya membanting pintu mobil dengan keras. Dan segera menuju kamarnya dengan langkah lebar.
Di buka selimut Ania, dan ditarik tangan Ania. Ania sangat terkejut dan terbangun.
" Arya sakit, lepaskan! " kata Ania kesakitan.
" Ania, kenapa kamu terus menguji kesabaranku. Aku tak mempermasalahkan kamu mengambil semua kartuku, aku tak memperdulikan kamu menghabiskan uang dua milyar dalam sehari. Tapi kenapa kamu masih menemui laki laki lain saat aku tak ada, apa kamu tak menganggap aku sebagai suami " kata Arya penuh penekanan.
Ania tersenyum, karena apa yang di bicarakan semua temannya benar adanya. Tapi dia tidak menyangka jika Arya akan pulang sepagi ini dan semarah ini.
Ania turun dari ranjang dan berdiri. Dengan tangan masih di pegang Arya.
" Lepaskan " kata Ania sambil melihat mata Arya.
Ania meraih ponselnya diatas nakas.
" Kamu harus ketahui Arya, jika kamu keberatan aku menggunakan uangmu, aku bisa menggantinya. Aku tak kekurangan uang untuk membayar tagihanku. Kita memang di jodohkan, tapi bukan karena bisnis yang menguntungkan untuk keluargaku. Keluargaku mampu menghidupiku. Dan jika aku tak menganggapmu suami, lalu kamu bagaimana? Apa kamu menganggap aku istri? Kamu mengajak Alleandra pergi bersamaan begitu saja, tanpa meminta persetujuanku. Apa kamu tak menganggap aku istri? Kamu menuduhku bersama laki laki lain, yang sudah jelas ada Ema dan Samuel disana. Lalu kamu bagaimana? Aku pun tidak tahu, jika disana kamu berdua dengan Alleandra atau tidak. Aku sudah menuruti semua keinginanmu Arya, aku tidak bekerja, aku menjauh dari sahabatku, aku menjadi istri yang baik. Tapi apa yang ku dapat? kamu memarahiku, kamu mencemburuiku, tapi aku tidak boleh. Apa itu adil untuk ku Arya? " kata Ania panjang lebar
Terdengar bunyi notifikasi dari ponsel Arya.
" Aku sudah mengembalikan uang dua milyarmu, tidak kurang " kata Ania dengan menggerakan ponsel tanda baru saja mengirimkan.
" Aku ingin kamu lebih mengerti perasaan kita masing masing Arya, jika kamu ingin aku menjauhi sahabatku, maaf Arya aku tidak bisa. Seperti kamu, yang tidak bisa meninggalkan Alleandra " kata Ania
Melihat Arya ingin menjawab, Ania pun mendahului bicara. Karena dia tidak ingin memberi kesempatan Arya untuk bicara.
" Mungkin kamu akan bilang jika berbeda persahabatan kalian. Alleandra yang menolongmu, kamu berhutang budi dengannya. Lalu Steve bagaimana? Aku mengenalnya jauh sebelum aku mengenalmu Arya. Aku memang mencintaimu sejak dulu. Tapi aku bisa bertahan, saat kamu memilih memendam perasaanmu itu. Aku tidak suka kamu melakukan kekerasan seperti tadi Arya. Aku harap ini yang pertama dan yang terakhir Arya " kata Ania sambil keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Arya berpikir jika Ania keluar hanya turun kebawah. Tapi ternyata dia salah, saat mendengar suara mobil pergi dari halaman rumahnya.
Arya berlari turun, tapi dia sudah tidak melihat mobil Ania. Dia sudah pergi jauh dari rumahnya.
" Kenapa Kalian mengijinkan dia pergi ? Apa tugas kalian disini? teriak Arya Emosi pada penjaga rumahnya.
Arya kembali ke kamar, melempar semua barang barang yang di dekatnya.
" Kenapa kamu marah Ania, bukankah seharusnya aku disini yang marah " gumam Arya
Ania sebenarnya tidak marah, tapi saat mendapati Arya kasar padanya, ia ingin memberi ruang pada Arya untuk berpikir. Jika apa yang dia lakukan adalah salah. Dia tidak ingin Arya membiasakan bersikap kasar kedepannya.
Ania memutuskan tidak pulang kerumah orang tuanya. Karena dia tidak ingin permasalahan sepele ini terdengar keluarganya, yang nantinya akan semakin panjang. Dia memutuskan pergi ke villanya di puncak, sekaligus dia ingin menenangkan pikiranya.
Pukul enam pagi Ania sampai di vila, di hirup udara segar di puncak ini dalam dalam. Hawa dingin menyapa tubuhnya. Ania yang hanya memakai piyama karena tadi tidak sempat berganti pakaian pun segera masuk ke dalam. Disana ada satu pasang suami istri yang menjaga vila tersebut untuk membersihkan kesehariannya. Mereka tinggal di belakang Villa.
" Iya bik. Bisa tolong buatkan teh hangat bik, tangan ku sedikit kram karena kedinginan " kata Ania ramah
" Baik Non sebentar " kata Bik Marni kemudian dia berjalan ke dapur.
" Bik, pakaian gantiku masih ada kan yang di sini? " tanya Ania sedikit berteriak agar di dengar Bik Marni di belakang.
" Ada Non di lemari. Setiap hari saya rapikan kok " kata bik Marni serjalan ke arahnya yang sudah membawa nampan berisi satu gelas teh hangat.
" Mang Ujang kemana bik? Bisa tidak menyalakan perapian, di luar gerimis hawanya jadi dingin banget " kata Ania yang merasa minum teh saja masih kedinginan.
" Ada Non... sebentar saya panggilkan dulu Non " kata Bik Mirna sambil berjalan cepat ke belakang.
Tak lama Bik Mirna berjalan beriringan dengan suaminya dari belakang menuju ke arahnya.
__ADS_1
" Non Ania, Apa kabar Non " kata mang Ujang sambil bersalaman.
" Baik mang. Maaf Mang udaranya dingin banget, bisa tidak menyalakan perapiannya " kata Ania sopan.
" Bisa Non " kata Mang Ujang menunduk dan berjalan ke perapian.
" Sudah lama Non, tidak ke Vila " kata mang Ujang.
" Iya Mang, saya kan sekarang sudah bersuami, jadi tidak bebas seperti dulu, yang hampir tiap bulan muncak " kata Ania sambil menyeruput Teh hangatnya.
" Iya, apalagi suami Non kan ganteng banget. Pasti lebih betah di rumah kan Non? Tapi kok Suaminya ini gak ikut Non? " tanya Bik Marni yang begitu mengagumi ketampanan Arya
" Dia sibuk Bik, mungkin dia juga tidak menyadari aku pergi, saking sibuknya " kata Ania renyah seperti sebuah candaan.
" Non ini pinter banget becandanya. masak istri secantik Nona bisa di abaikan " kata Bik Marni yang ikut tersenyum.
Disini Ania menemukan ketenangan, menghilangkan sejenak beban di kepalanya. Dia tidak mau memikirkan Arya yang sedang marah, karena itu akan memperburuk moodnya.
Arya kelimpungan sendiri di rumah, dia habis dari rumah mertuanya, namun dapat di pastikan Ania tidak ke sana. Karena Andini menanyakan anaknya yang tak ikut bersamanya saat kesana, pun mobilnya juga tidak terparkir di sana.
Ania mencoba menghubungi Ema, namun Ema tidak tahu, karena sekarang, dia pun sedang masuk bekerja.
Arya mengerahkan semua anak buahnya, untuk mencari tahu keberadaan Ania.
" Ania, kenapa kamu harus pergi. Lebih baik kamu memarahiku, atau memukulku dari pada kamu menghindariku " kata Arya sambil melihat bingkai foto pernikahan mereka yang di taruh di nakas kamarnya.
Arya baru menyadari jika istrinya sangat berarti di hidupnya. Karena belum genap sehari. Arya sudah seperti kehilangan setengah nyawanya.
Hai readerku semua... Minta like and komennya ya... biar aku tambah semangat...😘😘😘
__ADS_1