
" Bagaimana Sean? " tanya Arya khawatir
" Aku rasa kakak ipar hanya kecapekan. Apa kakak ipar punya riwayat penyakit maag sebelumnya? " tanya Sean
" Tidak ada, karena biasanya aku makan teratur. Apa ada masalah dok? " tanya Ania penasaran.
" Kalau tidak ada riwayat seperti itu, berarti ini baru pertama kali, kemungkinan kamu hamil kakak ipar. " kata Sean
" Hamil ?? " tanya Ania tak percaya.
" Untuk lebih akuratnya kakak ipar bisa periksakan ke dokter khusus kandungan. " jawab Sean tersenyum dan menatap heran pada Arya yang sama sekali terlihat tidak bahagia.
" Selamat bro... Kamu akan jadi ayah. " kata Sean
Arya hanya diam saja tak menjawab. Tubuhnya sudah lemas, dia belum ingin mempunyai anak, dia belum rela jika cinta Ania harus terbagi dengan anaknya nanti.
" Sayang... Aku akan jadi ibu. Kita akan jadi orang tua sayang. " kata Ania mengulurkan tangan ingin di peluk oleh Arya.
Arya yang tidak ingin mengecewakan istrinya pun tersenyum terpaksa, dan menyambut pelukan itu. Ania terus mengelus elus perutnya yang masih rata. Walaupun belum pasti, namun Ania sudah nyakin jika dirinya hamil. Karena sudah lama dia tidak kedatangan tamu.
Setelah selesai memeriksa Sean pun pamit undur diri. Di saat akan keluar Sean membisikan sesuatu di telinga Arya.
" Siap siap puasa tiga bulan bro... " kata Sean menepuk pundak Arya
Arya yang mendengar pun semakin panas, dan berharap Ania belum benar benar hamil.
Ania tersenyum menatap Arya, dia sangat bahagia bisa menjadi wanita seutuhnya, dia bisa melahirkan anak untuk Arya.
" Ania sayang......! " suara barinton dari luar kamar
Ternyata sudah ada Andini dan Arumi yang datang bersamaan.
" Sayang...apa yang kamu rasain?. kamu pengen apa? apa masih mual? Itu biasa diawal kehamilan sayang, nanti juga ilang sendiri kok. " kata Arumi tanpa jeda.
" Mama cepet banget datengnya. " kata Arya sambil mencium tangan kedua wanita paruh baya itu.
" kami kan necan yang siaga. " kata Arumi menjawab
" Necan? Apa itu Necan ? " tanya Arya
__ADS_1
" Nenek cantik...! " jawab Andini dan Arumi bersamaan.
" Dasar nenek nenek, makin tua makin jadi " kata Arya
" Anak durhaka kamu ya. " kata Arumi mau menjewer Arya namun menghindar.
" Sayang... aku punya teman dokter kandungan, aku sudah kontak dia. Dia bisa kemari kok, tanpa kamu harus ke rumah sakit. Untuk saat ini kamu jangan banyak bergerak ya sayang. " kata Arumi lagi.
Andini terus membelai anak kesayangannya.
" Sayang apa kamu masih pusing? " tanya Andini lembut
" Sedikit ma. " kata Ania yang masih sedikit lemas
" Istirahatlah mama akan menjagamu " kata Andini tersenyum
Arya semakin jengkel mama mereka membuat gaduh, mereka sibuk mengerumini Ania, tanpa memberi waktu Arya berbicara. Akhirnya Arya yang pusing mendengar tiga wanita bercengkerama itu pun memutuskan untuk keluar kamar.
Arya masih memikirkan kehamilan istrinya, kenapa dia masih belum bisa menerima kehamilan itu.
" Bukan aku tak menginginkan anak, tapi hanya belum siap jika Ania harus berbagi dengan anak kita. Aku sangat mencintai Ania, aku takut terjadi sesuatu dengannya juga. " gumam Arya mengusap wajahnya.
Seharian Arya mengurung diri diruang kerjanya, dia melamun memikirkan nasibnya, yang seolah akan diabaikan oleh Ania.
" Bukan begitu ma, aku ingin menenangkan diri. Aku belum siap menjadi ayah ma. " kata Arya
" Apa maksutmu Arya? kamu tidak bahagia Ania hamil? " tanya Arumi heran. Bagaimanapun semua pasangan sangat menginginkan kehadiran buah hati. Tapi kenapa Arya justru mengatakan belum siap.
" Bukan begitu juga ma, aku hanya takut Ania mengabaikan aku. " jawab Arya
" Kamu jangan seperti anak kecil seperti ini Arya, anak adalah sumber kebahagiaan dalam suatu hubungan. Jika terjadi keretakan dalam rumah tangga kalian, justru anaklah penguatnya. Ania sudah cukup umur menjadi seorang ibu. Apa kamu ingin Ania mengandung diusia tua, yang akan jauh beresiko terhadapnya. Seharusnya kamu sangat bahagia, karena dengan Ania hamil anakmu, dia tidak akan pernah meninggalkanmu, kamu bisa mengikatnya. " kata Arumi
Arya terdiam mencerna setiap ucapan mamanya, yang menurutnya adalah benar. Dia mungkin harus membuka hati untuk menerima buah cintanya. Akhirnya Arya terseyum, dia pun memeluk mamanya.
" Mama benar, akulah yang terlalu egois. Aku akan berusaha menerimanya ma. " kata Arya
" Papa sudah di luar, dari tadi. Kami mau pulang dulu, sudah malam. Besok mama kesini lagi. " kata arumi
Arya pun berjalan dibelakang mamanya tanpa menjawab.
__ADS_1
" Arya kamu sudah pulang? " tanya Ania saat Arya memasuki kamar bersama mama Arumi, Ania pikir suaminya pergi bekerja.
" Iya. " jawab Arya begitu saja.
Arya pun sempat bertegur sapa dengan papa dan papa mertuanya, ketiganya berbicara serius layaknya pengusaha yang berwibawa di balkon kamarnya.
Ania tersenyum melihat suaminya, Arya terlihat sangat tampan dan berkharisma. Ania sangat mengagumi suaminya, walaupun terkadang menjengkelkan, namun tak dapat ia pungkiri jika rasa cintanya semakin dalam pada Arya.
Setelah selesai berbicara panjang lebar, Arya dan kedua papanya masuk. Orang tua mereka memutuskan untuk pulang karena hari sudah mulai malam.
Setelah selesai berpamitan cupika cupiki Arya mengantar keempat orang tuanya turun kebawah untuk pulang.
Setelah kembali kekamar, Arya membersihkan diri, lalu setelah selesai ia ingin kembali ke ruang kerja.
" Arya, apa kamu tidak suka dengan kehamilanku? " tanya Ania
Arya berhenti lalu menatap istrinya.
" Kenapa kamu bertanya seperti itu? " kata Arya
" Aku melihatnya Arya, sedari dokter mengatakan aku hamil, tak ada senyum lagi di wajahmu. Apa kamu meragukan ini bukan anakmu? " tanya Ania dengan sudah meneteskan airmata. Mungkin karena dia sedang hamil, Ania sekarang menjadi lebih, mudah marah, mudah menangis, bahkan mudah tersinggung.
" Bukan begitu Ania. " kata Arya sambil mendekati istrinya.
" Aku hanya ingin mengendalikan diriku, kehamilanmu masih terlalu muda, aku takut lepas kontrol hingga menyakitimu dan anak kita. Setiap aku di dekatmu, aku selalu menginginkan mu Ania. Lagi pula aku harus membiasakan diriku jika nantinya kamu lebih mengutamakan anak kita dari pada aku. " kata Arya dengan menatap dua bola mata istrinya.
Ania pun merentangkan tangannya pertanda menyerahkan diri. Arya melihatnya dengan tersenyum.
" Jangan menggodaku Ania. " kata Arya yang masih bisa mengendalikan diri.
" Bagaimana jika anakmu yang merindukan ayahnya? " kata Ania tersenyum, ia malu jika harus mengatakan dia sendirilah yang menginginkan nya.
" Benarkah? Apakah dia ingin aku menengoknya? " kata Arya dengan ragu ragu mengulurkan tangannya untuk mengelus perut yang masih rata punya Ania.
Ania pun tersenyum, saat ia melihat senyum Arya dan ada ketulusan seorang ayah untuk anaknya disana.
" Tidak akan ada yang berubah Arya, Aku akan selalu mencintaimu. Dan akan bertambah sangat mencintaimu, jika kamu juga mencintainya. " kata Ania sambil ikut memegang perutnya.
" Anak ini adalah bukti cinta kita Arya, dia akan menjadi penguat, layaknya pupuk yang semakin menguatkan akar rumah tangga kita nantinya. " kata Ania tersenyum.
__ADS_1
Arya pun mencium kening istrinya.
" Aku akan selalu mencintaimu Ania. Berjanjilah tidak akan pernah meninggalkan aku. " kata Arya yang diangguki oleh Ania