Biarkan Cinta Bicara

Biarkan Cinta Bicara
BAB. 38


__ADS_3

Ania masih terlelap pada tidurnya, padahal biasanya Ania pasti lebih dulu bangun mempersiapkan semua keperluan suaminya berikut sarapannya.


Arya yang sudah siap berangkat kantor pun menghampiri istrinya.


" Ania .... sudah jam setengah delapan. Kenapa kamu tak bangun bangun? Kamu sakit? " tanya Arya memegang kening istrinya


Ania yang mencium aroma parfum suaminya langsung merasa mual. Perutnya seolah olah sedang mengaduk aduk berasa ingin di keluarkan.


Ania membuka matanya, terlihat wajah Arya yang sedang mencemaskannya. Ania langsung mendorong Arya menjauh dari hadapannya, dan segera berlari ke kamar mandi.


" Hoek....hoek... " Ania memuntahkan semua yang berada di perutnya, hingga terasa pahit di tenggorokannya.


" Sayang.... Kamu gak papa? Kamu sakit sayang? " tanya Arya khawatir.


Ania mendorong Arya keluar dari kamar mandi.


" Parfume apa yang kamu pakai Arya? Baunya sangat tidak enak. Kepala ku jadi pusing dan mual. " teriak Ania dari kamar mandi.


Arya mencium aroma tubuhnya, masih sama seperti biasanya.


" Mungkin kamu kurang istirahat dan kecapekan aja sayang, kamu terlalu semangat dalam pesta kemarin. Jadi sekarang masuk angin. Aku pakai parfume biasanya kok. " kata Arya


" Mending kamu ganti baju, dan gak usah pake parfum deh. Aku jadi pusing kalo kamu masih pakai baju itu. " teriak Ania yang masih muntah muntah.


Arya yang tak tega mendengar istrinya muntah muntah pun melepas kemeja dan singletnya, dia membuang begitu saja, langsung ikut masuk di kamar mandi. Di lihat istrinya terduduk di bawah wastafel, wajahnya sangat pucat.


" Ania.... " kata Arya dengan langsung mengangkat istrinya keluar. Arya mendudukan istrinya di sisi ranjang. Di pegang dahinya, namun tidak panas.


" Rebahkan tubuhmu, aku akan menyuruh bik Marni membuatkan teh hangat untukmu. " kata Arya sambil mencium kening Ania


Arya keluar dari kamarnya dan berteriak dari tangga memanggil bik Marni. Surti yang mendengar teriakan Tuannya pun segera mendekat.


" Bisa di bantu Tuan? " tanya Surti


" Kamu bilang bik Marni untuk membuatkan secangkir teh hangat juga bubur. Hari ini Ania tak enak badan. " kata Arya,


Surti pun segera memberitahukan pada bik Marni untuk segera membuatkan pesanan Arya. Mareka tampak khawatir dengan keadaan Ania, karena selama ini Ania sangat baik terhadap mereka. Seperti tidak ada pembatas antara pembantu dan majikan. Karena Ania selalu membaur saat di rumah.

__ADS_1


Arya segera kembali melihat keadaan istrinya. Terlihat Ania sedang memejamkan matanya.


" Sayang... aku sudah memanggil dokter Sean untuk memeriksa mu. Apa kamu butuh sesuatu. " tanya Arya dengan memegang tangan istrinya.


Ania membuka matanya, terlihat Arya yang masih telanjang dada. Entah kenapa Ania sangat suka melihat Arya yang seperti itu, hingga dia tersenyum.


Arya yang merasa sedang di lihat Ania pun melihat tubuhnya, hingga dia beranjak bangun. Dia takut Ania akan marah karena tak memakai baju. Namun Ania menahan tangan Arya.


" Arya bisakah kamu memeluk ku? Aku suka kamu seperti ini. " ucap Ania


Arya yang tak percaya dengan ucapan Ania pun segera ikut merebahkan tubuhnya sebelum Ania berubah pikiran. Ania yang di peluk Arya pun bermain main di ****** Arya.


" Sayang ... geli. " ucap Arya


" Aku suka sayang. " kata Ania manja


Akhirnya Arya pun mengalah, membiarkan istrinya bermain main di sana. Walau sebenarnya ia masih bingung dengan keadaan Ania, semalam saja jangankan di peluk, di dekati pun Ania akan marah marah.


Ania membenamkan wajahnya di ketiak Arya, dia sangat menyukai kondisi ini, hingga dia tertidur kembali. Melihat Ania tertidur, Arya pun bangun pelan pelan


" Pa... Tolong gantikan meeting Arya pagi ini pukul sepuluh bisa? " tanya Arya saat panggilannya tersambung.


" Memang ada apa Arya? Tak biasanya kamu ijin seperti ini? tanya Papanya


" Ania sedang sakit Pa, aku tak tega meninggalkan dia sendiri. " kata Arya


" Sudah panggil Sean untuk memeriksa? " tanya papanya.


" Sudah tapi belum sampai Pa. " kata Arya.


" Ya sudah, nanti biar kami ke rumah menjenguk Ania. Memang apa yang di keluhkan? Jika tidak memungkinkan kamu langsung bawa saja kerumah Sakit saja. " kata Papa Arya


" Ania pusing, terus tadi muntah muntah Pa. Mungkin Karena dia telat makan, di tambah dia kecapekan ikut acara kemarin Pa. " jawab Arya


" Siapa yang muntah muntah pa? " tanya mama Arya yang ikut menyahut di sambungan telpon sana.


" Ania " jawab Papanya Arya.

__ADS_1


" Wah kabar bagus itu. Kita mau punya cucu. Aku harus ngabarin Andini Pa. Mereka pasti senang, kita harus gelar syukuran Pa. Biar cucu kita sehat. " kata Arumi


Arya pun memutuskan panggilan teleponnya. Dia tak mau mendengarkan Mamanya yang pasti tak akan ada habisnya berbicara nanti.


" Cucu...? Berarti Ania sedang hamil ? Pantas saja dia berubah dari kemarin. Kenapa cepat sekali? Aku belum rela jika kebersamaan ku dengan Ania terganggu dengan kehadiran anak kami. " ucap Arya


Arya mendekati Ania yang masih memejamkan matanya. Diusap wajah cantik istrinya. Terdengar pintu kamar di ketuk.


Tok..tok...tokk...!


" Masuk " kata Arya


" Arya... Kenapa kamu telanjang dada seperti itu? Apa kamu tidak takut masuk angin. " tanya Sean mendekati Arya


" Cepat kamu periksa Ania. " kata Arya tanpa menjawab pertanyaan Sean.


Sean pun membuka tas dinasnya, dan mengeluarkan stetoskop. Dia ingin mengulurkan tangan menempelkan stetoskop di dada Ania, namun Arya menahanya dan berteriak.


" Apa apaan ini. Apa yang mau kau lakukan? " tanya Arya tak terima


Ania pun membuka matanya, dia terbangun karena suara bising suaminya. Di lihat disampingnya ada dokter yang ingin memeriksanya.


" Sakit apa saya dok? Kenapa aku merasa sangat pusing, dan perutku mual mual terus. " kata Ania


" Kakak ipar sudah bangun. Aku mau memeriksamu, namun ada anjing penjaga yang mau menerkamku. " kata sean


" Kamu berani mengataiku? Tunggu saja Mutasi kerjamu, akan kupindahankan ke negeri Sudan segera kamu, supaya matamu sedikit puasa dari wanita yang mulus mulus. dasar dokter cabul. " kata Arya


" Kamu saja yang otaknya kotor, bagaimana aku bisa tahu kondisi kakak ipar, jika kamu melarangku menyentuhnya. " kata Sean membela diri


" Kamu berani mengataiku sekali lagi, akan ada Mutasi kerjamu ke Sudan besok. Seorang dokter cabul sepertimu mana bisa di percaya, jangan jangan kau mencuri kesempatan. " Arya ngotot.


Ania yang melihat suami dan dokter itu bergaduh pun menggelengkan kepalanya.


" Jika kamu tak percaya padanya, untuk apa kamu memanggilnya Arya. Aku sudah sangat pusing, bisakah kalian lanjutkan pertengkaran kalian di luar. " kata Ania yang sudah lemas


Akhirnya Arya pun menyuruh Sean untuk memeriksa kondisi Ania, dengan Arya yang menempelkan stetoskop di dada Ania dan Sean mendengarkannya. Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya, Ternyata seorang Arya bisa sangat posesif terhadap istrinya. Padahal selama ini Arya terkesan dingin pada setiap wanita.

__ADS_1


__ADS_2