Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 36


__ADS_3

Seminggu kemudian


Sepulang kerja, aku mengeluarkan gawai, melihat-lihat foto diriku dan Surya di pusat kota.


"Apa kangen itu rasanya emang menyiksa seperti ini?" Gumamku.


Baru kali ini aku merasakan sebuah rindu dan cinta, rasanya indah ketika bertemu, tetapi menyakitkan ketika berpisah. Air mata menetes, mataku menerawang ke jendela apartemen. Tangis berlanjut hingga sesenggukan. Apa memang aku tidak boleh bersamanya, Tuhan?


Tiba-tiba, pintu ruanganku diketuk seseorang, setelah tidak ada Surya memang pintu sering aku kunci. Dengan malas, aku melangkah ke pintu.


"Siapa sih, tumben ada tamu," dengusku sambil mengusap air mata.


Setelah membuka pintu, aku membelalak kaget.


"Ngapain nangis?" Tanya tamu itu.


Aku segera berbalik dengan senyum mengembang. Entah apa pun alasannya, Surya kembali di hadapanku!


Aku segera masuk, dia mengekori.


"Kenapa balik?" tanyaku berbasa-basi menyembunyikan senyumku.


"Ga apa-apa," katanya sambil meletakkan koper yang lebih besar dari yang dia bawa sebelumnya.


"Kemarin aku cuma meriksa kantor," lanjutnya.


"Lha kok kamu balik lagi ke sini?" tanyaku pura-pura aja, padahal hati bersorak ga karuan.


"Kamu nangisin aku kan tadi?" katanya sambil mencolek daguku.


"Ih, kege-eran, aku nangis karena bawang tuh," kataku.


Dia tidak menghiraukan, lalu merebahkan diri di tempat tidur seperti dulu waktu tiba pertama kali di apartemenku.


"Kerjaan kamu gimana ditinggal-tinggalin? Trus Cantika?" kataku masih dengan berdiri di sampingnya


Ah, kenapa aku ngomongin adikku lagi?


"Kan ada yang ngurusin, ada kepala-kepala bagian kan? Ditinggal selama sebulan pun akan tetap jalan perusahaan itu. Bulan depan tinggal aku check laporannya."


"Enak ya, jadi boss," tukasku.

__ADS_1


"Ya enak, makanya kamu mau ga jadi istri boss?"


Sumpah, aku ga bisa nahan senyumku yang selalu aku tutupi dengan berbalik memunggunginya.


***


Surya POV


Aku kesal karena Valeria dekat lagi dengan seorang cowok, ga tau itu siapa. Masa, dia antar jemput Valeria gitu. Aku ga rela, pengen marah tapi marah pada siapa? Akhirnya aku hanya uring-uringan di kantor. Cantika tidak bisa meredakan amarahku. Aku bertahan dengannya hanya karena kakaknya, Valeriaku. Tuhan memberiku jalan bertemu dengan Valeria ternyata lewat Cantika. Dulu sempat seperti jatuh cinta karena dia mirip Valeria, tapi sifatnya beda banget. Setelah menemukan Valeria lagi, cintaku nyata. Ini benar-benar cinta yang sebenarnya, bukan abal-abal.


Nah, kembali lagi ke cowok yang suka bareng sama Valeria, aku cemburu, sumpah. Makanya aku ketus padanya, dia pun seolah tidak peduli padaku. Hingga Papa dan Mama mau terbang ke Jerman untuk berlibur. Kutinggalkan kerjaan, ingin ikut mereka, butuh piknik.


Sesampainya di sana, pasti Papa dan Mama wajib mampir dulu ke Bu Magda. Sewaktu itu, Bu Magda ada di kantor, kami pun menyambanginya. Eh, kok ada Valeria, aku mengucek mata waktu di mobil, bener kan itu Valeria? Cantik... walau hanya memakai lipstik tipis, tapi natural dan aku suka banget, tapi kemudian aku ingat tentang cowok itu juga tentang Reno.


Aku mendengus kesal saat bertemu dengannya. Dia pun terlihat cuek, tapi ini saatnya aku berdekatan dengannya. Waktu mau berangkat ke sana, Bu Magda menawarkan apartemennya yang kosong pada kami tetapi, Mama tidak ingin repot dan merepotkan, jadi Mama memilih untuk menginap di hotel saja. Nah, aku bilang aja mau tidur di apartemen yang kosong itu, aku tahu Valeria tinggal di apartemennya Bu Magda.


Mama sepertinya suka pada Valeria, aku telah yakin dari awal, sifatnya kan baik, sopan, dewasa, dan sederhana. Mama banget. Apalagi kalau suka, Mama suka memperlihatkan ke orangnya, udah kutebak pasti Mama mencari tahu tentangnya. Aku mah masih cuek, tapi kalau dinikahkan saat itu juga, aku pasti mau.


Sengaja aku mengerjainya, biar dia memperhatikanku. Sebel banget kalau dia itu sepertinya ga menghiraukanku, nah kali ini aku kan tamunya Bu Magda, jadi dia harus dong memperhatikanku, sebenarnya aku tahu kunci apartemennya belum dibawa, makanya aku cepat-cepat, biar dia ga ingat.


Ternyata banyak karyawan yang suka padanya. Ga seperti aku yang selalu disegani, tidak ada karyawan yang mendekat karena sepertinya mereka takut padaku. Setibanya di parkiran, aku masih mengerjainya, tapi dia sangat sabar menghadapiku, jadi gemes, kepengen banget memeluknya.


Masih ada yang mengganjal di hatiku, tentang cowok itu dan si Reno. Kutanyakan padanya sewaktu di jalan, akhirnya dia mengaku kalau mereka hanya berteman. Ah, leganya hatiku. Soal Reno, sepertinya dia juga tidak ada hubungan apa-apa lagi, karena kalau aku tanyakan, sepertinya dia ga berkenan. Walau aku masih penasaran.


Ketika bangun rasanya haus dan lapar, aku minta padanya, dia dengan sabar membuatkanku entah apa, sebentar kemudian dia menjerit, aku segera melompat dari ranjang, padahal aku masih mengantuk. Jarinya terkena pisau! Benar-benar panik aku saat melihat jarinya berdarah, ini semua gara-gara aku yang minta ini-itu. Kepanikanku malah dia anggap lebay. Tidak Val, aku benar-benar ga mau kamu sakit.


Aku memperhatikannya sambil iseng menanyainya tentang Reno, dia jengkel lalu bilang kalau masak sambil jengkel, bikin bersin dan perut sakit, ah pasti dia bohong. Tiba-tiba mencium pedasnya bumbu yang digoreng bikin hidungku gatal, alhasil aku benar-benar bersin! Kapok, ternyata dia benar lalu aku menjauh darinya.


Nasi gorengnya enak banget, apalagi yang membuat Valeria, jadi kepengen menu-menu lain, kuminta ayam kecap kesukaanku, dia kupaksa agar mau membuatkannya untukku. Akhirnya dia mau!


Aku kesal karena office boy malah mengantar kunci ke apartemen, jadi ga punya alasan untuk berada di ruangan Valeria. Dia membantuku membersihkan ruangan itu, bersih banget. Aku mengajaknya untuk berlagak sebagai suami istri, maksudku bukan yang adegan ranjang, tapi aku hanya ingin menggodanya, aku ingin merasakan ada yang menyediakan segala kebutuhanku di rumah, kan Valeria bisa latihan dulu jadi istriku, eh dia mau ga ya jadi istriku?


Aku mengganti nomorku dengan kartu baru yang bisa kupakai di sini. Nomor itu yang tahu hanya Valeria, kuberi tahu dengan menelponnya di depan pintu. Dia malah sewot ketika aku bilang ganti nomor agar tidak diteror adiknya.


Malamnya kami belanja. Aku senang melihat cewek yang suka belanja sayuran, meski kalau Valeria mau baju atau perhiasan pun akan kubelikan juga. Kubawakan belanjaannya, aku mau kok Val, bawain semuanya untukmu, bahkan tas jinjingmu pun aku mau bawain kalau kamu kerepotan. Aku ga malu kalau sama kamu.


Sesampainya di apartemen, kuletakkan belanjaan di tempat yang biasa Valeria gunakan untuk menaruh belanjaan, setelah itu dia masak. Ayam kecapnya juga enak, aku mau apa lagi ya? Sup sosis, ah iya. Eh dia malah kesal, bilang ga sekalian belanjanya. Malah nyuruh aku belanja sendiri, ya ga mudeng lah.


Sorenya, aku kasihan jika dia kecapekan. Udah kerja seharian, masih masak untukku. Jadi aku membuka kulkas, ada udang dan sawi. Lalu aku buka internet dan mencoba resep di internet itu. Tak sabar ingin menyajikan untuk Valeria. Hasilnya puas sekali, Valeria bilang enak. Padahal baru kali itu aku pegang wajan.


Setelah Valeria mandi, dia duduk di sebelahku, wangi, cantik. Aku jadi ingat bunga mawar di tamannya Mama, tapi dia seperti mengusirku. Aku tak bergeming, tiba-tiba hal konyol aku pinta padanya, aku minta pelukannya. Tak disangka, dia mau, aku pun menanyakan siapa yang pernah dia cintai, pengen tahu aja. Dia hanya diam. Ya udahlah, jika dia tidak mencintaiku, aku bilang aja semoga dia menemukan orang yang mau menjaganya dengan baik, meski aku lah yang menginginkan dia.

__ADS_1


Aku segera beranjak melepas pelukannya, agar dia tidak melihatku menangis, lalu berpindah ke ruang apartemenku. Aku berdoa memohon pada Tuhan agar aku bisa menjaganya, agar hatinya terbuka padaku. Aku bercengkerama dengan Tuhan malam itu. Lama. Menangis di hadapan-Nya, Tuhan tidak akan melihat laki-laki atau perempuan yang menangis, tentu aku boleh menangis di hadapan-Nya. Tak kupedulikan perutku yang kosong, lupa makan. Hingga waktu menunjukkan pukul 3 pagi, aku masih saja berdiam diri pada Tuhan, karena banyak yang telah aku sampaikan.


Paginya badanku menggigil ga karuan, rasanya pusing, kepalaku panas. Aku ga bisa bangun karena badanku lemas. Untungnya, Valeria masuk ke kamarku. Dia menyadari kalau aku sakit, dia bawakan teh panas dan minyak angin. Kuminum tehnya, dia membalur tubuhku dengan minyak angin. Dipakaikanlah kaos kaki di kaki-kakiku, sedikit membantu merasa hangat di kaki.


Dokter datang memeriksa, lalu disusul Papa dan Mamaku, mereka datang saat aku disuapi Valeria. Valeria kelihatan gugup, mau menaruh piring tapi ga jadi karena aku milih dia yang menyuapiku. Ya jelas milih Valeria lah, sabar. Kalau Mama? Bisa-bisa pakai centong nyuapi aku.


Setelah Papa dan Mama pergi ke acara mereka, aku tidur lagi. Mual yang kurasa, mungkin karena aku ga makan dari siang sampai sore. Tidurku pun ga nyenyak. Ketika bangun, Valeria ga ada di sekitarku lagi. Aku mencarinya di ruang sebelah, ternyata dia baru di dapur. Tadi Mama udah telepon Bu Magda untuk mengijinkan Valeria. Mungkin dia ga jadi kerja hari ini. Melihat dia ada di sekitarku, aku merasa tenang. Lalu aku terlelap lagi, obat yang kuminum mungkin ada efek mengantuk.


Setelah bangun, dia berada di sampingku dengan duduk di karpet. Ah, kasihan, aku mencium keningnya. Dia malah bangun. Lalu dia menyuruhku makan. Dia masak sup! Aku makan dengan disuapinya. Sebenarnya aku bisa sendiri, tapi kesempatan lah bisa disuapi Valeria.


Manjaku kumat, aku minta dia jadi pacarku selama di Jerman, harapannya sih sampai akhir hayat, dia bilang terserah. Mama aku dapet lampu ijo! Karena senangnya, aku memeluk dia hingga jatuh terjerembab di karpet. Aku berada di atasnya, muka kami dekat sekali, tapi dia langsung mendorongku. Aku pun menyingkir, lalu merajuk ingin jalan-jalan.


Malam pun tiba, aku ga mau tidur di ruanganku, rasanya sedih kalau dibatasi tembok dengan Valeria. Lagian aku juga ga akan ngapa-ngapain dia. Ga akan aku ulangi perbuatanku dulu, aku akan menjaganya. Dia tidur di sofa.


Esoknya setelah dia menyiapkan makan pagi, aku tagih janjinya untuk mengajakku jalan-jalan, aku sebenarnya masih agak lemas, tapi karena ada Valeria, maka aku kuat-kuatin. Dia benar-benar mengajakku jalan-jalan. Kami menghabiskan waktu bersama, foto-fotonya banyak di gawaiku.


Setelah itu kami pulang, dia sepertinya kelelahan, ya mengurusku, ya menurutiku. Aku menebusnya dengan menjaganya di malam itu. Aku tidur di sofa, sejenak aku menatapnya, tidur aja cantik.


Pagi-pagi benar, aku bangun menyiapkan sarapan untuknya, telur dadar dan susu, gampang kok. Kupandangi dia yang sedang lahap memakan buatanku, aku jatuh cinta padanya. Ketika sedang mengaguminya, dia beranjak mau pergi, kutahan dia, kupeluk dan kucium bibirnya. Aku ga bisa menahannya, sungguh. Dia langsung melepas pelukanku dan pergi berlalu.


Valeria pulang ketika aku sedang membersihkan lemari pendingin, banyak barang serta bunga es di dalamnya, seperti kandang pinguin. Sebelum dia pulang udah kubuatkan jus jeruk. Dia meminumnya, aku tahu dia pasti kehausan. Lalu dia masuk ke kamar mandi, kudengar suaranya menyanyi di sana. Dia lagi senang kali, jadi nyanyi-nyanyi gitu, kuhadang di dekat pintu, ketika keluar kulanjutkan lirik yang mencerminkan dirinya, lalu kucium tangannya. Dilepaskannya lalu dia duduk di depan televisi, aku pun kembali menata makanan di lemari pendingin.


Aku sebal sekali ketika dia menyinggung nama Cantika ketika aku memancingnya, ingin tahu perasaanya padaku, tetapi malah seolah menyudutkanku. Udahlah, aku diam saja.


Malamnya, aku teringat ada janji dengan pemilik sebuah perusahaan di Jakarta, untuk menandatangani proposal sebuah event, karena mendesak, aku memesan tiket pulang. Ah, berpisah dengan Valeria.


Aku bilang padanya kalau aku mau pulang ke Jakarta, dia hanya menanggapi sepatah dua patah kata. Hmmm... lalu dia berangkat kerja. Kutunggu dia, aku mau berpamitan, tapi ga juga pulang, ga mungkin aku cancel keberangkatan. Jadi aku tinggalkan saja pesan padanya. Aku tunggu di Jakarta ya, Val.


Sampai di Jakarta, aku beristirahat dulu karena jet lag. Esok harinya aku berangkat ke kantor. Cantika marah-marah di kantor, bilang kenapa ga bisa menghubungiku. Kami jadi tontonan di kantor, kalau aku layani, dia perempuan. Jadi hanya aku dengarkan saja sambil mengecek berkas-berkas yang masuk.


Tamu datang dan urusan kami selesai, Cantika entah kemana, dia tidak pamit juga padaku. Aku ga peduli juga. Ingin aku memutuskannya, tapi jika tanpa alasan, nanti malah berkesan tidak baik bila langsung mendekati kakaknya. Aku tahu perasaanku pada Cantika bukan cinta, tapi karena wajahnya mirip kakaknya. Entahlah, biar nanti Cantika yang mengakhiri bila dia ga betah menghadapiku.


Hari-hari rasanya sepi, aku merindukan Valeria yang selama ini di sampingku. Apa seperti ini rasanya kangen, aku baru kali ini kangen sama seorang perempuan, sungguh menyiksa, apalagi masih tiga minggu lagi dia pulang. Kucoba bertahan, seminggu kemudian aku benar-benar ga betah. Papa dan Mama sudah pulang ke Jakarta, aku meminta ijin untuk terbang lagi ke Jerman.


Mama tersenyum-senyum, seolah tahu maksudku, dia langsung memperbolehkan aku ke Jerman lagi. Kali ini aku bawa baju agak banyak, dua mingguan aku akan di sana.


Sesampainya di apartemen itu, hatiku berdebar-debar seolah akan bertemu dengan kekasih. Iya, anggap aja kekasih. Kuketuk pintu ruangannya, agak lama dia membukakan pintu. Ketika terbuka, ah si cantik ini yang kurindukan sampai aku gila bolak-balik ke Jerman. Dia terlihat kaget, tapi kulihat matanya memerah berair, dia nangiskah? Kugoda apa karena aku, ternyata karena bawang merah.


*********


Hay readers, gimana ceritanya? Semoga dengan keterbatasan saya, masih bisa membuat karya yang menghibur untuk mengisi waktu luang kalian ya, makasih banyak telah mengikuti cerita ini. Love u always. Please like, comment, rate 5 and vote. Tanpa kalian, saya bukan apa-apa.

__ADS_1


Surya



__ADS_2