Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 55


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Surya hanya bernyanyi-nyanyi padahal aku sedang penasaran.


"Apa sih, nyanyi-nyanyi? Jangan-jangan aku mau diculik?" ujarku kesal.


"Apa? Nyulik? Ganteng-ganteng gini masa ada tampang penculik?" sahutnya.


"Hmmm... Terserah deh, mendingan aku tidur."


"Ya situ," ujarnya makin membuatku kesal.


15 menit kemudian, mobil berbelok ke jalanan berpasir putih, di sepanjang jalan itu terdapat jajaran pohon sengor yang menyejukkan.


"Ah, kamu ga bilang kalau ajak ke pantai, mana aku ga bawa baju ganti."


Aku mencubiti lengannya yang disambut dengan tawa dan teriakan mengaduh, "Kamu ga usah bawa ganti, udah aku sediain di dalam koper di bagasi tuh. Lengkap sama kacamata dan topi."


Aku membelalak, "Kamu ambil dari mana baju-baju itu?" tanyaku menginterogasi.


"Ya beli lah, khusus buat kamu," katanya sambil mencari parkiran yang kosong.


"Emang kamu tahu ukuran bajuku?" tanyaku menatapnya ga yakin.


"Ukuran bra sama CD kamu aja tahu," katanya cuek sambil membelokkan setir mobil.


"Kamu pernah ngintip aku ya!" tuduhku.


"Ya ga lah, kan kita pernah sekamar waktu di apartemen kamu, ngapain aku pake ngintip-ngintip?" Ujarnya sambil menetralkan gigi lalu mematikan mesin mobil, kemudian memutar badannya menghadapku.


"Waktu kamu tidur, kan aku bukain bajumu."


"Aahh, Surya!!!" Kucubiti lagi lengannya, dia mengaduh kesakitan.


"Engga, engga! Waktu itu aku merapikan baju-baju di lemari kamu, jangan bilang kalau lupa." Tangannya menunjuk padaku dengan mata menyipit.


"Oh, iya ya? Pas buka lemari, tiba-tiba baju-bajuku uda kayak baris berbaris aja, rapi banget. Itu kerjaan kamu? Kirain peri gigi..." ujarku menekan dagu dengan telunjukku.


"Ini peri baju, peri kulkas. Gara-gara peri ini apartemen kamu rapi kan?" katanya membanggakan dirinya sendiri.


"Iya deh." Kulirik dia yang langsung menepuk pipinya pakai telunjuk.


"Apa?" Tanyaku berlagak ga paham.


"Awas, nanti bajunya aku sembunyiin, pulang noh pakai handuk!" Dia tunjukkan handuk kecil dan aku membayangkan tubuhku diselimuti handuk kecil itu. Iyuhh...

__ADS_1


Kukecup pipinya, dari pada aku pulang hanya berbalut dengan handuk kecil itu. Dia terkekeh senang, kemudian turun dan membukakan pintu mobil lalu mengambilkanku kacamata, topi serta sunblock.


"Yuk," ajaknya.


Aku mengoles sunblock di tangan dan kaki lalu memakai kacamata hitam dan topi, sesudah itu menggandeng lengannya. Alarm mobil bersuit serasa menggoda kami yang sedang berjalan menuju ke bibir pantai. Jatuh cinta memang konyol.


Sesampainya di bibir pantai, kami bermain air. Dia tidak seperti sebelumnya kami ke pantai pertama kali itu. Kali ini dia memegang kedua tanganku, bermain pasir, mengumpulkan kerang dan berfoto bersamaku.


"Aku ingin foto pre-wedding di pantai saja," ujarku saat kaki kami menginjak pasir pantai dan ombak menurunkan volume pasir di kaki kami, membuat kaki sedikit terperosok di pasir.


Surya menarikku saat aku hampir terjatuh karena berdiri miring di atas pasir surut, "Boleh saja," ujarnya sambil memegangi pinggangku.


Sebatang kayu terdampar di bibir pantai karena terbawa ombak. Aku memungutnya, lalu kutuliskan namanya di atas pasir. Surya tersenyum, dia menambahkan namaku di bawah namanya lalu aku membuat tanda hati di sekelilingnya.


"Aku mencintaimu, Surya," ucapku pada Surya yang tersenyum saat mendengarnya dan saat itu aku berjanji untuk mengatakan cinta setiap hari kepadanya.


Kami duduk di pinggir pantai setelah lelah bermain air. Bajuku telah basah tertimpa air pantai yang tak hentinya menerpa. Begitu juga Surya, tak kalah basahnya dengan air dan pasir.


Kami menatap ke tengah pantai.


"Aku pernah berharap suatu saat akan duduk di sini, di tepi pantai berdua dengan seseorang yang aku cintai, hanya berdua saja, dan saat ini semua itu terkabul," tutur Surya mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Benarkah?" Mataku berbinar sungguh ketika aku teringat bahwa aku pernah memiliki harapan yang sama dengannya.


Dia mengangguk, lalu menatap pantai kembali bersamaku yang telah bersandar di bahunya.


Aku memejamkan mata sambil mendengarkannya, kami berada di situasi demikian, lama.


Hingga langit menampakkan warna jingga dan hitam pertanda senja akan tiba. Ada rasa tak ingin beranjak dari situ, tetapi waktu berjalan memaksa kami untuk berdiri dan meninggalkan jejak-jejak di sana.


Sesudah berbilas, kupakai baju yang diberikan oleh Surya, baju berwarna salem polos, dengan celana jeans yang pas di badanku. Dia benar-benar tahu ukuran tubuhku.


Surya telah berdiri di dekat kamar ganti yang kupakai, memandangku dengan senyum. Dia telah rapi dengan baju putih, sepertinya warna kesukaannya putih, karena dia kerap kali menggunakan warna putih sebagai warna bajunya. Meski rambutnya masih acak-acakan, tetapi dia tetap terlihat tampan menurutku.


Berjalan menuju mobil, menggenggam tangannya erat, lalu masuk mobil dan meninggalkan pantai yang suatu saat nanti akan kudatangi lagi bersama orang di sebelahku ini.


"Kamu ga beli oleh-oleh?" tanya dia setelah jauh melaju.


Aku tersentak, "Ga, tadi itu terlalu terlena. Aku jadi melupakan hal itu. Kenapa ga tadi aja kamu ingetin?"


"Kamu aja lupa, apalagi aku," kelakarnya.


"Trus gimana?"

__ADS_1


"Ya ga usah bilang kalau dari pantai," ujarnya.


"Ga apa-apa lah sekali-kali ga bawa oleh-oleh, tapi perutku lapar, yang ini harus," rengekku.


"Ya, sayangku, nanti makan ikan bakar di restoran dekat pom bensin ya, sekalian aku mau isi bensin," katanya.


"Hmmmm, enak ya pasti ikan bakar." Aku membayangkan ikan bakar yang berbumbu kecap tebal sambil memejamkan mata.


"Pluk!" Bunyi bibirku terkatup.


Surya mengusap wajahku dengan telapak tangannya, membuat bibirku terkatup cepat.


Dia tergelak, "Kamu lucu, gemes sama kamu,"


Aku cemberut karena bayanganku tentang ikan bakar telah sirna karena usapannya, "Jadi ilang kan, ikannya?"


Dia mengernyitkan dahi, "Ya ampun, aneh."


Mobil membelok ke pengisian bensin, setelah itu, kami kembali ke jalan menuju ke restoran.


Restoran itu memiliki banyak menu laut, mungkin karena agak dekat dengan pantai, hingga mereka menyediakan berbagai masakan berbau laut. Memang, menu yang paling terkenal di sini adalah ikan bakar dan itu jenis ikan apa aku juga ga ngerti. Yang jelas rasanya enak.


Kami pesan 2 porsi ikan bakar, cumi goreng tepung dan kepiting saus tiram pedas. Agak sedikit kalap untuk ukuran dua orang. Mungkin jika ada penjurian pasangan rakus, kami bisa jadi runner-up. Jangan pemenangnya. Karena rakus kami masih versi kira-kira.


"Kayaknya kerang dara enak juga," kataku.


"Mau?" tawarnya.


"Ga, ah." Aku mengurungkan niatku.


"Kenapa?" tanya dia sambil meminum air mineral.


"Malu," ujarku sambil terkekeh.


"Dasar,"


Pramusaji membawakan pesanan kami. Sempat aku lihat matanya melihat ke arahku dan Surya bergantian sambil meletakkan pesanan. Mungkin dia heran.


Dalam waktu setengah jam, lauk di atas meja itu telah ludes tak bersisa. Hanya nasi putih yang tersisa.


"Sayang, makasih ya untuk hari ini," ucapku saat di mobil dalam perjalanan kembali pulang.


"Kamu panggil aku apa?" tanya dia minta diperjelas.

__ADS_1


"Ga ada siaran ulang," ujarku sambil melempar pandangan ke arah samping.


Surya tersenyum.


__ADS_2