
Terlihat dia menggeliat di sofa, sebentar menatap layar gawai, lalu berteriak dengan suara parau.
"Val..."
Aku berjalan cepat menuju ke arahnya.
"Iya, kenapa?"
"Kenapa ga bangunin aku sih?" Dia malah balik bertanya.
"Kamu terlalu nyenyak tidurnya, jadi ga tega bangunin."
"Sini." Dimintanya aku mendekat.
Dia memelukku, matanya hampir saja terpejam lagi jika aku tidak menggerakkan kepalaku di dadanya.
"Val, kamu mau honeymoon di mana?"
Entah mimpi apa dia tiba-tiba menanyakan tentang hal itu. Kulepaskan pelukannya.
"Di mana aja," jawabku masih duduk di karpet.
"Di emperan toko?" tanya dia mengesalkan.
Aku mengerucutkan mulutku, kesal.
"Apa iya seorang Surya Adi Samudra pemilik perusahaan terbesar kelima di Indonesia, akan mengajak istrinya ber-honeymoon di emperan toko?" tanyaku menyindirnya.
"Katamu tadi di mana aja," godanya.
"Udah ah, bangun. Mandi sana, itu sarapan udah nunggu dari tadi sampai bertelur!"
__ADS_1
Aku beranjak dari dudukku, diikuti olehnya ke kamar mandi.
"Val, aku takut di kamar mandi. Temenin... Ada kecoak."
Mulai ngeselin lagi ni orang, manjanya kumat. Apa emang gitu ya kalau hanya berdua sama aku, beda kalau lagi di perusahaannya, dingin, pandangan matanya membunuh karyawan yang melanggar peraturan.
Aku tahu dia hanya menggodaku saja bilang takut kecoak, padahal apartemenku bebas dari binatang semacam itu.
Kubiarkan saja, lalu dia menutup pintu kamar mandi.
Sambil menunggu, aku tergelitik untuk membuka gawainya. Selama ini aku belum pernah menyentuh gawainya.
Ternyata, di gawainya ada fotoku yang lagi tidur di sofa, aaahh.....
Kapan dia mengambil gambar ini? Jelek banget.
"Hahahaha, kamu inget ga waktu tidur di sofa dulu itu?"
Dia membuatku terkejut, hampir saja gawainya terpelanting dari tanganku.
Dengan jantung hampir copot, kuelus dada.
"Ihhh, kenapa pakai foto aku pas merem gini?"
Aku melotot padanya, mengembalikan gawainya, lalu mengalihkan pandanganku ke depan, kemudian melipat tanganku. Marah. Pura-pura aja sih, karena hal sepele aja.
"Iya, maaf, aku hapus deh. Eh, tapi sayang kalau dihapus... Kamu tetep cantik walau melongo gini kok," ujarnya merayu.
Aku masih dalam posisi semula. Dia menarik tanganku, lalu mengajak ke dapur.
__ADS_1
"Ayo ah, makan. Mana tadi katanya masakannya sampai bertelur..."
Aku menunjuk meja makan memakai daguku, sambil kuikuti langkahnya.
"Ya itu emang telur..." katanya membuatku terkekeh ga jadi merajuk.
***
"Nanti aku mau ajak kamu berkeliling aja ya, masih banyak tempat yang belum aku datangi di sini."
Setelah selesai makan dia menyusun rencana. Aku mengangguk saja, lebih baik dia mempunyai kegiatan dari pada seharian di ruangan ini, bisa-bisa menerkamku karena bosan.
Dia mengajakku ke butik, membelikan dress yang dipilihkannya untukku seharga 500 Euro, lalu kami berjalan menyusuri pusat perbelanjaan. Dia menawariku berbagai macam barang, tetapi aku tidak berhasrat untuk membelinya.
"Kamu tuh beda ya," katanya tersenyum.
"Beda gimana?" Aku berjalan sambil hanya membawa sebuah paper bag dari butik tadi.
"Coba cewek lain kutawari, pasti udah ambil ini-itu."
"Bukan gitu, aku ga butuhin aja, dari pada beli ini itu jadinya terbuang karena ga kepake."
Dia mengangguk, menggenggam tanganku sepanjang jalan, melewati toko-toko besar yang ada di sepanjang jalan itu lalu duduk di kursi pinggiran toko.
"Sebentar, tunggu ya di sini." Surya beranjak melangkahkan kaki ke toko es krim.
Cuaca musim panas memang menyengat. Dia keluar dari toko membawa dua cone es krim, lalu menyerahkan satu padaku.
"Coklat, kamu suka kan?"
Aku mengangguk. Sambil minum es krim, kami menikmati kota ini.
__ADS_1