Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 49


__ADS_3

Ayam berkokok, terdengar suara orang berlalu lalang tanda pagi menjelang. Aku melompat dari tempat tidur, ternyata udah jam 5 pagi aja.


Segera menyambar handuk dan masuk ke kamar mandi. Sesudah mandi, kulihat Mama dan Bik Nah sedang mengobrol sambil menyiapkan sarapan. Pengantin baru itu belum nampak, mungkin mereka kelelahan.


Papa pun telah duduk di depan televisi, menghirup teh panasnya. Aku masuk ke kamar dan mengganti bajuku dengan baju kantor. Biasanya habis mandi, dengan santai aku hanya membungkus tubuhku memakai handuk, tetapi sekarang karena adanya Denis, aku pun menjaga kesopanan.


"Ma, Val dibawain bekal ya? Mama masak apa?" Tanyaku sambil memakai bedak tipis serts lipstik dengan terburu-buru.


"Oseng jamur sama ayam goreng tepung, ya nanti Mama bawain," katanya sambil membuka lemari, mengambil tempat makanku.


"Ma, aku nanti sepertinya lembur, karena kemarin-kemarin ga full masuk kantor."


"Ya, tapi jangan dipaksain ya, ntar sakit lagi."


"Iya, Ma."


Kusendokkan makan pagi ke mulutku cepat-cepat, hampir tersedak aku dibuatnya. Setelah itu aku segera menyambar tas dan mencium Papa dan Mama.


Segera mengemudi mobil menuju ke kantor. Sesampainya di sana, setumpuk berkas telah menanti. Fyuh, aku menghela nafas.


Kukumpulkan semangatku lalu mulai bekerja, hingga siang tiba.


Surya menelponku.


"Halo,"


"Halo, sayang ini Cantika mengundurkan diri jadi sekertaris. Udah kasih tahu kamu belum, sayang?"


"Belum, tapi itu urusan mereka lah."


"Iya juga, cuma kamu dimintai pertimbangan, ga?"


"Ga, sih."


Cuma, ga sengaja aku denger aja semalam.


"Mmm... Ya udah, terpaksa aku butuh sekertaris baru."


"Buka lowongan nih ceritanya?"


"Iya, tapi sekarang yang menyeleksi biar karyawan aja, jangan aku."


"Kenapa?"


"Nanti ada yang mirip kamu."


Dia tergelak di ujung sana. Hmmm... Kututup telepon itu lalu melanjutkaan pekerjaanku.


Senja berlalu, hari telah petang. Kukemasi semuanya, dan beranjak pulang. Ada beberapa karyawan muda yang ikut lembur. Kuajak mereka untuk segera pulang.


Sampai di parkiran, aku masuk mobil dan melaju ke jalan raya. Macet. Ada kecelakaan di depan. Hingga aku bisa melaluinya dengan pelan, kulihat seorang perempuan cantik sedang berdebat dengan beberapa orang polisi. Entah yang mana korbannya, sepertinya dia bersikukuh bahwa dia benar.


Aku menggelengkan kepala, lali melaju pelan di jalan yang padat itu.


Setibanya di rumah, kulihat Mama dan Papa sedang menungguku di ruang tengah.


"Wah, jadi lembur ya, Nak?" Mama melihatku dengan sumringah.


"Iya, Ma. Val mau mandi dulu."


Mama mengangguk. Setelah mandi, aku mendekati kedua orang tuaku.


"Mana pengantin barunya, Ma?" Tanyaku sambil mengerlingkan mata.


"Mereka tadi pagi pulang, Denis ga bisa meninggalkan ibunya lama-lama."


"Oh, iya juga ya?" Aku mengangguk-angguk.


"Denis itu kelihatan baik dan bertanggung jawab, tetapi Mama takut kalau Cantika malah bersikap buruk padanya," ujar Mama.

__ADS_1


Ternyata pikiran Mama sama denganku.


"Semoga ga lah, Ma. Lagian besok kalau anaknya lahir, Cantika bisa berubah keibuan," ujarku menenangkan Mama.


Mama hanya terdiam, Papa pun tak berkomentar apa-apa.


***


Tiga hari kemudian, Surya mengajakku untuk makan siang. Lama juga kami ga bertemu, hanya lewat gawai kami berhubungan. Tiga hari ini aku lembur, jadi kesibukanku pada pekerjaan membuat kami ga bisa bertemu.


Di sebuah rumah makan yang menyajikan s**eafood, kami memutuskan untuk berhenti Kemudian masuk dan memilih tempat duduk. Selama menunggu pesanan, Surya terus memandangiku.


"Aku kangen, tau?" Ujarnya sambil memencet pelan hidungku.


"Aku juga kangen, tapi kalau kerjaan ga beres, ketemuan juga malah jadi pikiranku, kan?"


"Iya deh. Oh ya besok wisata gabungannya jadi kan?"


"Duh!" Aku menepok jidat.


"Iya, berarti nanti aku tanyakan pada panitianya, kok aku bisa lupa dengan rencana itu. Eh tapi kayaknya minggu ini pelaksanaannya."


"Ya, aku juga udah meeting, tetapi masih nunggu proposal dari kantor kamu, kan sayang?"


"Ah, iya. Secepatnya aku suruh sekertarisku ya? Oh ya Surya, udah dapet belum sekertaris barunya?"


"Udah," Ujarnya singkat karena makanan kami telah datang.


Kami segera makan siang sambil sedikit bercanda. Aku begitu rindu padanya, padahal baru tiga hari aku tidak bertemu.


"Kenapa juga kita musti ngalah nikah tahun depan, ya?" Tanya Surya datar.


"Ya namanya tradisi, aku juga ga ngerti, nurut aja ngapa?" Jawabku.


"Aku keburu pengen..." Kata Surya menahan senyumnya.


"Pengen apa?" Tanyaku curiga sambil memasukkan sesendok terakhir makananku.


"Nanti pas Cantika lahiran, kamu boleh gendong," ujarku cepat.


"Beda dong," gerutunya.


Aku tertawa.


Kami segera akan pulang, tiba-tiba gawai Surya berbunyi. Dia mengerutkan dahi melihat layar, tak urung dia mengangkatnya juga.


"Halo,"


"Iya, ini lagi di jalan mau pulang kantor."


"Iya."


Dia mendengus lalu menutup panggilan itu.


"Siapa sih?" Tanyaku.


"Hellen, sekertaris baru, dia suruh aku pulang ke kantor, udah jam kerja, dia ga ngerti sesuatu, ah apa ga bisa nanya yang lain," sungutnya.


"Yang sabar dong, namanya juga baru," ujarku.


"Dia tuh juga suka masuk tanpa ijin ke ruanganku,"


"Ya diperingatkan dong."


"Udah, tapi dia masih ngeloyor masuk aja, katanya lupa kalau dingetin."


"Beri kesempatan deh sambil diingetin terus, mungkin dia terbiasa masuk ruangan tanpa permisi."


"Iya deh sayang, nurut sama kamu aja."

__ADS_1


Sampai di depan kantor dia mencium keningku. Ughh... Kenapa musti di kantor nyiumnya? Aku celingukan, semoga ga ada yang lihat.


Benar saja, ketika masuk ke kantor beberapa karyawan senyum-senyum melihatku, ah!


***


Hari berikutnya, proposal telah jadi, aku ingin memberi kejutan pada Surya. Aku akan mengantarkannya sendiri di kantornya.


Setibanya di sana, aku takjub melihat desain kantor yang megah. Aku jadi teringat rumah Surya. Di dalam keluarga Surya sepertinya memiliki passion pada sebuah arsitektur.


Aku memasuki gedung itu. Seorang resepsionis menyambutku.


"Mari, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Tanya dia ramah.


Kubaca Sinta di name-tagnya.


"Saya mau ketemu dengan Pak Surya," pintaku padanya.


"Oh, ya. Ada perlu apa kalau boleh saya tahu, Bu?"


"Mmm... Saya mau menyampaikan proposal."


"Sebentar ya, Bu. Saya hubungi dulu."


Terlihat dia memencet sebuah nomor dan melakukan pembicaraan dengan orang di sana.


"Bu, kata sekertarisnya, Pak Surya sedang sibuk, gimana, Bu? Apa mau ditinggal aja proposalnya?" tawarnya ramah, tetapi keramahannya tidak mampu mengurangi kekecewaanku.


"Mmm... Sebentar, Mbak, saya mau menelpon."


Dia mengangguk, aku maklum, tentu saja dia belum tahu siapa aku ini. Sambil berjalan ke ruang tunggu, aku meneleponnya.


"Halo," suara di seberang sana.


"Surya, aku lagi ada di kantor kamu, di ruang tunggu, kamu di mana?"


"Oh, bentar."


Kututup panggilanku lalu menunggunya. Lima menit kemudian, dia telah tergopoh-gopoh menemuiku.


"Sayang, kok ga bilang mau ke sini?" tanyanya dengan nafas tersengal-sengal.


"Aku mau bikin kejutan, tapi ternyata kata sekertaris, kamu lagi sibuk."


"Masa sih, tadi aku ga sibuk, kok! Ya udah, yuk masuk ke ruanganku aja," ajaknya.


Kami masuk ke lift. Hingga lantai 10, kami baru keluar. Ah dua kalinya gedung kantorku. Sekeluarnya dari lift kami melewati beberapa ruangan yang berkaca hitam transparan. Ada beberapa karyawan di situ. Mereka melihatku, aku tersenyum pada mereka, mereka pun terlihat kikuk membalas senyumku.


Hingga tibalah kami di depan ruangan, dia mengajakku masuk. Ruangannya begitu nyaman dengan pemandangan kota yang bisa dilihat dari jendela-jendela besar. Surya mengajakku untuk duduk di sofa. Dia mencium keningku.


"Kenapa sayang?" Tanya dia menanyakan kedatanganku.


"Nih," ujarku menyerahkan proposal wisata padanya.


Dia membacanya sebentar, lalu menyingkirkan proposal itu dan kembali menatapku.


"Apa sih?" Tanyaku risih dipandangi terus.


"Baru kali ini kamu mau ke sini, aku tuh seneng," katanya dengan berbinar.


"Kan kejutan," jawabku.


"Kejutannya berhasil, aku kaget bener kamu sampai sini," katanya.


Dia mulai lagi mau mendekat.


Ceklek!


Muka kami pias, karena tiba-tiba seorang perempuan cantik masuk ke ruangan itu. Ah, aku pernah lihat dia, tapi di mana ya? Dia berpakaian seksi, dress hitam pendek di atas lutut, serta hampir terlihat garis dadanya jika menunduk. Rambutnya tergerai seolah ingin menunjukkan keseksiannya. Aku agak jengah melihat penampilannya.

__ADS_1


Surya mendengus kesal. Ah, pasti ini yang namanya Hellen.



__ADS_2