Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 41


__ADS_3

Hari Sabtu ini aku ga makan siang di luar karena Mama telah menyiapkan lunch box berisi stik kentang keju dan bola-bola nasi dengan nori, ah Mama ini andai karyawan-karyawan tahu menuku pasti mereka menahan tawa. Ini mah menu anak TK. Memang benar ya, seorang ibu terkadang masih menganggap anak dewasanya masih seperti anak kecil.


Sepulang kerja, Mama bercerita kalau hari ini Cantika ga pulang, aku tahu sebenarnya Mama merasa cemas pada Cantika, andai Cantika tahu diri dengan orang tua.


Drrtt... Drrttt...


Gawaiku bergetar, sepertinya ada pesan yang masuk. Kuraih gawai dan membuka pesan, dari Surya. Pesan darinya selalu membuatku bersemangat membacanya.


Si Jahat


[Met siang, nanti malam ada acara, ga?]


Valeria


[Ga, sih. Gimana?]


Si Jahat


[Mau ajak makan di Cafe yang baru di dekat kantorku.]


Valeria


[Ok deh.]


Si Jahat


[Nanti aku jemput di rumah ya?]


Valeria


[Jangan! Nanti gimana kalau Mama tau?]


Si Jahat


[Hehehe, ya deh.]


Valeria


[Di depan gang, biasa ya.]


Si Jahat


[Baik, tuan putri.]


Aku tersenyum, dia manis sekali denganku. Ah, apa aku terlalu mengabaikan perasaannya, tetapi apakah aku salah bila mempedulikan perasaan adikku?


Mama sedang duduk di kursi makan ketika aku keluar dari kamar. Kudekati Mama, seorang ibu berusia 52 tahun, dengan sedikit kerutan tipis di wajahnya, rambutnya lurus pendek dan selalu rapi. Sedikit uban menghias rambutnya. Wanita hebat yang bijaksana.


"Ma, pernah ga Mama mencintai seseorang tetapi butuh perjuangan untuk bersamanya?" tanyaku sambil meraih sebuah pisang di atas meja.


"Semua cinta butuh perjuangan, Nak. Sebelum atau telah bersama, perjuangan itu akan tetap dibutuhkan. Jika tidak bisa menghancurkan cinta itu sendiri," ujar Mama menatapku.


Aku mengangguk-angguk.


"Ma, nanti malam Val ada acara lagi sama temen, ya?" Aku meminta ijin sekalian padanya.


"Ya, Nak. Teman kamu itu cewek atau cowok?"


"Cowok, Ma."


"Akan lebih baik kalau jemputnya di rumah, jangan di jalan."


"Dia malu, Ma,"


Maaf, Ma. Untuk saat ini Val belum bisa menyuruhnya ke rumah, Mama akan sangat terkejut. Lagian, statusnya bukan pacar.

__ADS_1


Mama tersenyum, "Baiklah, nanti kalau udah ga malu, biar dia ke rumah, Mama juga pengen lihat dan kenal."


"Tapi dia cuma temen, Ma," kataku membela diri, memang belum ada kata jadian antara aku dan Surya. Dia masih milik adikku. .


"Ya udah, Mama hanya ingin tahu saja siapa yang ajak anak Mama ini jalan-jalan."


Aku hanya terdiam.


***


Jam 18.30


Aku bersiap diri, memakai dress putih dan sepatu flat hitam, menggerai rambut lalu memakai bedak dan lipstik tipis berwarna semu merah. Lalu berpamitan pada Mama.


"Cantiknya anak Mama," puji Mama sambil menatapku.


"Ma, aku berangkat dulu, ya?"


"Hati-hati ya, Nak."


"Iya, Ma," kukecup pipinya lalu berjalan keluar menuju ke depan gang. Surya telah menunggu di sana. Dia membukakan pintu mobil, menatapku lalu mempersilahkan aku masuk.


Mobil melaju dengan pelan menuju ke dekat kantornya. Untung jalanan tidak begitu macet, jadi kami sampai di Cafe dengan lancar.


Cafe bernuansa romantis itu memberi kesan indah bagi pasangan kekasih, ada beberapa lilin elektrik di pinggir jalan masuk. Beberapa lampu yang digantung membuat suasana semakin romantis. Kami mendapat meja di tengah, sengaja agar agak dekat dengan penyanyi cafe.


Saat itu penyanyi Cafe sedang menyanyikan lagu Jaz - Dari Mata


Matamu melemahkanku


Saat pertama kali kulihatmu


Dan jujur, ku tak pernah merasa


Ku tak pernah merasa begini


Matamu melemahkanku


Dan Jujur, ku tak pernah merasa


Ku tak pernah merasa begini


Oh, mungkin inikah cinta


Pandangan yang pertama


Karena apa yang kurasa, ini tak biasa


Jika benar ini cinta


Mulai dari mana?


Oh, dari mana?


Dari matamu, matamu


Kumulai jatuh cinta


Kumelihat, melihat


Ada bayangnya


Dari mata


Kau buatku jatuh

__ADS_1


Jatuh terus, jatuh ke hati.


*


Surya menatapku lama sekali, aku jadi salah tingkah dibuatnya. Untung pesanan kami segera datang, lalu kami menikmati musik sambil makan dan minum.


Cafe ini baru dibuka seminggu yang lalu, tetapi pengunjungnya lumayan ramai. Sedang asyik-asyiknya menikmati suasana cafe, tiba-tiba seseorang menepuk pundakku.


"Kakak! Lagi ngapain di sini? Ooh, jadi kalian berdua tuh seperti ini di belakangku!!" Cantika berteriak tanpa mempedulikan para pengunjung cafe. Di sebelahnya, Denis terlihat kebingungan memegang pundak Cantika.


Mukaku pias, kaget karena tidak menyangka akan kehadiran Cantika di situ. Begitu juga Surya. Dia segera berdiri dan menarik tangan Cantika untuk keluar dari situasi tenang cafe yang dia rusak karena seluruh pengunjung cafe sedang memandang tajam pada kami.


Aku dan Denis bertatapan, lalu beranjak mengikuti mereka, berdiri agak jauh dari mereka. Mereka terlihat sedang beradu mulut, aku belum pernah melihat Surya semarah itu, tetapi meski ditampar Cantika, Surya tidak membalasnya. Aku mencoba memberanikan diri untuk mendekati mereka.


"Kamu, kakak apaan, ternyata kencan dengan kekasihku!" jeritnya sambil menunjuk padaku.


Jantungku berdegup kencang, apa yang harus kujelaskan?


Denis tiba-tiba berada di sebelahku, "Kekasih? Maksud kamu?" matanya mengarah pada Cantika.


Wajah Cantika berubah pucat pasi menyadari Denis berada di situ, seketika itu dia terdiam.


Surya kembali menatap Cantika, "Dengar ya, aku belum ada hubungan dengan Valeria kecuali partner kerja, tetapi entah nanti setelah malam ini. Mulai saat ini, jangan anggap aku pacar kamu lagi! Oh ya, Valeria adalah kakak yang baik, jangan berpikir buruk tentang dia! Camkan itu!" kata Surya sambil menunjukkan jari telunjuknya pada Cantika.


Denis marah dan pergi dari situ. Sebelum menjauh, Denis bilang padaku, "Maaf Val, aku ga tahu kalau adik kamu udah punya cowok."


"Denis! Tunggu! Aku bisa jelasin!" Cantika menyusul Denis. Dia berteriak-teriak memanggil Denis. Sepertinya dia berhasil menahan Denis dan entah apa yang mereka bicarakan.


Surya menyuruhku menunggunya, dia membayar makanan kami lalu kembali menemuiku dan mengajakku masuk ke mobil. Di dalam mobil dia terlihat menghela nafas, mengambil air mineral botol dan meneguknya hingga habis. Sejenak kami berada di dalam mobil. Aku masih syok dengan kejadian tadi. Apa yang aku takutkan malah terjadi, entah akan bagaimana persaudaraan kami nantinya. Kutangkupkan kedua tangan ke wajahku, menghela nafas demi menenangkan diri.


"Kamu ga apa-apa?" tanya Surya sambil memegang tanganku yang dingin.


"Tangan kamu dingin," ujarnya.


Aku tidak bisa berkata-kata. Dia menggenggam kedua tanganku agar hangat.


"Aku akan baik-baik saja," kataku akhirnya.


"Sekarang, mau kemana?" tanya Surya.


"Sebentar, aku masih ingin di sini. Aku memikirkan keluargaku, gimana Papa dan Mama bila tahu semua ini, mereka akan sedih."


Surya melepas tangannya, tetapi hanya diam.


"Sebenarnya aku udah tahu hubungan Denis dan Cantika. Waktu makan siang di dekat pusat kota, aku melihat mereka bermesraan, tetapi mau bilang padamu, belum bisa membuktikannya. Takut nanti kamu putusin Cantika tanpa bukti. Inginku hanya menunjukkan padamu dan ketika kamu tahu, bisa membicarakan dengan Cantika secara baik-baik, tetapi malah begini kejadiannya," jelasku dengan mata menerawang ke depan.


"Ini bukan salahmu, yakinlah, semua akan baik-baik saja, aku akan senantiasa membantumu. Bilang saja padaku jika kamu memerlukan bantuan," ujar Surya mencoba melegakan hatiku.


"Aku ingin menjelaskan pada Mama dan Papa tentang semua ini, apalagi mereka telah mengenalmu," kataku sambil menengok padanya.


"Tentu saja, aku akan menjelaskan semua. Hubunganku dan Cantika telah berakhir. Bila aku telah menjelaskan pada orang tua kalian tentang itu, jika terjadi apa-apa dengan Cantika, sudah bukan urusanku lagi," tegasnya.


"Baiklah," ujarku agak tenang.


"Ada lagi yang mengganjal?" tanyanya.


"Hanya Cantika, entah akan seperti apa sikapnya nanti, terutama padaku."


"Kita lihat saja seiring waktu, semoga dia bisa berubah sikap," harapnya.


"Kamu ga nyesel putus dengan Cantika?" tanyaku kemudian, mengingat perasaannya.


"Ga ada yang aku sesali," katanya sambil tersenyum.


Aku kembali menatap ke depan, sungguh inginku bukan seperti ini.

__ADS_1


__ADS_2