
Pagi-pagi aku bangun untuk kembali beraktivitas. Ketika kubuka pesan, kulihat pesan dari Denis. Dia bermaksud untuk meminjam uang padaku.
Denis
[Met pagi Valeria, aku minta maaf sebelumnya, bisa ga kalau aku merepotkanmu?]
Valeria
[Ada apa, Denis?]
Denis
[Gajiku bulan ini belum turun, sementara kebutuhanku semakin banyak. Kalau aku pinjam uang kamu dulu, bisa?]
Membacanya merasa miris, Denis sampai menyingkirkan gengsi untuk memenuhi kebutuhannya. Aku berpikir apakah Cantika terlalu banyak menuntut padanya. Gaya hidup Cantika itu tinggi.
Valeria
[Oh, ya Denis. Berapa yang kalian butuhkan?]
Denis
[Satu juta rupiah saja, Val. Nanti aku mampir ke kantor kamu.]
Valeria
[Baiklah, Denis.]
Denis
[Makasih banyak ya, Val.]
Valeria
[Sama-sama Denis.]
Aku mulai beranjak dan bersiap untuk berangkat kerja, lalu melalui waktu seperti biasa. Siangnya, Denis benar-benar datang.
"Maaf Val, aku terpaksa," ujarnya saat menerima amplop dariku.
"Ga apa-apa, Denis. Semoga besok gajimu segera turun," kataku sambil memegang bahunya, kuminta dia duduk di sofa dulu, sekalian ngobrol tentang keluarganya.
"Gimana kabar Cantika?" Tanyaku setelah dia duduk dengan nyaman.
Dia terlihat sedikit murung, "Dia baik-baik saja. Hanya..." Kata-katanya tercekat seperti ragu untuk melanjutkan.
"Apa, Denis? Boleh aku tahu?" Desakku.
"Dia berusaha menggugurkan bayinya," ujar Denis.
Ada nada kekecewaan saat mengatakannya.
"Lalu?" Aku masih ingin tahu kejadiannya.
"Dia minum obat, memukul-mukul perutnya. Untung saja kandungannya kuat. Aku segera memaksanya untuk memeriksakan kandungan ke dokter."
__ADS_1
Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
"Aku ga habis pikir kenapa dia bersikap seperti itu, sementara ibuku juga membutukan bantuan. Aku pusing, Val," lanjutnya menengadahkan kepala.
Kulihat rasa lelah di raut wajahnya.
"Aku udah berusaha memenuhi kebutuhannya, tetapi dia tetap merasa kurang dan kurang. Dia selalu menyalahkan aku dan mengatakan pendapatanku sedikit. Padahal jika mau prihatin, uangku cukup untuk hidup kami."
Dia memandangku, matanya menyorotkan kesedihan dan kekecewaan. Kuharap dia bisa bertahan.
"Dulu sewaktu dia dekat denganku, sepertinya hanya ingin mencari pelampiasan saja. Aku cuma ingin bertanggung jawab atas anak itu, merupakan dosa besar jika aku meninggalkannya," ujar Denis menunduk.
"Yang sabar Denis." Hanya itu yang bisa kukatakan padanya.
***
Mendung menggelayut saat aku pulang dari kerja. Para karyawan berteduh di pinggir jalan ketika hujan tiba. Aku menyalakan mobil dan melaju pulang.
Hingga sampai di rumah, hujan belum juga mereda. Kulihat Cantika ada di rumah, tetapi sewaktu melihatku dia tidak juga tersenyum apalagi menyapa sedikit pun. Aku menemui Mama di dapur.
"Cantika di sini, Ma?" Tanyaku.
"Iya, ibunya Denis tadi siang masuk rumah sakit, jadi Cantika sementara pulang dulu."
Kasihan Denis, pasti tadi setelah ke kantorku, ibunya harus dibawa ke rumah sakit.
"Kasihan Denis ya, Ma?" ujarku berempati.
"Iya, besok Mama dan Papa mau nengok ke sana," kata Mama.
"Semoga bukan, Nak," harap Mama.
"Ma, sebenarnya tadi Denis ke kantor Val. Dia meminjam uang Val dan cerita soal Cantika," ujarku setengah berbisik.
Mama agak terperanjat.
"Cerita apa, Nak?"
"Katanya, Cantika menuntut banyak ke Denis. Padahal Denis kan juga membutuhkan biaya untuk ibunya."
Mama mengalihkan mata ke depan, menerawang.
"Gimana ya Cantika itu, apa dulu salah Mama karena terlalu memanjakannya. Apa yang dia minta selalu Mama turuti karena dia anak bungsu," sesal Mama. Mama diam sejenak.
Lanjutnya, "Jadi dia terbiasa untuk mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah."
"Ya udah, Ma. Ga ada gunanya juga sekarang menyesalinya. Lebih baik kita bantu Denis bila Cantika ga mau berubah," kataku.
"Besok Val nitip uang buat pengobatan ibunya Denis di rumah sakit ya, Ma?" ujarku.
Mama mengangguk.
Cantika masih diam padaku. Saat makan pun, dia lebih banyak diam. Hanya sesekali membuka mulut hanya saat membutuhkan sesuatu. Emosi juga sebenarnya, tapi kasihan Papa dan Mama jika kami berseteru lagi.
"Kandunganmu sehat kan, Cantika?" Tanya Papa.
__ADS_1
"Sehat," jawabnya singkat.
"Sudah sering check ke dokter?" Tanya Papa lagi.
"Sudah," Cantika masih menjawab sepatah kata saja.
Aku akan hilang kesabaran bila tidak mengingat Papa. Aku teringat juga kata-kata Denis bahwa Cantika ingin kembali menggugurkan kandungannya.
Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuannya. Setelah makan, dia masuk ke kamar. Kuberesi piring-piring kotor lalu membantu Bik Nah di dapur. Bik Nah pun merasakan perubahan sikap kami. Satu orang mempengaruhi seluruh keluarga.
"Non, apa Non Cantika itu kecewa atas pernikahannya?" Tanya Bik Nah seolah membaca sikapnya.
"Ga tau, Bik. Semoga saja tidak." Aku capek menceritakan tentang Cantika.
Bik Nah hanya mengangguk-angguk, lalu melanjutkan obrolannya.
"Non, Mas Denis itu sepertinya orang baik ya, meski Non Cantika itu galak, suka menang sendiri, dari kecil saya perhatikan Non Cantika perangainya seperti itu. Dulu waktu Non Val dapat piala, dia hampir mau banting piala itu saat Non Val pergi, tapi jangan bilang siapa-siapa ya, Non."
Aku terperanjat, sebegitu cemburu kah dia padaku?
"Mmm... Ya, Bik. Val pasti diam."
"Oh iya, Non. Waktu Non Val beli mobil, dia terlihat tidak suka." Bik Nah semakin menggebu menceritakan tentang Cantika.
Aku hanya diam dan tak mengira. Bik Nah seketika terdiam ketika melihat Cantika masuk kamar mandi, lalu kutinggalkan Bik Nah ke kamar untuk beristirahat, tetapi kata-kata Bik Nah masih terngiang di telingaku.
***
"Val... Val..."
Tok... Tok... Tok!
Suara Mama memanggil sambil mengetuk pintu kamarku.
Aku terperanjat dan mengerjapkan mata yang masih buram. Sambil menyipitkan dan mengusap mata, kulihat jam dinding, saat itu pukul 01.00 dini hari. Kenapa Mama membangunkanku sepagi ini?
"Iyaa..." jawabku.
Pelan-pelan aku turun dari ranjang, menuju ke pintu kamar. Lalu kubuka pintu kamar. Mama telah berdiri di depan pintu dengan raut muka sedih.
"Kenapa, Ma?" Tanyaku pada Mama.
"Val, ibunya Denis meninggal."
Kututup wajah dengan kedua tanganku, mengingat Denis yang begitu menyayangi ibunya. Pasti dia sangat sedih sekarang.
Saat itu, Papa dan Cantika telah berada di ruang tamu. Mereka sedang menyiapkan sesuatu yang dibutuhkan untuk pergi ke rumah sakit. Mama seolah mengerti keadaanku dan Cantika.
"Kami bertiga yang akan ke sana, Val. Kamu nanti siang menyusul sama Surya ya? Tentunya kamu harus mengurusi kantor dulu kan? Sekarang kamu jaga rumah dulu," kata Mama.
"Ya udah, Ma kalau gitu. Nanti siang Val nyusul ke sana sama Surya. Hati-hati ya, Ma?"
Mama mengangguk, menyusul Papa yang melambaikan tangan padaku dan Cantika yang telah berjalan ke mobil.
Tanpa terasa aku menitikkan air mata mengingat Denis. Denis, semoga tabah...
__ADS_1