
Esoknya, Bibi Hana, Sani dan Bila telah ada di rumah. Melihat mereka, kulepaskan rasa rindu yang ada di hati, memeluk mereka.
"Halo, sayang ..., wah bau kembang ini, siap jadi pengantin yaa?" Suara Bibi Hana yang terdengar jelas dan tegas seperti orangnya.
"Siap dong, Bi Hana. Masa nanti aku akan lari, kan ga dipaksa," kelakarku.
Bi Hana tertawa, lalu Sani anaknya yang seusia Cantika, mendekatiku dan mendekapku erat.
"Mbak, akhirnya kamu nikah, doain aku juga nyusul ya?" Meski dia cowok, tetapi dia dekat denganku.
Kuanggukkan kepala, "Pasti."
Ga kalah dari kakaknya, Bila pun mendekat dan mendekapku setelah kakaknya melepas dekapan.
"Hayo, mau ngomong apa?" Aku menggodanya.
Bila hanya cengar-cengir karena ga tahu musti bilang apa, dia masih duduk di bangku SMP. Tergelak, kulepaskan pelukannya.
Cantika dan Denis keluar dari kamar.
"Bibi, Sani, Bila, ini Denis, suami Cantika." Kukenalkan mereka pada Denis.
"Oh, ya. Denis, saya Bibi mereka. Datang dari jauh."
Denis mengangguk.
"Cantika udah hamil?" tanya Bibi memandangi perut Cantika.
"Iya, Bi." Cantika gantian menyalami Bibi Hana.
Hanya salaman saja, mereka tidak berpelukan.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu mengejutkan semua yang ada di ruangan ini. Ternyata supir penjemput datang, mereka membawa kami semua ke hotel, tempat di mana semua akan dirias. Semua bergegas masuk ke mobil. Mobil melaju dengan kecepatan sedang.
Para perias pun telah datang.
Mereka langsung meminta semua bersiap. Periasnya beda lagi dengan yang kemarin. Kali ini lebih galak dan sigap.
"Nona pengantin mohon disendirikan, dengan saya."
Baru aku mau mendekat, dia udah memerintah para bawahannya lagi.
"Yang lain, nanti baju disesuaikan ya. Untuk keluarga sendiri juga. Cepat ya, waktu kita ga banyak."
__ADS_1
Asisten-asistennya tidak ada yang teledor, semua serba rapi, sigap, sopan.
Segera dia mengajakku ke kamar khusus di hotel yang disediakan oleh pihak gedung mewah itu untuk fasilitas gedung. Tanpa babibu, dia langsung mengeluarkan kotak make-up, lalu memulai pekerjaannya, tanpa banyak bicara.
***
Jantungku berdebar ketika Surya mengatakan janji pernikahan yang disaksikan oleh ratusan orang. Kedua mata ini rasanya ingin meneteskan bulir hangatnya jika tidak berusaha semampu kutahan.
Sebelas tahun penantian yang diwarnai kebencian, ternyata tidak mampu menghapus rasa cinta pada orang yang sedang berdiri di depanku saat ini. Dia menjadi jodoh yang dikirimkan Tuhan, skenario-Nya memang unik. Benar-benar di luar batas kemampuan manusia. Jodoh bisa datang darimana saja. Tak pernah kusangka dialah yang berada di posisi ini, tapi dengan kuasa Tuhan, dia hadir di ruangan ini, menyematkan cincin di jari manisku. Bergetar tanganku saat menyematkan cincin di tangannya, keringat bercucuran membasahi muka Surya saat itu. Gugup.
Menggunakan dress putih dengan jutaan kristal swarovski, dengan harum lembutnya round buket bunga calla lily dan berdiri bagai ratu sehari di depan ribuan orang. Pengantin lelaki pun memancarkan ketampanannya. Dalam gedung mewah, para tamu undangan mulai bergantian berdatangan. Ribuan orang, dari pengusaha, artis, bahkan menteri datang memberi selamat pada kami. Terlihat pula Bu Magda, serta hampir seluruh karyawan datang. Aku dan Surya tak hentinya tersenyum lebar menandakan kebahagiaannya.
Ribuan sajian telah terhidang di pinggir ruangan. Para pelayan dengan sigap menyajikan makanan dan minuman yang mewah. Mereka terlihat begitu menikmati pesta pernikahan ini.
"Kamu cantik, istriku." Dia memandangku di sela resepsi dan akan mencium bibirku jika tidak kutahan.
"Banyak tamu, malu," ujarku melotot.
Pernikahan megah ini menimbulkan lagi kecemburuan dalam hati Cantika. Dia hanya terduduk di pojokan. Denis berbaur bersama Paman Arga dan keluarganya. Sekejap saja mereka bisa akrab dalam perbincangan.
Saat akhir pesta itu, para tamu undangan meminta aku untuk melempar buket bunga di tangan dengan tubuh membelakangi mereka. Para perempuan single bersiap menangkapnya. Dinda, anak Tante Elisa berhasil menangkap buket itu. Semoga dia cepat menyusul, membuktikan kata-kata mulut besar Mommy-nya untuk menyelenggarakan pesta besar-besaran.
Pesta usai saat hari menjelang petang. Setibanya di rumah Surya, kamar mewah berumbai telah disiapkan untuk pengantin. Terasa wangi aromaterapi. Asisten bermaksud membantuku melepaskan dress pengantin.
Surya menutup pintu kamar lalu mendekatiku yang sedang mencoba melepas gaun. Dia membantu mlepaskannya. Dipandanginya tubuh mulus yang putih kemudian mengelusnya, halus.
Sebelum baju itu terlepas, dia mencium leherku, membalikkan tubuhku, kemudian mencium bibirku yang belum siap saat itu, membuka dengan lidahnya, aku ikuti permainannya. Bibirnya menelusuri hingga ke leher.
"Surya ..." panggilku lirih.
Dia tidak menggubris, hanya melanjutkan kesibukannya.
"Surya!" Kali ini aku agak keras memanggilnya dan mendorongnya.
Dia terkejut seolah menunjukkan keheranan bahwa dia telah memiliki hak atas keinginannya.
"Aku lagi datang bulan ..." ujarku pelan.
Dia menelungkupkan kedua tangan di wajah kemudian membanting tubuhnya ke tempat tidur.
"Bantu aku lepasin dress dan jepit rambut ini ...," pintaku.
Dia bangun dan menurutiku sambil menggerutu, "Kenapa ga bilang dari tadi, tau gitu tadi biar asisten itu aja yang lepasin."
"Kan kamu sendiri yang nyuruh mereka pergi tanpa tanya dulu sama aku," ujarku membela diri.
__ADS_1
"Masa ya aku tanya sama kamu di depan mereka, kalau kamu datang bulan atau ga?"
"Ugh ..." Aku mendengus kesal.
"Sekarang mau bantuin, ga?"
Dengan agak susah, kucoba melepas sendiri dress itu, membuka sedikit pintu kamar untuk mencari bantuan seseorang, tapi tidak ada seorang pun di sana. Pintu sedikit terbuka saat itu. Akhirnya Surya ga tega juga meski harus menahan adik kecilnya, dia bangun dan membantuku melepas dress dan jepit rambut.
***
Bu Anggraini tak sengaja lewat pintu kamar,
"Pengantin baru kok pintunya dibiarkan terbuka dikit," gumamnya.
Saat akan membantu menutup, dia tersenyum mendengar sesuatu, lalu dipanggil suaminya mendekat.
"Sini, Pa!" Suaranya sedikit berbisik sambil meletakkan telunjuknya di bibir.
Mereka mendengar rintihan Valeria.
"Aaahh ..."
"Aaaahh ..."
"Aduh!"
Mereka terkikik saat mendengarnya, "Masa pake 'aduh' segala Pa?"
"Iya tuh, Ma. Sakit kali ya?"
"Pelan-pelan ..." Suara Valeria terdengar jelas di malam itu.
"Anakmu itu maunya cepet-cepet, Pa!"
Bu Anggraini menutup mulutnya.
"Ah, udah yuk, aku capek, mau tidur." Pak Wira mengajak Bu Anggraini untuk pergi dari depan pintu kamar pengantin.
Bu Anggraini mengikuti Pak Wira masih dengan menahan tawanya.
***
Sedangkan di dalam kamar itu, aku meringis kesakitan saat Surya menarik jepit-jepit dari rambut. Apalagi saat menurunkan dress, ada jarum yang tak sengaja menusuk kulit, karena Surya ga sabar melepaskannya.
Ahh malam ini rasanya ketemu air hangat akan membuat tubuhku rileks karena seharian dipajang di atas pelaminan.
__ADS_1