
Surya mengajakku ke rumahnya untuk yang pertama kalinya selama aku pulang ke Jakarta. Masih saja aku berdebar sebelumnya. Bu Anggraini memintaku datang untuk dikenalkan pada adik iparnya, yaitu tante Surya yang datang dari Singapura. Dia ingin berkenalan denganku.
Tibalah saat Surya menjemputku.
"Sayang, kenapa?" tanya Surya melihatku sedikit cemas.
"Ga apa-apa, agak gugup aja," ujarku jujur.
"Ga usah gugup, kan kamu udah pernah ketemu juga sama calon mertua?"
Iya juga sih, cuma kok masih gugup rasanya ya?
Aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Mobil kemudian masuk ke rumah itu lagi. Rumah yang dulu pernah kudatangi, style-nya masih persis seperti waktu aku dulu datang kemari. Bedanya hanya warna cat rumahnya, sekarang rumah itu bercat blue sky. Jadi memberi suasana sejuk dengan beberapa pohon palem di taman depan. Meski pernah ke sini, aku tetap tertegun di depan rumahnya.
Aku tersentak ketika Surya mengajakku turun dari mobil.
"Yuk, turun, masa mau di mobil aja?" ujarnya.
Aku nyengir, lalu turun dari mobil. Kemudian kami melangkah masuk ke sebuah ruangan yang desainnya agak berbeda dibandingkan dulu. Kali ini ada beberapa koleksi guci yang menambah kemewahan ruangan itu.
"Duduk dulu, ya?" Aku kembali tersentak untuk yang kedua kalinya. Mukaku memerah karena itu.
"Ya," kataku seketika.
Aku duduk di sofa yang berbeda dengan dulu. Entah di mana sofa yang lama itu, mungkin ditaruh di tukang loak.
Pak Wira dan Bu Anggraini menemuiku.
"Halo, Nduk, cah ayu. Apa kabarnya?" sambut Bu Anggraini ramah.
"Bb... Baik, Bu."
Aku terlampau gugup.
"Jangan panggil Bu, panggil aja Mama," ujar Bu Anggraini sambil tersenyum lebar.
"Panggil saya Papa." Pak Wira tak ingin kalah.
"Mmm... Baik, Pak..., eh Pa, Ma."
"Nah, gitu kan enak."
Surya hanya tersenyum mendengar obrolan kami.
Seorang ibu-ibu yang dulu pernah mengantarkan minuman dan cemilan padaku di ruang belajar Surya pun muncul dari ruang sebelah membawa nampan. Mungkin sekarang usianya sekitar empat puluhan tahun. Aku tersenyum padanya, dia pun tersenyum, meski terlihat pangling padaku.
"Nah, diminum dulu, Nduk," kata Bu Anggraini dengan logat jawanya.
"Iya, Ma."
__ADS_1
Aku mengambil gelas panjangku. Cuaca memang panas dan pas sekali minuman dingin ini mengalir di tenggorokanku.
"Kerjaan lancar, kan, Val?" tanya Pak Wira.
"Iya, Pa."
Tiba-tiba keluar seseorang yang kutebak ini adalah tantenya Surya yang ingin berkenalan denganku. Dia terlihat sangat modis, rambut panjangnya dicat merah, memakai dress hitam dengan kalung emas yang sengaja dikeluarkan dari bajunya, pergelangan tangannya pun berhiaskan gelang emas yang tebal, belum lagi cincinnya dan gelang kaki. Seketika itu aku teringat sebuah toko emas.
"Nah, Lis, ini Valeria. Katanya mau kenal," kata Bu Anggraini.
Dia tersenyum... Dan kurasa agak aneh senyumnya padaku, meskipun begitu dia ulurkan tangannya padaku.
"Elisa, tantenya Surya," ujarnya.
"Valeria, Tante," jawabku menyambut uluran tangannya.
Dia mengangguk-angguk, tanpa senyuman lagi dan memandangi penampilanku. Entah apa yang dia pikirkan.
"Valeria, punya perusahaan apa?" tanya dia.
Deg!
Maksudnya apa?
"Valeria ini kerja di perusahaannya Bu Magda, sahabatku itu lho," jawab Pak Wira cepat.
"Apa sih, Tante ini??" ujar Surya agak jengkel.
"Oooh," Dia terlihat agak sedikit kaget karena pertanyaannya dijawab oleh Pak Wira dan Surya.
"Udah, to, perkenalannya? Yuk, sekarang biarkan yang muda-muda ini ngobrol di sini. Kita yang tua-tua masuk ke dalam," katanya sambil menarik bahu Tante Elisa.
"Yang santai ya, Val. Anggap aja rumah sendiri," ujar Pak Wira sembari beranjak dari duduknya.
"Makasih, Pa, Ma," ucapku.
Pertanyaan Tante Elisa tadi masih terngiang di telingaku.
"Maksud tante kamu tadi, apa?" tanyaku pada Surya.
"Ga apa-apa, mungkin dikiranya kamu punya perusahaan, sayang," ujarnya menenangkan hatiku.
Aku mengangguk walau masih terasa mengganjal di hati.
***
Sementara itu di dalam.
"Mbak, kalian ga salah pilih calon mantu, kan?" Elisa bertanya sambil mengajak mereka duduk mengobrol di ruang keluarga.
"Yo ga lah, Valeria itu baik anaknya, sopan, pinter, piye to maksudmu?" jawab Anggraini.
__ADS_1
"Lha iya, maksudnya gimana kamu, Lis?" tanya Wira.
"Gini, apa kalau berjodoh dengan anak itu, bisa memajukan perusahaan? Mendingan kan yang sama-sama punya perusahaan, kan? Kita ini keluarga pengusaha. Mas punya perusahaan, Mbak juga punya. Aku pun begitu, lihat tuh anak-anakku si Doni sama Dinda, pacar-pacar mereka juga pengusaha sekarang."
Anggraini tak menanggapinya.
"Lis, kalau aku sih suka sama Valeria, soalnya dia pintar dan maju," bela Wira.
"Terserah Mas, ya? Pintar pun ga cukup. Dia tidak memiliki apa-apa. Apa nanti cuma akan membodohi kalian semua? Apa nanti perusahaan kalian ga akan berpindah tangan padanya?" tanya Elisa.
"Sakkarepmu, lah Lis," Anggraini meninggalkan Elisa di ruang itu menuju ke ruang atas.
Sekarang tinggal Wira dan Elisa.
"Mbak itu kalau dibilangi ngeyel. Mas, inget ga waktu si Doni anakku jadian sama anak orang biasa? Dia diporotin habis-habisan, Mas!" kata Elisa berapi-api.
Wira hanya terdiam mendengarnya.
"Hampir perusahaan suamiku bangkrut, untung saja aku memergokinya. Aku melabrak mereka lagi di bar!" katanya.
"Lah, anakmu itu juga kelakuannya seperti itu kok, sukanya mabuk dan foya-foya. Ya pantas kalau perusahaanmu mau bangkrut lah!" Wira tak kalah sengit.
"Hey, Mas, yang mempengaruhi dia seperti itu kan pacarnya yang dulu itu," belanya.
"Ya salah anakmu kan, kenapa juga mau diajak ke tempat seperti itu. Selama ini, Surya dan Valeria tidak pernah ke tempat seperti itu!" Wira dengan emosi menjawab kata-kata Elisa.
"Ah, apa Mas ngerti kalau mereka ga pernah ke tempat seperti itu?" tanya dia menyudutkan Wira.
"Udahlah, dia anakku. Biar dia pilih jalan hidupnya sendiri!" ujar Wira berlalu mencari istrinya.
Elisa menggerutu.
***
"Ngomong apa lagi dia, Pa?" tanya Anggraini saat Wira duduk di sebelahnya.
"Dia takut Surya seperti Doni yang pernah diporotin sama pacarnya yang anak orang biasa," jawab Wira masih merasa emosi.
"Emang dasar anaknya yang b*go kan, mau-mau aja diporotin. Inget ga Pa, waktu Doni itu tertangkap polisi gara-gara berantem sama berandalan saat mabuk di diskotek?" Anggraini mengingatkan suaminya.
"Iya, kita pun kena imbasnya. Anaknya terlalu berfoya-foya, dan yang menyelamatkan perusahaannya ya kita juga."
"Piye to kae? Lagian si Dinda sama aja, dia juga suka foya-foya. Keturunan dari ibunya juga suka menghambur-hamburkan uang mereka itu. Aku yakin kok Pa, Valeria itu ga seperti yang Elisa takutkan."
"Iya, aku juga percaya sama Valeria, buktinya Magda, sahabatku itu, tau sendiri kan Ma orangnya gimana? Disiplin keras, jujur, dan tak segan memecat bawahannya yang ga bisa memajukan perusahaan."
"Lha iyo, Pa. Wes to, pilihan anak kita yang terbaik. Aku udah suka dari pertama melihatnya. Sederhana, baik, sopan, tutur katanya juga baik dan cerdas, kata Surya dia dulu di sekolahnya juga berprestasi," ujar Anggraini.
"Oh, iya Ma? Ya, lah, kita yakin aja bahwa Valeria akan mendukung Surya memajukan perusahaan kita."
Mereka terperanjat ketika tiba-tiba Surya telah berada di atas mencari mereka.
__ADS_1
"Pa, Ma, Valeria mau pamit," ujar Surya.
***