
Sementara itu di rumah Denis
Cantika duduk termenung. Dia bosan selama ini tiduran di kamar saja. Kandungannya telah menginjak usia hampir tujuh bulan. Perutnya telah membesar dan agak sulit baginya untuk bergerak bebas. Rasa panas selalu menjalar di punggungnya.
Denis sedang melayani pembeli, begitu sibuk. Selama Cantika di rumah sakit lalu istirahat di rumah, banyak pembeli yang menunggunya berjualan lagi. Uang yang terkumpul hari ini cukup banyak.
Sore harinya datang seorang mahasiswi cantik, tersenyum pada Denis sambil memamerkan lesung pipinya.
"Mas, saya pesan lima porsi ya?" katanya lembut.
Dia datang bersama rombongan temannya yang berjumlah empat orang.
"Makan di sini, Mbak?" Sejenak Denis menatap perempuan muda itu, tapi tidak ada makna dari tatapan Denis selain hanya ingin bertanya tentang pesanannya.
"Iya, Mas."
Keempat temannya terlihat berbisik-bisik. Sepertinya mereka membicarakan tentang Denis. Gadis yang memesan melirik sebentar pada teman-temannya diiringi teriakan riuh mereka.
"Cieee...."
Mereka seketika menutup mulut dengan tangan saat Denis menengok. Gadis itu kemudian berbalik dan berkumpul bersama teman-temannya.
Cantika yang mendengar suara riuh itu kemudian bangun dan pelan-pelan turun dari ranjangnya lalu berjalan menuju ke garasi.
Denis melirik sebentar dan tersenyum pada Cantika, Cantika hanya melongok sebentar kemudian duduk di kursi ruang tamu.
"Makasih ya, Bang!" ujar gadis cantik itu saat Denis mengantarkan makanan mereka.
"Abang ganteeeng...." sorak teman-temannya riuh, membuat Cantika jengah karena berisik. Namun, lebih tepatnya dia merasa kesal pada mereka.
Cantika masih duduk di kursinya ketika mahasiswi-mahasiswi rempong itu membayar ke Denis.
__ADS_1
"Bang, makasih ya, besok kami sini lagi. Makan sambil lihat muka Abang, rasanya tambah enak." Gadis cantik itu memberikan uang pada Denis dibarengi dengan keributan teman-temannya.
Setelah itu, Denis menutup kedainya. Membersihkan semua yang ditinggalkan gadis-gadis tadi, lalu menemui istrinya.
Cantika terlihat cemberut, Denis ga tahu kenapa.
"Kok cemberut? Kamu lapar?"
"Iya," kata Cantika sambil mengelus perutnya. Dia tidak ingin Denis tahu bahwa dia sedikit kesal dengan gadis-gadis itu.
"Mau makan apa?" Denis menatap istrinya dengan mesra.
Cantika memang berubah karena melihat kesabaran Denis. Belum pernah dia dicintai seperti itu. Dia merasa dia adalah segalanya bagi Denis. Dalam hati Cantika, ada rasa hangat yang menjalar menjadi bara kasih ketika melihat perjuangannya. Hingga rasa itu menjadi rasa takut, takut untuk kehilangan senyuman Denis.
"Mau apa aja." kata Cantika.
"Kubelikan sayur di warung, ya?"
Denis segera beranjak. Tak mau dia melihat istrinya yang sedang mengandung itu kelaparan. Perubahan sikap Cantika juga mempengaruhi Denis. Dia tampak lebih sumringah dan bersemangat untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.
Denis membelikan sayur untuk dia makan berdua dengan istrinya.
***
Keesokan harinya, kelima mahasiswi itu kembali lagi di kedai Denis dalam waktu yang sama. Sepertinya mereka selesai kuliah di sore hari.
Suara riuh mereka tak juga berubah saat melihat Denis, malah semakin berani meninggalkan nomor gawai gadis cantik itu.
"Bang, disimpen ya, kalau kami butuh pesan makanan kan bisa langsung," ujar gadis cantik itu.
Denis hanya diam tak berkata sepatah pun, hanya mengangguk tanpa melihat kartu itu, tapi disimpan juga kartu nama itu di laci uangnya. Di satu sisi dia merasa jengah, di satu sisi dia tak ingin kehilangan pelanggan.
__ADS_1
"Moduuuusss..." sorak teman-temannya.
"Oh ya, Bang, kalau nge-save nomorku kasih nama Selvi ya?"
"Ya, Mbak." Denis masih berusaha menghormatinya. Dia menghela nafas, ternyata berjualan itu memang resiko. Selain untung-rugi, juga menghadapi berbagai kelakuan pembeli.
Mereka akhirnya pergi dari situ, meninggalkan kelegaan di hati Denis.
Dasar anak-anak labil, batinnya.
Cantika berjalan pelan ke arahnya, membuat Denis terkaget melihatnya yang tiba-tiba membuka laci uang.
"Tadi siapa sampai beri kamu kartu nama?" tanya dia.
"Pelanggan, katanya mau nitip nomor kalau dia memesan makanan." Denis membenahi letak kursi-kursi di kedai.
Cantika membaca nama yang tertera di kartu itu, "Ara Selvi Amara," katanya sambil melirik Denis.
Denis yang masih sibuk dengan pekerjaannya, tidak menghiraukan nama itu.
Cantika membuang kartu nama itu ke tempat sampah. Entah kenapa rasa kesal menyusup di relung hatinya. Melihat itu, Denis segera menyudahi pekerjaannya dan mendekati Cantika yang kemudian duduk di kursi.
"Kenapa kok dibuang?" tanya Denis.
"Ga suka aja." Cantika melengos.
"Ya udah, sekarang kita makan dulu yuk, nanti ga cepet besar bayinya," kata Denis sambil memegang bahu Cantika.
Ada senyum di bibir Denis melihat Cantika cemberut tadi.
Dia cemburu.
__ADS_1
***