
Sebelum lanjut, please klik like n vote ya kakak readers yang baik....
Lalu comment dari para readers juga kuharapkan loh yaa... Supaya semangat cling-cling bikin ceritanya hehehehe... Makasih sebelumnya ya. Love love...
🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿
"Cantika!"
Bibi Hana menggedor pintu kamar keponakannya yang sedang hamil itu.
Tidak ada jawaban.
Dengan gemas dia menggedor kembali pintu kamar yang dikunci rapat oleh pemiliknya.
"Cantika! Buka!"
Tidak sabar dia mengepalkan tangan, ingin mendobrak pintu itu. Namun, niatnya terbendung oleh kedatangan Denis, suami keponakannya itu.
"Ada apa, Bibi?"
Suami keponakannya terlihat letih, Bibi Hana meredam amarahnya sebentar. Lalu, meminta Denis untuk memanggil istrinya keluar.
"Denis, tolong panggilkan Cantika agar keluar. Ini penting. Oh ya, Denis, Pak Arya barusan diantar ke rumah sakit, sepertinya serangan jantungnya kumat. Tolong, Bibi Hana mau bicara sama Cantika."
Tergesa sekali tanpa jeda Bibi Hana berkata demikian pada Denis.
Pria muda itu segera mengangguk, menyadari situasi itu.
"Tika, bukain pintu. Aku pulang."
Denis mengetuk pintu itu pelan. Tak lama, pintu itu terbuka, dan muncullah Cantika bersandar pada pintu.
"Sini, kamu."
Bibi Hana menyeretnya pelan, tanpa mempedulikan Denis yang kebingungan.
"Sekarang kalian duduk di kursi," katanya dengan masih memegang pergelangan Cantika.
Denis menuruti Bibi Hana. Sekarang mereka bertiga duduk di kursi ruang tengah.
"Bibi tahu yang terjadi. Cantika, kamu telah dua kali membuat Arya terkena serangan jantung. Bukankah kamu tahu jika Papa kamu itu rawan terkena penyakit mematikan itu sejak tahun lalu?" Bibi Hana menuding Cantika yang sedang tertunduk.
"Harusnya kamu menjaga emosi orang tuamu! Lalu apa masalahmu hingga semua itu terjadi??" tanya Bibi Hana dengan nada meninggi.
"Katakan Cantika!" bentak Bibi Hana tidak sabar.
"Bibi, sabarlah, istri saya sedang hamil. Mohon untuk agak sabar padanya, Bi."
Denis mencoba menenangkan wanita bertubuh tinggi yang sedang tersulut emosi itu.
"Baiklah maaf, tapi dia udah kelewatan Denis. Lagian, ada satu hal yang perlu kalian tahu."
Bibi Hana memelankan volume suaranya. Dia menarik nafas panjang, lalu menghembuskan pelan, terasa agak lega perasaan yang sedari tadi mendesak di dada.
"Apa yang membuat kedua orang tuamu emosi tadi?"
__ADS_1
Cantika menggelengkan kepala. Masih dengan posisi tertunduk sambil mengelus perutnya.
"Oke, kamu iri pada kakakmu? Cemburu padanya? Apa yang kamu cemburui dari dia?"
Cantika mendongak mendengarnya.
"Aku ga iri, hanya merasa ga adil saja!" jawabnya membela diri.
"Kedua orang tua itu ga adil seperti apa? Bahkan mereka selalu memberikan apa yang kamu tuntut, apa yang kamu minta, melebihi apa yang mereka berikan pada anak kandung mereka satu-satunya!"
Pasangan suami istri muda itu terperangah mendengarnya.
Bibi Hana membetulkan letak kacamatanya dengan tenang melihat mereka terkejut akan perkataannya. Dia tahu pasti akan apa yang bakal terjadi. Namun biarlah, sudah terlalu bosan wanita berambut ikal ini mendengar semua dari Bik Nah, yang selama ini diam-diam meneleponnya jika ada pertengkaran di keluarga adik iparnya itu.
"Maksud Bibi, apa?!" teriak Cantika.
"Emmm Cantika bisa ga, jika kamu ga perlu berteriak mendengar ini semua? Hingga aku sudi menjelaskan semua kenyataan ini?"
Cantika mendengus kesal. Bingung, kesal, panik, campur aduk dalam perasaannya, tapi dia harus menutup mulut agar wanita itu menjelaskan kata-katanya. Denis tetap menunggu apa yang akan dikatakan Bibi Hana, orang yang paling tegas di keluarga ini.
"Begini, Denis, Cantika. Sebelumnya saya minta maaf telah lancang. Bukan pada kalian, tapi kedua orang tua yang telah merawat Cantika di rumah ini selayaknya anak kandung sendiri."
Baru Cantika akan protes mendengarnya, tapi ditahan oleh Denis.
"Ya, Cantika bukan anak kandung Pak Arya dan Bu Mareta. Dia anak dari suami-istri sahabat Pak Arya yang meninggal karena kecelakaan maut waktu Cantika berusia 2 bulan."
Wanita itu melihat raut wajah shock dari keponakan angkatnya itu. Namun, dia tetap melanjutkan kata-katanya.
"Sebenarnya saya juga ga tega mengatakannya, tapi karena kesabaran adik ipar saya menghadapimu yang ga tahu diri, maka sayalah yang tidak sabar."
"Apa buktinya, Bi?" tanya Cantika yang telah basah di kedua matanya.
Bibi Hana menunjukkan sebuah foto yang dia ambil di laci kamar Bu Mareta saat mengemasi baju-bajunya tadi. Gambar bayi kecil beserta kedua orang tua yang sama sekali tidak dikenal oleh Cantika.
"Bayi itu kamu, tulisan di belakang itu adalah coretan dari Ibu kandungmu," ujar Bibi Hana tenang.
Cantika memperhatikan foto itu, memang benar gambar bayi itu adalah dia, karena sama dengan foto saat bayi yang ada di albumnya. Di balik foto itu, terdapat tulisan tangan yang indah.
Cantika Putri, 2 months. Putri pertama kami yang cantik. Awang dan Gendis.
"Sekarang kamu udah tahu? Kalau kamu ingin bukti lagi, silakan ambil tes DNA. Aku berani bertaruh dengan semua yang aku katakan," tantang Bibi Hana.
Cantika tak kuasa membendung air matanya, sepertinya dia telah mempercayai kata-kata Bibi Hana. Dia terus menatap gambar yang dipegangnya, hingga air mata membasahi foto itu.
"Bibi, maafkan istri saya bila ada sikapnya yang kurang baik sementara ini di hadapan Bibi."
Denis menatap harap pada wanita yang telah menguak rahasia besar di keluarga itu. Bibi Hana mengangguk dan tersenyum padanya.
Bibi tahu kamu pria yang baik, Denis.
"Sekarang, sudah jelas kan? Bibi mau lanjut mengemasi baju Mama kamu."
Wanita itu tersenyum lalu beranjak meninggalkan mereka yang masih terpaku di kursi ruang tengah.
***
__ADS_1
Di rumah sakit
Mama sedang berdiri di depan ruang ICU. Nampak jelas gurat kecemasan di wajahnya. Paman Arga pun terlihat sesekali mondar-mandir tanpa berkata-kata.
"Ma." Kusentuh pundak Mama lembut, cukup membuat Mama menoleh.
Kami berpelukan cukup lama, mencoba saling menguatkan dan melepas kecemasan yang terjadi dalam hati, tapi tetap saja rasa cemas itu bersemayam.
Papa dan Mama mertua menyalami Pak Arga. membiarkan aku dan Mama larut dalam pelukan. Tak lama, Surya datang setelah memarkir mobil.
Mama melepas pelukan dan menemui mereka, lalu kembali terdiam. Hanya ada doa dalam hati yang kami panjatkan untuk Papa.
Papa dan Mama mertua terlibat pembicaraan dengan Pak Arga. Sepertinya mereka membicarakan perihal Papa.
Setengah jam menunggu di luar dengan pikiran yang tidak tenang, akhirnya dokter memanggil Paman Arga. Kenapa bukan Mama? Aku mendekat ke pintu, dengan jantung berdegup kencang, menunggu kabar dari dalam. Surya mendekati, merangkulku. Tiba-tiba air mata ini mengalir begitu saja, dia memeluk dan mengelus kepalaku seolah mengetahui kegusaranku.
Paman Arga keluar dengan mata memerah, berkaca-kaca.
Deg!
Ada apa? Apa yang terjadi dengan Papa? Aku ingin bertanya, tapi tak bisa kukatakan serasa tercekat di tenggorokan.
Paman menatapku ragu, sejenak. Lalu mendekati Mama, berbicara pelan dengan Mama, sambil memeluknya dan meledaklah tangis Mama, sesaat kemudian Mama pingsan.
"Dek, sabar dek ...."
Paman Arga menahan Mama, menyandarkannya di bangku tunggu dan berusaha menyadarkannya.
Aku pun tak kuasa mendekatinya. Tidak! Aku ga sanggup mendengarnya! Tanpa mereka bilang, sepertinya aku tahu bahwa ini buruk! Ini kabar buruk!
Kupeluk Surya semakin erat, takut untuk mendekat pada Paman, Papa dan Mama mertua yang sedang menyadarkan Mama.
"Sabar, sayang." Surya mengeratkan pelukannya agar aku kuat.
Tak kuasa aku terisak, lima belas menit setelah itu, mobil jenazah telah disiapkan, bersamaan dengan pintu ICU yang terbuka dengan beberapa perawat mendorong brankar dengan seseorang yang ditutup selimut dari kepala hingga kaki. Kuharap keajaiban terjadi! Tuhan ..., kenapa semua ini begitu cepat??? Baru saja kami bahagia dengan pernikahanku, tetapi hari ini ....
"Papa! Papa!! Aku ga mau Papa meninggal ...."
Mulut ini meracau, saat Paman Arga mendekat padaku lalu membisikkan sesuatu yang tidak ingin kudengar!
"Tidak, aku ga sanggup, Surya! Tolong bilang ke dokter, lakukan apapun!"
Surya hanya memelukku sambil menitikkan air mata.
"Surya, please. Kasih tahu dokter, suruh apa saja agar Papa kembali ....!"
"Sayang, sabar. Tuhan lebih menyayangi Papa. Ingat, Dia akan mengambil milik-Nya yang terbaik. Papa adalah pilihan-Nya. Yang tabah, sayang ...."
Surya mengelus rambutku, mobil jenazah telah siap membawa Papa kembali ke rumah.
Mama telah sadar, meski masih lemah untuk berdiri. Paman Arga dan Papa mertua memapah Mama ke mobil yang udah dibawa Paman mendekat.
Ingin kutampar pipiku agar aku sadar dari mimpi buruk ini, tapi ini bukan mimpi! Bangunkan aku Tuhan! Ga sanggup .... Aku belum merasa sepenuhnya membuat Papa bahagia! Tuhan tolong aku!!
Mama mertua mendekat dan memelukku dengan tangis. Aku tahu dia berusaha menenangkanku juga, tapi isak tangia ini tak juga mereda.
__ADS_1
Surya memapahku ke mobil, karena Paman, Papa mertua dan Mama telah dahulu naik di mobil Paman Arga.
Mama mertua memelukku sepanjang jalan pulang mengiringi mobil jenazah yang mengantar Papa.