Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 37


__ADS_3

Back to story


Untung saja kunci ruangan sebelah masih kupegang, jadi Surya bisa tidur di sana lagi. Dia itu konyol, bela-belain balik lagi ke sini, ga ngerti deh...


Sore harinya, Lia datang ke apartemen. Aku udah menebak, dia pasti kaget melihat Surya. Waktu itu Surya baru nonton televisi di kamar apartemenku.


"Eh, kamu Surya kan??" tanya Lia sambil memperhatikan Surya dari atas sampai bawah.


"Iya, kamu..." Surya mencoba mengingat-ingat sambil mengamati Lia.


"Lia, Amelia Puspitasari. Masa ga inget? Aku sahabat Val dari SMU, kan kita juga satu sekolah waktu kamu belum pindah gara-...." kututup mulutnya dan menariknya ke dekatku, menjauhi Surya.


"Apaan sih?" tanya Lia setengah berbisik.


"Ga usah bilang kek tentang alasan kepindahannya dulu!" bentakku pelan.


"Oh, iya ya maaf, keceplosan," ujarnya sambil menutup mulutnya sendiri.


Surya menengok kami, masih dalam posisinya. Lia kembali menemui Surya.


"Sukses kamu ya sekarang, Ya?" katanya menyikut perut Surya.


Surya meringis, "Biasa aja,"


"Eh, gimana kalau kita kencan bareng-bareng besok?" ajak Lia.


"Kencan?" mataku melotot padanya.


"Boleh!" seru Surya.

__ADS_1


"Isshh..." Aku mencium adanya kekompakan mereka.


"Aku abis jadian sama cowok yang kuceritain kemarin Val, namanya Daniel. Dia bisa bahasa Indonesia kok, yuk besok kita nonton. Filmnya bagus lho besok!" cerocos Lia seperti tidak tahu kegundahanku.


"Nah, abis itu kita bisa sering kencan, PBB mmm... Pacaran Bareng-Bareng," lanjutnya lagi dengan terkekeh seperti tanpa dosa.


Ingin kusumpal mulutnya dengan kaos kakiku, biar diam. Aku kan ga pacaran sama Surya, kenapa dia bilang seperti itu. Ihhh...


Sedangkan Surya udah bisa ditebak, dia setuju banget dengan acara itu, oh my God...


Keesokan harinya, sepulang kerja mereka telah berkumpul di ruang apartemenku. Mau ga mau aku tetap ikut acara mereka.


Surya mengemudi mobil dengan aku di sampingnya, sementara Lia dan Daniel di kursi belakang. Selama perjalanan Lia dan Daniel menyanyi-nyanyi lagu seolah dunia milik mereka berdua saja. Aku menggeleng-geleng melihat pasangan absurd itu.


Ketika sampai di gedung bioskop, Daniel membeli tiket masuk dan kami menunggu sambil memilih snack untuk menemani. Daniel dan Lia duduk di depan aku dan Surya. Film romantis itu sedang mulai, kok alurnya hampir sama seperti ceritaku ya, bedanya hanya ini tentang adik yang mencintai pacar kakaknya, dan mereka tidak bisa bersatu karena pacar kakaknya malah kecelakaan dan meninggal.


Di tengah film berlangsung, Surya merangkulkan tangannya di bahuku. Aku menggaruk kepala yang ga gatal, mencondongkan badan ke depan. Dia dengan sigap meraih bahuku lagi untuk disandarkan ke kursi, sambil mencium pipiku. Degup jantungku mulai tidak karuan. Kuelus lalu kututupi pipiku dengan tangan. Dia seperti tergelak.


Aku melotot padanya, Awas kamu, Lia, geramku.


Setelah itu, kami berjalan-jalan menikmati es krim di pusat kota, Lia dan Daniel saling bergandengan tangan, saling mesra sepanjang jalan, terlihat mereka tidak ada beban untuk saling mencintai. Aku iri padanya.


"Kenapa diam aja?" tanya Surya seolah tahu kegundahanku.


"Aku ga apa-apa, kok," kataku dengan mata beralih ke burung-burung yang terbang berkoloni di langit.


Surya meraih kepalaku lalu menempelkan di bahunya. Jantungku kembali berdebar, aku tak kuasa menolak kehangatannya. Kami hanya berdiam memandang keindahan di sekitar.


Satu jam lamanya menikmati berdiam diri, bergumul dengan batin kami masing-masing. Lia dan Daniel telah datang. Aku segera membenahi dudukku, mengangkat kepalaku dari bahu Surya.

__ADS_1


"Ecieee... Udah jadian?" Lia menyodok lenganku.


"Ga, ngapain sih? Dia kan adik iparku," belaku pada diri sendiri.


"Nanti sama lho kayak film tadi, buruan kamu bilang, nanti ga kesampaian," ujarnya.


"Hush, kamu doain jelek banget," aku menggerutu.


"Yeee, ga terima ya..." godanya lagi.


"Tauk, ah," ujarku kesal dan mendahuluinya.


Setelah mengantar mereka ke apartemen Lia, kami pun pulang, tetapi mobil berbelok di jalan lain, aku bingung.


"Kamu lupa jalan?" tanyaku pada Surya.


"Ga, pengen ke sana sebentar."


Aku turuti saja kemauannya, ternyata dia berhenti di sebuah jalan, di situ terlihat beberapa lampu rumah flat dan gedung yang indah ketika malam hari. Dia menepikan mobil, dirasa aman memarkir mobil di situ, dia berhenti.


Kami kembali turun dari mobil, menarik nafas di jalan yang lengang itu.


"Bagus ya kalau malam," ujar Surya.


Aku mengangguk, malah baru kali ini aku kesitu. Sejenak kami menikmati suasana malam di situ sambil minum sebotol soda.


Setelah puas, kami kembali masuk ke mobil. Dia mengunci otomatis semua pintu. Tiba-tiba dia mencium bibirku, sontak aku terkejut. Aku tidak bisa bergerak, terdorong oleh perasaanku saat ini, aku membuka mulutku dan kami saling berciuman, lama.


Setelah itu aku mendorongnya, aku teringat pada adikku, sambil mengatur nafasku, kualihkan pandangan ke samping. Salah tingkah, merasa bersalah, menyesal dan entah apa lagi yang kurasa, campur aduk.

__ADS_1


Surya pun terlihat serius, dia tidak mengeluarkan candaan sedikit pun, lalu mengemudi mobil dengan pelan. Kami hanya membisu sepanjang jalan pulang.


__ADS_2