
Acara pemakaman berlangsung lancar dengan diselimuti rasa duka. Denis kelihatan terpukul atas kematian ibunya. Sementara itu, Cantika terlihat berada di sebelah Denis, tetapi hanya diam, dia tidak menunjukkan kesedihan yang mendalam.
Para tetangga terus berdatangan menyampaikan rasa turut berduka mereka pada Denis dan Cantika. Rangkaian bunga dari kantor Denis pun telah terpampang di depan rumah. Hingga sore hari, para pelayat silih berganti mendatangi rumah duka.
Setelah suasana sepi, aku dan Surya mendekati Denis, tak peduli pada Cantika yang melengos melihatku dan Surya. Entahlah, saat berduka seperti ini dia masih mengedepankan egonya sendiri.
"Denis, kami turut berduka atas meninggalnya ibu kamu. Semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya. Yang tabah ya Denis," ucapku menyalami, sembari menepuk pundaknya.
Dia mengangguk tanpa bisa berkata banyak. Hanya ucapan terima kasih dengan suara yang hampir tak terdengar keluar dari mulutnya. Surya menyalami Denis, mengelus lengan tangannya tanda ikut berduka. Cantika tertunduk saat aku dan Surya menyalaminya.
Kami pamit pulang setelah malam. Esok hari, Mama akan kembali ke rumah itu mengingat Denis dan Cantika tidak memiliki pendamping untuk diajak berunding. Tentu aku pun tak akan diam saja, niatku membantu mereka sebisaku.
***
Rencanaku untuk pergi ke Jerman tertunda lagi, tapi ga apa lah, Denis butuh pertolongan kira-kira seminggu ke depan, banyak yang harus disiapkan. Kedatangan tetangga untuk mengirim doa juga membutuhkan persiapan suguhan, setidaknya berlangsung selama tujuh hari. Kasihan dia kalau mikir tentang itu. Apalagi istrinya tidak bisa diajak memikirkan masalahnya, dia malah menambah masalah.
Kupesan sejumlah lebih makanan dari jumlah total tetangga Denis. Kuantarkan ke rumah Denis setiap sore, hingga dia tidak perlu lagi memikirkan harga untuk memesan atau membuatnya. Setiap aku datang, Cantika masih diam seribu bahasa, tapi udah lumayan dia mau memasukkan makanan ke dalam kardus. Terkadang aku meliriknya, melihat muka masamnya itu.
Sampai di hari ke tujuh, Cantika mengeluh mual, dia tidak bisa ikut mendoakan ibu mertuanya, hanya diam di dalam kamar. Sesekali terdengar muntah, membuat kami tidak enak dengan para tetangga, tetapi sepertinya mereka maklum.
"Maaf, Bapak-bapak, istri saya baru hamil. jadi bawaannya begitu," ujar Denis pada para pendoa yang datang.
"Oooohh..." Serempak mereka mengangguk-angguk maklum.
Mama mencoba memberi Cantika minuman hangat, itu membantunya meredakan rasa mual dan sepertinya memang mualnya berhenti, karena tidak kudengar lagi suara muntahnya.
"Memang, ini tri wulan awal, jadinya kamu masih merasa mual. Ga apa-apa," kata Mama meyakinkan Cantika yang lemas saat itu.
Semoga obat-obatan yang dia minum untuk menggugurkan bayinya, tidak berpengaruh pada kandungannya, harapku.
Surya menjemputku dan Mama ketika malam ketujuh berakhir.
"Makasih, Ma, Val, Surya. Tanpa kalian, mungkin saya kebingungan gimana-gimananya untuk mengadakan acara ini," ujar Denis di ruang tamu saat kami membereskan piring dan gelas.
"Yang penting semua berjalan lancar, Denis," kata Mama mengelus lengan Denis.
Tampak mata Denis berkaca-kaca, entah haru atau teringat lagi pada mendiang ibunya. Aku mengalihkan perhatianku pada Surya agar tidak melihatnya menangis. Ga tega.
"Hanya Tuhan yang bisa balas, ya Ma," ucap Denis pada akhirnya.
"Kamu ga usah mikirin itu, Denis. Oh ya, Cantika tidur. Jika mual ga apa-apa, itu wajar. Kamu ga usah bingung, ya?" Pesan Mama.
__ADS_1
Denis mengangguk.
Kami berpamitan meninggalkan mereka yang hanya berdua di rumah ini.
***
Mentari terbit saat aku terbangun dari tidurku, menggeliatkan tubuh, merenggangkan otot. Hari ini hari Minggu, kulipat selimut lalu turun dari ranjang. Menemui Mama yang telah beradu di dapur bersama Bik Nah.
"Val, udah bangun?" Tanya Mama sembari memasukkan tomat ke masakannya.
"Udah, Ma. Hmmm... Baunya wangi, jadi pengen buru-buru makan," kataku sambil memeluk Mama dari belakang.
"Eh, abis bangun ya mandi dulu sana," ujar Mama sambil mengaduk masakannya.
"Ya deh."
Aku menyambar handuk dan langsung menuju ke kamar mandi. Percikan air menyegarkan tubuhku yang masih terbawa aroma malas di pagi hari menjadi bersemangat.
Makan pagi dengan Papa dan Mama menggugah nafsu makanku. Sepiring nasi dengan sup tomat, lauk ayam goreng dan sambal.
Tiba-tiba gawaiku berdering.
"Halo, sayang lagi ngapain?" Belum juga kusambut teleponnya, dia udah main sambar aja.
"Abis makan, gimana?" jawabku ringan.
"Mau ga aku ajak jalan ke suatu tempat," ajaknya bersemangat.
"Kemana sih?" Tanyaku penasaran.
"Ada deh, mau aja ya?"
"Maksa. Iya deh."
"Yang dipaksa mau juga kan? Nanti kujemput jam 11 ya?" Tuturnya.
"Ya."
Kututup teleponnya dan mengemasi piring kotor di atas meja seperti biasa.
Jam 11, terdengar mobil Surya di depan rumah. Papa menyambutnya di teras.
__ADS_1
"Wah, ada Surya, sini masuk. Itu, Valeria di dalam."
"Iya, Om," Surya mencium tangan Papa lalu masuk ke dalam rumah.
Aku telah berdiri di ruang tamu, dia masuk dan tersenyum ke arahku berdiri, lalu kuminta duduk.
"Duduk dulu, bentar ya, aku ke dalam," kataku.
"Eh, ga usah bikin minum ya," ujarnya.
"Siapa juga yang mau bikinin minum, aku mau ganti baju kok," kataku menggodanya.
Dia terlihat mendengus kesal, aku terkikik.
"Eh... Surya," Mama mendekatinya.
"Ya, Tante. Di rumah aja, Tante?" Kata Surya berbasa-basi lalu mencium tangan Mama.
"Iya. Mau kemana lagi? Saya sukanya di rumah aja, kalian mau ke mana?" Tanya Mama.
"Mau jalan-jalan aja, Tante." ujar Surya.
Akhirnya aku selesai berganti pakaian dengan jeans dan kaos biru muda. Menyisir rambutku dan mengikatnya, karena cuaca sangat panas hari ini. Tentu akan sangat gerah bila kugerai rambutku.
"Yuk," ajakku di depan Mama dan Papa yang ternyata telah duduk di ruang tamu bersama Surya.
Surya mengangguk, " Om, Tante, saya dan Valeria jalan dulu, ya?"
"Ya, hati-hati ya di jalan?" Pesan Mama.
"Ya, Om, Tante."
Kami memasuki mobil Surya, kali ini sebuah lagu langsung diputar saat kami akan melaju.
Nothing's Gonna Change My Love For You - George Benson.
"Mau kemana sih?" Tanyaku penasaran.
"Udah, ikut aja," katanya sambil tersenyum.
Sambil mengikuti arahnya, aku menikmati perjalanan sepanjang jalan. Di tengah jalan, Surya berbelok ke minimarket, membeli beberapa minuman dan makanan kecil. Setelah itu mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tempat yang aku juga ga tahu tujuannya.
__ADS_1