
Ketika perawat telah beranjak pergi, Cantika sendiri di ruang itu. Dia merasa keheranan sendiri kenapa dia minta Denis untuk menyuapinya. Seakan jiwa manjanya meluber setelah lama dibendung oleh keangkuhan selama ini.
Wajahnya memerah, dia merasa malu sendiri. Cantika mengelus perutnya, tiba-tiba dia merasa cemas akan bayinya, kenapa belum bergerak juga?
Dia meraih gawai, menelepon Mamanya. Untuk menanyakan pada perawat rasanya masih malu.
"Halo," suara di seberang sana menyambutnya.
"Mama, udah sampai rumah?"
"Belum, sayang. Ada apa?"
"Ma, janin yang di dalam perutku kok tidak bergerak ya?" Terdengar kecemasan di nada suaranya.
"Belum, Nak. Besok kalau sudah sekitar tiga belas minggu kamu akan merasakan gerakan halusnya. Kenapa, Nak?"
"Oh, ya udah Ma. Hati-hati di jalan ya, Ma?"
Dia cepat-cepat menutup telepon, baru kali ini dia terlihat cemas akan kandungannya. Merasa cemas bila dia membuat kecewa Denis. Cantika merasa kebingungan sendiri.
***
Mama tiba di rumah ketika aku sedang ngobrol dengan Bik Nah.
"Lagi pada asyik ngobrol?"
"Iya, Ma, gimana Cantika sama Denis? Baik-baik aja kan, Ma?"
Mama mendesah pelan, "Cantika tadi agak pendarahan, tapi udah masuk ke rumah sakit. Hanya diminta bed rest. Biar maksimal, dia istirahatnya di rumah sakit aja," ujar Mama.
"Ya ampun, kenapa bisa sampai pendarahan gitu, Ma?" tanyaku tak kalah cemas.
"Kata dokter, mungkin dia pernah minum obat sembarangan, makanya berpengaruh pada kandungan."
Ah, pasti gara-gara dia pernah ingin menggugurkan kandungannya dengan obat-obatan.
"Tadi Cantika sedikit cemas ketika bayinya belum bergerak, semoga naluri keibuannya mulai jalan." Mama meletakkan tas di atas meja makan.
"Semoga, Ma," ujarku dengan diiringi anggukan Bik Nah.
Semoga adikku bisa berubah dan kandungannya baik-baik saja.
***
Seminggu kemudian, Cantika diperbolehkan pulang. Dia sehat setelah menjalani istirahat di rumah sakit, dengan catatan selama sebulan tidak beraktivitas berat selama di rumah.
Aku ikut menjemputnya, meski Cantika masih belum mau berbicara padaku. Entah kapan perang dingin darinya akan berakhir.
__ADS_1
Kulihat Denis agak berbinar ketika sampai di rumah. Cantika juga sepertinya telah berbuat baik pada Denis.
"Spanduk apa itu Denis?" tanya Mama saat melihat garasi.
"Saya jualan makanan kalau pulang kerja, Ma." Denis menjelaskan sambil menata barang-barang kembali. Cantika beristirahat di kamarnya.
"Kamu itu, mengingatkan Mama pada mendiang kakek. Dia pekerja keras. Selalu berupaya agar kami ini, anak-anaknya bisa tercukupi. Denis, semoga usahamu lancar, ya?" Mama menepuk punggung Denis yang telah duduk di sebelahnya.
"Semoga, Ma. Oh ya, Val, gimana rencana pernikahan kamu?"
"Rencana tiga bulan lagi, Denis. Doakan lancar ya?"
"Pasti," katanya mantap.
"Ya udah, biar kalian juga beristirahat dulu, kami akan pamit sekarang," Mama memotong pembicaraan kami.
"Makasih, ya Ma atas semuanya," ucap Denis.
Mama mengangguk, kami segera beranjak pulang.
***
Satu bulan kemudian
Surya memberitahuku bahwa Tante Elisa datang kembali di Jakarta beserta anak-anaknya.
Padahal rencana pernikahan kami tinggal dua bulan lagi. Tentu saja aku harus bolak-balik bertemu dengan keluarga Surya juga.
Seperti kali ini, sesudah kami menyerahkan urusan pernikahan di wedding organizer milik relasi terpercaya Pak Wira, Surya mengajakku mampir ke rumahnya. Urusan gedung dan sebagainya telah diurus oleh pihak wedding organizer. Sepertinya akan menjadi pesta yang besar karena Surya adalah putra tunggal keluarga Wira Samudra.
Undangan yang dibuat untuk ribuan orang, bukan lagi ratusan. Ah, pusing aku dibuatnya. Saat pusing seperti ini, Surya mengajak untuk mampir dan pasti bertemu dengan tantenya.
"Gimana, capek?" Bu Anggraini duduk di ruang tamu menemuiku.
"Ga, Ma," jawabku bohong tentang pikiranku.
"Kamu jangan kuatir, Valeria, semua udah diurusi oleh wedding organizer yang terbaik. Mereka udah professional, kok."
Aku mengangguk, meski pikiranku tetap lelah mengatur semua.
Tiba-tiba Tante Elisa keluar dari dalam.
"Enak ya, semua udah ada yang urus, tinggal duduk aja."
Dia masih berdiri dan menatapku sinis.
"Ya enak lah. Tante kepengen nikah lagi?" kata Surya tiba-tiba datang dari dalam.
__ADS_1
Bu Anggraini terlihat menahan tawa. Aku pun ingin tertawa, tetapi aku juga menahannya.
"Hmmm... Kalau aku sih mau nikahin anakku pake wedding organizer yang terbagus dan terkenal. Begitu juga calon mantuku pasti bikin pesta besar-besaran." Dengan congkak dia berceloteh.
"Biarin aja," Bu Anggraini berbisik padaku.
Surya pun tidak menanggapinya. Kami hanya diam tidak bereaksi apa-apa, membuat Tante Elisa kikuk.
"Mommy..."
Seorang lelaki seusia Surya mendatangi kami. Kulitnya putih cerah seperti Surya, berambut pirang karena di highlight, memakai bando, menggelikan sekali melihatnya. Lumayan lah, untuk hiburan saat pusing seperti ini. Di tangannya melingkar sebuah gelang kayu yang sepertinya dia temukan di jalan. Berkaus hitam dan bercelana hitam pendek. Dia mencari induknya di ruangan ini.
Matanya tiba-tiba melihatku dan kulihat dia terus menatapku, seperti baru melihat cewek seperti ini di dunia. Aku memalingkan wajah ke cangkir dan membuat tanganku terhipnotis untuk mengambilnya meski sebenarnya aku sedang tidak ingin minum saat ini.
Surya menyadari itu, seolah dia menutupi mukaku dengan tubuhnya. Aku sedikit lega karena terhindar dari tatapannya. Kuartikan tatapan itu seperti takjub, ah mungkin aku yang kege-eran.
"Ngapain, Doni?" tanya Tante Elisa padanya.
Oh, jadi si Doni ini anaknya?
"Mommy ke sini sebentar," Doni menarik tangan ibunya masuk ke dalam.
"Huh, anak manja disombong-sombongkan, bisa apa dia?" Bu Anggraini berbisik sinis memperlihatkan ketidak sukaannya pada kedua ibu dan anak itu.
"Biarin aja, Ma." Surya ingin agar Bu Anggraini tidak mengurusi mereka.
"Besok kamu tinggal di sini ya, Valeria. Kalau kalian menikah. Rumah kami terlalu besar jika hanya Papa dan Mama yang tinggal di sini."
Tiba-tiba Doni keluar dan melewati kami dengan melirik padaku.
Caper banget!
"Iya, Ma." Aku menyetujuinya, jika tidak ada Tante yang pahit omongannya itu, aku pasti betah.
Doni kembali lagi masuk, kali ini dia tidak melihatku, eh sampai mau ke dalam, dia berhenti sejenak memandangku, Surya mendengus kesal merasa miliknya terancam bahaya.
"Ngapain sih tu anak, bolak-balik kayak seterikaan!" Bu Anggraini mulai emosi.
"Awas aja kalau sampai menyentuh Valeria," ujar Surya menyambung ucapan Mamanya.
"Emang kenapa?" Ada kecurigaan Bu Anggraini pada perkataan Surya.
"Mmm... Ga apa-apa, Ma. Takutnya anak brengs*k itu mengganggu Valeria."
"Jangan sampai deh," ujar Bu Anggraini.
Aku hanya tersenyum kecut. Sepertinya memang dia akan menggangguku jika aku berada di rumah ini saat dia juga berada di sini.
__ADS_1