Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 71


__ADS_3

Jangan lupa untuk selalu klik like dan comment sebagai dukungan untuk author yaa...


🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿


Sementara itu di kediaman Pak Arya dan Bu Mareta.


"Mama, kenapa waktu itu bilang kalau aku iri sama Valeria?"


Pagi-pagi Cantika telah meletupkan emosi Bu Mareta.


"Maaf, Mama ga bermaksud seperti itu."


Meski emosi, Bu Mareta menahannya dengan permintaan maaf.


"Ma, kenapa semenjak kecil Mama suka membedakan aku dan Valeria?"


"Apa kamu ga bisa menyebut dengan sebutan kak untuk kakakmu sendiri?" Nada bicara Bu Mareta masih rendah saat itu.


"Oh, Kak-Va-le-ri-a," ujar Cantika.


Seolah sengaja ditekankan nama itu saat menyebutkannya.


Bu Mareta mulai menghela nafas. Kenapa anak itu bisa jadi seperti ini?


"Membedakan seperti apa?"


Nada halus seorang ibu demi meredakan kecemburuan anaknya.


"Saat mengambilkan raport dulu, dia mendapat ranking pertama, Mama lebih dulu mengambil raportnya, hingga aku menunggu Mama lama."


Cantika melanjutkan, "Aku tahu aku hampir tidak naik kelas, jadi Mama mendahulukan dia, kan?"


"Waktu itu, Bu Guru menyuruh Mama untuk datang agak siang supaya Mama bisa berkonsultasi dengan beliau." Bu Mareta masih mangingat dengan jelas kejadian itu.


"Mama malu kan karena aku akan tinggal kelas?" desak Cantika.


Bu Mareta menggeleng pelan. Cantika melengos sambil melipat tangannya.


"Lalu, waktu berpacaran dengan cowok saat sekolah, Mama membandingkan aku dengan dia. Mama menyuruhku mencontoh kak Valeria yang saat di sekolah tidak pernah berpacaran, bukankah itu membandingkan?"


"Benar atau ga yang Mama katakan padamu? Maksud Mama, dahulukan sekolahmu dulu baru boleh berpacaran," jelas Bu Mareta.


"Tapi tetap saja membandingkan!" Nada bicara Cantika mulai meninggi.


"Waktu aku kuliah, Mama mengaturku untuk jangan kuliah di luar negeri seperti kakak, kenapa aku ga boleh mencontoh kakak saat itu?!" Dia membentak Bu Mareta.


Hampir menangis, Bu Mareta menguatkan hatinya untuk memberikan penjelasan lagi.


"Mama ga ingin kamu terjerumus pada pergaulan negatif, jika kamu berada di dekat Mama, Mama akan mudah mengawasimu."


"Oh, jadi Mama berprasangka buruk padaku?"


Emosi Bu Mareta makin tidak dapat dibendung, "Buktinya, kamu hamil sebelum menikah, kan?"


"Ya! Memang aku ini anak Mama yang ga baik, yang ga berprestasi, bergaul dengan cowok-cowok sembarangan, ga sukses, hamil sebelum nikah, ya kan!??"

__ADS_1


Anak perempuan itu mulai membarakan emosi di ruang tengah.


Pak Arya yang sedari tadi mendengar perselisihan istri dan anak angkatnya itu, mulai mendekat. Takut jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, sementara Denis sedang tidak berada di rumah itu.


"Nah," kata Cantika saat melihat Pak Arya, seolah mengatakan suatu kebetulan.


"Soal Surya, kenapa kalian menyetujui hubungan mereka? Apakah etis seorang kakak berhubungan dengan kekasih adiknya, hingga mereka menikah?" Matanya menyipit seakan menyalahkan kedua orang tuanya itu.


"Kami menyetujuinya, berdasarkan keterangan Surya, bahwa hubungan kalian telah berakhir karena adanya orang ketiga, yaitu suami kamu sekarang." Pak Arya mulai membuka suara.


"Lalu, kalian menyetujuinya? Merestuinya? Apakah kalian ini ga bisa melihat perasaanku?? Aku udah mengalah! Memberikan kekasihku padanya! Bahkan pernikahanku sederhana tidak semewah kak Valeria! Hidupku susah, sementara Valeria hidup senang sekarang!"


Dia berteriak bagai kesetanan, "Andai aku dengan Surya, pasti aku ga akan begini!"


"Lalu, salah siapa? Kamu menyalahkan siapa? Kami?" Dengan nada meninggi, Bu Mareta menanggapi Cantika.


"Kalian ini, ga becus dalam hal keadilan pada anak! Aku ini seperti bukan anak kalian aja!" teriak Cantika.


"Duh... Maa..." Pak Arya memegangi dada kirinya. Keringat dingin membasahi wajahnya.


"Pa... Kenapa Pa?" Bu Mareta menuntun Pak Arya untuk duduk.


Mobil Pak Arga datang, bersama istri dan kedua anaknya. Mereka habis jalan-jalan di pusat kota. Ketika masuk, mereka melihat Pak Arya telah terkapar di kursi.


"Mas, Mbak, tolong bantu bawa Mas Arya ke rumah sakit ...." pinta Bu Mareta sambil terisak.


"Kenapa Dek? Arya kenapa??" tanya Pak Arga.


Mama menggelengkan kepala, tak sanggup berbicara.


"Ayo, cepet bawa ke rumah sakit!" kata Bu Hana menyadari saat itu bukan waktunya menjelaskan keadaan Pak Arya.


Bu Mareta dan Pak Arga segera membawa Pak Arya ke rumah sakit bersama Sani. Sementara Bu Hana dan Bila masih berada di rumah.


"Kalian duluan, kami akan menyiapkan baju-bajumu, Reta!" Bu Hana segera masuk ke kamar menyiapkan tas untuk Bu Mareta.


Setelah mobil melaju ke rumah sakit, Bik Nah pelan-pelan mendekati Bu Hana.


"Saya bantu Bu." Bik Nah menawarkan diri.


"Ya, Bik. Mm ... Kenapa Pak Arya tadi Bik?" tanya Bu Hana seraya memasukkan baju-baju ke dalam tas.


"Maaf, Bu. Tadi saya dengar ribut-ribut antara Non Cantika, Bu Reta dan Pak Arya. Non Cantika lah penyebab semua ini. Dia merasa iri pada kakaknya."


Bik Nah menceritakan apa yang dia dengar dari awal mula pertengkaran mereka hingga Pak Arya jatuh sakit, juga saat Cantika pernah menyebabkan Pak Arya masuk rumah sakit sebelumnya.


Bu Hana membelalak tidak percaya akan sikap Cantika.


"Tunggu Bik, aku akan menjelaskan siapa anak itu sebenarnya. Ingat kan Bik, kita telah menutupi rahasia ini, tapi anak yang kita tolong telah kelewatan! Ini ga bisa dibiarkan!"


Bu Hana meletakkan semua yang dipegang saat itu.


"Bik, tolong siapkan semuanya ya, aku mau jelaskan padanya!"


"T-tapi, tapi ... Bu ...." Bik Nah terlihat kuatir dengan apa yang akan terjadi.

__ADS_1


"Ga apa-apa, Bik. Sudah saatnya dia tahu, agar dia memahami posisinya. Tidak perlu kuatir."


Bu Hana segera mencari Cantika di rumah itu. Sebelum dia mencarinya, dia berpesan pada Bila.


"Bila, tolong kamu telepon kak Valeria, bilang padanya kalau Om Arya masuk rumah sakit!"


"Baik, Ma," jawab Bila patuh.


***


Back to Valeria


Drrrrtt .... Drrrrtt ....


Getar gawaiku memanggil. Bila! Kenapa dia menelponku ya?


"Halo, Bila."


"Kak, kakak sedang apa?"


"Habis sarapan, Bila. Ada apa ya?"


"Kak, Om Arya masuk rumah sakit, tadi udah diantar Papa, Tante Reta dan Kak Sani."


Deg!


Papa sakit lagi? Sepertinya kemarin sehat-sehat saja saat pernikahanku. Apa papa kelelahan?


"Oh, ya, ya Bila. Abis ini Kakak langsung ke rumah sakit. Makasih ya, Bila."


"Sama-sama kak."


Kututup telepon dari Bila.


"Siapa sayang yang menelepon?" tanya Surya keluar dari kamar mandi.


"Bila, katanya Papa masuk rumah sakit lagi, sayang."


Tak sengaja aku menyenggol vas bunga di atas meja.


Prang!!


Aku dan Surya tersentak, segera kubersihkan pecahan-pecahan vas itu.


"Aduh!" Tanganku tergores vas yang telah separuh pecah.


"Hati-hati dong sayang!" Surya mengambilkan kapas dan pembersih luka. Dia membersihkan lukaku dan membalutnya dengan kain kassa.


"Iya, segera aku antar, kamu jangan panik ya, sayang? Bersiaplah dulu, udah ..., itu nanti biar Mbak Mun yang bersihin. Aku akan bilang sama Papa dan Mama." Seolah Surya tahu akan kegundahanku.


Aku mengangguk. Hatiku kacau tidak karuan, jika mendengar orang tuaku sakit. Ingin rasanya segera sampai ke dekat Papa.


Setelah bersiap, ternyata Papa dan Mama mertua telah bersiap juga di ruang depan. Tak kupedulikan lagi sikap sinis Tante Elisa, yang penting sekarang aku harus segera menuju ke rumah sakit.


Kami berempat masuk mobil, Mama mertua mengelus lenganku selama perjalanan ke rumah sakit. Mobil melaju di jalanan, membelah keramaian kota.

__ADS_1


__ADS_2