Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 50


__ADS_3

"Kenapa?" Tanya Surya ketus pada perempuan itu.


Sebelum menjawab pertanyaan Surya, perempuan itu memandangku sinis, matanya menelusuriku dari ujung rambut hingga ujung sepatuku. Aku hanya memandangnya, mencoba beramah melempar senyum, tapi tidak mampu mengubah bentuk bibir sinisnya.


Dia mengalihkan matanya ke Surya, berubah total menjadi ramah 180 derajat!


"Pak Surya, mmm... Hellen kurang paham dengan pengetikan ini," katanya sambil membuka sebuah map.


Suaranya mendayu-dayu seolah dibuat seperti itu, membuatku agak kesal mendengarnya. Dia juga mendekat pada kami dan menarik tangan Surya, membuatnya berdiri dan melihat ke arah map itu. Uugh, entah kenapa aku sebal sekali melihatnya. Aku... Cemburu!


Kuhela nafas. Melihatnya akan semakin membuatku kesal, kuarahkan pandangan ke jendela, tapi tidak melihatnya aku pun penasaran. Gimana ini...


Akhirnya dia pergi juga setelah Surya menjelaskan kesulitannya. Aku sengaja tidak mau melihat perempuan itu, sesak dadaku dibuatnya.


Aku masih terdiam ketika Surya kembali mendekat, mataku masih melihat ke arah jendela, tetapi pikiranku kemana-mana.


"Sayang, nanti pulang sendiri?" Tanya Surya.


Sebenarnya dia hanya menanyakan hal itu karena ga mungkin dia mengantarkan aku dengan mobilnya, sementara aku mengendarai mobilku sendiri. Akan seperti arak-arakan karnaval jika seperti itu.


Karena hatiku masih diselimuti kecemburuan, maka pertanyaan itu seolah mengusirku dari situ.


"Oh, ya kalau gitu aku mau pulang sekarang," ujarku sambil menenteng tas dan beranjak dari dudukku.


"Eh lho, kenapa sih sayang? Kok mau pulang aja, kan baru aja nyampe?" protesnya.


Akhirnya aku duduk kembali masih dengan rasa jengkel di dada. Surya pun tidak mengerti juga keadaan itu. Hmmm, ga peka. Lama aku bersungut-sungut membuatnya bingung.


"Kenapa sayang, laper? Apa haus?"


Dia menawariku makan atau minum tapi aku menggeleng cepat.


Memangnya kalau aku ngambeg dia artikan itu tanda lapar atau haus? Ugh, keterlaluan...


Baru kali ini aku mengerti arti kata cemburu.


"Emmm... Kok diem aja, ya udah, maunya sayang apa sekarang?" Tanyanya lembut.


Dia mengecup tanganku, merayu, tapi aku hanya terdiam, ga tahu musti bilang apa.


Aku ini cemburu, Suryaa...


Jam menunjukkan pukul 2 siang, aku harus kembali ke kantor.


"Aku mau pulang sekarang, pamit dulu ya," ujarku datar.

__ADS_1


"Hmmm, ya udah, aku antar ke depan. Sini, aku peluk dulu," ujarnya sambil memelukku yang masih cemberut, tapi kemudian aku merasa geli saat dia meniup telingaku.


"Ya udah, yuk!" Aku menggamit lengannya.


Seluruh karyawan yang aku temui mencuri pandang padaku seperti penasaran pada perempuan yang bersama boss mereka yang dingin. Tak kulihat seorang pun berani bersuara pada Surya. Hanya anggukan kepala padanya. Aku merasa sangat terhormat, tetapi aku juga merasa kurang bersahabat.


Ketika sedang berjalan menuju lift, aku melihat di depanku, perempuan itu lagi! Aku menoleh ke samping, dia seolah sengaja menyapa hanya pada Surya saja.


"Mau kemana, Pak Surya?" Masih dengan nada halus yang dibuat-buat.


"Ke bawah, Hellen."


Aih, kenapa sih harus pakai menyebut namanya??


Aku melirik Hellen, dia tersenyum menggoda Surya, tetapi sayangnya, Surya ga paham. Giliran aku yang tersenyum, berasa lomba menarik perhatian cowok dan aku menang.


Sesampainya di parkiran, Surya membukakan pintu mobil, dan aku masuk tanpanya. Rasanya berat meninggalkannya bersama perempuan itu, tapi ga mungkin aku menungguinya seharian.


Akhirnya aku benar-benar meninggalkannya dan kembali ke kantor.


***


Sesampainya di rumah, aku masih teringat terus pada Hellen. Apa cemburu itu memang seperti ini? Baru kurasa sekali jatuh cinta dan juga baru kali ini aku merasa cemburu, merasa tidak karuan, tidak nyaman. Tidur pun ga nyenyak, bagaimana kalau Surya tergoda olehnya? Aku merasa jengkel sendiri.


***


"Sayang, aku lagi rapat," katanya agak berbisik saat aku meneleponnya.


"Sama siapa?" Tanyaku konyol.


"Masa harus aku sebut satu per satu sih, sayang?"


"Ya udah, jangan-..." Aku tidak melanjutkan kata-kataku. Gengsi kalau dibilang cemburu.


"Jangan apa..."


"Ga apa-apa, udah dilanjutin dulu rapatnya."


"Ya," jawabnya dengan menutup telepon.


Sekarang aku berpikir kenapa acara nikahnya masih tahun depan, padahal waktu Mama bilang itu, aku masih tenang-tenang saja.


Kuingat-ingat wajah Hellen, karena merasa pernah melihat dia sebelumnya. Oh, iya, dia kan perempuan yang berurusan dengan polisi waktu di jalan kemarin? Hmmm....


***

__ADS_1


Tibalah sekarang saatnya berwisata gabungan. Kami menyewa 2 buah bus. Surya duduk di sebelahku, di bus untuk para karyawanku, sementara bus yang belakang untuk para karyawan Surya.


Wisata ini makan waktu perjalanan 8 jam, jadi rencana wisata ini 2 hari. Nampaknya para karyawan Surya senang dengan acara ini. Dari jauh kulihat perempuan itu, Hellen, dia tidak mengajak siapa-siapa. Dia langsung menuju ke Surya, menyalaminya erat. Mukaku langsung masam melihatnya.


Saatnya keberangkatan, selama 8 jam perjalanan lancar. Kami tiba di hotel jam 03.00 pagi. Aku menggandeng Surya, kamar kami bersebelahan, tapi kulihat si Hellen juga masuk ke kamar di sebelah kamarnya Surya. Jadilah kamar Surya diapit oleh kamarku dan Hellen.


Kuelus dadaku. Sabar, Val.


Belakangan aku mengetahui bahwa Hellen yang mengatur siapa pengisi kamar hotel yang kami sewa.


Aku segera merebahkan diri. Jam 08.00 pagi kami sudah harus bangun dan bersiap berangkat lagi ke candi. Tanpa terasa, aku terlelap.


Jam 06.00 pagi aku terbangun dan langsung mandi. Terdengar kesibukan para karyawan dan keluarganya di luar kamarku. Setelah mandi, aku mengetuk pintu kamar Surya. Ternyata dia juga sudah mandi dan berganti pakaian dengan kaos putih berlogo perusahaannya. Dia terlihat tampan.


"Sayang, kamu bisa cariin parfumku?" Tanya Surya.


"Oh ya,"


Kubuka tasnya, tidak ketemu. Kucoba mencari di dalam tas sabun, tidak ada juga.


"Coba diinget-inget, naruh di mana," kataku.


Tiba-tiba pintu kamar dibuka, karena tadi memang tidak kututup rapat.


"Nyari ini, Pak?" Sambil melongok ke dalam, Hellen menunjukkan parfum Surya.


Aku menghela nafas kesal. Bagaimana bisa parfum itu ada di tangannya?


Surya mendatangi Hellen, "Lho, kok ada di kamu?"


"Iya, kemarin Pak Surya meninggalkannya di meja kantor."


"Oh, ya udah. Makasih, ya?" Kata Surya sambil menutup pintu kamar.


Pagi-pagi aku udah dibuat dongkol olehnya. Dia lagi, dia lagi. Menyuruh Surya untuk mengeluarkan dia pun bukan wewenangku.


Aku cemberut.


"Ada apa, sayang?" Tanya Surya melihat mimik wajahku.


Aku hanya menggeleng pelan, ingin sekali pergi saja dari acara ini.


Surya memegang daguku kemudian mengecup bibirku, mencoba membuka mulutku dengan lidahnya. Akhirnya aku luluh juga, membalas ciumannya.


"Senyum, dong," pintanya.

__ADS_1


Bibirku tersungging juga. Dia mengajakku keluar dan makan pagi di tempat yang telah disediakan oleh pihak hotel.


__ADS_2