
Sesampainya di apartemen, dia masuk ke ruangannya dan aku masuk ke ruanganku. Aku bersandar di pintu, teringat hangatnya ciuman Surya tadi. Maafin aku Cantika, maafin aku Tuhan. Aku hanyalah manusia yang tak kuasa menahan rasa yang ingin meletup ini, memendamnya pun seolah memendam benih yang diguyur air setiap hari, semakin tumbuh dan tinggi.
***
Surya POV
Maafin aku seperti memperkosanya Tuhan, apa yang ada di pikiranku, apa yang menguasainya hingga aku sangat ingin memilikinya. Hasrat ini seperti terpaksa dipendam dan membuncah begitu aku dekat dengannya, tapi jauh pun aku tak sanggup.
Tak bisa lagi aku berkata-kata sepanjang jalan. Setiba di apartemen, aku langsung masuk ke ruanganku tanpa mengucap apa-apa padanya, aku bersandar di pintu, takut bila dia membenciku karena perbuatanku tadi. Ciuman itu masih terasa. Kupikir lagi, aku heran kenapa kali ini dia membalas ciumanku. Apakah dia terpaksa atau dia mulai mencintaiku?
***
Back to story
Sesudah kejadian itu, kami seolah menjadi dua bongkahan es yang sering bertemu. Diam. Dia datang ke ruanganku hanya sewaktu aku kerja, menyiapkan makanan untukku, dan mungkin dia juga makan ketika aku belum pulang. Kenapa kami jadi seperti ini. Ingin aku menyapanya, tetapi aku malu.
Saat liburan lah yang mencairkan suasana. Aku sedang ingin mengantar makanan ke ruangannya, tetapi ternyata dia akan masuk ke ruanganku, perfect timing. Kami bertabrakan, akhirnya daging sapi lada hitam yang kubuat untuknya berhamburan. Mulut kami menganga, terkejut, lalu kami berjongkok, segera membersihkan tumpahan daging itu.
"Val, aku mau minta maaf," ucapnya bebarengan denganku, "Surya, aku minta maaf,"
Akhirnya kami tertawa bersamaan. Kubuang tumpahan daging itu. Lalu kuajak dia makan bersama di ruanganku. Masih dengan rasa canggung, kami makan bersama di atas karpet.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanya Surya.
"Karena telah mendiamkanmu," jawabku sambil beranjak untuk mencuci tangan.
"Kenapa kamu minta maaf?" tanyaku balik pada Surya.
"Karena aku berasa memperkosamu," katanya tertunduk.
"Udahlah, manusia pasti ada salah, kita saling memaafkan ya?" ujarku sambil mengulurkan tangan.
Dia menjabat tanganku, "Oke."
Setelah itu, hari-hari kami lalui dengan seperti biasanya.
***
Dua minggu kemudian
Tugasku di Jerman telah selesai, entah kapan lagi aku akan ditugasi lagi ke sana. Aku dan Surya pulang ke Jakarta. Itu berarti kebersamaan kami harus berakhir, hanya menjadi partner kerja. Aku akan merindukannya yang nyata di sisiku. Ah, entahlah, biar waktu yang menjawabnya.
Setelah tiba di rumah, aku segera mengirimkan pesan padanya.
Valeria
[Udah sampai rumah?]
__ADS_1
Si Jahat
[Udah, kok. Mama nanyain kamu.]
Valeria
[Emot ketawa]
Si Jahat
[Eh, malah ketawa. Serius ini.]
Valeria
[Aku mau istirahat dulu]
Si Jahat
[Ya udah. Bye.]
Valeria
[Bye.]
Mama menghampiriku, membantu merapikan baju-bajuku.
"Denis," potongku.
"Nah, iya Denis, datang ke rumah, dia menitipkan kunci gudang kantor, Mama taruh di laci."
"Dia bilang apa, Ma?"
"Ga tau, Cantika yang nerima waktu itu. Mereka berbincang agak lama di depan. Nanti tanya sama Cantika aja."
"Oh ya, Ma. Aku tanya orangnya langsung aja."
Aku lupa, Denis belum tahu nomor pribadiku waktu di Jerman. Jika ada urusan kantor Jakarta, biasanya karyawan menelepon kantor Jerman. Setelah aku memasukkan nomorku, pesan bertubi masuk, ada dari operator, dan lain-lain. Kucari pesan dari Denis. Nah, ketemu.
Denis
[Val, maaf, bulan depan ada berita gembira. Aku diterima di Perusahaan Karunia untuk posisi supervisor. Jadi bulan depan aku ga bisa melanjutkan pekerjaan di kantor kamu.]
[Oh ya, kunci gudang aku titipkan ke adikmu, kan biasanya yang membawa Pak Dirga. Karena dia ga ada, maka aku antar aja ke tempatmu.]
Valeria
[Oh ya Denis, aku ikut seneng kamu udah cepet dapet kerjaan, selamat ya, semoga betah ya di tempat kerja baru. Makasih udah bantu aku ya.]
__ADS_1
Semoga besok Pak Dirga udah sembuh dan bisa mulai bekerja lagi.
Perusahaan tempat Denis kerja lebih dekat dengan perusahaan milik Surya. Ah, semoga betah ya Denis.
***
Esok harinya aku kembali ke kantor. Sebenarnya aku masih capek, tapi karena harus menengok Pak Dirga aku jadi wajib berangkat kerja. Para karyawan menyambutku, katanya mereka merindukanku, bahagianya.
"Pak Ridho, bagaimana kalau kita menengok Pak Dirga, teman saya Pak Denis tidak bisa bantu lagi karena dia diterima kerja di perusahaan lain."
"Ya, Bu. Nanti saya antar," jawab Pak Ridho dengan cepat.
"Makasih, Pak."
"Sama-sama, Bu."
Jadilah siang itu kami menuju ke rumah Pak Dirga. Istri dan anaknya menyambut kami.
"Oh, Ibu Valeria, mari masuk."
"Bapak baru apa ya, Bu?" tanyaku takut mengganggunya bila sedang beristirahat.
"Sedang tiduran."
"Bisa saya berbincang sebentar saja dengan bapak, Bu?"
"Bisa Bu Valeria, Bapak udah baikan, kok."
"Syukurlah."
Kami masuk ke kamar Pak Dirga, kamar seluas 3 x 3 meter, bercat putih dengan beberapa foto terpasang di tembok.
"Pak, ada Bu Valeria," kata istri Pak Dirga.
"Selamat siang, Pak Dirga, gimana keadaan Bapak, udah sehat?" tanyaku sambil duduk di kursi yang telah disediakan.
"Udah, Bu."
Ada semangat pada nada bicara Pak Dirga.
"Minggu depan saya bisa berangkat lagi ke kantor," katanya mantap.
"Oh ya, makasih, Pak," jawabku lega.
Kami pun mengobrol bersama, setelah beberapa saat aku dan Pak Ridho pamit pulang ke kantor.
Lega hatiku, Pak Dirga bisa bekerja lagi, meski aku tidak akan memaksanya untuk bekerja terlalu berat.
__ADS_1