Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 48


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, tak kulihat Cantika, mungkin dia berada di kamarnya. Kuletakkan sebungkus soto ayam di dapur, agar bila dia lapar bisa memakannya.


***


Keesokan harinya, aku bersiap ke kantor. Cantika masih berada di kamarnya, sepertinya dia belum bangun, atau perang dingin masih berlangsung.


Aku berpesan pada Bik Nah, supaya membelikan sayur di warung depan gang untuk makan Cantika. Dia hamil, jadi butuh banyak asupan gizi.


Aku berangkat tanpa sarapan, hanya minum segelas susu yang disiapkan Bik Nah, nanti mampir ke rumah makan sekalian makan siang di jalan saja.


Di kantor terasa begitu lama, Mungkin aku ingin cepat-cepat menengok Papa, jadi waktu malah terasa lambat.


"Mbak Risky, nanti saya pulang awal ya, Papa saya sedang sakit. Sekarang dirawat di rumah sakit pusat," ijinku pada Mbak Risky, sekertarisku.


"Oh, ya, Bu."


Kriiing... Kriiing...


Telepon dari Surya.


"Halo,"


"Halo, sayang, nanti mau ke rumah sakit?"


"Iya."


"Jam berapa?"


"Jam 12 siang aja."


"Ok, nanti aku anterin ya?"


"Ya, tapi mobilku..."


"Biasa, titipin kantor."


"Oh, ya deh."


"Ya udah, sampai nanti, emuah..."


"Ya,"


Aku masih di depan Mbak Risky waktu itu, akan menjadi menggelikan bila dia mendengarku bilang 'emuah' di telepon.


"Kok ga balas?"


"Hmmmm.... Nanti balasnya."


"Okelah, bener ya?"


"Iya."


Klik. Telepon kututup.


Aku cepat-cepat mengerjakan pekerjaanku.


***

__ADS_1


Jam 12 tepat, Surya telah berada di ruanganku. Sekarang hampir semua orang di kantor ini tahu tentang hubungan kami.


"Val, aku udah bilang ke Papa dan Mama, bulan ini mereka mau ke rumah kamu kalau Papamu udah sembuh."


"Secepat itu?" kataku kaget.


"Lebih cepat lebih baik, kan?"


Aku tidak menjawabnya, tiba-tiba perutku terasa mulas, gugup mendengarnya.


"Mana?" Tanya Surya.


"Apanya?" Tanyaku balik.


"Emuah-nya," tagihnya.


"Ugh, kalau yang gitu-gitu keinget aja,"


Aku mendaratkan bibir ke pipinya, dia pun tersenyum senang.


"Sah, kan hutangku?" godaku.


"Belum, masih ada bunganya, besok bunganya," jawabnya.


"Pintar," kataku sambil mengangkat tas.


"Yuk," ajakku menggandeng tangannya.


***


"Halo, Pa," kataku mendekat sambil memegang tangannya.


Papa terlihat belum bisa berbicara banyak, masih terbata-bata.


"Val..." ucap Papa lirih.


"Udah, Papa ga usah banyak bicara dulu, biar sehat dulu, Pa."


Surya mendekat lalu mencium tangan Papa. Papa mengangguk, sepertinya masih kesulitan untuk menyapa.


"Dokter tadi udah memeriksa Papa, kalau kondisinya makin membaik, minggu depan Papa bisa pulang," kata Mama.


"Makanya, semangat Pa, biar sembuh," kataku menyemangatinya.


Papa tersenyum dan mengangguk.


***


Seminggu kemudian


Papa telah sembuh meski masih harus banyak istirahat. Kami menjemputnya pulang. Di rumah, Cantika masih terus mengurung diri di kamar. Surya segera berpamitan setelah semua beres.


Kubiarkan Cantika dengan sikapnya, biar saja dulu, yang penting membuat Papa nyaman dulu.


Keesokan harinya, aku menelpon Denis, kuminta agar dia segera menyelesaikan masalah ini.


Denis segera datang ke rumah. Kuketuk pintu kamar Cantika. Dia membuka pintu dengan bersungut-sungut.

__ADS_1


Kami kembali membahas masalah mereka. Cantika terlihat lebih tenang kali ini, mungkin waktu itu dia masih shock, atau kali ini karena dia merasa bersalah kepada Papa.


"Jadi, gimana rencana kalian?" Aku membuka percakapan.


Denis memandang Cantika, "Kalau Cantika bersedia, minggu depan langsung saya nikahi," jawab Denis mantap, sepertinya dia segera ingin bertanggung jawab dengan perbuatannya.


"Kamu gimana Cantika?" Tanyaku pada Cantika yang tidak tersenyum dari awal, seperti layaknya seorang perempuan yang dilamar oleh seorang pria.


"Terserah," ucapnya mengesalkan.


Aku menghela nafas. Andai dia bukan adikku, udah aku tinggalkan dari tadi.


"Baiklah, kalian harus mengurus surat-surat segera, sebelum perut itu terlihat membesar," saranku, agar aib tertutupi.


Denis mengangguk.


"Lalu setelah itu, kalian akan tinggal di mana?" Sekalian saja aku tegaskan hal itu. Aku hanya membantu mereka agar tidak sungkan pada Papa dan Mama.


Denis kembali berbicara, "Di rumah saya, karena saya masih mengurusi ibu yang sakit," Denis menatapku, Mama dan Papa bergantian. Mama tersenyum mendengarnya, sepertinya paham akan keadaan Denis.


Denis adalah orang yang baik, aku yakin itu. Dia masih mau mengurusi ibunya dan bertanggung jawab pada Cantika. Bukankah udah terlihat kebaikannya? Tapi kenapa Cantika seolah tidak bersyukur dengan hal itu, malah memperdebatkan soal keinginannya untuk berkarir. Denis juga seorang pekerja keras, menjadi supervisor di sebuah perusahaan adalah tantangan. Ah, semoga dia bisa sabar menghadapi sikap Cantika.


"Baiklah, Denis. Kurasa Cantika setuju dengan keputusan ini," sengaja kupaksa dia untuk menyetujuinya, karena dari awal dia diam. Ga akan ada keputusan jika hanya diam saja.


Papa dan Mama pun aku minta untuk tidak banyak bicara dari awal agar tidak banyak pemikiran. Biar aku saja yang menanyai mereka. Akhirnya jelas sudah rencana mereka. Tinggal pelaksanaannya.


***


Hari pernikahan Cantika dan Denis pun tiba, pernikahan yang sederhana karena tanpa adanya rencana yang matang. Kami hanya mengadakan pesta kecil di rumah, dengan beberapa tetangga yang datang mengucapkan selamat. Cantika terlihat sesekali tersenyum kaku pada para tamu. Ibu Denis pun tidak bisa menghadiri acara itu. karena kondisinya tidak memungkinkan.


Setelah acara usai, Cantika tidak terlihat banyak bicara. Papa dan Mama kelihatan lega dengan acara ini. Aku dan Surya berbincang dengan Papa dan Mama setelah para tamu pulang. Denis dan Cantika sedang berada di kamar mereka.


"Kapan kalian menyusul Cantika?" Tanya Papa.


"Secepatnya, Om," Jawab Surya.


"Lebih baik, tahun depan, karena ga baik kalau saudara kandung menikah dalam tahun yang sama," kata Mama.


Mama masih menganut adat Jawa yang kental, kami yang tidak paham hanya menurut saja dengan kata orang tua.


"Tapi jika bertunangan, boleh-boleh saja," sambung Mama.


"Mungkin bulan depan, agar situasi tenang dulu, Tante," ujar Surya.


Papa dan Mama mengangguk setuju. Sejenak kemudian, Surya mohon diri untuk pulang.


Aku membantu membereskan rumah setelah semua pelaksana acara berpamitan pulang. Papa dan Mama beristirahat karena capek seharian.


Setelah semua selesai, aku baru akan beristirahat karena hari memang telah malam. Tak sengaja samar-samar aku mendengar percakapan Cantika dan Denis saat melewati kamar mereka.


"Lebih baik kamu resign dari kantor kalau keadaan kamu ga memungkinkan,"


"Terserah, asal kamu bisa memenuhi kebutuhanku, jangan cuma untuk ibu kamu aja,"


"Ya, tapi kan memang kebutuhan ibuku baru banyak untuk pengobatan, jika kamu pandai mengatur keuangan, kurasa gajiku cukup."


Tidak ada lagi percakapan mereka, aku cepat-cepat melangkah masuk ke kamarku. Sebenarnya aku ga ingin mencampuri urusan mereka, hanya aku mendengarnya secara tidak sengaja. Jadi Cantika akan resign. Kuharap dia bisa dewasa mengelola keuangan rumah tangganya. Teringat selama ini jika dia ingin sesuatu pasti harus dituruti. Mungkin waktu bisa mengubah perilakunya, semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2