Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 58


__ADS_3

Back to Valeria


"Pakeet!"


Terdengar teriakan kurir barang mengantar sebuah kardus kecil berbalut plastik hitam di depan rumah. Aku mengernyitkan dahi, merasa tidak sedang membeli apa-apa via online, tetapi aku akan mencoba melihatnya. Setengah berlari aku berjalan ke depan pintu.


Mas-mas kurir itu sedang berdiri menunggu di depan rumah, sejenak melihatku lalu mengamati kardus itu, "Cantika Putri, di sini ya Mbak, alamatnya?"


"Oh, iya benar, Mas."


Dia menyerahkan paket kecil itu, lalu menyuruhku menandatangani sebuah kertas sebagai bukti penerimaan. Kuambil pulpennya lalu membubuhkan tanda tanganku di kertas itu.


"Makasih ya, Mas," ucapku.


"Ya, Mbak. Mari."


Dia melanjutkan perjalanan. Banyak paket yang dia bawa saat itu.


Aku kembali masuk dengan memegang kardus kecil milik Cantika. Mataku tergerak untuk melihat apa keterangan isinya. Obat? Untuk apa? Bukankah dia sedang hamil? Jika memerlukan obat, apa tidak sebaiknya pergi ke dokter kandungan? Aku curiga.


Kulihat pengirim paket itu, lalu membuka internet, berharap menemukan toko online-nya. Sekejap kemudian terpampang nama tokonya, cocok dengan alamat pengirim.


Toko ini menjual obat penggugur kandungan, selain itu tidak ada yang dia jual. Aku terperanjat, ada juga ya ternyata penjual yang menjual obat seperti ini. Perutku seketika terasa nyeri membacanya. Apa setega itu Cantika kepada dirinya sendiri dan bayinya? Ternyata benar apa yang dibilang Denis padaku.


Hatiku berdesir, kesal. Apa maksud dia sering ingin menggugurkan kandungannya? Paket ini mungkin salah alamat, dia pasti lupa. Dia memakai sebuah aplikasi yang sudah tertera alamat sebelumnya, tapi ini cara Tuhan menunjukkan padaku.


Baiklah, besok aku akan mengantarkan ke rumahnya. Lihat saja. Kusimpan kardus kecil itu di kamar.


"Tadi ada tamu, siapa Val?" Mama muncul dari dapur.


"Pengirim paket, Ma. Ada paket buat Cantika."


"Ohh, ya udah, kirain Bu Rudi."


"Bu Rudi? Ngapain Bu Rudi mau ke sini, Ma?" tanyaku hanya ingin tahu.


"Bu Rudi kemarin pesan risoles sama Mama buat arisan. Waktu Mama nyoba bikin, dia pernah nyicip. Katanya enak, jadi dia pesan dan Mama menyanggupi. Kan cuma 40 biji. Jadi ringan, dibantu Bik Nah," terang Mama.


"Wuih, pesanan pertama dong, Ma?" ujarku ikut berbinar.


"Iya, nih. Semoga cocok ya di lidah mereka."


Mama mengambil kardus mika besar di dalam lemari.


Aku tahu Mama hanya membuat pesanan untuk kesibukan, tetapi asal dia senang aja. Jadi hobinya juga tersalurkan.


"Val, Mama lupa beli saosnya, yang kecil-kecil itu lho, tolong dong beliin di minimarket depan," teriak Mama dari dapur.


"Ya, Ma." Aku beranjak mengambil kunci sepeda motor dan dompet.


Lalu, melaju ke minimarket dan ternyata tutup. Aku melaju kembali ke supermarket yang agak jauh dari rumah. Sekalian mau beli sabun dan lainnya. Sesampainya di sana, di depan supermarket kulihat seorang ibu yang berjualan pisang sambil menggendong anaknya duduk di emperan supermarket. Kuperhatikan sebentar, lalu aku melanjutkan langkah masuk ke dalam. Aku teringat Cantika, dia sudah diberi suami yang bertanggung jawab, serta anak yang dititipkan Tuhan kok ga bersyukur juga.


Setelah selesai belanja, aku mendekati ibu yang sedang mengelus bayinya yang tidur di gendongan.


"Ibu, pisangnya berapa sesisir?" tanyaku membuatnya tersentak.


"Murah aja Mbak, dua puluh lima ribu," kata Ibu itu sambil menenangkan bayinya yang merengek.


"Ooh, ada berapa yang ibu bawa?"


"Cuma lima sisir, Mbak. Berat, jadi saya hanya bawa sedikit."


"Saya ambil semua, ya?" Kulihat pisangnya bagus-bagus.


Semoga cukup dibawa di sepeda motorku.

__ADS_1


Ibu itu terbelalak, "Oh, ya, ya Mbak. Segera dia membungkuskan pisang-pisang itu menjadi dua plastik besar."


Kuberikan tiga lembar uang kertas biru padanya,


"Kembaliannya, Mbak," katanya tergesa membuka dompetnya.


"Ga usah Bu, buat adeknya aja," tukasku cepat.


"Oalah, ya Mbak. Makasih sekali. Jualan saya belum laku-laku tadi seharian muter-muter. Makasih, Mbak," ujarnya sambil mengelus bayinya yang kembali pulas setelah tadi merengek.


Aku mengangguk. Kubawa dua kresek besar itu, untung muat di sepeda motorku. Hatiku merasa senang bisa sedikit membantunya.


Sampai di rumah, kuletakkan pisang-pisang itu. Entah mau diapakan aku juga bingung.


"Udah ada saosnya, Nak?" Mama melihatku datang.


"Nih, Ma." Aku menyodorkan plastik berisi saos pada Mama.


"Makasih, Nak. Mama masukkin ke mika dulu."


Aku mengangguk kemudian melihat kesibukan mereka telah selesai. Sekarang tinggal menunggu Bu Rudi datang.


Mama duduk di kursi tamu, melepas lelah. Dia membuka dua kresek besar di atas meja.


"Kok ada banyak pisang? Buat apa Val?" tanya Mama heran.


"Tadi ada orang jualan, Val kasihan aja, makanya Val beli semua."


Mama menggeleng-geleng kepalanya, "Ya sudah, Mama keluarin dulu, biar ga gampang busuk."


"Permisi....!"


"Bu Rudi, silahkan masuk. Saya ambilkan dulu ya risolesnya, udah jadi kok."


"Emm itu, Valeria beli tadi. Ga buat apa-apa sih, Bu Rudi mau?" ujar Mama sambil meletakkan kardus mika.


"Kalau boleh sih saya beli juga pisangnya, karena tadi saya lupa beli buah." Bu Rudi tersenyum berharap.


"Ohh, sebentar, Bu. Saya tanya anak saya. Gimana, Val? Bu Rudi mau beli pisangnya?"


"Boleh," jawabku.


"Berapa?" tanya Mama mendekatiku.


"Terserah lah, Ma, biasanya berapa." Jiwa dagangku belum keluar.


"Biasanya aja Bu Rudi beli berapa." Mama juga ga tahu rupanya harga pisang sekarang ini.


"Sesisir tiga puluh ribu ya, Bu. Saya ambil empat sisir saja."


Mama mengangguk, lalu Bu Rudi membuka dompetnya, menyerahkan sejumlah uang pada Mama.


"Makasih, ya Bu Rudi."


"Sama-sama, Bu Reta, besok kapan-kapan saya pesan lagi. Buatan Bu Reta enak, murah."


Bu Rudi berpamitan, lalu pulang.


Tuhan membalas langsung perbuatanku hari ini.


***


Esoknya, setelah pulang kerja aku menuju ke rumah Denis membawa serta kardus paket Cantika. Kulihat banyak anak berkerumun di garasi Denis, ada apa?


Aku turun dari mobil. Kudekati garasi itu dan membaca spanduknya.

__ADS_1


Denis terlihat senang melayani anak-anak dan beberapa mahasiswa yang ada di sana. Dia menyadari kehadiranku, lalu mengangkat telapak tangannya tanda menyuruhku menunggunya. Aku mengangguk, kulihat semangatnya Denis membungkus makanan itu, hingga ludes tak bersisa, bahkan beberapa anak terlihat kecewa karena kehabisan.


"Maaf Val, membuatmu menunggu." Denis menutup garasinya.


"Ga apa-apa, Denis. Udah lama jualannya?" tanyaku.


"Baru kemarin mulai, Val. Yah, dikit-dikit buat sambilan."


"Bagus kok, laris juga." Aku menyemangatinya.


Tak kulihat Cantika membantu Denis.


"Val, maaf aku belum bisa mengembalikan uang kamu."


"Udah, ga usah dipikir, besok lah gampang soal itu," ujarku.


"Cantika mana? Aku mau bicara pada kalian," lanjutku.


"Oh, ya sebentar Val."


Dia masuk agak lama, kemudian Cantika keluar dari dalam, bersama Denis.


"Aku ke sini mau memperlihatkan sesuatu."


Kuambil kardus paket itu, lalu kuperlihatkan pada mereka. Cantika terlihat pias, terkejut melihatnya, lalu menunduk.


"Ini obat apa, Cantika?!" tanyaku hampir membentaknya.


Dia diam saja mengesalkanku. Denis terlihat bingung karena tidak tahu duduk persoalannya, tetapi dia hanya diam menunggu kami.


"Bilang atau aku buka di sini?" ujarku memberinya pilihan sulit yang cukup menyudutkan.


Dia masih diam, menunduk.


"Baiklah," kataku.


Kuambil gunting di tas kemudian kubuka kardus itu. Isinya memang sebotol obat dengan keterangan obat terlambat datang bulan.


"Bukannya kamu hamil? Kenapa kamu memesan obat-obatan seperti ini? Apa maksudmu Cantika?" tanyaku gemas.


"Cantika, kamu keterlaluan!" Denis pun geram dibuatnya.


"Obat-obatan seperti ini bisa membuat cacat kandunganmu," kataku mencoba memberinya pengertian.


Matanya berkaca-kaca, lalu berlari ke dalam kamar.


"Maaf, Val." Denis memohon maaf atas sikap istrinya.


"Ga apa-apa, Denis. Aku yang minta maaf, adikku seperti itu, menyusahkanmu. Mulai sekarang, awasi dia ya, Denis?"


"Iya, Val. Makasih telah mengingatkan padanya."


"Untung saja obat ini dikirim ke alamat rumah sebelumnya, Denis."


Denis mengangguk pelan.


"Yang sabar, semoga Cantika bisa berubah seiring kesabaranmu." Aku mencoba sedikit memberi harapan pada Denis.


"Iya, Val."


"Aku pamit pulang dulu ya, Denis. Udah mau petang. Aku habis dari kantor, belum sampai rumah."


"Ya, Val. Makasih udah menyempatkan."


Kubawa botol obat itu, lalu beranjak pulang.

__ADS_1


__ADS_2