
Hari yang kami tunggu telah tiba. Papa dan Mama Surya akan datang ke rumah. Pagi itu kami sibuk. Papa membantu Bik Nah membersihkan rumah, Aku dan Mama berkolaborasi di dapur. Mama telah menyiapkan bermacam suguhan. Pak Pur, suami Bik Nah pun ikut serta membersihkan rumput-rumput di depan rumah.
Sore harinya, Papa telah bersiap rapi. Aku memakai gaun putih dengan rambut terikat, berbedak tipis seperti biasanya dan hanya mengoles lipstik tipis berwarna pink. Mama tak kalah cantik, dia memakai dress warna coklat. Hanya saja Cantika dan Denis tidak bisa berada di sini. Denis meneleponku dan mengucapkan semoga acaranya lancar. Cantika tidak terdengar menyampaikan salam atau bicara padaku sedikit pun.
Mobil milik Papa Surya telah tiba di depan rumah. Dengan berdebar, aku menanti mereka di dalam rumah. Mereka terlihat turun dari mobil, tak lama lalu masuk ke rumah.
Papa dan Mama menyambut mereka. Surya terlihat tampan memakai kemeja putih, dengan rambut disisir rapi. Dia tetap sumringah meski aku tahu ada masalah di kantor yang belum terselesaikan.
Kami semua duduk di kursi tamu. Bu Anggraini terlihat cantik dan anggun dengan balutan kebaya hijau tosca dan rok panjang hitam. Pak Wira yang meski sudah berambut setengah putih, tampak berwibawa dengan balutan kemeja hijau tosca serasi dengan Bu Anggraini.
"Pak Arya dan Bu Mareta, ijinkan kami untuk memperkenalkan diri dulu. Saya Wira Samudra dan ini istri saya, Anggraini. Kami datang ke sini untuk berkenalan secara dekat dengan keluarga ini, karena anak kami yaitu Surya Adi Samudra, ingin menyampaikan keseriusannya terhadap Valeria Fazza Anggraini. Untuk itu, kami mohonkan agar apabila maksud anak kami diterima dengan baik oleh keluarga ini, kita hargai keseriusan mereka untuk nantinya berlanjut ke jenjang pernikahan."
Aku berdebar saat mendengar perkataan Pak Wira. Ada rasa bahagia yang tak terkira, mendapat restu dari kedua orang tua kami, penantian kami selama ini, perjuangan kami hingga bisa sampai di sini. Bisa dikatakan awal yang baik bagi sebuah hubungan.
Papa menimpali, "Ya, Pak Wira dan Bu Anggraini, kami berterima kasih, telah mau hadir di rumah kami, untuk menyampaikan maksud baik dari Surya Adi Samudra, yang ingin menunjukkan keseriusan pada putri pertama kami, Valeria Fazza Anggraini. Kami menerima maksud baik itu dengan senang hati. Semoga mereka bisa melangkah menuju ke pernikahan nantinya."
Ada ucapan lega di ruang tamu ini setelah Papa menimpali perkataan Pak Wira. Aku hanya menunduk, sesekali melirik pada Surya yang malah sedari tadi menatapku.
Kami melanjutkan obrolan di ruang makan, Bu Anggraini memuji masakan Mama dan ingin belajar pada Mama. Aroma keakraban terasa di ruangan itu.
"Bu Reta, kok masaknya bisa enak gini? Tipsnya apa, Bu?" Tanya Bu Anggraini sambil mengelap mulutnya dengan tissue.
__ADS_1
"Biasa saja kok, Bu," jawab Mama malu.
"Kapan-kapan, saya mbok diajari ya, Bu?" pintanya.
"Wah, dengan senang hati, Bu," jawab Mama bersemangat.
"Saya bakal sering-sering ke sini. Saya dulu ga bisa masak karena terlalu sibuk," belanya pada diri sendiri.
"Ah, Mama emang dasarnya ga bisa masak," tukas Surya diiringi gelak tawa di ruangan itu.
Setelah menyantap hidangan dan dirasa cukup perkenalan mereka, Bu Anggraini memberi kode pada Surya. Surya agak tersentak karena dari tadi matanya hanya menatapku.
"Ini tanda keseriusan saya pada Valeria, Om, Tante," kata Surya sambil menunjukkan cincin berlian di dalam kotak, lalu memakaikannya di jari manisku.
Suasana senang dan haru yang berlangsung di dalam rumahku, nyatanya harus berakhir untuk hari ini. Surya, Pak Wira dan Bu Anggraini berpamitan pulang. Kami hanya menunggu waktu untuk tahun depan yang kurang tujuh bulan lagi. Doaku hanya semoga diberi kelancaran untuk semua maksud baik ini.
***
Keesokan harinya, Surya mengatakan bahwa polisi telah mengetahui dalang pencurian di kantornya. Benar, dia adalah Hellen. Dia melakukan tindak pencurian sendirian. Mengambil kunci ruang bagian keuangan yang disimpan di laci meja Surya saat dia pergi. Setelah diselidiki, ternyata Hellen mempunyai hutang yang banyak karena telah menabrak seorang bapak bersepeda motor hingga kritis dan dilarikan ke rumah sakit. Pihak keluarga menuntut ganti rugi yang besar padanya, sedangkan mobilnya sendiri rusak. Posisi sekertaris di kantor Surya membuat dia leluasa untuk mengetahui di mana posisi barang-barang berharga di kantor, apalagi dia selalu nyelonong ke ruangan Surya dan ternyata masuk tanpa ijin ke ruangan-ruangan lain.
Belakangan kuketahui namanya Cintya Hellena, aku teringat waktu itu saat pulang kerja mendapati kecelakaan yang membuat jalanan macet. Ternyata itu tragedi antara Hellen dan pengendara motor itu, tetapi dia seolah ngotot pada polisi, tidak merasa bersalah, nyatanya dia ngebut di jalan dan menabrak si pengendara motor, persis seperti yang diberitakan di koran. Jadi benar berita di koran bahwa si penabrak adalah perempuan yang bernama Cintya H., singkatan dari Hellena.
__ADS_1
Selidik punya selidik, dia sebelumnya adalah seorang waitress di sebuah bar. Mungkin saja apabila penampilannya seperti itu dan suka menggoda pria, meskipun tidak semua waitress seperti dia. Orang yang merekrutnya, manager HRD di perusahaan Surya, menerimanya karena telah berhubungan badan dengan Hellen, dan telah dipecat oleh Surya.
Ah, aku merasa sangat lega. Aku minta agar Surya lebih care pada karyawan-karyawannya. Sikap dinginnya bagus, tetapi jika terlalu dingin bisa jadi malah menjadi bumerang baginya.
Harus ada rekondisi pada perusahaannya. Untuk sementara waktu ini, dia ingin membereskan urusan perusahaan, agar tidak ada lagi tikus-tikus di dalamnya. Dia adalah orang yang dipercaya Pak Wira, Papanya sendiri untuk menangani perusahaan mereka.
Sebuah pembelajaran untuk tidak dengan mudahnya mempercayai orang.
***
Sebulan Surya telah berhubungan dengan karyawan dan polisi. Tinggal enam bulan lagi kami merencanakan pernikahan. Aku tahu dia lelah, semua pikiran dia terkuras untuk perusahaannya, aku semakin yakin dia adalah orang yang bertanggung jawab.
"Val, gimana kalau kita ambil foto pre-wedding di Jerman?" Usulnya saat kami berjalan-jalan di akhir minggu setelah kasusnya usai.
"Boleh," jawabku.
"Lalu, kapan kita berangkat ke Jerman lagi?" Tanyanya sambil memperhatikan suasana yang ramai dengan orang kongkow di pinggir jalan.
"Bulan depan aja, gimana?" usulku.
"Sekalian aku mampir ke kantor Bu Magda," lanjutku.
__ADS_1
"Oke, bulan depan, ya?"
Aku mengangguk. Kami melanjutkan jalan-jalan menikmati hembusan angin malam di sepanjang jalan yang kami lalui.