Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 57


__ADS_3

Denis masih termangu memegang uang di tangannya. Sebulan yang lalu, kakak sepupunya menawari usaha franchise makanan yang terjangkau untuk harga modal awalnya, tetapi saat itu Denis masih kerepotan untuk mengurusi Ibunya. Pikirnya sekarang dia bisa menjalankan usaha itu. Bisnis makanan ini bisa dia lakukan saat pulang kerja, mengingat ada ruang di sebelah rumah yang dulu menjadi garasi mobil ayahnya. Waktu itu setelah meninggalnya sang ayah, perekonomian keluarga menjadi morat-marit hingga harus menjual mobil demi menyelesaikan administrasi sekolah Denis.


Usaha makanan itu dia pertimbangkan mengingat rumahnya dekat dengan sekolahan dan sebuah universitas swasta, sehingga banyak anak-anak dan mahasiswa melewati depan rumah untuk pulang atau menuju kost. Andai Cantika mau membantunya, tentu kedai kecil itu bisa buka agak awal. Pasalnya, Cantika belum tentu mau berusaha.


Denis mengalah, dia akan membukanya sepulang dari kerja. Biar dapat sedikit-sedikit minimal bisa menutup kebutuhan rumahnya.


Segera dia memencet nomor kakak sepupunya, Mbak Rina. Mbak Rina adalah anak dari Budhenya, kakak ayah Denis.


"Halo," ucap suara di seberang sana.


"Halo, Mbak. Bisa ngobrol tentang tawaran usaha franchise waktu itu?" tanyaku berusaha menanyakan tawaran yang telah satu bulan berlalu.


"Oh, bisa Den, gimana, kamu tertarik?" Kakak sepupunya itu terdengar bersemangat.


"Iya, Mbak." Kata-katanya terdengar mantap.


"Kalau gitu, kapan kamu mau ke rumah Mbak?" Mbak Rina menyambut keinginan Denis.


"Kalau sekarang, bisa ga, Mbak?" Denis berusaha secepatnya agar uang itu tidak habis untuk keperluan lain.


"Bisa, Mbak tunggu ya?"


Setelah menutup teleponnya, Denis segera men-starter motornya menuju ke rumah Mbak Rina. Jalanan agak lengang waktu itu. Setelah 30 menit di perjalanan, kemudian dia sampai juga di rumah kakak sepupunya itu. .


"Pulang kerja Denis?" sambut Mbak Rina ramah.


"Iya, Mbak." Denis mengangguk dan tersenyum lalu melepas helm yang menutupi kepalanya.


Dia turun lalu bersalaman dengan Mbak Rina.


"Yuk, masuk." Mbak Rina menyuruhnya duduk di kursi tamu.


Si kembar Gilang dan Gillar anak Mbak Rina segera berlari menuju ke pangkuan Denis. Mereka berumur 5 tahun.


"Om Denis lama banget ga main ke sini," ujar Gilang sambil memainkan mobil-mobilannya.


"Iya, Om Denis lagi sibuk, makanya ga bisa ke sini," ujarku.

__ADS_1


"Ooh." Keduanya menanggapi dengan mengangguk-angguk.


Mbak Rina datang dengan minuman dan makanan.


"Nih, diminum dan dimakan dulu Denis," suruhnya.


"Ga usah repot-repot, Mbak."


"Ga repot. Oh ya Denis, Mbak ikut berduka cita ya atas meninggalnya ibu kamu, maaf Mbak waktu itu ga bisa datang melayat, tapi Mas Hilmi yang datang ke sana."


"Ga apa-apa, Mbak, makasih."


"Lalu tentang penawaranku itu, jadi kan?" tanya Mbak Rina tanpa basa-basi lagi.


"Iya, Mbak. Sekarang aku ada waktu luang untuk menjalani usaha itu."


"Oh ya, istrimu kan pasti bisa, hanya goreng saja." Denis hanya tersenyum menutupi keburukan istrinya, tetapi dalam hati dia juga mengamini.


Mbak Rina membuka bukunya dan mengeluarkan sebuah brosur, lalu menunjukkan pada Denis.


"Itu daftar harganya per paket, makanan ini lagi booming, tetapi tidak akan bosan masyarakat mengkonsumsinya. Mbak punya beberapa kedai di mana-mana. Dalam satu kedai, puluhan porsi ludes dalam sehari saja."


"Yang ini aja, Mbak." Dia menunjuk pada daftar paling atas.


"Oh ya, boleh. Untuk bulan depan bisa kok ambil paket yang lain." Mbak Rina menawarkan kemudahan untuknya.


"Dua juta seratus lima puluh ribu, Denis." Mbak Rina menulis sejumlah uang untuk tanda bukti pembayaran.


Denis menghitung uangnya, agak lega karena masih ada sisa empat ratus ribu untuk dia pegang.


"Ini, Mbak, dihitung dulu."


Denis menyerahkan uang itu ke Mbak Rina. Sambil menghitung, Mbak Rina berkata padanya besok gerobak dan paket makanannya akan segera dikirim.


Denis akan membersihkan bekas garasi malam ini juga.


"Mbak, kalau bisa, ngantarnya nunggu aku pulang kerja, ya? Jam 2 siang. Bisa kan, Mbak?"

__ADS_1


"Ya Denis, bisa kok. Kalau ada kesulitan, bilang ya, nanti Mbak bantu. Asal telaten, hasilnya lumayan, kok!" ujarnya yakin.


Denis percaya karena Mbak Rina termasuk sukses menjalani usaha itu, hanya masalah ketelatenan saja katanya.


"Mm... Ya udah, Mbak. Saya pulang dulu, nanti istri saya nyariin, soalnya saya belum sampai rumah, tadi dari tempat kerja."


"Oh, ya udah. Gilang, Gillar! Om Denis mau pulang!" seru Mbak Rina memanggil anak-anaknya.


Segera mereka berlarian ke ruang tamu, "Yaah, Om Denis kok pulang sih, kirain masih lama di sini?" kata Gillar kecewa.


Gilang pun tak kalah kecewa dengan menunjukkan muka cemberut, tetapi Denis tetap ga bisa tinggal.


"Maaf ya, Gilang, Gillar, Om Denis ga bisa lama-lama, soalnya Tante Cantika nungguin di rumah, besok kalau adek bayi keluar dari perut Tante, Gilang sama Gillar main ke sana, ya?"


Mereka berdua saling berpandangan kebingungan, "Kata Mama, adek bayi dibikin pakai tepung, Om Denis bohong ya?"


Mbak Rina tertawa terbahak-bahak, "Gilang, Gillar, udah Om Denis mau ketemu sama Tante Cantika, besok lagi Om Denis main ke sini, ya kan Om?" Mbak Rina mengedipkan mata.


"Mm... Iya, besok kapan-kapan Om Denis ke sini lagi, kok!" Denis memegang kedua pipi mereka.


"Janji, ya?" ujar mereka.


Denis mengangguk, lalu keluar dan menaiki sepeda motornya dan melaju pulang.


Sesampainya di rumah, dia mendapati Cantika telah mandi, tetapi masih dengan wajah bersungut-sungut, lalu masuk lagi ke kamarnya. Denis menggeleng-geleng kepalanya, kemudian menyegarkan diri dengan mandi sore.


"Tika, tadi aku ke rumah Mbak Rina, aku setuju dengan usaha franchise yang ditawarkannya bulan lalu. Besok peralatannya akan datang. Syukur-syukur kamu mau bantuin kalau udah sehat dan kuat kandungannya." Denis masuk ke kamar setelah selesai mandi dan duduk di samping ranjang. Dia masih berharap Cantika mau membantunya.


"Dari mana kamu punya uang untuk itu?" tanya Cantika curiga.


"Aku pinjam dulu ke Mbak Rina, nanti bayarnya aku cicil dari hasil penjualan." Denis terpaksa berbohong agar Cantika mau berprihatin.


"Aku ga bisa masak, kamu aja, ya? Lagian, bawaan bayi ini masih membuatku mual dan lemas." Muka Cantika memang pucat.


"Ya udah." Denis menelan kekecewaan atas tanggapan istrinya.


Semangatnya yang tadi mengembang serasa mengerut, tetapi dia tetap membesarkan hatinya sendiri dengan mengingat kata-kata Mbak Rina siang tadi. Asalkan telaten, semua bisa diraih. Denis mengobarkan semangatnya sendiri untuk berusaha. Hal besar itu awal mulanya dari hal kecil. Dia baru akan menapak, entah suatu hari nanti semoga dia bisa berlari atau melompat tinggi.

__ADS_1


Malam ini Denis membersihkan bekas garasi, lalu menggelar karpet plastik di garasi itu. Dia merasa puas karena bekas garasi itu agak luas untuk usahanya.


__ADS_2