Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 76


__ADS_3

"Setiap hari kamu harus bayar imbalan," kata pria pasangan hidup yang sedang memasukkan sarapan ke mulutnya di depanku, juga ..., di depan Jill.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengarnya.


"Kamu ga mau?"


"Eh, mau!"


Ah, kenapa aku jawab cepet gini sih, kayak ga ada harga dirinya.


"Nah, terus kalo berangkat kerja bareng aku. Nanti Jill yang akan mengantar kita, sayang."


"Tumben pake supir," gumamku.


"Jangan bilang tumben-tumben. Kamu harus jaga diri, aku ga mau istriku kenapa-kenapa."


"Kalo diantar jemput dia, aku jatuh cinta sama Jill gimana?" godaku.


Surya melotot, "Ehm, Jill apa kamu mau tergoda sama Nona Valeria?"


"Tidak, tuan!"


Wehh, pak supir aja ga tergoda sama nonanya? Bener-bener deh ..., eh tapi ga mau juga aku godain dia!


"Bercanda doang kali. Yuk ah berangkat kerja," ajakku karena jam makin cepat bergerak sepertinya.


Aku segera berdiri dan menarik tangan Surya. Dia menunjuk ke bibirnya.


"Apa?" Kulirik Jill yang berdiri di depan kami.


"Jill, balik kanan," suruh Surya.


Dia melompat berbalik, dia hampir membuatku tergelak kalo Surya ga segera menutup mulutku dengan bibirnya.


"Ayo, Jill."


Dia pun segera berbalik dan berjalan keluar menuju ke mobil, membukakan pintu untukku dan Surya.


Tergelitik dengan namanya, iseng kutanyakan pada Jill dalam perjalanan ke kantor.


"Siapa nama lengkap kamu, Jill?"


"Jalu Irawan Lopez"


"Kok, dipanggil Jill?"


"Singkatan, Nona."


Aku mengerucutkan bibir mendengar jawabannya. Sementara Surya menutup mulut dengan tangannya.


"Sampe depan aja, Jill."


Mobil telah sampai mendekati kantorku.


"Udah ya, sayang," ucapku pada Surya.


Dia menunjuk pipinya. Aih, cowok manjaku satu ini selalu minta cium.


Kudaratkan kecupan di pipinya, "Hati-hati ya, sayang?"


Ketika keluar dari mobil, kaca mobil turun.


"Nanti sore aku jemput. Inget ini hari apa, jangan lembur."


Aku termangu di depan kantor melihat mobil itu bergerak meninggalkanku sambil mengingat hari apa ini.


Aiya, ulang tahun Surya! Bodohnya, kenapa bisa lupa!


Kuangkat tangan, tapi percuma percobaanku memanggil mobil yang telah melaju ke jalanan.


Tersadar segera aku melangkah ke kantor.


"Pagi, Bu Valeria, kami turut bahagia dengan pernikahan Ibu, tapi kami pun turut berduka atas meninggalnya ayahanda Ibu."


Beberapa karyawan menghadangku di depan.


Aku mengangguk dan menyalami mereka.


"Mbak Risky, gimana keadaan kantor selama saya ga datang?"


"Aman terkendali, Bu Valeria. Ibu tenang saja, apalagi semua karyawan bekerja dengan tertib, ga ada yang melanggar peraturan."

__ADS_1


"Bagus, Mbak."


"Saya masuk ke ruangan saya dulu. Oh ya, Mbak, mmmm ..., kalo kado buat cowok apa ya bagusnya?"


"Apa Pak Surya ulang tahun, Bu?"


"Hehehe, iya, saya bingung. Ga pernah kasih kado ke laki-laki."


"Arloji?"


Aku menggeleng. Arlojinya udah cukup banyak.


"Baju?"


Sama seperti usulan awal, aku menggeleng.


"Kue taart aja, Bu?"


"Mmm ..., iya boleh juga Mbak. Nanti tolong ya pesenin, Mbak Risky tau ga di mana Bakery yang terbaik??"


"Nanti saya pesenin di langganan saya, pasti memuaskan, Bu."


"Ya, Mbak. Makasih ya sebelumnya. Jangan sampai kesorean ya?


"Siap, Bu."


Kumasuki kantor yang selalu bersih meski aku tinggal beberapa lama, tapi aduh ..., laporan sudah menumpuk tinggi.


***


Mobil penjemput datang.


"Mbak Risky, makasih ya, udah dipesenin. Tadi saya udah telepon, katanya udah sampai di rumah."


"Sama-sama, Bu."


"Saya duluan ya Mbak, udah dijemput."


"Ya, Bu. Hati-hati."


Aku segera berjalan cepat ke arah mobil, Jill membukakan pintu.


"Tuan Surya, mana?" tanyaku.


"Oh," ujarku memasuki mobil.


Sepanjang jalan, Jill hanya diam.


"Kenapa diam saja, Jill?"


"Tadi tuan Surya berpesan agar saya menjaga jarak dengan Nona."


"Ya ampun, Surya ...." gumamku heran.


"Ya udah, yuk buruan, saya mau nyiapin sesuatu."


"Apa itu, Nona?"


"Ah, kepo. Kamu kan harus jaga jarak."


Cowok berusia di bawahku itu langsung terdiam mengingat pesan tuannya.


Sesampainya di rumah, Tari menyambutku hangat.


"Selamat sore, Nona. Air hangat sudah saya siapkan."


"Makasih, Tari. Oh ya, tadi ada orang nganterin kue ga?"


"Ada, Nona. Saya taruh di lemari es."


"Bagus. Saya mandi dulu ya?"


Kusiapkan kue taart itu di ruang atas. Para pelayan telah mengerti jika tuannya sedang di lantai atas, mereka tidak berani ke sana. Ruangan itu sebagai ruang pribadi kami. Hanya jika dibutuhkan, mereka akan datang.


Kupakai gaun warna peach dan menunggunya.


Hari telah begitu larut. Sepertinya mobil Surya datang. Langkah kakinya terdengar mendekat. Kenapa jantungku berdegup kencang? Ini pertama kali aku merayakan ulang tahun seorang laki-laki.


Kupegang kue itu menyambutnya. Dia terkejut saat melihatku.


"Happy birthday, dear."

__ADS_1


"Makasih, sayangku," katanya terharu.


Dipotongnya kue itu, lalu menyuapiku.


"Kamu cantik pakai gaun ini. Dipakai terus ya?"


Maksudmu kering-pakai-kering-pakai?


"Aku mandi dulu, kamu udah makan sayang?"


"Udah," jawabku.


"Stay di situ. Jangan kemana-mana."


Dih, acara apa lagi ini?


Kuturuti kemauannya, sambil menonton acara televisi di dalam kamar.


Dia keluar dari dalam kamar mandi hanya memakai handuk. Entah kenapa aku selalu terkesima padanya, padahal setiap hari kulihat dia seperti itu.


"Kenapa?" tanyanya membuyarkan pandanganku.


"Mmm ..., ga apa-apa," jawabku tersadar lalu kembali menatap layar televisi.


Dia berdiri di depanku lalu membungkuk dan mencium bibirku. Acara televisi kesukaanku pun mampu kutinggalkan hanya karena ini.


Dia menarikku untuk berdiri, lalu melangkah ke tempat tidur sambil berciuman. Kemudian membaringkanku pelan di atas ranjang.


"Ini untuk ultahku, dan nanti untuk imbalan biasanya."


"Hah?" Mulutku menganga, dikatupkannya dengan bibir.


Tangannya mulai menyusup ke dalam gaun, menemukan apa yang dia cari. Ada yang berdenyut selain jantung saat itu. Tiba-tiba saja, ilmu dari mana dia berhasil membuat gaunku terlepas, menindihku dan terjadi lagi ....


Malam itu kami tidur berpelukan tanpa sehelai benang, hanya selimut yang menutupi.


"Pokoknya, jangan dipakai," pesannya.


Aku mendengus, dalam sekejap terdengar dengkuran di telinga. Gimana bisa tidur, sementara tangannya mengunci pinggangku.


Mata ini ga bisa terpejam semalaman, kututup telingaku yang ga familiar dengan suara dengkuran, tapi tetap saja sulit terpejam. Biasanya aku tidur duluan, jadi ga dengar suaranya. Namun, kali ini dia tidur pulas mendahuluiku. Hanya satu jam aku tertidur pada waktu dini hari.


Hingga matahari mulai menampakkan diri, dia lupa akan imbalan, aku terlompat dari tempat tidur langsung menyambar handuk.


Ya ampun, belum bangun juga.


"Sayang, bangun ...." Kutepuk lembut pipinya.


"Hoaaaamm ...." Dia menggeliat, mengerjapkan matanya.


"Jam berapa ini?" tanyanya melihat ke jendela bukannya ke jam dinding.


"Jam enam pagi, bangun ...."


"Ha, kok ga bangunin tadi?"


"Gimana mau bangunin, aku juga kesiangan??"


"Maksudnya semalem," katanya kesal.


"Hehe, kamu tidurnya pulas, sampai mendengkur keras banget. Berasa ada gergaji mesin di telingaku."


"Kamu bisa merem dengernya?" tanyanya dengan muka innocent.


Aku menggeleng dan cemberut.


"Aduh, maaf ya sayang ...?"


"Ya udah, buruan mandi, takut telat ini."


"Apa yang tertunda semalam, sekarang aja?"


"Enggaaaak!!"


Cepat-cepat dia masuk ke kamar mandi.


***


Tanpa sarapan, kami berangkat ke kantor. Sesampainya di sana, aku masih capek banget karena kurang istirahat semalam.


"Pagi, Bu Valeria, kok lemes? Berapa ronde semalam, Bu?"

__ADS_1


Beberapa karyawan wanita menggoda sambil tersenyum-senyum. Kuputar bola mataku, berdecak menanggapinya, kenapa setiap ada yang habis menikah, pasti ada aja yang omongannya mesum.


__ADS_2