
"Valeria, maaf aku mengganggu waktumu," kata Denis.
Aku membenahi rokku yang agak tersingkap sewaktu duduk. Untung saja ada meja kerja yang menutupinya. Setelah berdiri aku segera mempersilahkan Denis untuk duduk di kursi tamu. Bila ditelusuri, diantara aku dan Denis tentu saja tidak ada masalah, beda dengan aku dan Cantika, atau mungkin Denis dan Surya. Jadi kami berbincang biasa saja.
"Duduk dulu, Denis," ajakku sambil berjalan menuju ke ruang tamu di dalam ruanganku. Kami berdua duduk berhadapan.
"Ada apa, Denis? Apa yang membuatmu datang kemari? Cantika?" Tebakku.
"Iya, hari ini dia tidak mau masuk kerja, entah kenapa tadi pagi sewaktu bangun dia merasa lemas. Aku sudah mengantarnya ke dokter, tapi dokter bilang tidak ada penyakit apa pun, lalu dia hanya memberi vitamin padanya."
Setidaknya aku mengetahui bahwa hubungan mereka telah baik.
"Lalu, sekarang bagaimana keadaannya? Jujur saja, setelah kejadian itu, hubunganku dengan Cantika renggang," jelasku.
"Aku ngerti, Val. Dia minta maaf padaku, lalu kami kembali bersama, sekarang dia sedang tidur di rumahku." Kata-kata Denis cukup membuatku kaget.
"Di rumahmu? Cantika masih di kostnya kan?" Tanyaku.
"Iya, hanya dia sering tidur di rumahku jika hari libur." Denis mengaku sejujurnya.
Pantas, Cantika jarang pulang jika libur.
"Oh, gitu."
"Val, bisa minta tolong lihat keadaan Cantika. Di rumahku tidak ada yang bisa kumintai pertolongan. Ibuku sendiri sedang sakit-sakitan," pintanya.
Aku sendiri sanksi, apakah Cantika mau menerima kedatanganku. Tiba-tiba pintu dibuka, Surya datang dan terkejut melihat Denis.
Mereka saling melengos, aku pun ingin menengahi sekalian menunjukkan pada Surya bahwa kami tidak ada apa-apa.
"Surya, ini Denis, pacarnya Cantika, yang semalam itu."
"Ya, aku tahu," ujar Surya seolah tak peduli.
Surya menaruh kejengkelan pada Denis bukan karena dia mencintai Cantika, tetapi lebih ke gengsi seorang cowok yang ceweknya direbut oleh cowok lain.
Sedangkan Denis lebih peduli dengan persoalannya dan tidak menanggapi Surya.
"Val, aku permisi dulu, aku bela-belain ga ngantor karena dia, tolong ya, Val," pintanya memohon.
"Ya, nanti aku akan ke sana Denis, sekarang biar dia istirahat dulu ya?"
Denis mengangguk, lalu berlalu tanpa memandang pada Surya.
"Kenapa dia?" Tanya Surya penasaran akan kedatangan Denis.
"Makan dulu aja yuk, nanti aku ceritakan di jalan," ajakku, sambil menyelam minum air, jadi sambil jalan menjelaskan persoalannya.
__ADS_1
"Yuk," Surya meraih bahuku dan mengajak keluar ruangan menuju ke parkiran.
Di dalam mobil aku jelaskan semua yang disampaikan oleh Denis.
"Aku temani ya, kalau kamu mau ke sana," tawarnya.
"Nanti malah kalian berantem lagi, gimana?" ujarku.
"Aku janji, ga akan terjadi keributan kecuali adikmu yang ribut. Aku hanya ingin memastikan kamu ga apa-apa, sayang."
"Baiklah kalau gitu, eh kita makan di kedai itu aja, katanya nasi gorengnya enak," ujarku menunjuk pada sebuah kedai mie dan nasi goreng yang cukup terkenal, murah tapi enak.
"Siap, sayang," kata Surya sambil memperlambat laju mobil dan membelokkannya di depan kedai.
Kedai itu cukup ramai. Untunglah kami masih mendapat tempat duduk. Setelah memesan, sesaat kemudian dua nasi goreng hangat telah tersedia, kami segera menyantapnya dengan segelas teh hangat membuat keringat kami berlomba turun, karena siang itu memang cukup panas, tapi untuk memesan es pasti efeknya membuat kepala pusing setelahnya.
"Mau jam berapa nanti ke rumah cowok itu, sayang?" Dia mengambil tissue dan mengelap peluhnya yang bercucuran.
"Pulang kerja aja, aku akan pulang agak awal, eh tapi mobilku gimana kalau kamu jemput?" Tanyaku teringat bawa mobil ke kantor.
"Ditinggal aja di kantor kamu, aman kan? Besok pagi aku jemput ya?" jawabnya santai.
"Kamu bisa ga, nanti pulang jam 3 sore?" Kulihat jam di tanganku.
"Bisa lah, apa sih yang ga buat kamu?" ujarnya sambil mencolek daguku.
Dia terkekeh, "Yuk, udah, kamu yang bayar ya?" katanya.
"Kamu kan janji bayarin makan siangku, waktu belum jadian aja kamu bilang kalo semua gaji kamu kuminta aja kamu kasihin, ih gombal." Aku merajuk lalu mencubit pipinya.
Dia kembali tergelak, "Hush, jangan cubit-cubit di depan umum, malu tauk?"
"Nih, kamu yang bayar," katanya lalu menyerahkan dompetnya padaku.
Aku tersenyum ternyata maksudnya aku bayar pakai uangnya. Jadi malu.
***
Jam 3 sore, Surya telah berada di ruanganku. Banyak karyawan yang telah menebak kami berpacaran. Setiap Surya datang mereka menyapanya, "Pasti mau ketemu Bu Valeria..."
Surya hanya diam saja ketika mereka menyapa. Cowok yang dingin di depan para cewek, itu salah satu hal yang membuatku menyukainya.
Aku segera membereskan arsip dan barang-barangku, menaruhnya di rak atas. Tiba-tiba dari belakang tangan Surya telah melingkar di perutku, mencium leherku. Aku merasa geli, lalu berbalik, dia mencium mulutku, aku menyambutnya sejenak kami saling berciuman. Lalu kulepaskan, melanjutkan apa yang tertunda sambil mengatur nafasku.
Surya membawakan tas jinjingku keluar. Lucu, cowok se-cool dia membawakan tas cewek, sementara tanganku menggamit lengannya.
Kami melaju ke jalan, sebelumnya aku berpesan pada penjaga malam, bahwa aku menitipkan mobil di parkiran.
__ADS_1
Agak berdebar rasanya akan bertemu Cantika, tapi tunggu, ada sesuatu yang mengganjal di pikiranku mengingat apa yang disampaikan oleh Denis siang tadi. Aku meminta Surya untuk menepi bila menemukan sebuah apotek di pinggir jalan.
"Kenapa, sayang?" Tanya dia ingin tahu.
"Beli obat," kataku asal.
"Ga usah ikut turun ya, aku hanya sebentar, kok."
Surya mengangguk, menungguku di dalam mobil. Aku bergegas berjalan menuju ke apotek, menanyakan sesuatu pada apoteker, kemudian keluar dari apotik membawa sebuah plastik hitam. Kumasukkan ke tasku, lalu kembali masuk ke mobil. Kami kembali melaju ke jalan raya.
"Val, kamu masih inget ga jalan-jalan ini?" tanyanya sewaktu melewati jalan yang telah agak berubah dari 11 tahun yang lalu.
"Masih, kita dulu melewati jalan ini jika kamu mengantarku pulang," jawabku.
"Tepat sekali, tau ga Val, setiap aku melewatinya, aku mengingatmu ada di sampingku, berapa tahun lamanya. Padahal aku sering banget lewat sini." Dia melirik padaku.
"Sekarang aku ga perlu lagi mengingatmu," katanya lagi.
Aku membelalak mendengarnya.
"Ehh, maksudku karena kamu udah ada di sampingku, dan nyata, aku ga perlu bayangin lagi, gitu."
Kami tergelak. Sampai di depan rumah Denis, dia sedang di depan rumah menungguku. Surya mengekoriku turun dari mobil.
Dengan jantung berdegup kencang, karena takut ada hal buruk yang akan terjadi, aku masuk bersama Denis. Sementara Surya hanya berdiri di depan rumah.
Kulihat di dalam kamar, Cantika sedang berbaring, dia melengos ketika aku datang.
"Cantika, kamu kenapa?" Tanyaku pelan.
"Ga usah tanyain, harusnya aku yang tanya kamu kenapa ke sini?" Ujarnya ketus.
"Aku minta maaf atas kejadian malam itu. Denis bilang kamu sakit, udah diminum vitaminnya?" Tanyaku masih bersabar.
Dia hanya menggeleng dengan kepala masih menengok ke samping. Mukanya sedikit pucat, dan terlihat kusut.
"Denis, suruh dia minum vitaminnya," pintaku.
"Udah, Val. Tapi dia ga mau," kata Denis dengan nada jengkel.
"Hoek! hoek!" Cantika mual, dia setengah berlari ke wastafel, dibantu oleh Denis.
Aku memikirkan sesuatu, setelah mereka kembali, kukeluarkan plastik hitam dan menaruh isinya di atas tempat tidur.
"Ini, kalau mungkin kalian perlu, mmm...sekarang aku pamit dulu, ya?" ujarku sambil berpamitan saja karena ga enak bila terjadi sesuatu, berbalik dari tempatku berdiri.
Cantika dan Denis saling berpandangan, mereka terlihat ketakutan dan bingung.
__ADS_1
Sebuah test-pack tergeletak di atas tempat tidur.