Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 75


__ADS_3

Jangan lupa like n vote yaa kalo kalian suka cerita Valeria dan Surya ini .... Makasih buat yang udah comment, like n vote. Sangaaaat berharga untuk author ini πŸ’• Salam manis untuk semua yang mendukung yaa


🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿🌹🌿


Tangisan bayi memecah keheningan di ruangan yang penuh kecemasan itu. Agak melegakan, tetapi ketika belum melihat keadaan Ibu dan anaknya, rasa cemas masih belum sirna. Tangisnya mereda. Kami masih menunggunya di luar ruangan bayi.


Seorang bayi perempuan mungil, terlihat di dalam ruangan kaca digendong oleh seorang perawat. Bayi itu dimasukkan ke inkubator.


"Sehat," gumamku yang ditanggapi anggukan oleh Denis.


Sekarang kami menunggu sang Ibu, semoga dia juga sehat.


Satu jam kemudian, ruangan bedah terbuka lebar. Seorang perempuan berwajah sumringah keluar dari dalam, berbaring di atas brankar, didorong oleh empat orang perawat masuk ke bangsal. Kami segera mengikutinya.


"Selamat ya, Dek," ucapku ditanggapinya dengan tangis haru. Tak ada lagi raut yang ketus di wajahnya.


Perempuan itu masih kuanggap adik, meski telah mengetahui status sebenarnya. Kami bertiga berpelukan di ruangan itu.


Seorang perawat masuk menggendong bayi mungil yang menangis kehausan. Cantika memberinya ASI pertamanya dengan canggung. Mama mengajarinya. Lama kelamaan dia akan terbiasa.


"Makasih, Kak, Ma," ucap Cantika dengan berlinang air mata.


"Dikasih nama siapa, Dek?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Ada saran, Kak?"


"Terserah kamu aja, ada harapan apa untuk anak kamu dalam namanya,"


Cantika melongok Denis yang sedang ngobrol dengan Surya di kursi depan ruangan.


"Danisha, Kak. Artinya penuh pengampunan."


"Bagus namanya," kata Mama membuka suara untuk pertama kalinya saat bertemu Cantika.


"Masihkah aku boleh menganggap kalian keluargaku?" ucap Cantika tiba-tiba.


"Cantika adalah anak Mama sampai kapan pun." Mama kembali bersuara.


Cantika memeluk Mama, mereka hanyut dalam keharuan.


"Sayang ...,"


Surya memanggilku.


"Iya, kenapa?"


"Sini," panggilnya lagi.


Aku mendekat, "Kenapa sih?"


"Katanya, soto sapi di depan itu enak."


"Uh, bilang aja kalo laper ..., ya udah yuk beli makan sekalian beliin mereka," kataku menunjuk Mama, Cantika dan Denis.


***


Tiga hari kemudian, bayi Cantika boleh dibawa pulang. Kujemput mereka. Katanya, mau tinggal di tempat Mama untuk sementara waktu karena Cantika belum bisa mengurus anaknya sendiri. Setidaknya ada Mama dan Bik Nah yang membantunya.


Mama kembali beraktivitas menerima pesanan kue dan makanan. Aku pun akan kembali ke rumah Surya.


"Ma, Val pulang dulu ya ke rumah Surya."


"Hati-hati ya, Nak."


"Iya, Ma. Cantika, jaga Danisha baik-baik ya?"


"Iya, Kak."


Mobil melaju ke jalanan, macet di sana sini membuat sore itu menjadi sore yang menyebalkan.


"Lho kenapa milih jalan ke sini sih?" tanyaku heran saat mobil berbelok ke arah lain.


"Kan menghindari macet," ujarnya santai.


"Emang bisa lewat sini?"

__ADS_1


"Bisa aja, apa sih yang ga bisa buat seorang Surya?"


"Cih, nyebelin banget," ujarku mencibir.


"Lho, kok malah makin jauh dari jalur?" tanyaku, karena jalurnya semakin ga mungkin menuju ke jalan biasanya.


"Udah, diem aja ah. Ribut."


"Takut ini, kalo aku disekap di mana gitu."


"Masa aku menyekap istri sendiri, ga disekap aja mau."


"Hmmmm ...." Kuputar bola mataku.


"Paling mau makan, kan?" Kucoba menebak.


"Boleh aja, kalo makan di sana," jawabnya santai.


"Ha? Boleh aja? Emang tempat apa itu?"


"Kan tadi kubilang, menghindari macet ...."


"Tapi kan, ini jalannya beda?"


Dia tidak menjawab. Mobil memasuki kawasan rumah ellite.


"Ke rumah temen?" Masih penasaran kutanyai dia.


Dia malah tertawa begitu senangnya bisa membuatku penasaran.


"Ih, cuma ketawa doang ...."


"Ternyata Valeria Fazza Anggraini bisa ribut juga kalo dibikin penasaran ...," ujarnya seperti tanpa beban membuat istrinya kebingungan seperti ini.


Mobil tiba di rumah yang besar dan mewah. Aku berdecak kagum dibuatnya.


"Temen kamu kaya juga ya sayang?" tanyaku padanya.


Gerbang dibuka otomatis, ada seorang penjaga di dalam. Lalu mobil masuk ke dalam.


"Terus, ini rumah siapa?"


"Ini rumah kita," jawabnya sambil menghadapku di dalam mobil.


Aku terbelalak.


"Kamu nge-prank aku?"


"Ngapain nge-prank kamu, kayak kurang kerjaan aja. Yuk, masuk rumah."


Seorang satpam, dua orang wanita berbaju seragam dan seorang pria berbaju seragam juga telah berbaris di depan rumah.


Aih, pake penyambutan segala.


"Selamat datang Nona Valeria Fazza Anggraini, saya Joni, satpam di rumah anda, ini Melly dan Tari yang akan melayani anda di rumah ini."


"Lalu?" tanyaku melirik pria satu lagi.


"Oh, dia Jill, pelayan khusus tuan Surya."


Aku mengangguk-angguk, "Makasih," ujarku padanya karena telah memperkenalkan masing-masing.


Surya mengajak masuk. Kuperhatikan sekeliling, mata ini mengitari seluruh ruangan.


"Besar sekali," gumamku.


"Nanti bikin anaknya yang banyak, sebelas gitu, biar bisa main bola di dalam rumah." Surya melirikku yang masih terpana.


"Ih, Sur-...." Baru aku akan mencubitnya, Jill dan dua orang pelayan wanita itu masuk. Mereka membungkuk dan langsung menuju ke belakang.


"Kamu ga bilang sama aku kalo beli rumah?" protesku.


"Ga jadi kejutan dong kalo aku bilang?"


Aku tersenyum. Kemudian berjalan kembali mengitari rumah.

__ADS_1


"Eh, Mama dan Papa tahu ga kita di sini?" Tiba-tiba aku ingat mertua.


"Ya tahu lah," jawabnya.


"Ga apa-apa kalo kita punya rumah sendiri?" tanyaku mengingat mereka pernah minta kami tinggal bersama mereka.


"Tenang aja, aku udah bilang. Lagian kita kan bisa mengunjungi mereka setiap waktu."


"Baiklah," ujarku tenang.


Aku melangkah memasuki ruang kamar yang mewah. Surya menutup pintunya.


"Kamu udah selesai?" tanya dia.


"Apanya?" Aku mengernyitkan dahi dengan pertanyaannya.


"Kan waktu itu kamu kedatangan si bulan?"


"Oh, udah." Kembali kuputar bola mataku.


Dia tersenyum senang akan mendekapku.


"Aku mandi dulu." Kudorong dia. "Oh iya, kan bajuku belum ada di sini?"


"Lihat dulu di lemari," ujarnya kesal.


Kubuka lemari dan ternyata bajuku semua telah tertata rapi di dalamnya.


Kapan ini semua pindahnya, hingga aku ga tahu.


***


Makan malam telah disiapkan oleh pelayan rumah. Rasanya memang biasa, ga seperti masakan Mama, tapi lumayanlah.


Ternyata berdua saja di rumah sepi juga.


"Sepi kan? Makanya buruan diramein," ujarnya seolah tahu apa yang ada di pikiranku.


"Diramein pake apa?"


"Bikin manusia kecil-kecil."


Aku tergelak membayangkan banyak bayi di rumah.


"Nanti kalo Mama-mama kita pengen gendong, kita bikin tiga ya?"


"Kok tiga?"


"Mamaku satu, mama kamu satu terus disisain di rumah ini satu."


"Enak aja, emangnya bikin cireng, pake dititip-titipin!" ujarku sewot.


Sekarang dia tertawa terbahak-bahak.


"Eh sayang, makasih ya?" kataku padanya.


"Untuk apa?"


"Kan udah kasih surprise ini, bener-bener bikin kaget."


Dia hanya tersenyum, "Eh, harus ada imbalannya," liriknya nakal.


"Jadi, ini ga gratis?" tanyaku.


"Pokoknya nanti kamu harus nurut sebagai imbalan semua ini," katanya lagi.


"Hmmmm ...."


Dia terbahak sepertinya menang akan sesuatu.


***


Malam ini dia benar-benar menagih imbalan, mengunci bibirku dengan bibirnya, lalu menelusuri kemana pun dia suka. Kemudian terjadilah apa yang belum terjadi di malam pertama kami.


Setelah itu, aku tertidur berselimut tebal dengan mendekapnya.

__ADS_1


__ADS_2