
Aku berpamitan, lalu meninggalkan mereka yang terdiam, saling berpandangan.
Di luar, Surya masih berdiri di depan rumah, menungguku, dia menunggu tanpa merokok, dia bukan seorang perokok. Aku belum pernah melihatnya merokok sekali pun sejak di bangku SMU dulu, meski teman-temannya berkumpul dan merokok.
"Udah? Kamu ga apa-apa?" Tanya Surya setelah melihatku.
"Iya, udah. Ga apa-apa, ya dia masih belum maafin aku."
"Ya udah, yang penting kamu ga diapa-apain."
Saat mau berjalan ke luar pagar, Denis berlari menyusul kami.
"Valeria, makasih ya?" Ujarnya padaku.
Aku mengangkat ibu jariku lalu masuk ke mobil.
"Kenapa sama Cantika? Kok dia ada di rumahnya Denis? Ga di kostnya?" Tanya Surya, karena yang aku ceritakan hanya soal Cantika sakit.
"Mungkin kelelahan, katanya sih udah tiga minggu ini dia setiap libur tidur di rumah itu," jawabku.
"Lha, orang tuanya ada di rumah?" Tanya Surya.
"Ayahnya udah meninggal, ibunya sendiri sakit-sakitan."
"Wah, mereka bisa melakukan hal-hal yang tidak senonoh," katanya tanpa menyadari masa lalu.
"Hmmm... Kayak kamu kan?"
"Eh, mm... Maaf ya, Val, untung waktu itu kamu ga hamil, waktu itu aku ga sampai kepikiran kalau kamu bisa hamil saking kalutnya."
Lanjutnya, "Kalau iya, mungkin kita ga bersama lagi seperti ini, mungkin kamu udah dinikahkan dengan orang lain."
"Ya udah, itu masa lalu kita, jangan sampai terulang lagi."
***
Sampai di rumah, Surya masuk dan duduk di ruang tamu, aku tidak akan bercerita dengan orang tuaku, biarlah nanti hasilnya Denis dan Cantika yang menjelaskan.
"Val, kamu udah pulang?" Mama melongok dari dapur.
"Udah, Ma. Mama masak apa, kok baunya harum?" Tanyaku.
"Masak bihun doang, kamu sama siapa, Val? Kok kayak ada tamu?"
"Surya, Ma," kataku sambil masuk ke kamar, meletakkan tasku.
Mama segera berjalan ke ruang tamu.
"Oh, Nak Surya, udah pulang juga?"
"Iya, Tante." Surya mengulurkan tangan, menyalami Mama.
Aku segera duduk di ruang tamu sebelum Mama bertanya pada Surya.
"Dari mana kok Nak Surya yang antar Val?" Tanya Mama.
__ADS_1
"Ini tadi dari-..."
"Bengkel, Ma. Tadi mobilku macet lagi," ujarku memotong perkataan Surya, sambil memberi kode agar dia diam.
"Oh, iya Val ini suka males kalo servis mobil. Jadi bolak-balik masuk bengkel mobilnya."
"Biasa kalau perenpuan, Tante," bela Surya.
"Eh, makan dulu, yuk? Mama masak bihun goreng," ajak Mama.
"Ga, Tante. Saya udah kenyang," kata Surya sambil menepuk perutnya.
"Ga boleh nolak rejeki, ayo, Val, sana ajak makan dulu," perintah Mama.
Aku menarik tangannya, "Ayo, suruh makan tuh."
Akhirnya dia beranjak dan mengikutiku. Kami berdua duduk di kursi makan. Bik Nah telah menyiapkan masakan di atas meja.
"Ayo, ambilin Val," Mama memarahiku karena membiarkan Surya.
"Iya," kataku merengut.
Surya menahan senyum, aku melotot padanya.
"Tante, ga ikut makan?" Tanya Surya pada Mama yang hanya duduk melihat kami berdua.
"Tadi masih kenyang nyicipin, udah dimakan."
"Ya, Tante."
Tanpa malu-malu lagi, dia makan di depan Mama. Aku mengunyah pelan, sambil tersenyum. Suasana ini ga pernah aku bayangkan sebelumnya.
Ketika selesai makan, Surya menyodorkan piring padaku dan menunjuk sayur.
"Apa? Kurang?" Tanyaku agak keras.
Dia menempelkan jari telunjuk pada mulutnya, sambil mengerutkan dahi. Aku mengambilkan lagi masakan Mama sambil menggelengkan kepala. Dia makan lagi dengan lahap.
Setelah selesai, kubereskan piring kotor lalu kembali ke ruang tamu.
"Eh, sayang, aku mau pulang, tapi masa habis makan pulang? Kayak kendurian aja?" Tanya dia.
Aku tergelak, "Ya ga apa-apa, apa mau nginep sini?" tawarku.
Dia berbinar, "Emang boleh?"
"Ya boleh lah, tapi aku tidur di rumah kamu," timpalku.
"Yee, sama aja dong tuker rumah," dengusnya.
"Ya udah, aku pulang dulu. Pamitin," katanya menyuruhku memanggilkan Mama.
"Ma, Surya mau pamit."
Mama tergopoh-gopoh berjalan ke ruang tamu, "Kok ga nanti pulangnya?"
__ADS_1
"Saya ada urusan di rumah, Tante," ujarnya.
"Oh, ya udah. Hati-hati ya Nak Surya di jalan."
"Ya, Tante, makasih Tante, sayurnya enak," ucapnya membuat Mama tersenyum senang.
Aku mengantarnya hingga ke mobil. Setelah dia berlalu, aku kembali masuk ke rumah, mengganti baju.
***
Keesokan harinya, Surya menjemputku dan mengantarku ke kantor. Kembali beraktivitas di kantor. Suasana kantor terlihat seperti biasa, aku pun menyelesaikan pekerjaan kantor di ruangan. Entah kenapa terasa membosankan. Ah, aku ingin mengajak para karyawan untuk sekedar berwisata, tapi ga bisa kalau sekarang. Haruslah ada perencanaan, pikirku bulan depan saja karena ini telah mau akhir bulan.
Aku mengadakan meeting lagi. Mereka spontan menyetujui rencana itu. Tujuan kami ke sebuah Candi yang terkenal di luar kota. Setelah itu mencari oleh-oleh. Keluarga boleh diikut sertakan.
Ketika aku sampaikan hal itu pada Surya, dia malah mengajak wisata gabungan, antara kantorku dan kantornya. Baiklah, bisa diatur. Kuminta Surya mengikuti rencana kami, karena dia belum pernah mengadakan wisata seperti ini.
Kriiiing... kriiing...
Sebuah panggilan di gawai membuatku terkejut. Ternyata Denis.
"Halo?" sambutku.
"Halo, Val. Maaf mengganggu waktumu, aku mau bilang kalau Cantika..." Kata-katanya terpotong.
"Kenapa, bilang aja," ujarku.
"Cantika hamil," katanya.
Benar tebakanku, aku curiga saat dia mengatakan bahwa Cantika telah tidur di rumahnya, tentang keadaan Cantika yang lemas tetapi dokter tidak mengatakan adanya penyakit apa pun, tambah lagi aku menanyakan hal itu pada apoteker.
"Val, Val?"
Aku tersentak dari lamunanku, "Eh, iya gimana Denis?"
"Aku harus gimana?" Tanya dia di seberang dengan nada kebingungan.
"Udah, kamu jagain dia dulu."
"Dia ngamuk, mau gugurin kandungan katanya, tapi aku berhasil menenangkannya," ujar Denis.
"Tolong dicegah ya Denis, dosa besar kalau gugurin kandungan," pintaku.
"Yang penting kalian bertanggung jawab, kalian harus menemui orang tuaku."
"Ya, mungkin itu jalan terbaik, Val."
" Secepatnya, sebelum kandungannya bertambah besar," saranku.
"Iya, Val. Makasih ya, ga ada yang bisa kuajak bicara selain kamu, Val,"
"Iya, Denis. Aku maklum. Oh ya, jangan lupa check dulu di dokter kandungan untuk mengetahui keadaan kandungannya," ujarku.
"Baik, Val."
Denis menutup teleponnya. Tinggal aku yang memikirkan mereka, udah kepalang basah, biar mereka bertanggung jawab. Ah kenapa semua jadi seperti ini? Kuletakkan gawai di dalam tasku. Semoga mereka mendapat jalan yang terbaik.
__ADS_1
*********
Readers makasih banyak yang telah mengikuti ceritaku dan mendukungnya via like, comment, vote... Sehat semua yaa...