Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 74


__ADS_3

Seminggu sepeninggal Papa, rumah terasa sepi. Aku dan Surya akan tinggal di sini menemani Mama untuk sementara waktu.


Saat gelap berubah menjadi terang, kami beraktivitas seperti biasa. Mama telah bangkit dengan kegiatan biasa, karena kucoba menghibur dan menyemangati dia.


"Yuk Nak, makan dulu, ajak Surya sekalian, mana dia?"


"Masih tidur, Ma." Kuambil piring akan mengisinya dengan sayur buatan Mama.


"Dibangunin dulu Surya, kamu ajak makan bareng. Kalian kan uda suami istri ...."


Iya juga, kadang aku masih lupa karena belum terbiasa mengajak makan suamiku itu.


"Eh, iya Ma."


Sebelum masuk, pintu kamar telah dibuka. Ternyata Surya udah bangun, mukanya cemberut.


"Kok aku ga dibangunin, udah siangan."


"Iya, maaf. Tadi kamu tidur nyenyak banget sih, jadi ga tega buat bangunin," jawabku santai.


"Ugh, besok pagi aku berangkat kerja. Inget, bangunin aku pagi-pagi. Jarak rumah Mama dengan kantorku cukup jauh."


"Iya, iya, bukannya kamu santai kerjanya, sayang?"


"Kalau aku santai, para karyawan juga akan santai. Ga bisa gitu dong!"


"Iya deh, terserah. Mandi dulu sana!"


"Ambilin handuk lah!"


"Hmmm ...."


Kuberikan handuk dari jemuran padanya.


Segera dia akan memasuki kamar mandi, tapi lebih dulu mendaratkan bibirnya di pipiku tepat saat Mama tiba-tiba muncul dari belakang.


Mama menahan senyum, melewati kami yang bengong dengan muka merah.


"Ih, ngapain sih pake cium-cium?"


Kucubit pinggangnya, membuat wajahnya meringis.


"Iya, maaf."


"Malu, kan jadinya," gumamku kesal.


"Hehe, Mama kan dulu pernah muda juga," katanya sambil mencolek daguku.


"Ugh ...."


***


Cantika berdiam di teras rumah, menunggui suaminya melayani pelanggan di hari Minggu ini.


Rasa ingin buang air kecil mendesaknya untuk segera ke kamar mandi. Setelah merasa lega, dia berniat kembali ke tempatnya semula, tapi ada air menetes di selangkangannya.


Ini apa? Apa benar kata orang, kalau buang air kecil saat kandungan makin besar seperti ga terasa?


Namun, dia ragu. Cairan ini bening, dan terus menetes. Merasa takut, dia berjalan cepat ke arah suaminya.


"Denis, ini kenapa ya?"


"Bentar ya, aku selesaikan satu pesanan dulu."


"Buruan, Denis. Aku takut!"


"Oke, oke. Ini mau selesai, tanggung."


Cantika menghela napas, duduk di samping Denis, menunggunya.


"Ini, Mbak. Makasih." Denis menyerahkan pesanan pelanggan.


"Kenapa?" Dia mendekati istrinya yang sedang gusar.


"Ada cairan bening seperti air kencing, tapi terus menetes Denis, apa ya?"


"Hah, sakit ga?"


"Ga sih, tapi takut kalo ada apa-apa."

__ADS_1


"Ya udah, yuk aku antar ke bidan biasanya, ya?"


"Iya," angguk Cantika.


Denis segera menutup kedainya, lalu mengeluarkan motor dari dalam rumah.


Jalanan sangat ramai saat itu, ketika tiba di tempat bidan, Cantika menyampaikan keluhannya.


"Waduh, ini baru 32 minggu, kok udah mau keluar, Dek?" katanya mengelus perut Cantika.


"Apa, Bu Bidan?"


"Iya, cairan itu adalah air ketuban yang pecah, harus segera ditangani, tetapi saya ga berani untuk membantu persalinan jika masih usia segitu. Mm ..., saya beri rujukan ke rumah sakit bersalin ya?"


Cantika memandang Denis yang juga terperanjat mendengarnya.


"Ya, Bu bidan, jalan yang terbaik saja. Kami ikut anjuran Ibu saja," kata Denis akhirnya.


Bu bidan mengangguk, lalu menuliskan rujukan ke rumah sakit bersalin.


Segera mereka melaju ke rumah sakit itu.


"Aku takut, Denis ...." kata Cantika di tengah jalan.


"Ga apa-apa, di rumah sakit itu dokter akan menanganinya, pokoknya jalan yang terbaik untuk menyelamatkan kalian."


Cantika hanya pasrah.


Sesampainya di rumah sakit, Denis langsung menuju ke pendaftaran.


"Mbak, istri saya mau melahirkan. Kata bidan, ketubannya udah pecah. Mohon untuk segera ditangani ya, Mbak?"


"Oh, ya Pak. Mohon maaf, setelah mengisi data ini, silakan masuk saja ke ruang bersalin."


"Makasih, Mbak."


Denis segera mengisi kertas yang disodorkan, lalu kedua pasangan itu segera masuk ke ruang bersalin.


"Mari, silakan berbaring di tempat tidur ya, Bu?" kata seorang perawat.


Cantika mengangguk, lalu menuruti perintah perawat itu.


"Ga ada, Mbak, tapi ketuban udah pecah. Apa ga apa-apa kandungannya, Mbak?" tanya Cantika kuatir.


"Nanti biar dilihat dokter ya, Bu? Ibu tenang saja."


"Baiklah." Cantika menghela napas.


Selang beberapa menit, dokter segera datang, memeriksa perut Cantika.


"Air ketubannya tinggal sedikit, kita harus melakukan operasi caesar untuk menjamin keselamatan bayi dan ibunya. Gimana?"


Cantika terlihat ragu, biaya operasi mahal. Apakah mereka sanggup membayarnya?


"Baik, apapun itu asal bayi dan ibunya bisa ditolong, saya akan usahakan." Denis langsung mengiyakan kata dokter.


"Oke. Tunggu sebentar. Saya siapkan dulu ruang operasinya."


Dokter itu segera menyuruh perawat untuk menyiapkan semuanya.


"Denis, bagaimana ini? Operasi itu ga sedikit biayanya?" Cantika mulai gusar.


"Udah, yang penting segera ditangani. Kamu tenang aja."


Dokter itu datang lagi, "Pak, silakan ditandatangani persetujuan operasi ini, anda suami ibu Cantika, kan?"


"Iya, Dokter." Segera Denis menandatangani kertas itu.


Sesaat kemudian, perawat datang membawa Cantika ke ruang operasi.


"Anda menunggu di luar ya, Pak?" kata salah satu perawat pada Denis.


"Baik, Mbak."


"Jangan kuatir Pak, kami pasti melakukan yang terbaik," ujar perawat itu menangkap kecemasan di raut muka Denis.


Denis hanya bisa mengangguk. Pasrah dalam doa.


"Sebaiknya, aku beri tahu Valeria," gumam Denis yang sedang bingung juga memikirkan apa yang harus dipersiapkan.

__ADS_1


***


Drrrrt ..., drrrrt ....


"Sayang, Denis menelepon."


Surya mengulurkan gawaiku, lalu berbincang dengan Mama.


Kuangkat panggilan dari Denis.


"Halo," sambutku.


"Val, mau kasih tahu aja, Cantika mau melahirkan hari ini."


"Lho, kok bisa Denis? Kan belum waktunya?"


"Iya, Val. Tadi pagi pecah ketuban, lalu bidan merujuk ke rumah sakit bersalin."


"Lalu, Cantika sekarang gimana??"


"Baru dioperasi, kata dokter harus ditindak bedah agar segera bisa keluar bayinya, karena air ketuban terus keluar padahal Cantika ga ada kontraksi."


"Oh, ya udah, kami siap-siap ke situ, kamu tunggu di situ ya?"


"Baik sekali mau datang, Val. Aku sungguh bingung apa yang harus kulakukan."


"Kamu tenang aja. Oh iya, apa kalian udah beli perlengkapan bayi?"


"Sebenarnya belum, karena ini di luar prediksi, Val."


"Ya udah, kamu tunggu di situ ya?"


"Makasih banyak ya, Val. Maaf selalu merepotkan."


"Ga repot, Denis."


Klik.


"Ma, Cantika mau lahiran. Sekarang baru dioperasi karena air ketuban pecah duluan, takut beresiko jika tidak dilakukan pembedahan. Sebaiknya kita ke sana sekarang, Ma."


"Berarti bayinya prematur ya, Nak?"


"Iya, Ma. Ya udah yuk, kasihan Denis. Bingung dia."


"Yuk,"


Surya mengambil kunci mobil, kami bersiap segera.


Sampai di tengah jalan,


"Sayang, nanti berhenti dulu di toko perlengkapan bayi itu ya?" pintaku pada Surya.


"Buat apa, Nak?" tanya Mama.


"Eh, Mama, mereka sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk bayinya, karena mendadak."


"Ya udah, buruan ya?" kata Mama.


Mama masih kecewa atas perilaku Cantika, tetapi pada saat seperti ini, seorang Ibu ga akan tega membiarkan anaknya dalam kesulitan.


Kami memborong beberapa baju, selimut, topi dan kaus kaki bayi.


"Pilih yang unisex aja ya, kita kan ga tau bayinya perempuan apa laki?" ujarku sambil mengambili baju bayi yang lucu-lucu.


"Terserah, eh sayang nanti kalo anak kita laki apa perempuan?" Surya mulai berandai-andai.


"Ya dikasih laki apa perempuan, sama aja kan?"


"Iya, ya sayang? Ah, kapan kita bikin?"


Mbak-mbak shopkeeper tersenyum-senyum mendengar Surya.


Aku melotot pada Surya yang innocent.


"Kenapa, emang?" tanyanya.


"Kamu ini, sehari bikin malu dua kali. Iihh .... Udah, ah, yuk bayar!"


Dia tergelak.

__ADS_1


Tanpa terasa tiga plastik besar berisi perlengkapan bayi telah berpindah ke tanganku. Kalap juga. Gimana nanti punya anak sendiri?


__ADS_2