Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 39


__ADS_3

Seminggu kemudian, Pak Dirga mulai bekerja, dan aku tidak bingung lagi mencari pengganti. Aktivitas perusahaan mulai lancar lagi.


***


Hari Sabtu ini Cantika pulang, dia terlihat tersenyum-senyum sambil sesekali melihat layar gawainya. Mungkin dia lagi chatting sama Surya, tapi masa sih, selama ini ga seperti itu hubungannya. Sedangkan Surya malah intens mengirim pesan padaku, tapi kadang ga aku balas, takut kebablasan. Apa Surya memanipulasi agar Cantika merasa senang hingga tidak mengetahui perasaan Surya padaku? Itu bukan seorang Surya kalau bermuka dua. Ah, bukan urusanku juga.


Hari Minggu Cantika minta ijin pergi, mungkin sama teman-temannya, dia sangat ceria, tidak seperti biasanya yang mukanya ditekuk. Ya, ikut seneng lah adikku sekarang ceria seperti itu, tapi dia jarang ngobrol denganku sekarang karena dia sangat sibuk.


"Cantika sekarang sibuk sekali, Val," ujar Mama saat mengiris wortel di dapur.


Bahkan Mama pun merasakan hal yang kurasa tentang Cantika.


"Emang kenapa, Ma?" tanyaku hanya ingin tahu alasan Mama berkata seperti itu.


"Dua minggu ini ga pulang. Tiap pulang pasti pergi dari pagi sampai sore."


"Hmmm, biasa kan, Ma. Waktu itu kan ketemuan sama temen-temennya, mungkin berlanjut, Ma."


"Mungkin juga, ya? Moga tetap jaga diri lah dianya," harap Mama.


Suatu saat aku akan menanyakan apa kegiatan Cantika, hingga waktu libur tinggal di rumah sebentar saja kok ya ga bisa.


Gawai Mama berdering, "Halo, nak," sambut Mama.


"Oh, ya. Hati-hati ya," jawab Mama lagi, lalu menutup panggilan.


"Cantika, Ma?" tanyaku.


"Iya, katanya mau langsung pulang kost habis main sama temennya tadi, sekalian nebeng temen," ujar mama menatapku.


"Ooh..." Aku hanya ber-oh ria.


***


Dua hari kemudian, saat jam istirahat, aku ijin keluar untuk membeli obat maag buat Papa. Setelah membeli di apotek yang ada di dekat pusat kota, aku tertarik pada sebuah soft opening restoran mie ramen. Pengen nyoba.


Akhirnya kubelokkan mobil di parkiran restoran itu lalu masuk dan memilih meja yang berada di sudut, kemudian memesan semangkuk mie ramen ekstra pedas dan segelas teh panas. Ketika menunggu pesanan, kulihat dua orang yang sangat aku kenal. Cantika dan Denis! Ngapain mereka? Mereka tidak menyadari keberadaanku karena posisiku tidak begitu terlihat dari meja mereka. Lagian, mereka memunggungiku.


Mereka kok mesra gitu ya? Denis seringkali mengelus rambut panjang Cantika, lalu Cantika mencubit pipi Denis dengan mesra, sesekali mereka melihat gawai Cantika bersama dan tertawa. Ah, aku harus gimana? Saking seriusnya, aku terkejut saat pelayan resto datang membawakan pesananku. Pelayan resto sampai tersenyum melihatku. Aku makan siang dengan tidak nyaman meski mie itu rasanya cukup enak.


Terpaksa aku menunggu mereka selesai makan, setelah selesai mereka beranjak dari tempatnya. Cantika menggandeng Denis dengan santai seperti mereka adalah pasangan kekasih. Apa ini yang mengubah Cantika? Denis pun terlihat sangat perhatian padanya.


Mereka berlalu, tinggal aku di sini yang terpaku, bingung karena menyaksikan semua itu. Menyadari bahwa jam istirahat telah usai, aku segera beranjak dan membayar makananku di kasir lalu pulang ke kantor.


***


Di rumah aku memikirkan tentang adikku itu, dia berselingkuh, tetapi aku ga sepenuhnya menyalahkan dia. Karena sikap Surya padanya tidak seperti kekasih pada umumnya. Juga aku tidak menyalahkan Surya, karena sebenarnya yang dia cintai bukan Cantika. Sebisanya aku menengahi mereka. Sedangkan Denis? Nah, apa dia tahu bahwa Cantika punya cowok?


Mau ga mau aku harus ikut menyelesaikan persoalan ini, tapi mulai dari mana? Mama pun belum tahu, aku yakin waktu itu Cantika pergi dengan Denis, lalu kembali ke kost bersama Denis juga. Dari mana mereka berkenalan? Oh iya, apa dari saat Denis menitipkan kunci gudang? Bisa jadi.


***


Keesokan harinya, Surya datang ke kantorku. Dia bermaksud meminta tanda tanganku atas laporan acara bakti sosial waktu itu.

__ADS_1


"Hai, ketemu lagi kita," ujarnya seperti ga punya masalah, atau memang ga tau.


"Hmm..." jawabku.


Aku ingin menanyakan tentang Cantika, "Cantika biasanya makan di mana kalau pas jam istirahat?" tanyaku tiba-tiba.


"Dia sering pergi, aku ga tau kemana," jawabnya seperti ga peduli.


"Masa kamu ga tahu, kan kamu cowoknya?" desakku.


"Ya kalau dia tiba-tiba pergi, masa aku tanyain, tanya juga sama siapa? Orang tiba-tiba menghilang gitu aja."


"Udah berapa lama dia keluar makan siang gitu?" kejarku lagi.


"Aku tahunya waktu itu habis aku pulang dari Jerman," ujarnya seperti tanpa beban.


"Kenapa ga kamu tanya sama siapa perginya, kalau ada apa-apa gimana?"


"Ya kan udah gede, ngapain pakai ditanya-tanya."


Ih, santai banget jawabannya. Kalau aku sampaikan sekarang, dia malah mutusin Cantika tanpa bukti. Gimana ya?


"Kenapa sih?" tanyanya melihatku gusar.


"Cuma tanya aja," jawabku kemudian.


"Kapan-kapan, kita makan siang bareng, ya?" ajakku asal.


Dia membelalak seolah ga percaya, "Apa? Apa? Ulangi?" sambil mendekatkan telinganya ke arahku.


Dia menjentikkan jarinya belagu, "Kecil, mah nraktir kamu, palingan sea food."


Ga tau aja maksudku, "Ya pokoknya tiap makan siang di mana gitu kamu yang bayar,"


"Gajiku semua buat kamu aja aku ikhlas."


Aku mencibir, "Gombal."


Baiklah, jika Cantika menyukai Denis atau Surya, dia harus memilih salah satu dari mereka.


***


Hari berikutnya, aku menelepon Surya untuk memastikan dia akan makan siang bersamaku,


"Halo," ujarnya, cepat sekali mengangkat telepon.


"Jadi, kan nanti?" tanyaku tentang makan siang.


"Ya iyalah," jawabnya.


Aku menutup panggilan itu, lalu tinggal nanti menunggunya waktu siang tiba.


Dia tiba di kantorku satu jam sebelum jam istirahat, aku menepok jidat.

__ADS_1


"Kan belum jam istirahat??" tanyaku.


"Keburu kamunya berubah pikiran," katanya sambil senyum-senyum.


"Ya udah, kamu tunggu di kursi tamu, aku mau menyelesaikan kerjaan dulu, ga apa-apa, kan?"


"Santai aja, kayak sama siapa," ujarnya sambil duduk di sofa dan membaca koran.


Jam istirahat tiba, kami segera turun ke parkiran.


"Pakai mobil kantor aja, ya? pintaku sambil menunjuk ke mobil kantorku.


"Kenapa? Eh, baiklah, nurut aja dari pada berubah pikiran gara-gara mobil."


"Hmmm... Emang aku pernah berub-..." Dia membukakan pintu dan mendorongku masuk ke mobil.


Iiiiih, nyebelin kan?


"Ngapain tadi dorong-dorong?" tanyaku kesal.


"Nanti kalau berdebat, waktu makan siang keburu habis," ujarnya sambil memasang seat belt.


Iya juga yah?


Aku mengangguk-angguk setuju, "Ya udah, ayo jalan."


"Mau kemana kita?" Aku jadi teringat salah satu film kartun anak kecil dengan peta dan ranselnya.


"Nyari," jawabku singkat.


"Nyari apaan?" katanya sambil menyetir mobil keluar dari parkiran.


"Ya nyari tempat buat makan lah, masa nyari kodok?"


"Ih, ngegas..."


"Ah, udah buruan,"


"Iya, iya, iyaa...." jawabnya dan melajukan mobil ke jalan dengan kecepatan sedang.


**********


Readers, kira-kira ketemu ga ya? Pantengin terus yah ceritanya. Jangan lupa support yah


• LIKE


• RATE 5


• VOTE


• COMMENT YANG MEMBANGUN


Makasih guys....

__ADS_1


Denis



__ADS_2