Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 56


__ADS_3

Sementara itu di sebuah rumah yang masih menyisakan kedukaan bagi pemiliknya,


"Kamu masih mual?" tanya Denis pada Cantika.


"Masih," ujarnya singkat.


"Besok aku antar check ke dokter ya?"


"Ga usah, kata Mama ga apa-apa."


Cantika memilin bajunya, mengalihkan pikirannya. Kembali rasa mual itu menghampiri, dia melangkah cepat menuju ke wastafel tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.


"Kemarin kamu minum obat-obatan ga jelas, kamu dapat dari mana?" tanya Denis setelah Cantika duduk lagi di tempat semula.


"Ga usah nanya, yang pasti aku ga mau seperti ini, aku..." Sepertinya kalimat itu tercekat, tak sanggup, atau malas melanjutkan kalimatnya. Yang jelas, ada rasa sesal tersirat dari kata-katanya, menyesali hidupnya.


"Semua udah terjadi, sekarang kita benahi kesalahan kita dengan merawat anak ini sebaik mungkin. Sekarang ibuku sudah tiada, dia di Surga pasti senang bila kita bisa merawat anak kita dengan baik." Denis mencoba meluluhkan hati Cantika.


"Aku malu, keluargaku, teman-temanku semua sukses, kenapa aku harus terikat seperti ini??" Air matanya menetes. Dia mengusapnya dengan cepat, malah seperti menampar dirinya sendiri.


Dia tidak pernah membayangkan akan merawat bayinya sendiri, karena impiannya adalah menjadi istri seorang suami yang kaya raya dan dia tidak perlu menggendong sendiri anaknya karena ada baby sitter yang mendorongkan stroller bayinya. Sedangkan sekarang ini, untuk membeli sebuah stroller yang baru saja mungkin tidak sanggup.


Denis mendesah. Tak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan untuk melegakan seorang Cantika. Terbersit keinginan untuk berpisah, tetapi dia lebih memikirkan bayi yang ada di perut Cantika.

__ADS_1


Bagi Denis, seorang anak adalah titipan Tuhan yang harus dijaga. Meski seperti apapun nantinya, dia akan berusaha agar dia selalu berada di samping anaknya, berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan anaknya, agar anaknya tidak merasa kecil hati melihat pertengkaran kedua orang tuanya.


"Kamu tahu Denis, dulu apa yang aku minta selalu Mama dan Papa kabulkan, meski aku ga punya prestasi seperti kakakku," tuturnya tanpa memikirkan hati suaminya.


"Sekarang tiba-tiba aku harus ikut memikirkan hutangmu," sesalnya.


"Maaf Cantika, bulan kemarin kamu tahu kan, ibu bolak-balik ke rumah sakit. Aku butuh biaya banyak karenanya. Bahkan ketika kamu tidur di sini, aku baru saja pulang dari rumah sakit kan?" jelasnya baik-baik mencoba memberi pengertian pada istrinya.


Cantika kembali terdiam. Entah mengerti atau entah menyesal, dia kembali menunduk dan memilin bajunya. Dia telah lelah meronta seperti kemarin awal pernikahannya, karena Denis menanggapi amukannya dengan sabar. Di samping itu Denis juga menjaga ibunya agar tidak mendengar amukan Cantika, tetapi ditutupi pun, seorang Ibu mampu mengetahui keadaan anaknya, walau dia tidak bisa mengucap kata-kata.


"Baiklah, sekarang jika bayi ini lahir, apa kamu bisa memberi nafkah cukup padaku?" tantangnya.


Denis mengepalkan tangan ingin menghantam apa saja di depannya, tetapi dia masih bersabar, terasa sesak bergemuruh di dadanya mendengar kalimat yang terasa melecehkan seorang pria, tetapi mengingat ada nyawa di perut istrinya, dia urungkan emosinya.


Mereka dengan rela saling menyerahkan kegadisan dan keperjakaan masing-masing. Tidak ada paksaan. Hanya saja, Cantika tidak berpikir jauh tentang kehamilan. Yang ada saat itu hanyalah siapa yang bisa membuatnya senang.


"Kamu masih mencintai Surya?" tanya Denis tiba-tiba, terdesak oleh kekesalan di hatinya yang kemudian membuat kalimat itu meluncur dari mulutnya tanpa direncana.


Cantika tersentak sesaat. Bayangan tentang kemewahan dan kehormatan untuk dapat dibanggakan kepada kedua orang tuanya, untuk dapat menyenangkan dirinya sendiri dengan gelimang harta tanpa harus berupaya keras dalam mewujudkannya, terlintas begitu saja saat mendengar nama Surya.


Dia ingin mengucap iya, walaupun dia tidak mengerti yang dia cintai apa tentang Surya, tetapi hanya gelengan kepala yang muncul di hadapan Denis.


Cantika sendiri telah kecewa, dia terlampau tinggi berharap, tetapi nyatanya harapan itu punah. Apalagi seorang kakak yang dia cemburui dengan mudah mendapatkan apa yang Cantika impikan.

__ADS_1


"Kamu mencintaiku?" tanya Denis lagi, menanyakan apakah Cantika sependapat dengan hatinya, walaupun sikapnya seperti itu.


Cantika mendesah pelan, "Ya."


Bagi Cantika, jawaban itu serasa hanya ingin bertujuan untuk membungkam mulut Denis agar tidak bertanya macam-macam lagi, tetapi bagi Denis, cukup untuk membuatnya bertahan dalam rumah tangga yang entah bagaimana akan dia bangun.


Masih terbayang dalam pikiran Cantika, ketika dia diajak jalan oleh Surya ke semua toko yang menjual barang-barang brand ternama di pusat kota, saat itu dia bebas memilih apa yang dia mau. Jam bernilai jutaan itu pun masih melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia mengelus jam tangan itu. Masihkah gengsinya terjaga ketika hanya membonceng sebuah sepeda motor saat memakai jam itu?


Jika saja dia tidak gegabah, pasti tidak akan seperti ini, tetapi bertahan dengan kekalutan saat menunggu kepastian seorang Surya pun membuatnya bosan. Kebosanan itu membutuhkan hiburan dan hiburan yang dia dapat ternyata menyesatkan.


Cantika merebahkan diri di tempat tidurnya. Menutup mata, melupakan kesusahannya.


Denis kembali ke ruang tamu, membuka kembali catatan hutang-hutangnya. Apakah dia akan berhutang lagi, sementara gajinya belum juga turun dengan utuh?


Sejenak dia berpikir. Lalu teringat akan ibunya. Segera dia membuka lemari mendiang ibunya, kemudian dia menemukan sebuah cincin emas di dalam kotak. Dia mempertimbangkan lagi matang-matang. Akhirnya, keputusannya bulat untuk menjual cincin itu.


"Maaf Ibu, aku sangat membutuhkannya," gumam Denis seolah Ibunya masih berada di sampingnya.


Denis menggenggam cincin itu, menyimpannya dalam dompet agar esok bisa dia tukar dengan rupiah. Bukan untuk melunasi hutang. Tentu saja nominalnya masih kurang banyak jika hanya untuk membayar hutang, tetapi ada rencana lain untuk usaha sampingan. Tekad Denis bulat.


***


Esoknya, Denis berangkat kerja dengan mencium kening istrinya yang masih tertidur pulas, meninggalkan selembar uang lima puluh ribuan agar digunakan istrinya untuk membeli makan di warung sebelah, karena Cantika tidak bisa memasak.

__ADS_1


Dia membawa serta cincin mendiang Ibunya. Siangnya dia menjual cincin itu meski dengan berat hati. Kini, berlembar uang merah ada dalam genggamannya.


__ADS_2