
Setelah makan pagi, kami semua menuju ke pintu masuk candi, banyak antrian di loket. Jumlah peserta wisata kami pun sekitar sembilan puluhan orang.
Masuk ke pelataran Candi, semua menyebar ke sana kemari, ada seorang guide yang menemani kami. Aku lebih suka melihat relief-relief candi, guide menjelaskan cerita di balik pahatan-pahatan itu. Tak habis kekagumanku pada candi yang konon dibuat oleh leluhur menggunakan perekat alami.
Setelah berjam-jam lamanya, kami turun dari Candi itu. Hellen melewati kami, "Kalau pacaran di candi, bisa putus lho, Pak."
Surya mengernyitkan dahi, "Hmmm... Tergantung niatnya apa, kita kan niatnya mau belajar sejarah candi di sini, bukan mengotori dengan perilaku buruk," belanya sambil merangkulku.
Terdiamnya Hellen membuatku tersenyum, sepertinya dia makin membenciku.
Puas berkeliling, kami pun kembali ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke toko oleh-oleh. Di sana, kulihat lagi Hellen mengambil banyak belanjaan. Sementara aku dan Surya hanya mengambil seperlunya saja.
Kami naik bus lagi menuju perjalanan pulang. Kami semua terlihat puas dan senang.
"Makasih ya, sayang. Karena idemu ini, karyawanku juga ikut senang."
"Makanya, kalau karyawan senang, mereka akan bekerja dengan senang pula," ujarku.
***
Esok paginya kami tiba di Jakarta. Setelah bus sampai di kantor, Surya mengantarku pulang, berpamitan dengan Mama, lalu pulang ke rumahnya. Hari itu, kantor kami libur. Aku ingin beristirahat karena seharian kemarin lelah berjalan mengitari candi.
Sambil beristirahat kubuka koran lama milik Papa, entah kenapa mataku tertarik pada berita kecelakaan, biasanya aku tidak suka membaca berita tentang itu. Dalam berita itu, disebutkan sebuah mobil menabrak pengendara motor hingga kritis di jalan yang biasa aku lalui, penabraknya seorang perempuan bernama Cintya H.(26).
Mama memanggilku, kututup koran itu, lalu masuk mendekati Mama.
"Kenapa, Ma?" Tanyaku.
"Ini oleh-oleh buat Bik Nah yang mana, Nak? Ada dua plastik di sini, takutnya keliru." Tanya Mama.
"Yang kiri, Ma."
Kriiiing... Kring...
Surya menelepon.
"Halo, sayang. Minggu ini Papa dan Mamaku mau datang, bisa ga, ya?" Tanyanya memastikan.
"Bisa, nanti aku bilang Papa dan Mama ya?" Seperti ingin bersorak aku langsung mengiyakan.
Pasti Papa dan Mama juga setuju menerima kedatangan mereka.
__ADS_1
"Ok, semoga ga ada halangan, ya?"
"Iya," jawabku mengamini.
Setelah kuakhiri teleponnya, aku langsung menyampaikan berita baik ini pada Papa dan Mama. Mereka menyambut dengan baik kabar itu.
***
Pagi-pagi benar aku berangkat ke kantor. Sesampainya di kantor, para karyawan menyambutku gembira. Mereka terkesan dengan acara kemarin. Kuharap mereka semakin bersemangat kerja.
Surya mengajakku makan siang. Dia menjemputku di kantor. Sekarang semua karyawan telah mengetahui hubungan kami. Ketika Surya datang, mereka pun hafal jika dia langsung menuju ke ruanganku.
Kami masuk mobil, lalu mobil melaju menuju ke rumah makan melewati rumah sakit. Di depan rumah sakit, tak sengaja aku melihat seseorang yang tidak asing, Hellen! Dia terlihat berbicara serius dengan seorang laki-laki muda berkacamata, lalu masuk ke rumah sakit.
"Surya, itu kan Hellen?" Tanyaku cepat-cepat.
"Iya, ngapain dia di sana?" Tanya Surya keheranan.
Aku mengendikkan bahu, "Dia itu kalau sama kamu ganjen," ujarku bersungut-sungut.
"Nah, kamu ngerasain kan? Aku kemarin bilang kesal sama sikapnya, kamu bilang suruh sabar sama orang baru. Ya itu dia kayak gitu."
"Kemarin bilangnya aku suruh sabar ngajarin dia, hayo siapa yang bilang gitu?" Tanya dia, membuatku menyesal menyuruhnya sabar pada karyawan baru.
"Bisa ga si Hellen itu dikasih peringatan tentang bajunya saat kerja?"
Surya menatapku, "Oooh, kamu cemburu, sayang?" Dia tergelak.
"Bukan, tapi ga sopan aja si Hellen itu dengan baju yang terbuka macam itu kemarin."
"Jadi karena itu kamu marah?" godanya.
"Hmmm..." Aku hanya berdehem.
"Iya, besok Hellen aku suruh pakai mukena," candanya.
Aku terbelalak, dia tertawa.
"Bukan gitu, maksudku bajunya yang sopan, ah..."
"Iya, becanda, baru kali itu dia pakai baju seperti itu sayang, kemarin aku udah memperingatkannya, lalu dia udah memperbaiki penampilannya kok, lagian lihat perempuan mana pun dengan baju apa pun, aku ga akan berpaling dari kamu," katanya meyakinkan aku.
__ADS_1
Sesudah makan siang, Surya teringat sesuatu.
"Nanti mampir dulu ke kantorku ya, sayang," pintanya.
"Kenapa?"
"Mau ambil berkas proposal yang kemarin, kan itu belum aku kembalikan sama kamu, kali aja buat laporan."
"Emang iya, ya udah nanti aku ikut, tapi nanti anterin pulang ke kantor," ucapku merajuk.
"Iya, masa sih aku suruh jalan kaki?"
Aku tersenyum, kami menuju ke kantornya. Sekarang semua karyawan mengetahui aku, mereka tersenyum padaku, tetapi masih segan pada Surya.
Tak kulihat Hellen di mana pun. Ketika akan masuk ke ruangan Surya, tiba-tiba seorang bawahan terburu-buru mendekati Surya.
"Pak Surya, mohon maaf sebelumnya. Ada sesuatu di bagian keuangan. Tolong, Bapak ke sana."
Bawahan Surya yang kuketahui namanya Dani di name-tag, terlihat pucat pasi. Surya menyuruhku menunggu di ruangannya, lalu segera berlari ke bagian keuangan.
Aku sebenarnya ingin ikut melihat ke sana karena penasaran ada apa, tapi lebih baik di sini, biar Surya leluasa melihatnya.
Setelah 30 menit, Surya kembali ke ruangan.
"Ada pencurian, sebuah laptop dan sejumlah gaji karyawan dicuri, pencurinya berhasil menghindari CCTV. Dia tahu benar posisi yang aman untuk mengambil barang-barang itu." kata Surya yang terlihat marah.
"Lalu gimana?"
"Harus memperketat keamanan, yang ketahuan dicuri baru laptop dan uang. Aku telah menghubungi polisi untuk penyidikan. Juga kusuruh satpam agar mengawasi di dalam ruangan. Selama ini mereka lengah."
Aku hanya terdiam, ikut prihatin.
"Kamu aku antar pulang dulu, ini proposalnya."
"Tapi gimana dengan kasus itu?" Tanyaku.
"Biar jadi pelajaran mereka, juga aku. Selama ini aman-aman saja, tetapi saat ini baru kecolongan. Hari ini aku adakan rapat darurat."
Surya mengantarku pulang ke kantor, lalu dia segera kembali lagi ke kantornya.
Aku jadi ikut berpikir, apa pencuri itu masuk ke kantor Surya ketika kami berwisata kemarin? Aku jadi merasa bersalah.
__ADS_1