Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 64


__ADS_3

Kemudian setelah drama dari yang namanya Doni, keluarlah seorang perempuan seusia Cantika.


Dia ga kalah nyentrik, penampilannya begitu glamour. Dengan kalung emas panjang yang sepertinya hanya cocok dipakai ibu-ibu, dan gelang panjang di tangannya. Rambutnya dicat berwarna-warni, memakai kacamata hitam. Di rumah? Iya, aneh. Dia melewati kami seolah memang ingin melihatku dan aku tahu maksud kacamata hitamnya untuk menutupi mata saat melihatku. Lalu kembali lagi setelah mengambil sesuatu dari mobilnya. Sepertinya ini anak Tante Elisa juga.


Mata Bu Anggraini membuntuti gerak-geriknya dengan kesal. Sedangkan Surya masih bersikap dingin.


"Mm... Saya pamit pulang dulu ya, Ma?" pamitku pada Bu Anggraini setelah merasa ga nyaman dengan sikap si Doni dan cewek itu. Aku melirik pada Surya yang langsung melihatku saat mengatakan pamit tanpa persetujuannya.


Lama-lama di sini, Surya bisa naik pitam. Mendingan, aku yang mengalah pulang.


"Oh, cepat sekali. Ga makan dulu?"


Bu Anggraini terkejut mendengar keinginanku untuk pulang.


"Ga, Ma." Aku menggeleng.


"Kalau gitu, aku antar pulang, mampir dulu ya ke rumah makan?" tawar Surya.


"Ya," jawabku karena memang perutku keroncongan minta diisi.


Kucium tangan Bu Anggraini, kemudian masuk ke mobil Surya.


Sambil menjalankan mobil, dia bertanya padaku tentang sikap dua orang nyentrik itu.


"Kamu ga nyaman sama kelakuan si Doni sama Dinda?"


"Iya, kenapa sih mereka caper banget."


"Tauk, tuh. Kamu ga usah deket-deket Doni loh sayang!"


"Siapa juga yang mau deketin??"


"Kayaknya dia cari perhatian sama kamu. Awas aja berani menyentuh kamu, aku kasih bogem dia!" geram Surya.


"Iya, ga akan. Eh, makan di situ aja," ujarku menunjuk rumah makan seafood di pinggir jalan.


"Seafood lagi... Kamu ga takut kolesterol?" tanya Surya meski menurutiku juga.


"Ga."


Perutku udah kepalang kosong, jadi ga peduli dengan hitungan kolesterol.


Surya menggelengkan kepalanya.


Kami masuk, dan memesan banyak sekali makanan seperti biasa.


"Kamu ga takut kolesterol?" Kubalik bertanya padanya.


Dia menggeleng dan terkekeh.


"Ugh, dasar."


Tiba-tiba Bu Magda meneleponku.


"Halo, gimana Bu?"

__ADS_1


"Halo, Val. Bisa ke Jerman besok? Semingguan aja."


What??? Aku mendengus kesal.


"Ya, Bu." Hanya itu yang bisa aku jawab meski tulang-tulangku lemas.


"Kenapa?" tanya Surya saat telepon telah ditutup.


"Bu Magda minta aku ke sana besok selama seminggu."


"Ya udah, kamu udah bilang mau, kan? Aku ikut."


Aku membelalak. Dia mengeluarkan gawainya dan entah mengetik apa.


"Fix. Besok tiket pesawat udah aku pesan."


Ya ampun, tepok jidat.


***


Jadilah keesokan harinya kami berangkat ke Jerman.


Sesampainya di apartemen, Surya merebahkan diri di tempat tidur.


"Nanti kamu tidur di kamar sebelah loh,"


"Kenapa?" Dia protes.


"Ya kan belum suami istri, kalau mau tidur di sini, kamu tidur di sofa."


"Cih, lihat kok nutup mata."


Terdengar suara dengkurannya saat aku menata tas di samping tempat tidur. Cepet amat.


Akhirnya aku sendiri yang membersihkan ruangan ini, hingga tertidur di sofa.


Seseorang mencium bibirku ketika aku tidur.


Hoaaaammmm... Aku menggeliat lalu memunggunginya.


"Val..."


"Hmm..."


"Val..."


"Apa sih?"


Tiba-tiba dia menggendongku dan meletakkanku di tempat tidur.


"Eh, kenapa?"


Dia berada di atasku dan mencium bibirku, kudorong dia sambil menggerutu, "Udah dibilangin..."


Surya duduk di sampingku, "Kan aku hanya kasihan sama kamu tidur di sofa."

__ADS_1


"Hmmmm... Trus ngapain pakai cium-cium segala?"


"Adik kecil berdiri," rengeknya.


"Uggghhh... Mandi sana!" Kulempar handuk ke arahnya.


Ditangkapnya handuk itu sambil menggerutu, tapi masuk juga ke kamar mandi.


Biar deh!


Pagi harinya, aku berangkat ke kantor Bu Magda. Ternyata, dia hanya ingin menginterogasiku tentang pernikahan. Semua karyawan mendesaknya agar menanyaiku dan mereka akan bersiap untuk datang.


Ah, aku jadi terharu.


"Undangan besok saya kirim aja, Bu."


"Oke, Val. Jadi rencananya jelas, kami akan berangkat kapan, lalu menyewa hotel juga jelas kapan-kapannya."


Aku mengangguk, membayangkan sekitar empatpuluhan orang akan datang dari Jerman hanya untuk ikut memberi restu pada pernikahan kami.


"Lalu, saya berangkat kerja ga, Bu?" Kuingat tiket yang dipesan Surya untuk pulang seminggu lagi.


"Boleh kalau berangkat, kalau mau refreshing juga boleh," kata Bu Magda mengerlingkan mata.


Aku mendesah pelan. Ya udah, emang seorang pemilik perusahaan itu bebas.


"Baik, Bu." Akhirnya hanya kata itu yang keluar dari mulutku meski pikiran protes karena banyak hal yang mesti dikerjakan di kantor cabang.


Aku pulang ke apartemen menemukan Surya telah menyiapkan masakan untukku. Teringat saat dulu dia pernah di sini, menemaniku. Ternyata dia ga berubah.


"Dari mana dapet sayurannya?" Aku heran.


"Belanja dong, kan ada taksi."


"Ohh, pinter."


"Sayang, sebenarnya aku ga setuju sama permintaan Mama kalau suruh tinggal bersamanya." Surya menaruh sayur dan nasi di piringku.


"Trus?" Aku menyendokkan nasi dan sayur ke mulutku. Asin.


"Ya kita bikin rumah sendiri dong," katanya.


"Emang kenapa kalau jadi satu sama Papa dan Mama?" Aku menghabiskan segelas air putih setelah menelan sesendok sayur asin itu.


"Ya, nanti ga jadi-jadi anaknya." Dia mengunyah sesuap nasi dan sayur.


"Eh, kok keasinan ya??" Cepat-cepat dia memuntahkan kunyahannya di kamar mandi.


"Kamu ga ngerasa keasinan??" tanyanya heran.


"Ya asin sih, tapi kan kasihan kamu masaknya," ujarku berhenti makan.


"Ya udah, makan di luar aja yuk, ayoo..." ajaknya merengek.


Sepertinya dia rindu kota ini. Ya udah, aku mengiyakan saja permintaannya.

__ADS_1


__ADS_2