Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 42


__ADS_3

Tiba di rumah, aku melihat Papa dan Mama sedang menonton televisi kesukaan mereka, sesekali terdengar tawa mereka melihat candaan di tayangan itu. Mereka belum mengetahui kemelut yang terjadi antara aku dan Cantika. Saat ini hanya diam yang bisa kulakukan, semoga waktu menjawab semua ini.


***


Hari Minggu tiba, aku malah kepikiran pada Cantika dan Denis, apa mereka berbaikan atau malah sebaliknya, lalu bagaimana besok Cantika di tempat kerjanya? Semua itu berputar saja di pikiranku, membuat nafsu makanku berkurang.


Mama seolah melihat keganjilan itu. Biasanya di hari Minggu aku suka menghabiskan waktu di dapur lalu ngobrol dengannya, tetapi kali ini aku hanya berdiam di kamar, tanpa merasa lapar. Biasa lah, Mama kemudian menbujuk agar aku keluar untuk mengetahui keadaanku.


Tok... Tok... Tok...


"Val, makan dulu," suruh Mama dari luar pintu kamarku.


"Nanti aja, Ma. Val belum lapar."


"Nanti kamu sakit lho," ujar Mama.


"Ya, nanti Val makan,"


"Bener, ya? Mama tunggu lho," bujuk Mama lagi.


"Iya," jawabku.


Aku keluar dari kamar, mencoba tersenyum pada Mama dan Papa. Mereka telah berkumpul di tempat makan saat aku keluar dari kamar.


"Nah, gitu dong, masa seharian kok belum makan," kata Papa.


Aku hanya tersenyum lalu berkumpul dengan mereka di meja makan mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan sayur yang sejak tadi disiapkan oleh Mama dan Bik Nah. Kusendokkan ke mulutku dengan kunyahan cepat seakan lupa dengan rasa makanan karena pikiran yang berputar di otakku, tapi di depan Papa dan Mama berusaha agar terlihat baik-baik saja.


Selama makan, tidak banyak kata yang terucap dari mulutku, sejujurnya aku ingin terbuka, tetapi ini bukan masalahku saja, jadi aku tidak bisa menjelaskan sepihak.


"Val, kamu ga pengen nyoba bikin resep baru?" tanya Mama memancingku untuk bicara.


"Ga, Ma."


"Oh, ya udah. Padahal kemarin kamu mendownload banyak resep kan?" kembali Mama mencoba membuatku mengobrol dengannya.


"Besok kalau Val lagi ga banyak kerjaan, pasti akan nyoba resep-resep itu," ujarku membuat Mama mengangguk-angguk dan memahami kesibukanku.


Piring-piring kotor kubersihkan seperti biasa. Saat tangan masih dalam keadaan basah, gawaiku berbunyi. Sepertinya telepon dari seseorang, dengan tergopoh-gopoh aku mengeringkan tangan lalu beranjak menuju ke kamar, mengambil gawai. Mataku tertuju pada nama Si Jahat di layar gawai.


"Halo," sambutku mengangkat teleponnya.


"Aku ada di depan rumah," ujarnya mengagetkanku.


Kututup teleponnya, meski bingung, cepat-cepat kuletakkan gawai di atas meja, lalu mengganti daster rumahanku dengan t-shirt dan celana panjang hitam yang tergantung pada hanger di tembok kamar. Dengan perasaan tak menentu, jantungku berdebar dengan apa yang akan terjadi di rumah ini. Aku sungguh tak tahu bahwa Surya akan datang, dia tidak memberi tahuku sebelumnya.

__ADS_1


Segera kulangkahkan kaki ke pintu depan, membukanya dengan perasaan berdebar-debar, mengindikasikan kecemasan akan sesuatu. Aku tahu bahwa dia sengaja tidak mengetuk pintu agar aku yang membukakan pintu untuknya. Kuraih gagang pintu, membukanya pelan dan sosoknya telah ada di depanku. Dengan raut kebingungan, aku menatapnya.


"Ngapain?" tanyaku setengah berbisik.


"Mau ketemu Papa sama Mama kamu aja," ujarnya tak kalah pelan.


Bola mataku ke kanan lalu ke kiri mencari sesuatu di luar rumah, "Mana mobilmu?"


"Di depan gang," ujarnya.


"Ya udah, yuk masuk," ajakku meski ga tahu apa rencananya kali ini.


Kupersilahkan dia duduk di kursi tamu, lalu aku melangkah masuk untuk memanggil Papa dan Mama yang sedang berada di belakang dapur.


Sesaat aku berhenti di depan dapur, menarik nafas panjang lalu menghembuskannya pelan-pelan, menenangkan hati sebentar. Kulanjutkan langkahku menuju mereka berada.


"Pa, Ma, ada Surya di depan," ujarku memberi tahu mereka dengan berusaha sesantai mungkin.


"Oh, Surya, ada apa ya, lha Cantika aja ga pulang kok," kata Papa sambil melipat koran yang sedang dia baca.


Mama pun meletakkan kain yang sedang dijahitnya menggunakan jarum, di atas meja, mengangguk pada Papa seolah menyetujui apa yang dikatakan oleh Papa.


"Mmm... Ka...katanya mau ketemu sama Papa dan Mama," ucapku terbata-bata karena gugup mendengar nama Cantika.


Mereka berjalan menuju ke ruang tamu, aku mengekori mereka dengan jantung yang berdegup kencang seperti akan ada yang terjadi padaku setelah ini. Sepetak rumah berukuran 175 meter persegi itu, membuat langkah terasa cepat sampai ke ruang tamu. Tak ada waktu lagi berkompromi dengan jantungku agar dia tidak terlalu kencang berdegup.


Melihat Papa dan Mamaku, Surya sontak berdiri dan menyalami mereka, lalu duduk kembali dengan sopan, menatapku sebentar agar aku ikut duduk di situ.


Setelah kami semua duduk, Surya berbasa-basi menanyakan keadaan Papa dan Mama.


"Om dan Tante, sehat-sehat kan?" tanya Surya sambil mencondongkan badan ke depan, lalu mempertemukan kedua telapak tanganya.


"Iya, Nak Surya. Kami sehat. Kamu sendiri, apa kabarnya? Lama juga ga main ke sini," tanya Mama.


"Saya baik, Tante."


Bik Nah keluar dengan membawa nampan berisi minuman dan beberapa cemilan. Membuat suasana diam sebentar, menunggunya selesai menaruh isi nampan itu di atas meja.


"Monggo," ujar Bik Nah sambil memohon diri.


"Makasih, Bik," ucap Mama.


Setelah Bik Nah berlalu, Mama mempersilahkan Surya untuk minum dan menyantap cemilan yang telah ada di meja.


"Silahkan diminum dan dimakan, Nak Surya," kata Mama.

__ADS_1


"Ya, Tante," Surya mengambil cangkir putih bergambar bunga, lalu meneguknya perlahan.


Aku masih tertunduk, Papa dan Mama mengikuti Surya untuk minum, Mama menyenggolku, "Kamu ga minum juga, Val?"


Aku menggeleng pelan, tapi kemudian mengambil cangkirku dan ikut minum.


Setelah semua meletakkan cangkirnya, Surya membuka percakapan.


"Begini Om dan Tante, saya ke sini berniat menjelaskan sesuatu," kata Surya, mengundang degup jantungku kembali.


Papa dan Mama mendengarkan dengan benar, mereka sepertinya merasa ini hal serius yang harus dibicarakan.


"Saya ingin menjelaskan bahwa mulai saat ini, saya dan Cantika sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi."


Papa dan Mama sepertinya tidak kaget, hanya mengangguk-angguk mendengarnya, menunggu kelanjutan penjelasan Surya.


"Semenjak tiga minggu yang lalu, kami sudah tidak pernah berkomunikasi, hanya saat di kantor, kami membicarakan masalah kantor, selain itu tidak ada yang kami bicarakan. Ternyata masalahnya, kemarin malam saya bertemu dengannya di Cafe bersama dengan cowok. Kemungkinan, itu kekasih barunya," lanjut Surya sesaat terdiam.


"Kami mohon maaf atas apa yang terjadi ya, Nak Surya," ucap Mama pelan.


"Cantika itu sebenarnya baik, tetapi masih kekanakan," tambah Papa.


"Iya, sebenarnya kami senang Nak Surya itu sudah sempurna di mata kami, baru kali ini ada lelaki yang berani berkenalan dengan kami, sebagai kekasih anak kami," ujar Mama tenang.


Papa dan Mama menghadapinya dengan tenang, seolah mereka telah banyak mengalami kisah cinta di masa mudanya, sepertinya hal ini dianggap biasa oleh mereka.


"Wajar memang sebuah hubungan, ada pertemuan pasti ada perpisahan, tetapi perpisahan seperti apa yang terjadi, kita ga akan tahu," ujar Papa menambahkan.


Surya manggut-manggut, lalu melanjutkan pembicaraan.


"Sebenarnya, saya telah lama tahu gang ini, tetapi dulu hanya mengantar seseorang sampai di depan gang saja," katanya sambil melirikku.


Aku salah tingkah, tambah lagi degup jantungku makin keras.


"Mengantar siapa yang di gang ini, Nak Surya?" tanya Mama penasaran.


"Valeria, Tante," jawab Surya cepat. Dagunya terangkat ke aku.


Sontak jawaban Surya membuat Papa dan Mama menengok ke arahku, seketika aku menunduk dan memerahlah mukaku sekarang.


********


Readers kira-kira kelanjutannya gimana ya,


Oh ya, mohon bagi yang suka, kasih cerita ini like n vote yah, sebagai apresiasi dan penyemangat penulis... Saya sangat berterima kasih, waktu itu saya sempat mendapat ranking vote ke 76, meski belum masuk 10 besar tapi sungguh rasanya senang bisa masuk ke ranking vote, karena saya termasuk penulis pemula di sini, dan sekarang rankingnya turun menjadi 120 huhuhu agak sedih, tapi ga apa-apa, semoga kalian suka aja sama cerita saya dan dengan rela kasih vote, hehhehe... Love u readers...

__ADS_1


__ADS_2