
Aku berpamitan pulang karena telah agak lama di rumah Surya dan sikap yang tidak mengenakkan dari Tante Elisa membuatku tidak nyaman. Ada apakah gerangan dia menanyakan perihal kepemilikan perusahaan?
Rasanya jadi enggan.
"Kamu ga apa-apa, sayang?" tanya Surya mengagetkan aku dari lamunan saat dia mengantarku ke rumah.
"Ga apa-apa kok," jawabku.
"Dari tadi kok melamun aja." Surya melirikku.
"Tante Elisa itu punya perusahaan di mana?" tanyaku tergelitik ingin tahu tentangnya.
"Kamu masih kepikiran kata-katanya tadi?" selidik Surya.
"Pengen tahu aja," ujarku.
"Di Singapura. Suaminya di Jakarta, tapi perusahaan yang di Jakarta telah bangkrut. Yang di Singapura pun hampir bangkrut, tapi masih bisa diselamatkan waktu itu."
"Ooh," jawabku maklum.
Pantaslah dia menanyakan apa aku punya perusahaan tidak, mungkin karena dia terbiasa hidup menjadi pengusaha.
"Mm... Gimana rencana kita mengambil foto pre-wedding? Kamu mau di pantai aja? Ga jadi di Jerman?" tanya Surya sambil berhenti di lampu merah.
"Iya, Indonesia itu indah, aku mau foto pre-wedding di salah satu pantai di Indonesia aja," ujarku.
Banyak sekali pantai yang indah di negara ini. Karena kami pun sangat menyukai pantai, jadi lebih baik ga usah pergi ke luar negeri hanya untuk mencari pemandangan indah pantai.
"Benar, sayang. Aku setuju. Nanti aku cari pantai yang cocok ya?" tawarnya.
"Boleh," jawabku.
Nyala lampu merah bergilir ke hijau, mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.
Setelah sampai di rumah, Surya segera pamit pulang.
__ADS_1
"Tante, saya langsung pulang ya?" Surya memohon diri pada Mama.
"Kok keburu, ga duduk dulu?" tawar Mama.
"Maaf Tante, ada adiknya Papa di rumah. Besok dia udah pulang ke Singapura. Jadi, hari ini saya mau menemaninya dulu."
"Oh, ya udah kalau gitu. Makasih ya, udah antar Val sampai rumah," ujar Mama menepuk punggung Surya.
"Iya, Tante. Sama-sama."
Surya mencium tangan Mama. Setelah itu dia mengangguk padaku dan kembali melajukan mobilnya.
"Surya itu baik, dari keluarga yang baik dan kaya raya sepertinya. Mereka juga baik padamu kan, Nak?"
Kami berbalik masuk ke rumah. Pertanyaan Mama hanya kutanggapi dengan anggukan dan senyum, meski ada sesuatu yang mengganjal di hatiku.
***
Di kediaman Pak Wira Samudra
"Surya, tante mau bicara sebentar."
Tante Elisa duduk di sofa. Dengan muka masam, Surya menurutinya saja.
"Kamu yakin Valeria itu perempuan baik-baik?" tanya dia memulai pembicaraan yang menyebalkan untuk Surya.
"Kalau ga yakin, aku ga akan bawa dia ke sini, Tante." Surya masih bersabar menanggapinya.
"Dia dari keluarga biasa, Surya. Apa dia ga hanya ingin kekayaan keluarga kita?" Tante Elisa semakin membuat Surya jengah.
"Kita? Soal bisnis sendiri-sendiri Tante. Urus aja kekayaan Tante sendiri. Jangan ucapkan kata 'kita' lagi, perusahaan ini milik Papa, Mama dan aku. Tante pun tidak berhak mengatur kekayaan yang ada di rumah ini. Begitu juga pasanganku, Tante tidak berhak secuil pun." Masih dengan nada pelan Surya menjawab kata-kata Tante Elisa.
Surya menambahkan, "Lagian, Tante. Valeria bukan gadis seperti yang Tante tuduhkan tadi. Dia denganku tidak hanya menginginkan kekayaan saja. Dia itu juga bekerja, manager sebuah perusahaan, bukan hanya berpangku tangan padaku."
"Ya Tante tidak ingin kamu salah kira, Tante hanya mengingatkanmu saja." Tante Elisa.
__ADS_1
membela diri.
"Makasih telah mengingatkanku, Tante. Permisi, aku mau ke kamarku."
Dengan rasa dongkol, Surya beranjak meninggalkan Tante Elisa yang masih duduk di sofa tamu.
Tante Elisa hanya menghela nafas, mengedepankan pendapatnya di keluarga ini sama saja tidak ada hasil, tetapi dia tetap kukuh pada pendiriannya bahwa orang biasa yang masuk ke keluarga pengusaha bisa menjadikan perusahaan rusak atau bahkan bangkrut.
Surya menemui kedua orang tuanya di ruang atas, mengeluh kepada Pak Wira dan Bu Anggraini, tentang sikap tantenya itu.
"Pa, Ma, sepertinya Tante Elisa keterlaluan, sebenarnya aku ga enak tadi sama Valeria."
"Iya, begitulah tantemu itu. Kami telah bicara padanya, kamu ga usah kuatir."
Bu Anggraini mencoba menenangkan Surya.
"Iya, Ma. Cuma tadi Valeria sempat kelihatan kaget dengan kata-kata Tante Elisa. Surya kuatir kalau Valeria jadi mikir gara-gara Tante Elisa." Surya mengungkapkan kekuatirannya.
"Udah, yang penting kita yakinkan Valeria aja, jangan sampai dia berpikir yang tidak-tidak karena omongan Elisa," kata Pak Wira.
"Iya, semoga Tante Elisa ga bersikap buruk pada Valeria," ujar Surya berharap.
***
Keesokan harinya.
"Hati-hati ya, Lis," pesan Pak Wira.
"Iya, Mas. Kapan-kapan aku kembali lagi bersama suamiku dan anak-anak," janji Elisa.
Pak Wira hanya mengangguk.
"Sewaktu Surya nikah, kamu datang ya, Lis." Bu Anggraini berpesan pada Elisa.
Elisa hanya tersenyum kecut, "Mungkin bulan depan pun kami akan ke sini lagi, suamiku sepertinya mau reuni bersama teman-temannya," ujar Elisa tanpa menanggapi tentang pernikahan Surya.
__ADS_1
Dia lalu meninggalkan Pak Wira dan Bu Anggraini di ruang tunggu bandara.