
Mobil mengitari pusat kota, mataku ikut berkeliling mencari mereka di depan beberapa rumah makan tapi belum juga aku menemukan dua orang yang aku cari. Sepeda motor Denis pun tidak kutemui keberadaannya.
"Ini sebenarnya mau makan di mana, sih?" tanya Surya mulai kesal.
"Bentar dong, kan lagi nyari," ujarku sambil melongok ke depan dan samping.
"Iya, nyari kodok katamu tadi kan? Jadi beneran ga ketemu-ketemu." Dia sewot.
"Ya udah, di depan itu aja, makan steak aja ya?" ujarku putus asa karena waktu istirahat tinggal 15 menit lagi.
Walau pun jika aku datang terlambat ke kantor, ga akan ada yang memarahi, tapi aku berusaha tidak terlambat sekali saat tiba di kantor.
Mobil berbelok di rumah makan steak, kami segera turun dan berjalan masuk.
"Beneran mau makan steak?" tanya dia sambil membukakan pintu.
"Iya," jawabku ngeloyor masuk, lalu mencari tempat duduk.
Surya menggelengkan kepala melihat tingkahku, lalu berjalan mengikuti.
Dua hot plate sirloin steak telah tersedia di depan kami. Kami segera melahapnya, karena lapar. Sekejap saja makan siang kami telah ludes, bersama dengan dua gelas
"Udah, yuk, pulang ke kantor," ajakku sambil melirik jam tangan.
"Ga ngobrol dulu kek?" tanya dia kecewa.
__ADS_1
"Udah habis jam istirahatnya, besok malam kita lanjut lagi."
"Beneran?" Matanya berbinar mendengar ajakanku.
Aku mengangguk, misiku belum selesai. Aku belum bisa bilang hal yang sebenarnya, takut dia akan bertindak gegabah tanpa bukti. Nanti malah aku yang kena, dikira mengadu domba. Kalau dia melihat dengan mata kepala sendiri kan terbukti.
Akhirnya dia mengantarku ke kantor. Setelah itu dia pamit kembali ke kantornya. Aku masih penasaran menunjukkan pembuktian pada Surya. Suatu saat pasti akan terbukti.
***
Waktu janjian aku dengan Surya telah tiba. Malam ini aku mau ajak dia mengitari pusat kota lagi, dia menungguku di depan gang. Aku sedikit geli, ini sebuah kencan dengan sebuah misi.
"Yuk," ajakku setelah masuk ke mobilnya.
Dia tersenyum sambil mengangguk, "Kamu kok bisa cantik, diapain sih?" tanya dia sambil menengok spion depan, mengawasi mobil di belakang, mencari celah untuk masuk ke jalan.
"Ga jadi," dengusnya kesal.
"Ga jadi apa?" godaku.
"Ga jadi tanya," jawabnya kemudian.
Aku terbahak melihat mukanya.
Sesampainya di pusat kota, dia menurutiku untuk mengitari, sesekali kami turun di sebuah tempat, lalu berputar lagi. Sambil menyetel lagu, dia bersiul sepanjang lagu itu diputar. Aku masih mengawasi jalanan, berharap untuk menemukan mereka, tetapi hingga larut malam, belum juga nampak.
__ADS_1
"Pulang aja, yuk," kataku. Capek juga melototi jalanan selama tiga jam.
"Ga makan dulu?" tawarnya.
"Ga ah, aku ga lapar. Kamu lapar?"
"Ya, ga sih, cuma katanya kemarin mau makan terus, lalu aku yang bayar."
"Cuma becanda kali, serius amat," timpalku sambil tertawa.
"Aku kan serius sama kamu, kamunya aja yang-..." Kalimatnya terputus tiba-tiba.
"Yang apa?" tanyaku penasaran.
"Ga apa-apa."
Aku menarik nafas pelan lalu menghembuskan cepat.
Dia mengantarku sampai ke gang depan, seperti biasanya.
"Makasih, ya?" ucapku.
"Sama-sama, aku pulang dulu. Jangan kangen ya?" godanya.
Aku hanya tersenyum, dan berlalu darinya.
__ADS_1
Di dalam kamar aku memikirkan sesuatu, ada rasa senang menyelip di hati, tidak munafik aku memang mencintai Surya. Dalam hatiku tidak ada cowok yang bisa membuatku seperti ini selain dia, tetapi kuharap jalanku mulus-mulus saja tanpa ada rintangan. Ekspektasi tidak sesuai kenyataan. Kenyataannya aku harus melewati rintangan yang rumit.
Aku berdoa lagi pada Tuhan di malam ini, kali ini aku ingin tangan Tuhan membantuku menyelesaikan masalah Cantika dan Surya. Jika mereka saling mencintai, persatukan, tetapi jika mereka tidak saling mencintai, berikan jalan yang terbaik. Bagi mereka, bagiku juga.