
Hai readers!
Sebelum baca, makasih udah memberi semangat pada author, hingga sampai ke bab ini. Buat kalian sempetin dulu like n vote yah...
Lalu kutunggu comment dari kalian... Sejujurnya, aku merindukan comment kalian, karena itu menjadikan saya lebih semangat melanjutkan episode ini, hehehhehe...
Lanjuuut...
πΏπ»πΏπ»πΏπ»πΏπ»πΏ
Back to Valeria
Seminggu kemudian, aku dan Surya pulang dari Jerman. Banyak hal yang harus dilakukan, kerjaan kantor, belum rencana pernikahan yang tinggal bulan depan.
Minggu ini jadwal fitting baju pengantin di Butik terkenal di kota metropolitan dengan designer yang terkenal pula. Pernikahan dengan seorang pengusaha memang tidak main-main, semua harus perfect. Gaun pengantin putih berhiaskan ribuan kristal swarovski telah siap sesuai dengan desain yang kuinginkan.
"Mari, saya bantu pakai," kata Ronald, sang designer.
Tangan Ronald melambai menunjukkan keluwesannya, meski sikapnya menyamai seorang wanita, tetapi melihat itu Surya mendatangi kami dan langsung menepis tangan sang designer.
"Minggir, hanya wanita yang boleh menyentuhnya." Surya tidak menyadari kebingungan designer yang berjiwa wanita itu.
"Sini, tolong bantu calon istri saya mengenakan dan melepas gaun pengantinnya," katanya pada seseorang yang berdiri di samping Ronald, sambil memegang pinggangku.
Seorang perempuan muda, asisten designer itu kemudian datang menghampiri, memenuhi panggilan Surya. Ronald hanya menghela nafas kecil, tetapi tidak ada raut kesal sedikit pun.
"Baik, Tuan."
Perempuan muda itu menunduk patuh. Ronald pun menunduk, seakan mengetahui kemungkinan buruk yang akan terjadi jika dia tidak menuruti Surya.
"Mari ikuti saya ke kamar ganti. Nona."
Asisten designer itu memperlakukanku dengan baik. Sepertinya dia memang baik, bukan berlagak baik untuk mencari muka.
"Baik."
Aku mengikutinya, memasuki kamar ganti.
"Silakan duduk dulu, saya akan mengambilkan gaun pengantin anda, Nona."
Aku hanya mengangguk dan mengamati sekeliling. Ruangan berkaca banyak ini dikhususkan untuk keluarga Wira Samudra. Ada banyak gaun hasil design Ronald untuk Bu Anggraini. Selain itu, jas milik Surya dan Pak Wira pun didesign di sini pula.
Tak lama, si asisten datang dengan membawa gaun pengantinku itu. Baju itu masih melekat pada sebuah manekin.
"Maaf, Nona, silakan dilepas bajunya, saya akan menyiapkan gaunnya."
Aku segera melepas baju dan asisten itu membantu memakaikan gaun ke tubuhku. Setelah terpakai, aku mematut diri di cermin, pantas saja keluarga Pak Wira mempercayakan design baju-baju mereka hanya di butik ini. Apa yang dibayangkan dengan kenyataan sangat sesuai dan lagi, dipakainya adem dan nyaman seolah si designer mengeri benar bahan kain apa yang harus digunakan untuk design-design-nya.
"Rasanya udah pas, kok, Mbak."
"Baik, Nona. Ada komplain lain tentang design-nya?"
"Mmm... Rasanya ga," kataku sambil memeriksa detailnya.
__ADS_1
"Baik, apa Tuan diminta masuk untuk melihat?"
"Ga perlu," sahutku cepat.
Dia bakal cerewet jika masuk. Kuminta asisten itu melepaskan gaun yang kucoba.
"Saya kira udah cukup, tolong dibantu melepaskannya ya, Mbak?" pintaku.
"Baik, Nona."
Agak lama dia melepasnya dengan berhati-hati, takut merusaknya, mungkin.
Asisen itu menungguku selesai berganti baju, kemudian mengikuti keluar lalu membuat laporan pada sang designer.
"Lho, lho kenapa ga bilang kalau udah selesai? Aku mau lihat," ujar Surya kesal.
"Besok waktu pernikahan aja, yang penting gaunnya pas, nyaman. Nah, giliranmu yang fitting baju."
Surya menghembuskan nafas cepat, lalu dia melangkah masuk ke kamar tadi, dengan Ronald.
"Sayang, kamu ikut masuk," perintahnya padaku.
"Ya, baiklah."
Ketika sampai di dalam lagi, Ronald membantu mengenakan jas pada tubuh Surya. Aku duduk mengamatinya.
"Aduh, ganteng Tuan Surya," kata Ronald dengan suara khasnya.
"Gimana rasanya, Tuan? Ada yang kurang?"
"Rasanya mencekik leher," jawab Surya.
"Lalu?"
"Kenapa lipatan di ketiak seperti ga nyaman?"
"Oh, baiklah, maaf Tuan nanti saya perbaiki. Ada lagi?"
"Hmm..." Surya mematut dirinya di cermin.
"Kalau hiasan, bunganya jangan membuat pucat baju!"
"Iya, Tuan, nanti saya pilihkan yang sesuai. Sudahkah Tuan?"
Sepertinya Ronald udah ga tahan dengan komplain-komplain Surya.
"Sepatunya mana?" tanya Surya ketus.
"Oh, iya, sebentar. Saya ambilkan ya Tuan Surya..."
Tangan Ronald seperti ingin mengelus lengan Surya, tetapi dia urungkan, daripada kena semprot Surya.
"Sayang, ini udah bagus kan?" tanya Surya meminta pendapatku.
__ADS_1
"Iya, udah. Pas dengan gaunku."
Aku melirik sekilas pada gaun yang melekat pada sebuah manekin tadi.
Ronald masuk membawa dua buah sepatu, yang langsung dicoba oleh Surya.
Dia memang tampan, batinku.
"Sepatunya udah pas," ujar Surya membuat lega Ronald.
Jadwal fitting baju mertua dan orang tua dijadwalkan esok paginya. Mereka akan bertemu di butik ini.
***
Undangan telah kami sebarkan, dua minggu sebelum acara pernikahan tiba. Keluarga Tante Elisa pun sudah berada di rumah Surya kembali. Suami dan kedua anaknya ikut serta.
Sebenarnya suami tante Elisa tidak begitu menyebalkan, hanya terkadang dia tidak berani menentang istrinya.
Saat aku di rumahnya, Tante Elisa dan Dinda menyambutku dengan raut muka sinis. Cuma Doni masih memandangiku. Saat aku melewatinya, dia bersiul kecil, membuatku risih. Surya tidak tahu akan hal itu. Jika tahu, mungkin dia akan menghantam si Doni. Aku biarkan saja dulu, karena pikiran kami sedang fokus pada pernikahan.
"Besok waktu acara pernikahan, banyak loh pengusaha-pengusaha yang akan datang, beda kalau tamunya keluarga biasa." Tante Elisa mulai berceloteh.
"Tante, bisa masuk ke dalam? Kami ga sedang butuh komentator!" tukas Surya tajam.
Saat itu Papa dan Mama Surya sedang ada urusan di luar, jadi sepertinya tante Elisa lebih leluasa, tapi Surya juga lebih berkuasa. Dibentak seperti itu, tante Elisa langsung pucat, lalu cepat-cepat masuk ke dalam sebelum Surya mengatakan hal yang lebih menyakitkan.
"Kita ke ruang atas aja, mereka ga akan berani di sana," ujar Surya.
Aku mengangguk, rasa lelah pikiran ini membuatku jenuh, ditambah dengan sikap Tante Elisa.
Kata orang, pasangan yang menuju ke jenjang pernikahan dan sedang mempersiapkannya, pasti akan sering berantem, tapi nyatanya tidak. Untung aku dan Surya lebih saling mengalah saat seperti ini. Ketika aku kesal, dia menenangkan. Begitu juga sebaliknya.
Namun, yang disayangkan malah orang ketiga seperti Tante Elisa. Membicarakan hal yang ga penting, bukannya membantu meringankan pikiran, tetapi malah memperkeruh suasana. Kucoba mengerti bahwa di dunia ini akan selalu ada orang yang seperti itu. Pemecah kedamaian.
"Bentar, aku ke kamar mandi dulu." Surya berbelok ke kamar mandi bawah.
Sedang menunggunya, tiba-tiba Doni muncul mengagetkan dari belakangku, membuat jantung ini hampir terlepas.
"Namamu Valeria, kan?"
Aku diam saja tidak memperhatikannya.
"Kamu cantik," katanya mengitariku.
Kenapa sih Surya lama banget!
"Andai kamu menggagalkan pernikahan dengan Surya, aku akan menggantikannya." Dia tersenyum dan berhenti di hadapanku.
Aku mencebik kesal. Untunglah Surya datang dan tidak melihat Doni mendekatiku karena dia segera pergi seolah tidak terjadi apa-apa.
"Yuk," ujar Surya.
Dia merangkul dan mengajakku ke ruang atas, tempat di mana dulu kami belajar bersama. Semua masih seperti yang dulu, ingatan itu kembali. Kesalahan yang manis.
__ADS_1