
Hampir setiap malam suami manjaku itu selalu minta imbalan, seperti itu dia terbiasa menyebutnya, becanda dengan menikmati rumah ini ga gratis, padahal dia hanya mau minta itu, pernah dia meninggalkan jejak di leher atau di mana pun dia suka dan malulah aku kalau berangkat kerja saat lupa menutupinya.
"Hihihi, Bu Manager, kenapa cap perusahaan pribadi selalu dipakai?"
Mukaku memerah jika mereka goda, "Dassaarr Suryaa!!"
***
Satu bulan kemudian
"Hoek!"
Aku merasa ga enak badan, setiap saat selalu terasa aneh di hidung, maupun lidah atau juga melihat sesuatu yang kurang suka, kurasa mual saat indra penciuman, pengecap dan penglihatan itu menemui sesuatu yang tidak kusuka, tapi tidak ada yang keluar dari mulutku.
"Kenapa, sayang?"
"Ga tau, aku tiba-tiba merasa ga enak badan."
"Ga usah masuk kerja dulu, aku antar ke dokter."
"Ta-tapi ..., hoek!"
"Udah nurut aja, cuci muka dulu ya? Ga usah mandi kalau ga kuat."
Aku mengangguk, menurut saja karena kondisiku memang tidak memungkinkan untuk bekerja.
Surya memakai parfumnya, tanpa menunggu lama, aku merasa mual lagi, kudorong tubuhnya agar menjauh dariku.
"Hoek!" Aku menjauh karena ga tahan bau parfum yang biasanya terasa harum, tapi kali ini baunya sungguh menyengat, pokoknya aku ga suka. Ga bisa aku mendefinisikannya.
"Kenapa sih?" tanyanya kesal.
Aku menggeleng dari jauh, "Ga usah pake parfum, ga tahan-...."
"Ya, ya aku ganti baju," ujar Surya membuka kancing bajunya buru-buru, lalu mengganti bajunya.
"Nah, udah. Yuk!" ajaknya.
"Jangan pakai baju itu," pintaku. Entah kenapa aku ga suka banget dia pakai baju warna merah.
"Trus, aku pakai yang mana? Pilihin aja lah ...."
Aku menggerakkan tangan cepat, tanda mau muntah lagi. Lalu mengusirnya dari dekatku.
"Uhh, putih? Boleh pakai baju putih?"
Aku mengangguk cepat. Dia mengganti bajunya dengan warna putih.
"Udah?"
__ADS_1
"Iya, itu aja." Tiba-tiba aku merasa mual lagi.
"Ganti aja pakai biru coba," pintaku.
"Kamu ngerjain aku?" Kugelengkan kepala sambil duduk di tepi ranjang.
Pria tampanku berdecak seraya membuka lemari lagi, mencari bajunya yang berwarna biru.
"Nah, ini ya?"
Aku mengangguk. "Nanti suruh ganti lagi," katanya.
Aku menggelengkan kepala lalu kembali berbaring. Rasanya lemas di sekujur tubuh.
"Kenapa, sayang? Jangan sakit dong .... Dokternya dipanggil aja ya?" Tanpa menunggu persetujuanku, dia menelepon seorang dokter.
Terlihat dia berbincang tentang keluhanku. Setelah itu mendekatiku lagi. Raut kebingungan terlihat sekali di wajahnya.
"Kamu sarapan dulu ya, biar Tari aku suruh siapin makan. Mau makan apa?"
"Ga pengen makan," ujarku lirih.
"Sambil nunggu dokter, kamu makan dulu. Biar ada tenaganya, ya?"
"Ya udah, mau makan roti aja."
"Ya, ya, tunggu sebentar." Dia beranjak menuju ke luar kamar, berteriak dari atas.
"Udah yuk, dimakan." Dia membantuku duduk bersandar.
Hanya dua gigitan lalu aku menyerah, ga kuat menahan rasa mual.
"Ga mau susunya, eneg."
"Ya, sini aku minum ya?" Surya meminumnya sampai habis.
Entah kenapa aku jadi semanja ini. Akhirnya dokter pribadi datang. Surya menemui dokter itu, lalu mereka masuk ke tempat di mana aku berbaring lemas.
"Rasanya mual? Pusing Nona?" tanya dia.
"Mual aja, Dok!" ujarku.
Seperti biasanya seorang dokter mengeluarkan tensimeter lalu memeriksa tekanan darah.
"Normal," ujarnya.
"Saya cek urine dulu ya, bisa ke kamar mandi, Non?" Dokter wanita itu membantu memapahku ke kamar mandi.
Sebentar kemudian, dia mengeluarkan test pack dari dalam tasnya.
__ADS_1
"Benar dugaan saya, selamat ya, anda hamil."
Aku tersenyum sudah mengira dari tadi pagi, "Makasih ya, Dok."
"Untuk sementara waktu, memang mual tapi ga apa-apa, saya beri vitamin ya? Jangan lupa check di dokter kandungan untuk USG. Saya permisi dulu ya?"
Dokter itu menyampaikan pada Surya, kemudian bergegas pulang dan bisa terbayang raut wajah Surya yang sumringah mendengarnya. Dia langsung memelukku yang sedang berbaring.
"Kamu jaga diri lho sayang, kamu ga usah kerja aja. Sebentar aku kasih tahu Mama dulu," celotehnya.
Dia menelepon Mama mertua.
"Mereka mau datang siang ini juga," katanya.
***
Mobil mertua datang saat aku masih berbaring di kamar. Mama mertua terlihat sangat senang tapi juga prihatin dengan keadaanku yang masih mual.
"Selamat ya Nduk, kamu mau jadi orang tua. Dijaga kandungannya. Minum vitamin yang teratur. Ini, Mama beliin susu ibu hamil juga lho."
"Iya, makasih, Ma."
Tak lama kemudian, Mamaku datang membuat kejutan karena suamiku ga bilang bahwa Mama akan datang. Mama memelukku senang.
"Nak kamu pucat, makan yang banyak, Mama bawa banyak makanan." Mama mengeluarkan sup kesukaanku. Kali ini tanpa daging, karena takut aku mual dengan daging.
Surya menyuapiku dengan sabar, sementara ketiga orang tua kami berbincang di ruang bawah.
"Makasih ya sayang, telah kembali bersamaku, bahkan sekarang telah ada buah hati kita yang sedang kamu kandung di perut." Mata Surya berkaca-kaca mengatakannya, memandangku dengan sayang.
"Iya, sayang. Aku juga berterima kasih karena telah menantiku selama itu."
"Aku mencintaimu," ujarnya sambil mencium bibirku yang menyambutnya.
Hati tak pernah bisa ditebak, semula aku pernah membenci orang ini, karena dia yang telah menorehkan luka dan trauma di hatiku, tetapi dia juga yang mampu menyembuhkannya meski harus memperjuangkan hati, bertahan untuk tidak pergi dari hidupku demi sebuah cinta.
Aku dikelilingi oleh orang-orang yang membuatku tak henti-hentinya bersyukur pada Tuhan. Terima kasih Tuhan ....
***
Surya POV
Valeria Fazza Anggraini, nama yang telah menghiasi hati dan akhirnya tertulis dalam surat pernikahanku. Perempuan ini yang selalu ada di mimpiku, sekarang menjadi nyata dalam hidupku. Saat di mana dia pergi dariku, menjauh, bahkan kukira akan hilang dari harapanku, tapi selalu kusebut nama itu dalam doa. Tuhan tidak tidur, ucapan Mama itu yang selalu kuingat. Kupanjatkan doa di malam-malamku agar nama itu ada di hidupku.
Ajaib, Tuhan menjawabnya, ada hari di mana kuucap janji pernikahan, hari itulah yang paling membahagiakan dalam sejarah hidupku. Saat kuikrarkan janji, tak ada keraguan lagi, bahwa dialah yang akan menjadi belahan jiwaku. Dia yang dewasa, pintar, cantik, selalu membuatku jatuh cinta setiap hari.
Ketika kudengar dia mengandung anakku, sebenarnya aku ingin berteriak di luar, tapi pasti dia bilang lebay. Akhirnya aku hanya memeluk dia yang terbaring lemas di tempat tidur.
Mendapatkan dia bagiku mendapat intan yang tiada habisnya, tak ternilai lagi. Akan selalu kujaga cintaku. Terima kasih Tuhan atas semua keajaiban dan kemurahan-Mu yang terjadi dalam hidupku.
__ADS_1
******
Plagiarisme melanggar Undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta