
Sementara itu setibanya di Singapura, terlihat seorang wanita turun dari pesawat. Seorang supir pribadi dan anaknya, Doni, telah menunggu di parkiran bandara.
"Lancar, Mom perjalanannya?" tanya si anak sambil menatap layar gawai tanpa melirik ibunya sedikit pun.
"Iya," ujar Elisa sambil masuk ke dalam mobil.
"Gimana calonnya Surya?" tanya Doni langsung.
Elisa mendengus kesal, "Ternyata hanya orang dari kalangan biasa, bukan sesama pengusaha. Tau gitu Mommy jadi kenalkan Surya dengan anaknya Pak Hermawan, teman Mommy yang di Jakarta. Dia pengusaha sukses."
Doni tidak menanggapi, seolah cuek dan asyik sendiri dengan gawainya.
"Kamu dengerin ga, sih!" Elisa membentak anaknya.
"Lagian, Mommy ngurus amat," kata Doni cuek.
"Hey, kalau perusahaan mereka bangkrut, Mommy juga yang susah!" Elisa mejewer telinga Doni, gemas.
"Aw, sakit!" Doni merintih kesakitan.
"Kenapa susah, Mom? Biarin aja, bangkrut ya tinggal bangkrut. ngapain kita susah-susah?" Doni masih ngeyel.
"Kamu ini, kalau mereka bangkrut, waktu kita kesusahan seperti dulu pas kamu itu jalan sama si Via itu, kita minta tolong sama siapa hey??"
Doni terdiam, matanya masih menatap layar gawai.
"Mommy, nanti aku jalan sama temen-temen," tukas Doni seolah tidak peduli dengan urusan ibunya.
"Kemana?" Tak urung, meski kesal, Elisa menanggapinya juga.
"Mommy ngapain sih nanya-nanya? Kayak polisi aja?" ujarnya kesal.
Elisa hanya bisa mendengus, lalu mengalihkan pandangan ke depan.
***
Back to Valeria
Hari ini perusahaan akan diadakan tes untuk menaikkan standarisasi produksi dan hasil tesnya sangat menakjubkan, kami berhasil lulus standarisasi dengan sangat bagus. Aku memang menerapkan pekerja untuk disiplin dan tidak tumpang tindih dalam posisinya.
Bu Magda memberiku bonus yang sangat besar karena itu. Aku berencana untuk mendepositokan di bank saja. Bunga deposito bisa aku ambil kapan saja.
Mama pun semakin sibuk untuk melayani pesanan orang-orang. Setelah menerima pesanan risoles dari Bu Rudi, tiba-tiba banyak sekali orderan masuk, hingga Mama kewalahan dan mengambil seorang asisten lagi selain Bik Nah.
Aku teringat saat dulu masih di bangku SMP, Mama pernah bilang dia ingin memiliki usaha catering. Sekarang impiannya hampir terwujud setelah 12 tahun dia mengutarakannya.
"Val, apa Mama ga sebaiknya bikin ruangan sendiri ya buat dapur? Dapur kita kok kayaknya jadi sempit?" ujar Mama memandangi dapur.
"Ah, Mama, emang sekarang kalau usaha harus agak lebar, dari dulu ya segitu ukuran dapurnya," kataku geli.
"Apa mendingan Mama bikin dapur di pekarangan sebelah rumah ini, Val?" kata Mama meminta pendapatku.
__ADS_1
"Boleh, Ma, nanti Val bantu bikin ruangannya."
"Makasih, Nak. Kamu emang anak Mama yang baik."
Mama memelukku. Ada rasa bangga bisa membantu usaha Mama.
Jadilah bulan ini kami membangun ruangan kecil seluas 100 meter persegi, pekarangan yang merupakan peninggalan dari kakek untuk Papa dan Mama ini telah lama dibiarkan. Sedangkan keluarga Papa telah sukses di luar kota. Mereka adalah pengusaha menengah yang cukup sukses di luar kota.
Mama sendiri merupakan anak tunggal, tetapi juga dari luar kota. Mereka membangun rumah di tanah yang dibelikan oleh Kakek, dibangun oleh Papa sendiri.
Maka dari itu aku bertekad untuk tidak tergantung pada orang tua. Sejauh ini aku bisa mewujudkan keinginanku.
***
Sebulan kemudian Mama berpindah ke ruangan baru, membuka catering dengan spanduk yang terpampang di depan ruangan samping, dengan dibantu dua orang asisten. Semakin banyak kantor-kantor yang memesan masakan dan makanan, karena Bu Rudi memiliki banyak kenalan di kantor-kantor itu, mereka mengenal cita rasa masakan Mama yang cocok di lidah mereka. Dia sangat berjasa dalam pemasaran usaha Mama. Setiap harinya ada puluhan pesanan dari mereka.
***
Esok harinya, aku dan Surya akan melakukan foto pre-wedding di pantai. Jasa photography yang kami gunakan telah biasa dipakai oleh keluarga Pak Wira Samudra. Tentunya yang terbaik.
Jam 06.00 pagi, kami harus berangkat ke sana.
"Sudah siap, sayang? Abis ini aku jemput." Surya meneleponku.
"Udah, kok."
"Ya, tunggu ya, ini baru mau berangkat."
Aku menunggunya, sambil menyiapkan beberapa perlengkapanku sendiri.
Suara pintu diketuk. Surya telah berada di depan rumah.
"Yuk," ujarku.
"Mama di mana?" Surya celingukan.
"Di samping," jawabku.
"Oh, ada ruangan baru? Kirain tetangga baru buka catering? Aku sempat baca spanduknya."
"Iya, Mama mulai buka usaha catering, karena banyak yang suka masakan Mama."
"Ya udah, aku pamit ke sana, kali-kali aku dikasih icipan," katanya sambil nyengir.
"Maunya." Bibirku mencebik.
Kami berjalan ke samping. Mama sedang membungkusi makanan ke dalam kardus yang telah ada nama catering Mama. Aku mendekatinya yang terlihat sibuk.
"Ma, kami mau ambil foto pre-wedding dulu hari ini." Mama terperanjat melihatku bersama Surya di belakangnya.
"Ohh, iya. Duhh, maaf Surya, Mama diburu pesanan untuk pagi ini. Belum nanti siang dan sore." Mama melepas sarung tangannya lalu menyambut uluran tangan Surya.
__ADS_1
"Wah, usaha baru, Tante?" tanya Surya sambil melihat-lihat suasana ruangan itu.
"Baru sebulan kok," jawab Mama merendah.
"Baru sebulan tapi udah banyak pesanan, kata orang pecah telur, ini bahkan telurnya tumpah, Tante," kelakar Surya.
"Ah, bisa aja, Surya. Saya bisa besar kepala." Mama tersipu.
"Ya udah, Tante, kami pamit dulu ya, maaf jadi ganggu kesibukan Tante."
"Eh tunggu sebentar, ini buat bekal," Mama membungkuskan sekardus snack untuk Surya.
"Walah, repot-repot, Tante," katanya berbasa-basi.
Aku menyenggol lengannya, "Tadi bilangnya-..." Kalimatku diputus oleh pelototan matanya.
Aku mendengus.
"Makasih, Tante. Banyak banget ini," ujarnya sambil melihat isi kardus.
"Ga banyak. Ya udah sana, hati-hati ya? Semoga sukses."
"Mari, Tante."
Kami segera masuk ke mobil Surya.
"Kok, ga pakai supir? Kamu yakin ga capek?" tanyaku kuatir.
"Ga mau, aku ga akan capek kalau sama kamu, lagian aku juga ga mau kalau ada orang lain di mobil selain kita berdua," katanya melirikku.
"Hmm... Crew photography-nya mana?" tanyaku.
"Udah duluan ke sana, makanya kita buruan, keburu malam sampe ke pantainya, jadi ga bagus fotonya."
"Ya udah, ayo. Kamu kan yang nyetir."
"Iya," ujar Surya sambil menyalakan mobilnya.
Mobil melaju ke pantai. Diperkirakan hampir 5 jam perjalanan ke pantai. Ternyata crew telah menanti kami di sana.
Setelah makan siang, kami beristirahat dulu di tenda yang disediakan para crew. Lalu, setelah mendapat cuaca yang pas untuk mendapat view yang bagus, mereka segera menyuruh aku dan Surya bersiap-siap. Kuakui jasa mereka itu telah terkoordinir dengan baik.
Beberapa foto pun telah tertangkap dengan bagus. Kami sangat puas dengan hasilnya. Mereka sangat professional. Hampir 3 jam kami berfoto, tetapi melihat hasilnya yang bagus, lelah kami terbayar sudah.
Satu langkah kami menuju ke pernikahan telah terlaksana, meski belum ditentukan kapan harinya. Masih sekitar empat bulan lagi untuk menuju ke sana. Empat bulan akan terasa sangat cepat. Makanya kami mencicil apa yang bisa kami lakukan dulu.
Hari itu, kami pulang sangat larut. Jam 11 malam baru sampai di rumahku.
"Udah, ya. Makasih sayang, udah nganterin aku. Hati-hati ya di jalannya?" pesanku pada Surya setelah dia mengantarku ke rumah.
__ADS_1
Surya mencium keningku, "Aku pulang dulu, ya?"
Aku mengangguk. Malam itu, Papa dan Mama telah terlelap di dalam kamar. Tentu Mama begitu lelah.