Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 69


__ADS_3

Besok adalah hari pernikahanku, malam ini keluarga Surya akan datang untuk memberikan seserahan sesuai adat Jawa Mama. Rumah ini menjadi riuh. Mama dan para tetangga telah menyiapkan segala sesuatunya dari pagi.


Ada seorang perias dari wedding organizer yang datang merias Mama, aku dan Cantika. Namun, Cantika dan Denis belum datang juga. Aku telah menyiapkan baju untuknya dan Denis. Perias itu mulai mengeluarkan peralatan make up dan langsung mengajakku untuk mulai dirias. Ada 2 orang yang datang, mereka nampaknya sangat mahir dan tentu saja, ramah.


"Kakak kerja di mana?" tanya dia di sela-sela kesibukan meriasnya.


"Magda Unternehmen, perusahaan di Jerman, tapi aku di cabangnya yang di sini."


Kelihatannya dia belum mengetahui perusahaan itu, hanya manggut-manggut saja.


"Kakak, udah berapa lama kenal Tuan Surya?"


Dia melontarkan pertanyaan itu hanya untuk mengisi obrolan sambil melakukan pekerjaannya.


"Pacaran baru delapan bulanan sih, cuma kenal dari SMU dulu."


Kembali dia mengangguk-angguk. Kupejamkan mata agar dia leluasa memberi warna di pelupuknya.


"Jangan tebel-tebel ya, Mbak?" pintaku.


"Ga kok, Kak. Tipis aja kakak terlihat cantik. Natural."


"Iya, aku lebih suka make-up natural."


"Kakak sering perawatan? Facial misalnya, atau seterika wajah?"


"Ga pernah, Mbak."


"Oh, saya kira rutin. Kulit kakak bagus... Mmm, seperti Mamanya, Kak."


Dia melirik Mama yang sedang masuk ke kamar sebentar. Aku tersenyum, selama ini memang muka ini ga pernah tersentuh oleh alat kecantikan, tapi ga pernah juga ada keluhan. Mungkin iya, keturunan dari Mama yang kulitnya halus.


"Coba buka sedikit mulutnya ya, Kak."


Dia mengoles lipstik pink tipis ke bibirku. Dalam waktu singkat, dia telah menyelesaikan pekerjaannya dengan sangat baik. Kulihat wajahku di cermin, ya, seperti harapanku.


"Maaf, Kak. Sekarang saya ikal rambutnya ya," ijinnya sopan.


"Ya,"


Dia mengurai rambutku dan menyisirinya dengan lembut.


"Adiknya di mana, Kak? Kok belum datang juga?" tanya dia.


"Bentar lagi, mungkin. Bentar sambil aku telepon dia aja," ujarku.


Kubuka gawai yang sedari tadi ada dalam genggaman. Mencoba menelepon Denis.


"Halo, Val." Suara Denis dari seberang sana.


"Denis, lagi di mana?"


"Udah mau nyampe, kok."


"Oh, ya udah kalau gitu."


Aku sangat lega Cantika mau datang ke acara seserahan ini.


Lima menit kemudian, Denis dan Cantika tiba. Perias langsung memintanya untuk dimake-up karena acara dua jam lagi segera dimulai.

__ADS_1


"Macet tadi?" tanyaku pada Denis yang sedang duduk di depan bersama Papa dan Mama.


"Iya, maaf Val. Kami agak terlambat."


"Ga apa-apa, belum juga mulai kok," ujarku.


Cantika keluar dari kamarnya dengan dress hamil. Tentu saja dia terlihat cantik, meski baru mengandung. Kata orang, bakal bayi perempuan jika nampak cantik saat hamil, tapi ga tahu juga.


"Jam berapa tamunya datang?" tanya dia entah pada siapa karena pandangannya mengitari ruangan.


"Jam tujuh," ujar Mama.


Kami masih dalam situasi perang dingin, entah mungkin karena gengsi untuk memulai atau apa, tapi saat ini aku hanya sedang fokus mengatur kegugupanku dengan acara ini.


Di ruangan berkarpet lebar itu ada beberapa tetangga untuk menemani kami. Paman Arga, Kakak Papa dari luar kota pun telah datang sore tadi. Dia yang menjadi penyambut keluarga Surya.


Beberapa mobil segera datang, membuat jantungku berdebar. Benar saja, itu rombongan keluarga Surya. Ternyata dia benar-benar serius melamarku, sekilas kulihat Cantika ikut melongok ke arah pintu depan. Dia terpana dengan kedatangan orang-orang dari keluarga Surya.


Dalam waktu singkat, pihak dari keluarga pria telah berada di dalam rumah ini. Mereka membawa seserahan berjumlah 12 kotak besar-besar dan mewah. Tiba-tiba tanpa kusadari, Cantika berdiri dan berjalan cepat ke kamarnya saat itu, diikuti oleh Denis.


Acara itu berlangsung dengan lancar, kulihat Papa dan Mama Surya tersenyum senang, begitu juga Surya yang tersenyum meski nampak gugup. Namun, tidak dengan Tante Elisa dan Dinda. Mereka seperti hanya membuat bola matanya mengitari ruangan ini saja.


Ada seorang lelaki yang bersebelahan dengan mereka, aku yakin itu suami Tante Elisa. Dia terlihat selalu menunduk, sesekali mengangkat kepalanya, lalu menerima telepon, kelihatannya sibuk sekali.


Akhirnya selesai sudah acara lamaran itu. Tinggal besok pernikahan, agak sedikit lega rasanya, mereka berpamitan pulang. Ruangan ini segera terlihat kosong. Para tetangga pun telah pulang.


"Mas, istirahat dulu, kan Mas Arga baru aja nyampe tadi sore. Besok masih harus bangun pagi," kata Papa pada Paman Arga.


Paman Arga datang sendiri karena istri dan anaknya datang besok pagi.


"Ya, Arya, aku tidur dulu. Besok aku harus menjemput Hana, Sani dan Bila di bandara."


"Lho, Ma. Cantika sama Denis kemana?" Tiba-tiba aku menyadari ketidak hadiran mereka di ruangan ini.


"Tadi sepertinya Cantika masuk ke dalam, entah kenapa." Mama mengendikkan bahu.


Denis keluar dari kamar.


"Kenapa Denis?" tanyaku.


"Aku juga ga tahu Val, Cantika tiba-tiba menangis lalu tiduran."


"Sakit atau kenapa?" selidik Mama.


"Kalau sakit saya rasa ga, Ma. Karena dia ga bilang sakit." Denis pun kebingungan.


"Coba Mama lihat dulu."


Mama segera berjalan ke kamar Cantika. Aku berganti pakaian, lalu mendengar suara ribut di ruang tengah.


"Ga, Ma. Aku ga iri!" Cantika berteriak.


"Kamu kok seperti itu sama kakakmu! Dia bahkan selalu membelikanmu sesuatu jika tiba waktunya gajian?" ujar Mama tak kalah keras.


Tak pernah kulihat Mama semarah itu, Papa mencoba menenangkan.


Cantika melihatku, lalu melengos dan masuk kembali ke kamarnya.


Brak!

__ADS_1


Dia membanting pintu kamar.


"Sini Denis, Valeria. Mama mau bicara."


Aku dan Denis mengikuti keinginan Mama dan Papa duduk di ruang tamu.


"Maaf ya Denis, kalau Cantika seperti itu. Apa dia berulah di rumah kalian?"


"Setelah dari rumah sakit, memang ga macam-macam lagi, Ma. Dia bersikap biasa, tapi akhir-akhir ini, sikapnya jadi uring-uringan."


"Ya udah, Denis. Kamu tenangkan dulu Cantika. Kalian harus beristirahat." Mama menyuruhnya untuk masuk ke kamar mereka.


"Baik, Ma."


Denis beranjak dari tempatnya, lalu melangkah menuju ke kamar mereka. Mama meneruskan pembicaraan pelan-pelan saat Denis telah mengunci pintu kamar.


"Mama tadi lihat dia langsung berdiri waktu pihak keluarga pria membawa seserahan. Apa tadi karena dia melihat kedatangan keluarga Surya membawa banyak seserahan ya?" ujar Mama padaku.


"Mungkin juga Ma. Apa sih Ma yang membuat dia seperti itu pada Val?" tanyaku heran.


Sepertinya Papa dan Mama memperlakukan dia dan aku sama.


Mama menghela nafas, "Ada satu hal yang Papa dan Mama sembunyikan pada kalian selama ini."


Aku sedikit terkejut mendengarnya, tapi kucoba diam menunggu penjelasan Mama yang sejenak menatap pada Papa. Papa mengangguk tanda setuju pada apa yang akan Mama katakan. Kini, tinggal kami bertiga dalam ruangan itu.


"Baiklah, mungkin ini saatnya kamu mengetahuinya. Esok sudah hari pernikahanmu. Kami yakin kamu bisa menjaga rahasia ini. Val, sebenarnya Cantika itu bukan anak Papa dan Mama, dia bukan adikmu."


Wajahku langsung pias, tertegun, tidak percaya. Mereka pasti bercanda. Kutunggu mereka tertawa setelah mengatakan itu, tapi hanya wajah serius mereka yang bertahan dalam keheningan malam itu.


"Lalu, dia anak siapa kalau bukan anak Papa dan Mama?" Setengah berbisik aku bertanya dengan rasa penasaran.


"Waktu umur kamu 2 tahun, sahabat Papa dan istrinya kecelakaan, lalu keduanya meninggal. Istrinya mendahului berpulang, kemudian sebelum menyusul istrinya, dia sempat berpesan pada Papa yang sedang menungguinya saat itu, agar Papa merawat bayinya yang selamat dalam kecelakaan maut saat itu."


Mata Papa dan Mama memerah saat itu. Aku merasa shock mendengarnya. Ternyata mereka memendam rahasia ini erat-erat, hingga tidak ada yang tahu.


"Apa Cantika pernah mendengarnya, Ma?"


Mama menggelengkan kepalanya.


"Papa dan Mama sangat kasihan pada Cantika. Walau wajahnya mirip denganmu, tetapi sifatnya sangat berbeda. Kami takut menyakiti hati anak sahabat Papa, jadi kami tidak pernah memarahi dia, hingga dia berbuat seenaknya sendiri."


Mama mengatur nafas sebentar.


"Dalam hal apapun, dia selalu kalah darimu, Val. Prestasi, pekerjaan, bahkan baru-baru ini pendamping. Namun, kami selalu menghiburnya dengan selalu membelikannya sesuatu yang dia mau."


Aku masih saja tertegun mendengarnya.


"Sudah, ini untuk kita bertiga saja, Nak. Besok jika kamu berumah tangga berpisah dari kami, jangan lupa selalu menengok kami, Nak."


Tangis Papa dan Mama pecah saat itu. Hal yang tidak mereka lakukan saat pernikahan Cantika.


"Kamu adalah anak terbaik Papa dan Mama. Makasih Nak, selama ini kamu bisa menunjukkan kesuksesanmu, hingga detik ini. Semoga besok dimulainya rumah tanggamu akan menjadi keluarga yang damai hingga akhir hayat."


Papa berkata demikian, membuatku haru. Tak terasa air mata menitik.


"Tentu saja, Papa, Mama, Val ga akan lupa pada kalian. Kalian orang tua terbaik bagi Val."


Kami bertiga larut dalam keharuan malam itu.

__ADS_1


__ADS_2