
Sebelum lanjut, please klik like n vote ya kakak readers yang baik....
Lalu comment dari para readers juga kuharapkan loh yaa... Supaya semangat lagi bikin ceritanya hehehehe... Makasih sebelumnya ya. Love u all... β€
πΏπ·πΏπ·πΏπ·πΏπ·πΏ
Tak pernah kubayangkan suasana rumah duka di rumah. Namun, ini terjadi. Nyata. Berkali pandanganku kabur, menghitam dan tidak ingat apa-apa. Entah siapa saja yang datang, aku tidak bisa menyapa mereka.
Ketika cukup kuat, Bibi Hana dengan mata yang sembab, menemani dan memberi teh hangat agar aku segera sadar.
"Bibi, kenapa jadi begini ...," isakku.
Bibi Hana hanya menggeleng, kembali matanya berair mendengarnya.
Cantika sangat shock ketika jenazah Papa diletakkan di rumah. Dia berkali-kali meminta maaf pada jenazah Papa.
"Papa, maafkan Cantika ..., maaf Papa!"
Hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut tipisnya. Aku ga mengerti kenapa dia seperti itu. Apapun yang dia katakan tidak akan bisa membangunkan Papa.
Mama tak beda denganku, seringkali dia pingsan di depan jenazah Papa. Ruangan ini terasa begitu menyedihkan. Orang-orang terus berdatangan menyatakan rasa prihatin mereka atas kepergian Papa untuk selamanya.
Kudekap jaket yang selalu Papa pakai untuk berangkat ke kantor, masih tercium aroma tubuh Papa, membuatku lunglai dan tangis berderai. Bila dan Sani menungguiku bersama Bibi Hana. Mereka memijit kakiku yang masih lemas.
Saat pemakaman tiba, kukuatkan kedua kaki ini untuk berdiri dan melangkah mengantar Papa ke peristirahatan terakhirnya. Waktu terasa begitu cepat, baru dua hari yang lalu aku bercanda dengan Papa jika punya anak nanti harus banyak biar rumah ga sepi, satu lagi Papa bilang bahwa berumah tangga harus dijalani dengan ikhlas membangun sebuah kebersamaan di dalam satu atap. Ternyata itu pesan terakhir Papa untukku. Kini aku harus rela melihat jenazah Papa dikebumikan, berpisah dengan kami, bersatu dengan tanah. Sejatinya manusia berasal dari tanah dan kembali ke tanah.
"Ikhlas ya, sayang." Surya mendekapku yang menangis sesengukan melihat tanah menimbun Papa.
"Iya, aku ikhlas," ujarku lirih, meski sambil terisak.
Begitu cepat para penggali kubur itu bekerja, hingga gundukan tanah serta dua buah bambu tertancap di samping gundukan itu. Taburan bunga memenuhi kuburan Papa.
"Papa di situ, udah tenang." Tunjuk Surya ke gundukan itu.
Aku mengangguk. Tuhan, titip Papa, ya?
Cantika memeluk kuburan Papa sambil menangis tersedu dan terus memohon maaf, kuminta Denis membujuknya untuk duduk. Tidak baik terus meratapi sebuah kehilangan, apalagi di kuburan orang yang telah meninggalkan kita untuk selamanya.
Doa-doa bergulir dari seorang pemuka agama, kuamini semoga Papa diampuni segala dosa-dosanya, diterima semua kebaikannya serta mendapat tempat yang terbaik di Surga.
Kuberikan taburan bunga sebagai penghormatan terakhir untuk Papa. Tangisku sementara mereda, mengingat Papa akan pergi dengan tenang jika kami bersabar dengan kepergiannya, walau sangat merindukan beliau.
Kembali ke rumah yang dipenuhi oleh para pelayat, kupandangi sejenak rumah itu. Sekarang, tidak ada lagi seseorang yang duduk di teras membaca koran, ditemani secangkir kopi dan menyapa ketika aku pulang, tidak ada lagi candaan Papa. Rasa kehilangan akan selalu terasa di rumah itu.
__ADS_1
***
Setelah para pelayat pulang, Papa dan Mama mertua pun berpamitan pulang. Ruang tamu menjadi tempat kami berkumpul malam ini setelah membersihkan diri selesai acara.
"Mama, maafin Cantika ..., Cantika udah tahu semuanya, maafin Cantika Ma," katanya memohon.
Mama masih bergeming, dia masih lemas akan kehilangan seorang sosok yang merupakan belahan jiwanya dan sepertinya sulit bagi Mama untuk memaafkan Cantika.
"Ada apa sebenarnya?" tanyaku mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Bibi Hana memegang pundakku.
"Sudahlah, biarkan Mama kamu beristirahat, sekarang bukan saatnya meminta maaf, semua sudah terlambat," kata Bibi Hana pada Cantika.
"Ma, Mama ...," Cantika meraung tanpa mempedulikan sekitarnya. Denis, mencoba menenangkan.
Aku semakin bingung karena tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya. Bibi Hana menyuruh Mama untuk masuk dan istirahat di kamar. Mama segera beranjak, dipapah oleh Sani dan Bila, tanpa menghiraukan Cantika yang terus memanggilnya.
"Denis, tolong bawa Cantika ke kamarnya, biar dia juga istirahat dulu," perintah Bibi Hana.
"Baik, Bibi Hana." Denis menuruti dan merayu Cantika yang tak hentinya menangis.
"Tidak, Bi. Aku minta maaf pada semua." Suara Cantika terdengar parau dalam suasana duka di ruangan ini.
Dia kembali terisak.
"Mengetahui apa?" tanyaku masih bingung dalam duka masih saja ada masalah.
"Aku bukan adik kandungmu kak ...," katanya membuatku terkejut, Denis dan Surya pun ikut terperanjat mendengarnya.
"K-kamu udah tahu Cantika?" tanyaku terbata-bata.
Cantika mengangguk seraya mengusap air matanya.
"Maafin aku, Kak ..., tak seharusnya aku iri padamu, harusnya aku tahu diri dengan posisiku, tapi karenaku juga Papa terkena serangan jantung yang menyebabkan beliau meninggal ...."
Dia semakin terisak menyesali semua. Namun, nasi telah menjadi bubur. Penyesalannya ga bisa mengubah semua yang telah terjadi.
Aku menghela nafas, "Semua udah terjadi, Papa udah ga ada di sini, ga berguna juga kamu menyesalinya kan?"
Dia terdiam menunduk dan tak henti menangis, bersandar pada suaminya.
"Ini udah takdir, Papa yang begitu baik merawatmu dari bayi hingga dewasa, kamu balas dengan perlakuan yang sedemikian buruknya. Semoga kebaikan Papa selama ini bisa melebarkan jalannya menuju Surga dan ini pelajaran bagimu, Cantika!" geramku.
__ADS_1
"Maafin aku, Kak!"
Semua di ruangan itu hanya terdiam, mereka membiarkanku melampiaskan kemarahan pada Cantika yang memang kelewat batas.
"Udahlah, aku mau istirahat."
Aku beranjak dari ruangan itu. Sungguh lelah menghadapi Cantika hingga detik ini. Tak ingin emosiku meluap saat itu, dimana aku merasa kehilangan sosok ayah yang sangat kusayangi. Semoga semua kejadian ini benar-benar mengubahnya menjadi baik.
"Surya, temani Valeria. Kamu juga harus istirahat," kata Bibi Hana pada Surya yang mengangguk menurutinya.
Bibi Hana pun turut berdiri dan beranjak ke kamar tamu. Kami semua meninggalkan Cantika bersama penyesalannya di ruangan itu.
***
"Sayang, aku ga nyangka banget adikmu bersikap buruk pada Papa dan Mama. Bahkan ternyata dia bukan anak kandung mereka."
Surya mengambil piyama lalu mengganti bajunya.
"Iya, Papa dan Mama ga pernah sekali pun berbuat buruk pada Cantika. Mereka menyayanginya seperti anak sendiri, sampai-sampai aku pun ga tahu bahwa Cantika bukanlah adik kandungku."
Kami terdiam sesaat.
"Ya udah sayang, kamu pasti capek."
Surya memelukku dari belakang, membuat perasaan ini agak lebih nyaman karena seharian ini hati dan pikiranku terkuras pada kematian Papa.
***
"Denis, apa yang harus aku lakukan? Mereka seolah tidak mau memaafkanku. Aku bingung Denis ...."
Telah habis air mata Cantika. Segala kekerasan hatinya runtuh oleh sebuah fakta.
Denis terdiam sejenak, seolah berpikir apa yang sebaiknya dilakukan Cantika.
"Apa kita harus pergi dari keluarga ini, Denis??"
"Udah, jangan gegabah Cantika. Benar kata kakakmu, jadikan ini pelajaran, bersikaplah dengan baik. Semoga mereka memaafkanmu. Kesalahanmu memang fatal."
Cantika hanya tertunduk lemah, dia merasa frekuensi pergerakan janin di perutnya semakin banyak. Dia mengelus perutnya.
Semoga dia bisa mengubah sikap agar lebih baik setelah kejadian ini, harap Denis.
"Udah, sekarang istirahat dulu. Bayi kita juga butuh istirahat cukup."
__ADS_1
Cantika hanya menghela nafas, mengusap wajahnya yang sendu.