Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 43


__ADS_3

Aku menundukkan wajah yang telah memerah serta berusaha agar terlihat tenang, meski jantung berderap-derap.


"Lalu?" Papa kembali menatap Surya.


Mama pun terlihat lebih serius untuk mendengarkan apa lagi yang akan dikatakan Surya.


"Sebelumnya saya melanjutkan, saya mohon maaf pada Om dan Tante, apabila ada hal yang kurang berkenan."


Papa dan Mama mengangguk pelan, dengan wajah datar.


"Dulu kami satu sekolah, waktu itu kami sempat berpacaran, hanya sebentar, lalu saya telah membuat kesalahan terbesar dalam hidup saya. Saya meninggalkan Valeria karena satu hal yang tidak bisa saya sampaikan di sini," kata Surya lalu sedikit menghela nafas.


Sementara aku masih saja menunduk dan ikut mendengarkannya.


"Kemudian setelah saya pindah sekolah, saya menyadari bahwa ada sesuatu yang hilang dalam hidup saya setelah meninggalkannya, hingga kuliah dan bekerja, saya masih teringat pada Valeria. Saya mencoba mencarinya, tetapi tidak bertemu juga. Pada akhirnya, Cantika datang melamar pekerjaan di kantor saya, saya melihatnya seperti Valeria, seketika itu saya terima dia sebagai sekertaris, lalu singkat cerita kami jadian." Dia menghela nafas lagi sejenak.


Papa dan Mama masih setia mendengarkannya, tanpa ada emosi yang menyertai pembicaraan itu. Mereka menunggu keseluruhan cerita Surya.


"Saya ke rumah ini untuk yang pertama kalinya, saya kaget melihat Valeria berada di rumah ini, orang yang membuat saya hampir putus asa mencarinya. Pikiran saya kalut, kemudian segera pulang." Dia berdehem sebentar.


"Saya mengaku salah, Om, Tante, karena telah bersama dengan Cantika, tetapi juga mendekati Valeria. Saya mencoba bertahan dengan Cantika sesuai dengan keinginan Valeria, hingga saat semalam saya memergoki Cantika dengan pria lain. Selama itu, Valeria adalah kakak yang baik, dia selalu menjaga hubungan saya dengan Cantika, menjaga hati Cantika, adiknya, meski saya mendekati Valeria." Surya kemudian terdiam, membuat Papa yang sedari tadi mematung, bergerak membenahi posisi duduknya.


Mama memandangku dengan berkaca-kaca, entah apa yang ada di pikiran Mama.


Papa berdehem, "Lalu, sekarang apa yang mau disampaikan Nak Surya?"


Surya menggenggam tangan, seperti gugup.


"Saya hanya ingin menyampaikan bahwa saya mencintai Valeria," ujarnya dengan mantap.


Kulihat keberanian, kesungguhan di mata dan dalam ucapannya.


Papa dan Mama menarik nafas, Mama mencoba menahan sesuatu. Aku benar-benar takut, Papa dan Mama sejenak terdiam, aku takut amarah mereka muncul saat mendengar kata-kata Surya. Inginku amblas ke bumi saja saat itu. Jantung yang berdegup kencang membuat tanganku dingin.


Papa memandangku lekat, aku masih menunduk takut.


"Valeria," panggil Papa.


Kuberanikan diri menatap Papa, tapi tak berani mengucap apa-apa.

__ADS_1


"Bagaimana denganmu, Nak?" kata-kata Papa lembut tapi tegas.


Aku masih membisu, lalu aku memandang Mama yang juga memandangku dengan mata berkaca-kaca lagi. Kebingungan dengan jawabanku, apakah akan mengecewakan salah satunya.


Surya juga menatapku berharap sesuatu keluar dari mulutku, tetapi seolah saat itu mulutku masih terkunci, ragu untuk menjawabnya.


"Mungkin Valeria masih butuh waktu untuk menjawabnya, Nak Surya," kata Papa kemudian.


Surya terlihat agak kecewa, menunduk sambil melepas genggaman tangannya.


"Baiklah, Om, Tante, Val, sekiranya itu dulu yang saya sampaikan, saya akan pamit dulu," kata Surya.


Aku menatapnya, melihat kesungguhan diwajahnya, apa aku akan membohongi perasaanku lagi?


Tiba-tiba aku memberanikan diri berkata di ruang itu, "Tunggu," kataku cepat sebelum dia beranjak dari duduknya.


"Aku akan jawab sekarang," kataku pelan setelah semua menatapku


Kutata dulu detak jantungku, hatiku yang sudah tidak karuan, bibirku bergetar saat akan mengucapkan jawaban.


"Aku juga mencintai Surya."


Surya pun tersenyum saat itu, dia terus memandangku yang sedang dipeluk oleh Mama. Sejenak kami hanyut dalam situasi itu.


Setelah Mama melepas pelukannya, Mama berkata sambil mengelus rambutku, "Nak, Mama minta maaf tidak mengetahui perasaanmu, tentu kamu merasa sakit memendamnya terlalu lama."


Aku hanya terdiam, seharusnya aku sudah merasa lega karena tidak lagi membohongi perasaanku dan melihat tanggapan Papa dan Mama yang memang mengerti keadaan kami, tetapi ada hal yang masih mengganjal di hati.


Mereka seolah tahu kecemasanku, "Nanti biar Papa dan Mama yang memberi pengertian pada Cantika," kata Papa melihatku terdiam memikirkan sesuatu.


Aku masih memandang cangkir berisi teh di depanku, apa yang akan terjadi pada kami, karena Cantika sendiri pasti tidak akan terima dengan semua ini.


"Lalu, kapan orang tua Nak Surya akan datang ke sini?" tanya Papa mengagetkanku.


"Yaa, kami sebagai orang tua takut bila nanti anak kami akan kecewa jika ditinggalkan lagi, jadi kami hanya ingin kepastian Nak Surya." Papa melanjutkan


Dengan tenang Surya menjawab, "Secepatnya bila Valeria telah siap, Om. Saya berjanji di hadapan Om dan Tante, saya tidak akan meninggalkannya lagi dalam situasi apapun."


Mama tersenyum bahagia, "Valeria, kapan kamu siap menerima lamaran Surya?"

__ADS_1


"Biar kami bicarakan dulu, Ma. Valeria belum siap menjawab itu sekarang," rengekku.


"Baiklah, tapi jangan lama-lama ya, kalian juga udah dewasa, ingat umur kalian," kata Mama mengingatkan.


"Dalam waktu dekat, orang tua saya akan datang untuk berkenalan dulu," ujar Surya menenangkan kedua orang tuaku.


"Nah, itu yang orang tua harapkan, kepastian untuk anaknya, saya yakin Nak Surya adalah lelaki yang bertanggung jawab, tolong jaga baik-baik anak saya ini," ujar Papa.


Mama merangkul dan mengelus lenganku. Aku tersenyum padanya, merasa sangat lega. Meski ada satu hal tentang Cantika yang masih belum terselesaikan.


"Ya udah, silahkan kalian lanjut mengobrol dulu, kami mau ke belakang dulu," kata Papa sambil merangkul Mama, mengajaknya masuk ke dalam, seolah memberi waktu pada kami berdua.


Setelah Papa dan Mama masuk, Surya memandangku dengan tersenyum, ada rasa bahagia membuncah dari hatiku.


"Aku pengen ajak kamu jalan-jalan sebagai pacar kali ini," ajaknya.


"Kemana?" tanyaku.


"Kemana aja. Lupakan dulu soal Cantika, aku tahu masalah itu masih ada dalam pikiranmu, tapi aku ingin sekarang kita rayakan dulu hari ini berdua saja," pintanya.


"Baiklah," Kulempar senyum padanya, "Tunggu ya, aku ganti baju dulu."


"Kamu seperti itu udah cantik bagiku, Val," ujarnya menggombal.


"Ga, deh, aku tetap mau ganti baju."


Aku beranjak dan melangkah masuk ke kamar dengan hati berbunga-bunga, tak pernah kurasa sebahagia ini. Kuambil kalung yang diberikan Surya pada hari ulang tahunku, lalu memakainya, bersama dengan dress hitam dengan rambut kuikat tidak terlalu kencang.


"Pa, Ma, Val mau jalan dulu sama Surya," pamitku pada Papa dan Mama.


Mereka segera berdiri, lalu mengantar kami sampai ke pintu.


"Hati-hati ya," pesan Papa pada kami.


Surya mengangguk, "Ya, Om."


Kami berjalan di gang menuju mobil Surya yang terparkir di pinggir jalan. Surya merangkulku sepanjang jalan gang.


__ADS_1


__ADS_2