Boss Kekasih Adikku

Boss Kekasih Adikku
Eps 47


__ADS_3

Aku pulang dengan gontai, insomnia semalam membuatku mengantuk sepulang kerja. Kurebahkan tubuhku di kasurku yang empuk, memejamkan mata, sekejap aku terlelap.


Setelah beberapa saat mata ini terpejam, aku dikejutkan oleh suara teriakan. Sontak terbangun dari jiwa rebahanku, dan berlari menuju ke sumber suara.


Ternyata Cantika dan Denis telah berada di rumah ini, menemui kedua orang tuaku. Denis memenuhi tanggung jawabnya. Aku mencoba mendengarkan kenapa Cantika berteriak.


"Aku ga mau, Ma!" teriaknya.


"Lalu bagaimana dengan jabang bayi yang ada di perut kamu itu??" ujar Mama dengan suara meninggi.


"Aku ga mau bayi ini, karirku gimana??" Dia meraung-raung menangis.


Kulihat Denis hanya tertunduk, aku mengerti perasaannya, dia merasa bersalah sekaligus ingin bertanggung jawab, tetapi sikap Cantika tidak bisa dikendalikan.


Papa hanya terdiam menyaksikan peristiwa itu. Aku mencoba mendekat, ingin membantu menyelesaikan masalahnya, tapi kerasnya hati Cantika tidak mampu kulawan.


"Cantika, coba duduk dulu, tenangkan dulu dirimu," ujarku mencoba menenangkannya.


Dia melengos melihat kehadiranku, "Gara-gara kamu juga, aku jadi begini!" Tunjuk Cantika padaku.


Aku menghela nafas, apa aku sesalah itu Tuhan? Hingga semua ini terjadi.


"Lalu, kamu ingin gimana?" Tanyaku masih dengan sabar.


"Pokoknya aku ga mau anak ini, aku..." Dia menangis sesenggukan, menyesali semuanya.


Mama menangis, Papa hanya terdiam, sedangkan Denis masih menunduk bingung dengan keadaan itu.


"Cantika, kamu kan manusia beragama? Sangat berdosa bila kamu menghilangkan nyawa seseorang, apa lagi bayi kamu sendiri!" Aku mulai emosi, kenapa dia sekeras batu.


"Kamu itu sudah berdosa, jangan ditambah dengan menggugurkannya!" timpalku lagi.


Cantika semakin menangis sesenggukan, "Kamu beruntung, bisa berkarir sampai sukses, jadi kamu bisa bilang seperti itu, kan? Apa aku ga boleh berkarir sepertimu?"


Aku tak menyangka, dia mengatakan demikian. Ada rasa cemburu yang tersirat dalam kata-katanya. Kulihat Denis yang masih membisu, di sini dia hanya tersudut, untuk datang ke rumah ini saja, dia harus mempersiapkan mental. Apalagi menghadapi Cantika yang sedemikian keras kepalanya tanpa melihat situasi, hanya mau menang sendiri.


"Denis, lebih baik kamu pulang dulu, biar kami menyelesaikan masalah ini. Biar dia tenang dulu," ujarku sambil menunjuk ke Cantika.


Denis menatapku ragu, aku meyakinkannya, "Ga apa-apa, biar situasinya tenang dulu, jika kita paksakan masalah ini harus selesai sekarang, ga akan ketemu solusinya. Besok kamu kembali lagi ke sini, kita bicarakan hal ini."


Denis mengangguk pasrah, kemudian beranjak dari duduknya. Lalu berpamitan dengan Papa dan Mama yang masih duduk dan terlihat berpikiran berat.


"Makasih, Val. Aku pasti bertanggung jawab."


Setelah Denis pergi, Cantika kembali menunjukku, "Kak, andai kamu ga sama Surya, aku ga akan begini, kan?"


Aku terdiam, biarlah dia berkata apapun yang memuaskan hatinya, apapun yang dia katakan tidak akan mengubah keadaan.


"Kamu kurang apa lagi kak? Jadi manager, duit kamu banyak, bisa beli mobil, jadi kebanggaan Papa dan Mama, kenapa masih merebut kekasihku?!" Dia kembali berteriak.


"Aku tidak me-..."

__ADS_1


"Aaagh..."


Kata-kataku terhenti mendengar Papa merintih, kulihat Papa yang memegang dada kirinya sambil meringis kesakitan, sekilas aku teringat kejadian yang dialami oleh Pak Dirga.


"Papa!" Ujar Mama memegangi tubuh Papa. Cantika terdiam dan mendekati Papa.


"Papa kenapa?" Mama bertanya mencoba menyadarkan Papa, tetapi Papa tidak kuasa untuk mengeluarkan sepatah kata pun.


Aku segera menyambar kunci mobil, memapah Papa yang kelihatan kesakitan. Mama membantuku memapahnya.


"Kubawa Papa ke rumah sakit pusat, Ma!" kataku.


"Cantika, kamu siapkan baju-baju Papa, cepat!" Seruku.


Cantika segera membuka lemari dan memasukkan baju-baju Papa ke dalam tas besar.


Aku dan Mama berhasil memapah Papa hingga masuk ke mobil, Cantika juga telah memasukkan tas ke bagasi. Aku dan Mama segera masuk ke mobil dan melaju ke rumah sakit meninggalkan Cantika.


"Sebentar ya, Pa. Tahan dulu sakitnya, bentar lagi sampai," ujar Mama mencoba menenangkan Papa, juga dirinya sendiri.


Mobil masuk ke UGD, aku langsung minta pada perawat untuk membawa Papa menggunakan brankar masuk ke ruang UGD. Aku memarkir mobil, lalu menemani Mama di ruang tunggu UGD. Mama terlihat sangat cemas menunggui orang yang sangat dia cintai, mataku berkaca-kaca melihatnya, kupeluk Mama untuk menguatkan hatinya. Setelah satu jam lamanya, akhirnya dokter keluar dan mengatakan bahwa Papa terkena serangan jantung, tetapi karena belum 12 jam sudah tertangani, maka Papa masih bisa diselamatkan.


Aku dan Mama sedikit lega mendengarnya. Akhirnya, Papa dipindah masuk ke bangsal. Kami menemani Papa yang masih lemah dengan infus di tangan kirinya.


"Val, kira-kira gimana baiknya dengan Cantika?" Mama berbisik padaku agar tidak terdengar oleh Papa.


Aku menghela nafas, "Mau ga mau, dia harus menikah dengan Denis, Ma. Bersyukur Denis sudah mau bertanggung jawab, coba kalau dia lari, mau gimana Cantika?"


"Iya, Ma."


"Udah, Ma, sekarang yang penting kesembuhan Papa dulu."


Mama mengangguk sembari menatap Papa yang sedang tertidur.


Kriing.... kriiing...


Gawaiku berbunyi,


"Halo, Surya."


"Sayang, lagi ngapain?"


"Lagi di rumah sakit,"


"Kenapa?" Nada kecemasan terdengar dari seberang.


"Papa, kena serangan jantung, baru aja masuk ke bangsal."


"Duh, bangsal apa?"


"Gladiool B2."

__ADS_1


"Oke, aku segera ke sana."


Dia menutup teleponnya. Perawat masuk untuk mengecek kamar dan tekanan darah Papa.


"140/90, Bu," ujarnya menyampaikan hasil cek.


"Hmm, agak tinggi, biasanya 120, Mbak," kataku padanya, bila mungkin digunakan untuk observasi.


"Baik, Bu. Bapak jangan banyak bicara dan bergerak dulu, agar lekas pulih," pesan perawat perempuan yang kira-kira berusia 30an tahun itu.


"Ya, makasih, Mbak," Ucapku.


Perawat itu keluar dari ruangan. Mama masih menerawang. Kasihan Mama, udah memikirkan Cantika, masih memikirkan Papa.


Kami masih saling membisu, agar Papa bisa beristirahat dengan tenang.


"Ma, Mama istirahat dulu aja di sofa."


Mama mengangguk, lalu melangkah dan merebahkan diri di sofa. Aku tahu, dia pasti lelah, sangat lelah.


Surya tiba di rumah sakit ketika aku berada di depan area bangsal untuk menyegarkan suasana sambil menunggu Papa dan Mama beristirahat.


Dia mencium keningku, "Gimana keadaan Papa?"


"Papa udah ditangani oleh dokter, sekarang baru istirahat, biar Papa dan Mama istirahat dulu," kataku sambil mengajaknya duduk di teras depan bangsal.


"Apa Papa punya riwayat sakit jantung?"


Aku menggeleng, "Tadi, tiba-tiba dia terkena serangan jantung saat aku dan Cantika bertengkar."


Surya terbelalak, "Bertengkar kenapa? Soal apa?"


"Cantika hamil, Denis udah mau bertanggung jawab, tapi dia malah seolah mau lari dari kenyataan itu. Lalu, dia juga menyudutkanku."


"Menyudutkan gimana?"


"Ah, udahlah, yang penting aku berharap kondisi Papa membaik," harapku.


"Lalu, apa kandungan Cantika mau digugurkan atau lanjut ke pernikahan?" Tanya Surya.


"Harusnya dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, tetapi dia bersikukuh mau menggugurkannya."


Surya menghela nafas, "Ya, itulah adikmu, aku sendiri kewalahan atas perilakunya. Selama denganku, aku ga pernah mempedulikannya apalagi menyentuhnya."


"Udah mau gelap, yuk masuk, mungkin Papa sama Mama udah bangun," ajakku.


Mama sedang menyuapi Papa ketika kami masuk kamar.


Surya mencium tangan Mama lalu mendekati Papa dan juga mencium tangan Papa. Mereka hanya saling memberi isyarat, karena Papa belum boleh banyak bicara. Kami bertiga berbincang sangat pelan, hingga malam tiba, Surya mengantarku pulang.


Mama sendiri menemani Papa. Aku berjanji besok pulang kerja awal lalu datang ke rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2