
Dearest My Lovely Readers,
Sebelum melanjutkan cerita, ijinkan saya berterima kasih kepada semua yang telah mendukung dan mengikuti cerita saya ini, baik yang baca terus, favourite-in, bikin gambar jempol jadi merah terus, kasih bintang 5, comment, baper, gemes, dll (apalagi kasih vote hehehe).
Semangat saya, kalian lah yang membantu mengobarkan hingga tercapai sampai saat ini. Semoga author tetap bisa menyuguhkan cerita yang disukai readers meski dalam keterbatasan saya. Tetap sehat ya semua. Salam manis semanis2nya dari author.
****************************************
"Gimana kemarin foto-fotonya, Nak?" tanya Mama bersantai sejenak karena ini hari Minggu.
Sedangkan aku sibuk menatap laptop mengerjakan sedikit yang harus kuselesaikan Sabtu kemarin, karena kemarin aku ijin tidak datang ke kantor untuk urusan keluarga, begitu pamitku pada Mbak Risky.
"Lancar, Ma." Kutatap Mama sebentar lalu kembali menatap laptop.
"Cantika gimana ya kabarnya, udah sebulan dia ga pulang. Apa kandungannya sehat? Dia ga juga menelepon Mama. Ditelepon juga ga diangkat."
Mama menerawang mengingat anak satunya itu. Aku terpaksa menghentikan pekerjaanku. Papa mendekati kami.
"Ma, Papa rasa dia aman bersama Denis. Kalau mau ke sana, ayo Papa antar."
Mama terlihat agak berbinar, lalu mengangguk cepat.
"Sebentar, Pa. Mama ganti baju dulu."
Semoga Cantika tidak membuat ulah lagi.
"Pa, aku ga ikut ya?" Aku mengarahkan telunjuk pada laptop-ku.
Papa paham jika aku sedang berkutat dengan itu. Sejak SMU dulu, aku selalu seperti itu jika banyak kerjaan, ga mau kemana-mana.
"Ya, ga apa-apa, nanti Papa sampaikan ke Cantika. Sebentar, Papa menyiapkan mobil dulu."
Papa masuk kembali ke rumah setelah mobil siap di depan. Mama keluar dengan membawa sekantong buah-buahan dari lemari es.
"Yuk Pa, Eh, kamu ga ikut, Nak?" tanya Mama padaku.
"Ga, Ma. Aku mau nyelesaiin kerjaan dulu."
"Oh, ya udah, Papa sama Mama pergi dulu, ya?"
"Ya, Ma, hati-hati ya berdua." Kuantar mereka hingga pintu depan.
Tin!
Aku melambaikan tangan, membalas lambaian tangan Mama. Mereka segera berlalu.
Kembali aku bergumul dengan kerjaan.
***
Sementara itu di rumah Denis.
"Permisi..." Pak Arya berseru agar si pemilik rumah keluar membukakan pintu.
__ADS_1
Denis cepat-cepat membukakan pintu mendengar suara mertuanya di depan.
Pak Arya dan Bu Reta tersenyum pada Denis yang mencium tangan mereka satu per satu, tetapi Denis terlihat cemas.
"Pa, Ma, untung kalian datang. Cantika seperti agak sedikit pendarahan. Tolong Pa, Ma, kita bawa ke rumah sakit saja."
Mereka berdua terkejut. Lalu masuk tergesa ke kamar. Di sana Cantika sedang terbaring di tempat tidur.
"Cantika, yuk ke rumah sakit, Nak." Bu Reta segera mengajaknya.
Cantika meringis ketakutan.
Papa dan Denis segera menggotong Cantika masuk ke dalam mobil. Mereka bertiga segera membawa Cantika ke rumah sakit.
"Denis duduk depan aja, Mama yang nemeni Cantika di belakang, ya?" kata Bu Reta pada Denis.
"Ya, Ma."
"Cantika, apa yang kamu rasakan?" tanya Bu Reta.
"Ga sakit, Ma, tapi kenapa ya ada darahnya?"
"Mungkin kamu kelelahan," kata Bu Reta berusaha menenangkannya.
Setelah tiba di rumah sakit, mereka segera menemui dokter.
"Gimana ya dokter?" tanya Bu Reta seusai menjelaskan yang terjadi pada Cantika.
"Sepertinya itu reaksi obat yang diminum secara sembarangan. Lain kali, jangan minum obat tanpa resep."
"Lalu, anak saya harus gimana dok? Apa kandungannya sehat?" tanya Bu Reta masih berharap cemas.
"Dari hasil pemeriksaan di USG tadi, kandungannya masih sehat, tapi si ibu harus bed rest selama seminggu sambil kita lihat perkembangannya, Bu."
"Baik, kami ikut kata dokter saja agar ibu dan kandungannya bisa sehat," harap Bu Reta.
"Ya, Bu. Setelah ini ada perawat yang mengantar ke bangsal ya?"
Bu Reta mengangguk.
Dua orang perawat datang, mengangguk pada Bu Reta, kemudian mereka membawa Cantika masuk ke dalam bangsal, memasangi infus sesuai dengan petunjuk dokter.
Pak Arya dan Denis mengikuti dari belakang sambil mendengar penjelasan Bu Reta bahwa Cantika harus bed rest di rumah sakit agar maksimal.
"Denis, kamu ga usah kuatir dengan biaya, kami akan membantumu." Bu Reta seolah mengerti pikiran Denis saat itu.
Denis mengangguk, matanya berubah sendu. Mau gimana lagi, memang keadaannya seperti itu.
Setelah semuanya terkondisi, Bu Reta mendekat pada Cantika.
"Obat apa yang kamu minum, Cantika?"
Cantika membisu, Denis berinisiatif untuk menjawabnya.
__ADS_1
"Mungkin waktu itu minum obat warung, Ma." Denis berusaha menutupi, agar mertuanya tidak terbebani oleh pikiran buruk tentang anaknya.
"Lain kali, hati-hati. Tolong ya, Denis, jika Cantika terlihat sakit, kamu bisa menelepon Mama, Papa atau bahkan Valeria. Kami akan membawanya ke dokter."
Cantika melirik pada Denis yang sedang menunduk. Dia tahu Denis menutupi aibnya. Tiba-tiba hatinya terasa terenyuh, tetapi entah mengapa rasa kecewa dengan nasib masih menjalar di dadanya.
"Denis, kamu jagain Cantika dulu. Kami akan sering datang. Mama sekarang buka catering, jadi mungkin bisa datang malam."
"Denis ikut senang mendengarnya, Ma. Semoga bisnis Mama berkembang." Denis mengingat penjualannya kemarin menurun karena mengurusi Cantika yang merasa lemas berhari-hari.
Bu Reta tersenyum dan mengangguk.
"Jangan lupa Cantika, nurut sama dokter, ya?" pesan Pak Arya padanya.
Cantika mengangguk.
"Denis, kami pulang dulu. Tolong jaga Cantika ya?" kata Bu Reta sambil menyelipkan uang ke tangan Denis.
Denis terlihat terkejut saat menerimanya, lalu tiba-tiba matanya basah, merasa bahwa dia selalu merepotkan keluarga ini.
Pak Arya dan Bu Reta pamit pulang. Denis mengantarkan mereka hingga sampai di pintu ruangan bangsal utama.
"Pa, Ma, maafkan Denis, masih selalu merepotkan kalian."
"Kami ga merasa direpotkan Denis. Malahan kami yang berterima kasih, ada kamu yang mengurusi Cantika."
Mereka pun pamit dan berlalu. Denis kembali ke bangsal.
"Denis..."
Cantika memanggilnya saat dia duduk di sampingnya.
"Ya, gimana Tika?"
"Aku mau dikupasin apel," pintanya.
Denis mengambil sebuah apel dari plastik yang diberikan oleh Bu Reta, lalu dikupasnya dengan pisau. Lalu diberikannya pada Cantika.
"Suapin," kata Cantika manja.
Denis tersenyum dan memberikan sepotong apel ke mulut Cantika. Cantika mengunyahnya pelan, kemudian membuka mulutnya lagi lebar agar Denis kembali menyuapinya. Dengan sabar Denis menyuapi Cantika hingga potongan terakhir.
"Denis, maafkan aku." Cantika memberanikan diri untuk menyingkirkan egonya, meminta maaf pada Denis.
Dia melihat Denis yang begitu sabar menghadapi sikap buruknya selama ini.
Denis tersenyum, "Sekarang yang penting menjaga bayi dalam kandungan kamu ya, hingga dia lahir sehat."
Cantika mengangguk dan menatap Denis, pandangan mereka bersirobok. Cantika mengalihkan pandangan ke jendela kamar bangsal.
Kedatangan perawat mengejutkan mereka.
"Pak, saya mau memeriksa pasien."
__ADS_1
"Silahkan, Mbak." Denis beranjak dari duduknya lalu pergi ke luar ruangan.