
Kota Munich dengan segala keindahannya, ini yang membuatku lupa dengan Surya saat itu, 11 tahun yang lalu, tetapi juga mempersatukan kami saat ini. Berjalan di pusat kota lagi dengannya, mengingatkanku saat menatap langit dengan kumpulan burung-burung di angkasa. Saat itu kami belum bebas memiliki rasa cinta seperti sekarang ini. Sekarang, aku bisa menggenggam tangannya erat dan tidak ada beban untuk mencintainya.
Setelah mengisi perut dengan sepinggan falscher hase yaitu daging sapi cincang yang dicampur dengan tepung, telur dan bawang beserta saus di atas irisannya, kami berjalan di seputar pusat kota. Semula, di kota ini hanya terbayang pekerjaan dan uang di otakku. tetapi sekarang, terasa indahnya kota ini. Apa karena ada seseorang yang menemaniku saat ini ya?
Kunikmati berdua dengannya. Teringat saat pacaran bareng-bareng dengan Lia! Ah, iya, apa kabarnya anak itu?
Segera kukeluarkan gawai, berniat untuk menghubunginya, tapi Surya melirikku tajam.
"Kenapa sih, natapnya gitu amat?" tanyaku kesal.
"Mau nelpon siapa?" tanya dia tak kalah kesalnya padaku.
"Lia," jawabku pelan.
"Apa denganku sekarang duniamu ga cukup? Aku sedang menikmati semua ini denganmu, tapi kamu malah memikirkan orang lain." Dia seperti orang yang diduakan.
"Iya, tapi..." Kucoba berargumen tapi entah apa argumen yang pas untuk menentangnya.
Aku ga jadi meneruskan kata-kataku. Akhirnya gawai itu aku masukkan tas lagi.
"Baiklah," ucapku mendengus agak kesal.
__ADS_1
"Jangan mengeluh, sekarang aku hanya ingin ada kita. Hanya kita. Bukan adanya orang lain seperti waktu itu."
"Meski teman?" tanyaku polos.
"Iya, aku ga ingin diganggu. Waktu seperti ini di sini dan memilikimu sebagai kekasih, bukan seperti saat itu ketika aku bersamamu entah statusnya apa hingga pacaran bareng-bareng aja aku mau, cuma karena ingin jalan dan dekat denganmu."
"Iya, aku mengerti."
Aku berjalan kembali bersamanya menyusuri jalanan di pusat kota ini.
Dia juga memegang kata-katanya, memang tidak sedikit pun mengeluarkan gawai. Dia benar-benar fokus padaku.
"Boleh aku mengeluarkan gawai untuk berfoto?" tanyaku meminta ijin.
Akhirnya memori gawaiku penuh dengan foto-foto kembali saat aku bersamanya. Hingga petang tiba, kami kembali ke mobil dan dia melaju ke jalan di mana aku berciuman dengannya.
"Kamu masih ingat saat kita di sini?"
Aku mengangguk. Tentu saja, setelah ciuman itu, rasa berdosa pada adikku semakin besar, juga mengakibatkan aku dan Surya berdiam begitu lama.
"Mau lagi?"
__ADS_1
Tanpa menunggu jawabanku dia langsung menciumku dan kubalas ciumannya. Lama. Lelah, ku lepaskan dia.
"Adik kecilku berdiri." Dia mendengus, selalu seperti itu.
"Apa ga bisa kamu suruh duduk?" tanyaku asal.
"Dengan apa? Bahkan dia mau muntah," katanya dingin, mengatur nafasnya.
"Itu masuk angin, biar aku oles minyak angin adikmu itu." Kucari minyak anginku di tas.
"Eh, ga perlu! Udah biar dia sembuh sendiri," ujarnya melotot padaku.
Aku tergelak, "Ayo, pulang. Udah larut malam. Aku ngantuk."
"Baik."
Mobil melaju menuju ke apartemen, lalu kami tertidur pulas setelah membersihkan diri. Dia bersikukuh untuk tidur di sofa, ga mau di kamar sebelah.
***
Paginya, kusiapkan makanan untuk sarapan. Surya membeli beberapa telur. Kubuatkan omelette untuknya. Dia masih saja mendengkur di sofa.
__ADS_1
Apa rencana dia hari ini, aku hanya menunggunya saja.