
"Andrea... " gumamnya saat melihat seseorang yang ada di TV tersebut.
Bryan akhirnya menyaksikan acara televisi tersebut, dia mendengarkan setiap percakapan yang di lontarkan pengisi acara tersebut dan juga jawaban Andrea.
"Jadi dia menjadi penulis rupanya saat ini" Bryan tersenyum lebar mengetahui mantan kekasihnya mempunyai prestasi yang luar biasa.
"Mba... Andrea apakah kisah-kisah di novel anda ini adalah kisah hidup anda? " tanya sang pembawa acara tersebut.
"Iya sedikit saya kadang menambahkan pengalaman pribadi saya kedalam sebuah cerita tapi tidak keseluruhannya kok selebihnya karya saya ini adalah karangan saya sendiri" jelas Andrea.
Bryan tersenyum melihat dan mendengarkan acara televisi tersebut.
"Kau semakin pintar berbicara rupanya" gumamya.
Setelah acara televisi tersebut selesai Bryan meraih ponselnya yang berada di nakas, dan menelpon asistennya.
"Halo... Milo... cari tahu tentang penulis yang bernama Andrea dan bila sudah tahu atur jadwal ku untuk melakukan pertemuan dengannya" ucap Bryan tegas pada asistennya tersebut.
Bryan memang berbeda bila berhadapan dengan rekan bisnis, di kantor dan berhadapan dengan keluarganya, sifatnya bisa sangat profesional dan dingin bila berhadapan dengan rekan bisnis dan bila dikantor sedangkan bila di rumah bila berhadapan dengan keluarganya sifatnya bisa berubah lembut.
tok... tok...
Suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Bryan.
"Ya masuk" ucap Bryan agak keras.
cekrek.
handle pintu di tekan dan daun pintu di dorong oleh seseorang dan tak lama munculah kepala pelayan di rumahnya.
" Ada apa bu Dera? "tanya Bryan kepada wanita paruh baya tersebut.
" Tuan muda... tuan besar memanggil anda ke kamarnya" jelas kepala pelayan tersebut.
"Mau apa ayah memanggil ku ya? " Bryan segera bangkit dari sofa dan berjalan keluar kamar dan menuju kamar ayahnya.
Bryan membuka pintu kamar ayahnya, dia melihat pria yang semakin hari semakin tua itu terduduk di ranjangnya dan tersenyum padanya.
"Ada apa ayah memanggil ku? " tanyanya yang mendekat pada ayahnya.
__ADS_1
"Bryan... ayah mau tanya pada mu berapa usia mu saat ini? "
"35 tahun ayah kenapa memangnya? " jawab Bryan malas.
"Mau sampai kapan nak? mau sampai kapan kau menghukum ayah Bryan? " tanya Lexi lirih.
Bryan menghela nafasnya dalam saat tahu yang di maksud ayahnya ini.
"Ayah bisa ayah tidak membahas ini lagi? " pinta Bryan.
"Maafkan ayah nak, kau begini karena ayah, tapi ayah mohon jangan ikuti jejak ayah nak, kau perlu keturunan nak"
"Tapi aku tak ingin menikah ayah"
"Bryan apa yang kau harap kan lagi dari Andrea nak... dia sudah memiliki keluarga sendiri nak"
"Dia tidak akan menikah dengan orang lain yah kalau waktu itu ayah tidak menarik ku ke dunia ini" ucap Bryan ketus.
"Bryan... tapi kamu tetap harus menjalani. hidup mu nak... "
"Aku sudah menjalani hidup ku ayah, inilah hidup ku" ucap Bryan dingin.
Lexi menghela nafasnya berat.
"Ya aku kan anak ayah wajar watak dan sifat ayah menurun pada ku, lagi pula ayah juga tidak menikah lagi kan setelah ibu tiada? kenapa aku harus menikah juga, tidak menikah juga tidak masalah kan yah? "
"Iya kamu benar tapi siapa nanti yang akan meneruskan perusahaan nak? "
"Kita punya Marcela dan Keizar ayah anak dari Moza dan Ribca" jawab Bryan santai.
Dengan entengnya dia berkata seperti itu pada ayahnya tentang sang pewaris keluarga Irawan.
"Kau memang menganggap Marcela dan Kei itu anak mu sendiri sama seperti ayah menganggap mereka cucu ayah sendiri karena kau tak kunjung memberikan aku cucu" ucap ayah Lexi ketus.
Bryan tertawa kecil saat mendengar ocehan ayahnya.
"Jadi hanya ini yang ingin ayah bicarakan sama aku? " tanya Bryan.
"Eh... bukan sih sebenernya ada yang lebih penting dari membahas pernikahan mu yang nggak mungkin ini"
__ADS_1
"Lalu apa yang sebenarnya yang ingin Ayah sampaikan? "
"Perusahaan kita benar-benar sudah tidak berinteraksi dengan dunia hitam nak, musuh kita sudah habis mereka sudah menua dan akhirnya mati, dan ayah pun akan menanti giliran ayah"
"Maksud ayah? " Bryan bingung.
"Ayah tinggal menunggu waktu saja kak, waktu malaikat maut menjemput ayah dan menyusul ibu mu disana" ayah Lexi menunjuk ke arah langit-langit.
Bryan tertegun saat melihat itu, jujur dia sebenarnya belum siap di tinggalkan oleh ayahnya ini, karena biar bagaimana pun juga ayahnya lah yang selama ini membesarkannya sendirian tanpa hadirnya seorang wanita kecuali sahabat-sahabatnya.
"Ayah... kenapa berbicara seperti itu? " Bryan lirih.
"Ayah sudah tua nak, kau pun sudah cukup dewasa, jangan kau jatuh cinta dengan gadis remaja ya hahaha"
"Itu ayah... jatuh cinta dengan anak kecil seperti ibu hahaha" Bryan ikut tertawa.
Mereka pun akhirnya tertawa bersama karena mengingat masa dimana Lexi menikah dengan seorang gadis remaja yang enerjik.
"Sayangnya tak ada yang seperti ibu mu ya kalau ada wanita yang seperti ibu mu pasti kau pun akan jatuh cinta pada wanita itu"
Bryan hanya tersenyum saja.
"Asal ayah tahu Andrea itu lebih parah dari ibu hahaha ayah tahu dia itu kaku dan sangat sulit di dekati, dia itu wanita kuat ayah sangat kuat" Bryan seolah mengenang kenangannya bersama Andrea.
"Ikhlaskan lah dirinya nak, dia sudah memiliki keluarga sendiri"
"Iya aku tahu ayah, oia Yah... dia semakin hebat loh yah... tadi aku lihat dia sedang di wawancara di televisi dia menjadi penulis dan karyanya akan di buat film oleh sineas perfilman"
"Oo ya... wah hebat betul anak itu" Lexi seperti kagum dengan Andrea.
Bryan pun hanya tersenyum dan tak lama dia pun pamit pada Lexi meninggalkan ayahnya sendirian di kamarnya, dan Bryan pun kembali ke kamarnya. menjatuhkan dirinya di atas kasur empuk nya menatap langit-langit kamarnya dan entah kenapa wajah Andrea muncul kembali di benaknya.
astaga kenapa harus dia sih... kenapa dia harus menikah sih huft... bila waktu bisa di putar kembali aku ingin kembali padanya lebih cepat waktu itu agar dia menjadi milik ku selamanya.
Sementara disisi lain, di sebuah rumah yang sederhana Adji menyaksikan wawancara istrinya di televisi dia sangat bangga pada istrinya tersebut, dirinya pun tak menyangka kalau hobi istrinya itu bisa menjadi karirnya yang sangat dicintai istrinya bahkan itu sebuah impian istrinya selama ini.
"Istri ku memang hebat" puji nya pada Andrea saat mereka menyaksikan siaran tunda yang tayang di televisi di rumahnya.
Andrea hanya tersenyum kecil saja mendengar pujian suaminya.
__ADS_1
kenapa kau selalu dingin Andrea, padahal kita menikah sudah hampir lima belas tahun, tapi kau selalu dingin begitu.
Bersambung